Sandrina nekad tidur dengan pria yang dijodohkan dengan kakaknya, Bastian Helford. Lantaran kakaknya telah tidur dengan tunangannya.
Semua miliknya direnggut, dan Sandrina berjuang untuk mendapatkan kembali yang menjadi miliknya
"Dia satu-satunya milikku yang kurebut kembali"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Good girl
"Baiklah," ujar Bastian seraya melepaskan kesenangannya bermain di gunung kembar Sandrina. Pria itu sekarang meraih kedua kaki Sandrina untuk melingkar di pinggangnya dan mengangkat pantat gadis itu
"Ah!" pekik Sandrina saat merasakan tubuhnya melayang dan bergelantungan pada Bastian
"Rapatkan kakimu, Sandrina! Kalau kau tidak ingin jatuh." bisik Bastian ditelinga Sandrina yang memeluk leher Bastian erat. Jelas gadis itu takut terjatuh, dan dengan malu-malu Sandrina mulai merapatkan kakinya ke pinggang Bastian
"Good girl" komentar Bastian yang mulai membawa Sandrina ke kamarnya. Pelan namun pasti. Begitu pintu kamar itu tertutup, serangan liar mulai Bastian kerahkan
Bastian melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuh Sandrina hingga kain-kain itu berserakan didalam kamar tidurnya. Sandrina yang juga sudah larut dalam gairah yang Bastian ciptakan tidak lagi peduli akan apa yang akan dilakukan pria itu padanya. Sandrina menikmati setiap rasa yang diterima tubuhnya
"Haa..." desa han Sandrina menggema didalam kamar itu bersamaan dengan permainan Bastian yang terus saja dilayangkan
"Ahh...!" suara suara itu semakin menjadi ketika penyatuan terjadi. Keduanya larut dalam nafsu yang tidak jelas tujuannya apa. Ini tidak bisa disebut benar dan tidak bisa pula disebut salah, tapi biarlah waktu yang akan menjawab apa dasar mereka melakukan ini.
"Gigit saja jika sakit," ucap Bastian ditengah gerakannya yang semakin cepat. Walau pikirannya kini tidak sedang fokus tapi mata Bastian dapat melihat Sandrina yang seperti menahan diri dari menyakitinya, padahal wanita itu jauh lebih sakit dengan tubuh yang memar
Tidak butuh waktu lama untuk berpikir, Sandrina langsung menancapkan giginya di bahu Bastian begitu mendapatkan izin pria itu. Hingga akhirnya pelepasan itu terjadi bagai ombak yang menerjang keduanya dalam sekali hentak.
Seperti itulah, Bastian memeluk Sandrina seolah- olah dia akan menghancurkan gadis mungil itu hingga Sandrina benar-benar tidak dapat memikirkan apapun selain terus ber de sah di bawah sang pria.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya, mata lentik Sandrina mengerjap. Dia terbangun dari tidurnya. Tidak, lebih tepatnya dia pingsan lagi setelah semalam digempur habis-habisan oleh Bastian.
"Eum..." lenguhnya saat merasakan tubuhnya yang tidak sesakit biasanya. Hanya bagian bawah pinggangnya saja yang terasa sangat nyeri. Bastian benar- benar sama sekali tidak menahan diri semalam sekalipun pria itu tahu rasa sakit di tubuh Sandrina.
Biasanya kalau habis dipukuli oleh ibu tirinya dan Odette. Sandrina akan merasakan tubuhnya kaku dan ngilu serta perih saat bangun keesokan harinya. Tapi sekarang tidak terasa seburuk itu. Sandrina menyentuh pipinya dan merasakan sesuatu yang sedikit lembab disana, dia mencium baunya yang berbau seperti obat herbal
"Salep, apa ini salep anti memar?" tanya batinnya dalam kesendirian. Dia tidak melihat Bastian di kamar itu. Hanya dirinya seorang yang masih tertidur. Tidak disangkanya keadaan seakan berbalik hari ini. Jika dulu dia yang lebih dulu terjaga dan melarikan diri dari Bastian, sekarang sebaliknya. Pria itu sudah lebih dulu terjaga, buktinya tidak nampak batang hidung Bastian didalam kamar itu
"Dia mengobati luka memarku," ucap Sandrina lirih yang juga menemukan olesan salep di beberapa bagian tubuh memarnya yang lain. Dan mata Sandrina tertuju pada nakas yang diatasnya ada bekas air untuk kompres.
