Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Saat cairan ajaib itu menyentuh permukaan kulitnya, Arhan merasakan sensasi yang luar biasa. Bukan rasa perih atau panas, melainkan rasa dingin yang sangat nyaman dan menenangkan, seolah-olah ribuan jarum halus sedang memijat saraf-sarafnya yang tegang.
Rasa gatal yang selama ini sering mengganggu di bekas luka lama itu lenyap seketika, digantikan oleh energi segar yang mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya.
Arhan menutup matanya rapat-rapat, membiarkan obat itu bekerja dengan sendirinya. Ia bisa merasakan perubahan itu terjadi di hadapan matanya sendiri.
Di bawah sentuhan tangannya, kulit yang tadinya kasar, hitam, dan mengerut karena luka bakar, perlahan-lahan mengelupas seperti kulit ular yang berganti kulit.
Di bawahnya, terlihat kulit baru yang halus, putih bersih, dan kenyal layaknya kulit bayi yang baru lahir.
Bekas luka yang mengerikan itu memudar, menghilang tanpa jejak seolah-olah tidak pernah ada cacat yang menimpanya.
Tidak hanya wajah, tapi seluruh tubuhnya yang dulu kurus kering dan penuh bekas luka, kini perlahan berubah menjadi tubuh yang tegap, berotot, dan sangat proporsional.
Arhan membuka matanya perlahan. Ia menatap tangannya sendiri yang kini bersih dan kuat. Ia menyentuh wajahnya, kulitnya mulus, tidak ada lagi benjolan atau kerutan mengerikan.
"Ini... ini benar-benar aku?" bisiknya tak percaya, suaranya bergetar.
Ia berlari kecil menuju keran air dan melihat pantulan dirinya di permukaan air yang tenang.
Astaga!
Pria yang terlihat di pantulan itu bukan lagi Arhan yang buruk rupa dan menyeramkan. Itu adalah seorang pria muda yang sangat tampan, gagah, dengan tatapan mata yang tajam namun teduh.
Rahangnya tegas, kulitnya bersih bercahaya, dan postur tubuhnya kini terlihat sangat atletis dan mempesona.
Mimpi terbesarnya untuk menjadi normal kembali, menjadi pria tampan yang bisa membanggakan anaknya, kini menjadi kenyataan.
"Terima kasih... terima kasih Tuhan, terima kasih Sistem," ucapnya penuh syukur. "Aku berubah... aku benar-benar berubah!"
*****
Suara riuh rendah tawa dan teriakan anak-anak terdengar jelas memecah keheningan siang itu.
Itu adalah tanda bahwa kelas 1 SD sudah bubar sekolah. Mereka memang pulang lebih cepat dibandingkan kakak-kakak kelasnya yang masih harus mengikuti pelajaran tambahan.
Arhan yang sejak tadi berdiri menunggu di pinggir gerbang, segera beranjak dari tempatnya. Ia melangkah dengan langkah yang kini terasa jauh lebih ringan dan tegap dibandingkan dulu.
Di area parkir, ratusan motor berjejer rapat, para orang tua sibuk mencari wajah anak-anak mereka. Arhan berjalan menuju motornya, namun matanya tak lepas dari gerbang sekolah.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sosok kecil yang berjalan tertatih-tatih keluar dari gerbang.
Jantung Arhan seakan berhenti berdetak sesaat.
Itu Arka! Anaknya!
Namun, alangkah terkejut dan cemasnya Arhan saat melihat penampilan anaknya. Baju seragamnya yang putih kini kotor terkena debu, sedikit robek di bagian siku, dan yang paling menyakitkan, wajah kecil itu basah oleh air mata. Matanya sembab, dan ia terus menyeka air mata dengan punggung tangannya yang kecil.
Tanpa pikir panjang, Arhan langsung berlari kecil mendekat.
"Arka! Nak! Kamu kenapa?!" seru Arhan panik.
Ia langsung memegang kedua bahu anaknya, membalikkan badan kecil itu ke kiri dan ke kanan, memeriksa apakah ada luka atau ia dipukuli.
"Kamu kenapa menangis? Ada yang jahatin kamu ya Nak? Cerita sama Papa!" tanya Arhan dengan nada khawatir yang mendalam.
Namun, respon Arka sungguh di luar dugaan.
Anak kecil itu menatap wajah Arhan lekat-lekat, matanya yang sembab itu terlihat bingung dan takut. Ia mundur selangkah.
"O... Om... siapa Om?" tanya Arka terbata-bata di sela-sela isak tangisnya.
Pertanyaan itu membuat Arhan tersentak. Ia baru ingat... wajahnya sekarang sudah berubah total!
Arhan mengernyitkan dahi, lalu tersenyum lembut berusaha meyakinkan anaknya.
"Lho, ini Papa sayang... kamu nggak kenal Papa lagi?" tanyanya sambil mengangkat alisnya.
Arka menggeleng pelan, masih menatap tak percaya. Wajah yang dulu penuh bekas luka bakar, kasar dan menyeramkan, kini berubah menjadi wajah yang sangat tampan, bersih, mulus, dan bercahaya. Bagi Arka, ini seperti bertemu dengan paman asing yang baik hati.
"Iya nih, Papa pakai obat penyembuh lho," jelas Arhan sabar. "Dulu Papa sakit, sekarang Papa sudah sembuh. Nah, Papa juga bawa obat khusus buat Arka. Obat biar kaki Arka nggak pincang lagi, bisa lari kencang kayak kuda!"
Mata Arka perlahan membelalak, tangisnya mulai reda. Ia terus menatap wajah papanya yang baru itu, seolah sedang mencocokkan ingatan lama dengan kenyataan baru.
"Benarkah?" gumamnya kecil.
"Iya dong, masa Papa bohong. Jangan diliatin terus dong, malu lho. Ayo kita pulang ya. Nanti sampai di rumah, Papa akan oleskan obat ajaib itu ke kaki Arka. Dan... Papa punya kejutan baru lho buat kamu!" kata Arhan tersenyum lebar, senyum yang penuh misteri dan rahasia.
Rasa penasaran Arka langsung mengalahkan rasa bingungnya.
"Kejutan apa, Pa? Apa mainan baru?" tanyanya antusias, matanya berbinar cerah seketika.
"Ada deh... rahasia dulu," goda Arhan sambil terkekeh pelan.
Dengan penuh kasih sayang, Arhan membungkuk dan menggendong tubuh mungil anaknya itu. Ia berjalan menuju motornya, lalu mendudukkan Arka dengan hati-hati di jok belakang.
"Pegangan yang kuat ya, Nak. Kita pulang, menuju kehidupan baru kita!" kata Arhan semangat.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️. ...