Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Viona berjongkok rendah di lantai samping pintu. Telapak kaki gadis itu menapak penuh, lutut tertekuk rapat ke dada, punggungnya melengkung, membentuk garis lengkung yang kaku. Sementara kepala tertunduk dalam, rambut panjangnya jatuh menutupi wajah yang tersembunyi di antara kedua lengan. Tangan yang terlipat di depan dengan siku yang bertumpu pada lutut, menciptakan ruang sempit tempat Viona menenggelamkan wajahnya.
Rasa lelah dan perasaan tidak nyaman dalam diri nyatanya tidak bisa menahan rasa kantuk yang Viona dera. Gadis itu bisa dengan mudahnya memejamkan mata meski tengah dalam posisi yang tidak nyaman.
"Cantik... "
Sebuah sapaan lembut membuat Viona tersentak, ia mendongakkan kepala. Selanjutnya buru-buru bangkit berdiri saat melihat seorang wanita tengah berdiri di hadapannya. Meski wanita itu terlihat berusia lanjut, namun parasnya masih terlihat cantik dan memancarkan keanggunan yang menenangkan.
Viona mengucek kedua matanya berulang kali, memastikan kehadiran sosok wanita cantik di depannya benar adanya, bukan mimpi belaka atau mungkin sosok makhluk astral penunggu gedung. Sementara wanita yang masih berdiri anggun itu nampak tersenyum lembut melihat ekspresi gadis cantik di depannya.
"Kamu... Viona, kan?" tanyanya pelan. Suaranya mengalun lembut.
Kembali tersentak, kali ini Viona sampai refleks membesarkan kedua mata. Ia begitu terkejut, wanita yang masih diragukan keasliannya itu sekarang malah menyebut jelas namanya. "Gue ngga lagi mimpi kan ini? atau jangan-jangan beliau ini beneran hantu penunggu.... " Viona menghentikan gumamannya dan refleks melangkah mundur saat wanita itu mengulurkan tangan hendak menyentuh tubuhnya.
Melihat raut wajah takut dan tindakan spontan yang Viona lakukan membuat Wanita cantik yang tidak lain adalah Bunda Alya menjadi terkekeh gemas. "Nak Vio... saya ini bukan Hantu," paparnya seolah mengetahui apa yang ada dipikiran gadis di depannya saat ini.
Bunda Alya sendiri merasa yakin, jika gadis cantik yang tengah berdiri dengan raut wajah penuh rasa takut itu adalah Viona Larasati. Gadis yang sempat Hyun ceritakan di mobil saat mengantarnya tadi.
Masih dengan degup jantung yang berdetak kencang, Viona mencoba mempercayai ucapan wanita itu dengan melirik ke arah bawah, memastikan kaki wanita itu menapak penuh di lantai.
Tidakan polos yang Viona lakukan membuat Bunda Alya tidak mampu lagi menahan tawanya. Wanita berusia lanjut itu bahkan sampai menepuk bahu Viona berulang kali saking gemasnya.
"Sudah jelaskan... saya ini bukan hantu," ucap Bunda Alya setelah lelah tertawa. "Lagipula, mana ada hantu cantik seperti saya, meskipun saya memang terbilang sudah cukup tua," imbuhnya. Mencoba berseloroh untuk mencairkan suasana.
Merasa malu sendiri, Viona hanya mampu menyunggingkan senyum tipis. Meski sebenarnya ia ingin segera berlari pergi karena tidak tahan menahan rasa malu.
"Sudah... tidak perlu malu," ucap Bunda Alya ramah, satu tangannya menyeka jejak air mata yang sempat keluar di sudut mata saat ia tertawa tadi.
"Kenapa kamu berada di luar sendirian? kemana Agam dan Ayahnya?" tanya Bunda Alya. Kali ini, Bunda Alya bertanya dengan nada serius.
"Tuan besar dan Tuan Agam ada di dalam, Nyonya," jawab Viona dengan wajah tertunduk.
Mengerutkan kening, Bunda Alya tampak menatap ke arah pintu. "Kamu... meninggalkan kedua pria keras kepala itu hanya berdua di dalam sana?" ucapnya memastikan. Viona sendiri langsung menjawab hanya dengan anggukkan pelan.
"Ah... ya ampun. Bisa bahaya kalau mereka hanya berdua di dalam sana," ucap Bunda Alya panik. "Sebaiknya kita segera masuk, jangan sampai mereka berdua kembali beradu argumen lagi seperti waktu itu," imbuhnya buru-buru menarik lengan Viona untuk ikut masuk ke dalam.