Apa Bastian juga mengompresnya semalam saat dia pingsan akibat ulah pria itu? Begitulah pertanyaan yang memenuhi kepala Sandrina. Dan dilihat dari bukti yang terpampang, dirasa Sandrina tidak perlu bertanya lagi. Bastian memang telah merawatnya semalam hingga Sandrina tidak merasa terlalu sakit pagi ini, dan beberapa bekas memar ringan juga sudah hilang dan memudar.
Sandrina bangkit turun dari ranjang dengan selimut yang membaluti tubuhnya. Dia tidak menemukan pakaiannya yang semalam dilepaskan oleh Bastian. Apakah pria itu telah menyingkirkan pakaiannya?
Dia berjalan menuju kamar mandi terus membersihkan diri. Pantulan gambarnya di cermin kamar mandi membuat Sandrina terdiam, menatap pada beberapa corak mahakarya yang semalam kembali Bastian torehkan. Tanda cu pang itu bahkan bercampur dengan memar di tubuhnya. Sungguh pria itu tidak melewatkan apapun dari tubuh Sandrina.
Selesai membersihkan diri dengan mandi, Sandrina berjalan pelan keluar dari kamar dengan hanya dibaluti jubah mandi
Klek... Pintu kamar terbuka bersamaan dengan Bastian yang tepat berada didepan pintu kamar itu. Sepertinya pria itu juga bermaksud untuk masuk ke kamar itu
"Kamu sudah bangun?" tanya Bastian, sedang Sandrina hanya diam mematung, menatap pada Bastian yang terlihat begitu segar, padahal gadis itu yakin kalau pria itu pasti bergadang semalam untuk mengobati lukanya.
"Kenapa kamu masih ada disini?" tanya Sandrina spontan. Gadis itu mengira Bastian tidak terlihat pagi ini karena pria itu telah pergi berkerja. Karena setahu Sandrina dari profil pria itu yang pernah dibacanya, Bastian adalah sosok pria yang gila kerja. Bahkan jarang sekali pria itu mengambil libur untuk kerjaannya.
"Apa kelihatannya aneh jika aku ada dirumahku sendiri?" balas Bastian yang merasa lucu pada pertanyaan Sandrina. Tapi bagi Sandrina itu tidak salah juga. Pertanyaannya saja yang bodoh.
"Ya, itu benar juga sih. Ku kira kamu pergi bekerja." ucap Sandrina lirih yang bahkan mungkin Bastian tidak dapat mendengar jelas apa yang di ucapkan gadis itu
"Aku sudah menyuruh asistenku untuk membawakan sepasang baju baru untukmu. Bajumu sebelumnya sudah tidak layak di pakai." jelas pria itu memperlihatkan ponselnya dimana dia baru saja menelpon sang asisten untuk melakukan apa yang baru saja dikatakannya pada Sandrina.
"Ah, apakah itu robek juga?" tanya Sandrina dengan polosnya yang membuat sebuah senyum simpul hadir di wajah Bastian. Apa Sandrina sudah begitu lekat dengan sosok Bastian yang suka merobek pakaian?
"Aku akan lebih berhati-hati lain kali," sahut pria itu dengan wajah tak bersalahnya
"Tidak apa," ucap Sandrina yang menunduk setelah sadar dengan pertanyaannya tadi. Lagian pakaiannya sudah sobek saat dia dipukuli di rumahnya, jadi sudah pasti itu tidak lagi layak pakai walaupun Bastian tidak merobeknya semalam.
Suara bel pintu terdengar ditekan di luar. Bastian melirik pada jam yang menempel di dinding
"Sepertinya sudah sampai." ucapnya yang kemudian menatap kearah Sandrina. Dia jelas tahu cara kerja asistennya yang cukup lugas dan cepat. Untuk itulah kenapa Bastian memperkerjakannya, bukan?
"Apa kamu hanya akan berdiri disana?" tanya Bastian memicingkan matanya menatap Sandrina.
