Warning⚠️ dilarang boom like, jika tidak suka dengan karya ini, ... kalian boleh skip.
Bangun dari koma, Calista Nandini menatap aneh sekelilingnya. Asing, terlihat sangat asing. Lalu, siapa lelaki itu? Kenapa dia mengaku sebagai suaminya? Semua itu terus menari-nari di dalam otaknya, dan berusaha mencari sebuah jawaban atas dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shizi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab (18)
Dalam sebuah kebingungan. Calista menatap nanar pada seseorang yang pernah dianggapnya sebagai sahabat sejati. Bahkan, tidak menyangka Alinda ikut andil dalam peristiwa yang membuatnya lenyap dari dunia ini. Beruntung Tuhan masih memberinya kesempatan sekali lagi.
Tubuh Calista membeku, iris terangnya tidak teralihkan, bibirnya terus bergerak dan menyesal pernah menjadi orang baik. "Al, tahukah kamu. Tanpa keluargaku kamu bukanlah siapa-siapa, tetapi kenapa begitu teganya dirimu berkhianat dan membalasku dengan begitu parah."
Sejenak, sadar dari lemunannya dan mencoba mencari persembunyian. Lalu, tiba-tiba Calista tertawa dan mengatai dirinya sendiri ‘bodoh’. "Hahaha, dasar Calista bodoh. Bukankah wajahku sudah beda orang, bisa-bisanya mencari tempat untuk sembunyi," ujarnya dengan tawa kecil karena merasa konyol akan ulahnya.
Keluar dari persembunyiannya. Menyibakkan kedua tangannya yang kotor. Calista kembali fokus ke mana Alinda pergi dan detik kemudian. "Sudah aku duga," batinnya dengan terus memandangi Alinda masuk ke dalam mobil.
Mengikuti ke mana perginya mobil yang dikendarai oleh Alinda. Bermodalkan tukang ojek, Calista tidak ingin kehilangan jejaknya hingga sampailah seseorang itu berada di cafe.
"Cafe," gumamnya.
"Mau apa dia kemari?" ucapnya lagi.
Alinda berhasil turun dan masuk ke dalam. Begitu juga dengan Calista, ia juga ikut masuk karena ingin tahu sahabatnya hendak bertemu dengan siapa dan sesampainya di dalam sana. Kedua alisnya naik turun, irisnya yang terang menatap satu orang lagi dan sangat familiar baginya.
Memesan satu minuman, ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Setidaknya Calista tidak sia-sia kabur dari rumah demi sebuah keadilan.
Sedangkan di meja lain.
"Aku dan Ferdi masih bisa mengampunimu jika mulutmu tetap diam," ujarnya dengan nada mengancam agar tidak membuka sebuah kebenaran.
Perempuan dengan seumurannya pun tampak kebingungan. Entah, tetap diam atau harus menguak rahasia sahabatnya yang pasti akan membuatnya berada di ujung jurang. Nada suaranya sedikit gemetar perempuan itu pun menimpali. "Al, bahkan aku tidak menyangka kamu senekat itu."
Alinda tersenyum penuh picik. Ujung bibirnya terangkat. Garis wajah memperlihatkan ketidakpeduliannya terhadap konsekuensinya nanti. "Ini sudah jadi jalanku, kamu hanya perlu diam tanpa ikut campur urusanku. Dia—Calista terlalu mudah dalam segi apa pun, kehidupannya yang mewah. Perusahaannya terkenal di mana-mana, sedang aku ...."
Sejenak Alinda menjeda kalimatnya dan kembali melanjutkan. "Sedangkan aku hanyalah seorang yatim piatu yang harus dikasihani. Hidup penuh kemiskinan hingga menemukan akhir yang harus aku perjuangan,"
"Kamu salah, ini bukan akhir, tapi awal kehancuran yang selalu menghantuimu!" sahut temannya dengan suara tidak rela.
"Namun, apa bedanya dengan dirimu?"
“Setidaknya aku tidak pernah berhutang apa pun pada keluarganya! Tetapi kamu … kamu yang sudah dianggapnya keluarga justru menusuk orang itu dengan picik. Inikah akhir dari balasanmu?”
“Benar, seharusnya aku mengatakan kalimat ‘terima kasih’ telah memberi kehidupan yang layak. Namun, itu semua masih kurang dan kamu juga ikut terseret dalam masalah tersebut, jadi antara aku dan kamu tidak ada bedanya.”
Sang sahabat pun langsung bungkam dan bergumam. "Benar, apa bedanya denganku. Aku juga ikut andil dan mengikuti sandiwara kalian yang mana dosa ini akan kubawa sampai aku mati."
Mendengar pengakuan tersebut. Alinda tersenyum. Faktanya dirinya adalah sahabat sejati Ana, tetapi untuk Rara, dia hanya sahabat yang pernah diputuskan karena dianggap iri atas hubungan antara Ferdi dan Freya Anastasya.
Diam seribu bahasa, matanya melihat. Telinganya mendengar. Namun, pada akhirnya tidak bisa menyelamatkan Ana, bahkan dirinya juga terseret dengan masalah yang tidak pernah ia lakukan.
Sekitar tiga meter di mana Alinda berada. Calista terus menatap dua orang yang pernah berarti di hidupnya. Namun, kali ini penilaiannya saat ini benar-benar salah terhadap Rara. Dia pernah menentang hubungannya dengan Ferdian, berusaha mengingatkan jika lelaki yang pernah dicintainya bukanlah orang baik. Akan tetapi, Ana sempat menyangkal dan menuduh Rara iri atas kebahagiaannya.
"Sekarang aku sadar siapa orang yang benar-benar tulus kepadaku," batin Calista dan terus fokus ke arah dua sahabatnya itu.
pokoknya harus tuntas tuhhh buat terus kasih Clue siapa istrinya yg sekarang 👍😍😁