Begitu pintu depan apartemen terbuka. Bunda Alya bergegas melangkah masuk, sementara Viona mengekor di belakangnya.
Tak jauh dari meja makan, Bunda Alya menghentikan langkah saat menangkap pemandangan tidak biasa di depannya. "Suamiku...kalian... " Kalimat itu menggantung karena Bunda Alya buru-buru kembali melangkah menghampiri Vino Mahardika yang duduk dengan tenang sambil terus mengunyah makanannya.
Tak jauh dari Ayah Vino, Agam tampak duduk tenang. Ia juga tengah sibuk menyuapkan satu sendok penuh nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
Pemandangan itu membuat hati Bunda Alya menghangat. Kekompakkan dua pria tampan di hadapannya terasa begitu alami, seakan menghadirkan ketenangan yang selama ini diam-diam ia rindukan. Tanpa sadar, senyum penuh kebahagiaan pun merekah di wajahnya, menyiratkan rasa syukur yang tak terucap. Meski sebelumnya Bunda Alya sempat diliputi kekhawatiran, takut akan kembali terjadi pertikaian dan adu argumen seperti yang kerap mewarnai pertemuan antara ayah dan anak itu. Namun kali ini kekhawatirannya tidaklah terbukti. Entah bagaimana semua itu bisa terjadi, namun yang pasti, malam ini hatinya dipenuhi rasa syukur yang mendalam.
Usai menikmati makan malam hasil masakan Viona. Bunda Alya, Ayah Vino dan Agam duduk bersama di ruang tengah. Ketiganya terlibat dalam pembahasan mengenai perkembangan perusahaan selama Agam memegang kendali. Sementara itu, Viona berada di dapur, berkutat membereskan dan mencuci piring dan peralatan makan yang telah digunakan.
"Seperti yang sudah kita sepakati sebelumya, kau akan tetap memimpin perusahaan hingga kondisi kembali stabil," ucap Ayah Vino kembali mengingatkan kesepakatan yang telah mereka buat. Bukan tanpa alasan Ayah Vino kembali mengingatkan hal itu. Karena Agam sempat mengancam akan berhenti memimpin perusahaan karena merasa kesal dengan permasalahan Viona yang dipekerjakan tanpa izin darinya.
Agam menghembuskan napas berat. Sesungguhnya, ada keberatan yang mengendap di hatinya terhadap keputusan sang Ayah. Namun, melihat keadaan perusahaan yang belum sepenuhnya membaik ditambah kondisi kesehatan Ayah Vino yang tampak semakin menurun, hal itu terasa ketika ia sempat memulai perdebatan tadi. Ayah Vino tak lagi menanggapinya seperti dulu. Pria yang kini semakin memasuki usia senja hanya terdiam, tanpa menyela, menjadi pendengar setia seluruh unek-unek yang sempat Agam utarakan. Semua itu tentu membuat Agam memilih untuk menahan diri dan kembali mengikuti perintah sang Ayah.
Bunda Alya yang duduk di samping sang putra terus menggenggam jemari Agam, seakan takut kehangatan itu kembali terlepas. Rasa rindu setelah sekian lama tidak berjumpa membuatnya enggan menjaga jarak.
"Tetaplah di sini, jangan pergi jauh lagi," rengek Bunda Alya lirih.
Agam melirik sekilas, sebelum kembali menghembuskan napas berat. "Baiklah. Aku akan tetap di sini sampai perusahaan membaik. Setelah itu, jangan lagi menghalangiku untuk pergi," tukasnya tanpa ragu. "Satu lagi..jangan ikut campur apapun yang menjadi urusan pribadiku," imbuh Agam penuh penekanan.
Senyum tipis terlukis di wajah Vino Mahardika. Pria penuh rencana itu lantas melirik ke arah sang istri, seolah memberi sebuah isyarat.
"Agam... Jangan hanya memenuhi perintah ayahmu saja, kamu juga harus adil pada Bundamu ini," rengek Bunda Alya.
Menatap heran pada sang Bunda yang bersikap tidak biasa, Agam berusaha menahan diri. "Baiklah. Apa yang Bunda inginkan dariku?" tanyanya pelan.
Bunda Alya tersenyum lebar. Kali ini ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga di depannya. "Bunda ingin.... " Sebelum melanjutkan kalimatnya, Bunda Alya melirik sekilas pada Ayah Vino...
"Katakan, apa yang Bunda inginkan?" tanya Agam sedikit tidak sabar.
"Bunda ingin.... "
Bersambung....