"Ya..? Apa maksudmu?" tanya Sandrina bingung sembari melihat kearah pintu dimana belnya kembali ditekan
"Aku tidak ingin menunjukkan pada bawahanku bagaimana penampilan wanitaku saat ini," jelas Bastian sembari memindai tubuh Sandrina dari bawah hingga atas. Dengan hanya berbalut jubah mandi, wanita itu seribu kali lebih menggoda dan bukan tidak mungkin Bastian kembali terangsang. Bastian hanya mencoba untuk menahan diri karena dia tahu Sandrina bahkan belum makan sejak semalam. Kalau tidak, mungkin Bastian akan memilih menjadikan Sandrina sebagai Sarapan paginya.
"Aaa..." respon Sandrina yang baru mengerti. Wajahnya memerah karena malu sedang Bastian mendekat lalu mengusap pipi gadis itu
"Masuklah ke kamar sebentar." perintah Bastian yang buru-buru dilaksanakan oleh Sandrina yang kemudian menghilang dibalik pintu kamar.
.
.
.
Welcome baby Damian 🙏
Buat Author, maaf kalau saya bacanya banyak di Skip, soalnya nunggu Sandrina balas dendam tapi kok cuman wacana doang, ga ada tindakan tegas yg sat set ala-ala wanita tegas, mandiri dan ga plin plan.. 😃🙏
Lagi pula orang kaya, CEO cerdas, pengusaha terkenal pula tapi kalau ga bisa cari hal kecil seperti ini mah.. Kelewatan 😃😃🤣🤣🤣
Kalau cuman segitu doang, harusnya dari dulu Bastian juga bisa, dan harusnya dari dulu Sandrina juga bisa melakukan kan sudah nikah dengan Bastian 🙄😤
Kan pengusaha terkenal 🤔🙄 minimal ada basic bela diri untuk melindungi diri sendiri 🙄 atau punya insting kuat jika ada bahaya.. Apa Bastian juga ga punya Bodyguard yang kuat untuk melindungi Boss nya?? Kan datang ke wilayah musuh harus nya ada persiapan matang 🙄😤 apalagi katanya bapaknya Sandrina seorang Senator / pejabat.. Harusnya tahu dong musuh yg dihadapi seperti apa 😤😤
Sandrina bisa nya nangis doang 😤
Ternyata dari kecil sudah banyak disiksa + disakiti mental nya 🙄 matanya dia ga punya keinginan untuk berontak / melawan, krn pasti disiksa tubuh + mental nya
Lo udah tahu Bastian ga cinta, cuman anggap diri Lo pemuas nafsu yg berlabel istri sah 😃 tapi masih juga diam ga ada perlawanan. Di perlakuan seperti pelacur, bukannya bangkit dan buat Bastian lihat dirimu lebih berharga dari pelacur.. Ehhhh malah pasrah dan diam saja 😤
Kalau begini terus, ya sudah.. Terima nasib saja jadi perempuan bodoh yg tidak bisa berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan. 😤
Masalah warisan ibu mu + balas dendam tentang kematian nya belum selesai tapi dirimu masih saja fokus + pasrah jadi pemuas nafsunya Bastian 🤣🤣🤣
Jujur.. Sedih + prihatin lihat Sandrina.. Semoga otaknya terbuka dan bisa digunakan agar tidak terus dimanfaatkan orang lain.. Minimal.. Sandrina bisa menghargai dirinya sendiri dan sadar kalau dia berhak untuk bahagia dan mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintai nya dengan tulus 🙏🙏
Ga bisa apa berbuat sesuatu agar potensial diri bertambah, harga diri tetap utuh dan membuat Bastian terbuka otak nya untuk menghargai kamu sebagai istri nya??
Sudah bab berapa ini tapi kok ga ada perubahan nya, masih saja lemah, masih saja mau ditindas, masih saja mau di manfaatkan 😤 trus balas dendam nya kapan??? 🙄🤔
Jujur, benci banget lihat perempuan lemah yg tidak bisa tegas buat diri sendiri agar bisa dihargai orang lain dan suami, bukan cuman dimanfaatkan doang tanpa ada tindakan tegas 😤