Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunda
‘DOR, DOR’
Sudah beberapa jam berlalu berlatih menembak, kuregangkan otot-otoku, usai berlatih menembak dengan Coach Smith. Hari-hariku kini semakin padat, sejak aku bermain billiard di ZGD Billiard Club. Kuletakkan revolver senapan tadi, seperti biasa aku melakukan salam khusus dengan Coach Smith.
“Performamu semakin bagus, tingkatkan lagi”. Ujar Coach Smith sembari menepuk singkat bahuku. “Hm”. Dehemku.
“Bagaimana kau bisa meningkatkan keahlian sniper mu sejauh ini?”. Coach Smith dan aku berbincang seraya berjalan di sepanjang koridor camp pelatihan.
“Coach, mungkin sekitar dua bulan lalu aku mengalahkan Dieter Walter”. Mendengar perkataanku sontak Coach Smith terbatuk-batuk, dari raut wajahnya tampak terkejut bercampur tidak percaya.
“Kalau Coach tidak percaya ya sudah, kenyataannya seperti itu”. Sahutku sebelum meninggalkan Coach Smith yang masih melongo.
Aku mengganti bajuku dengan kaos oversize dan celana pendek, rasanya lebih relax. Usai keluar dari walk in closet aku beralih ke perpustakaan pribadiku. Aku mengambil tiga buku yang baru kubeli akhir-akhir ini, sebab rasanya aku kurang literasi.
Sepuluh menit sudah aku terbawa suasana dalam buku yang kubaca, hingga tanpa kusadari bunda sudah duduk di sofa kamarku disertai segelas teh mawar ditangannya.
“Ada apa bunda datang ke kamarku?”. Tanyaku sembari meletakkan kembali buku tadi, aku sadar akan kedatangan bunda karena suara dentingan gelas yang berasal dari bunda.
“You’re my son, whats my wrong?”.
“No, aku tidak bermaksud menyalahkan bunda”. Timpalku.
Langkah kaki panjangku menghampiri bunda, dan aku mendudukkan diriku di hadapan bunda.
“Nak, bunda tau wanita mana yang kau maksud sebagai Elisia, kemarin Arianne memberi tahu bunda”. Gila, apalagi maksud Arianne, mengapa selalu mencampuri urusanku.
“Bunda tidak masalah kamu dekat dengannya, dia terlihat sangat cantik dan lembut, namun apa dia bisa menerima identitasmu seperti ini, bunda lihat dia bukan wanita yang memandang harta”. Jelas bunda yang diiringi suara seduhan teh untukku. Aku terkekeh mendengarnya, dari satu foto saja bunda bisa menebak begitu banyak hal, apalagi saat aku membawanya.
“Dia memang bukan wanita biasa”. Timpalku, bunda tersenyum.
Aku tak mau menatap bunda, karena tatapan selembut itu yang mampu membuatku lemah akan banyak hal, kemudian kuarih tangan bunda.
“Bunda harus janji sama Kaisar kalau bunda tidak akan kemana-mana”. Sorot mata bunda sangat hambar, seperti ada luka yang ia pendam. Sudah hal biasa bagi Keluarga Sultan seperti keluarga Bumantara mendapat pasangan yang setara atau lebih tinggi, namun keluarga Pradipta itu sangat tinggi derajatnya bagaikan langit dan bumi. Dikatakan mafia itu bukan, gangster apalagi, mungkin Pradipta adalah penggerak rotasi ekonomi dibalik bayangan, dialah penguasa diatas para penguasa.
“Bunda sudah terlanjur terjerumus pada skenario keluarga ini, bunda tidak bisa berbuat apapun”. Menyakitkan melihat bunda yang pasrah pada hidupnya dan hilang harapannya. Bunda sesakit itu karena papa anak tunggal Pradipta, apa aku akan memperlakukan hal yang sama pada keluargaku nanti?.
“Kaisar juga harus janji dengan bunda, kalau Kaisar tidak akan memperlakukan nyonya Pradipta seperti apa yang papamu lakukan”. Lanjutnya. Detik berikutnya bunda memberikan sebuah buku berukuran A7 berwarna kuning dengan hiasan karakter batman. Bunda tersenyum singkat sebelum menenggak segelas teh mawar hingga tandas.
“Ini buku apa?”. Aku menatap bingung buku kuning itu sebab isinya membuatku sangat pusing, tulisan China yang menurutku rumit dan sama semua itu tampaknya bukan suatu tulisan biasa.
“Bunda paham apa yang kamu kerjakan, tapi bunda tidak bisa membantu banyak, wewenang tidak ada pada bunda, buku ini mungkin bisa membantumu”. Kalimat terakhir yang diucapkan bunda sebelum melenggang pergi, aku menatap kepergian bunda sampai raganya tak terlihat lenyap dibalik pintu, setelahnya maid mansion Pradipta datang untuk membersihkan gelas dan cerek khas China yang kupakai bersama bunda tadi.
Aku menghembuskan napas gusar, serasa otak ingin meledak.
Apalagi Pradipta ini.
***
‘TIK, TIK, TIK’
Jari-jemariku menari diatas keyboard qwerty milikku, sinar biru sudah menerangi wajahku sejak tadi, dan kini aku sudah memasuki gerbang dark digital. Tak terasa dua jam aku melakukan aktivitas ini, tatkala aku sudah memasuki digital dark world itu, aku mendapatkan pesan.
Anonim : Who are you?
Anonim : what are your interests?
Bukan pertama kalinya bagiku masuk dalam dark digital world, namun masih saja ada pertanyaan itu muncul, aku memilih menghiraukan pertanyaan itu.
Dark digital world itu bagaikan kereta dengan penumpang yang saling tak mengenal, dan saling memakai penutup wajah, mereka tidak bisa masuk dalam kereta dengan mudah dimana mereka harus melewati banyak pintu. Disana para penumpang tidak pernah saling bertukar nama ataupun dimana mereka tinggal, hanya misi dan perdagangan ilegal. Mereka sempat pula bekerja sama, meski dibalik itu saling menjatuhkan, dark digital world sama kejamnya dengan dunia realita. Saling mendukung namun menusuk dari balik selimut, dunia sangat prihatin karena penuh dengan kaum-kaum munafik.
Tiba-tiba saat aku sudah terlena dalam kereta digital tersebut, komputer yang kupakai mendadak mati, tak lama kemudian layar komputer yang sudah menghitam itu memunculkan satu kata.
>>> [ENCRYPTED_HEADER] > [DECRYPTION_COMPLETE]