Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau bertanggungjawab
Semenjak kejadian malam naas itu, aku terus menghindari Randi. Aku tidak mau lagi bicara dengan dia apalagi bertemu dengannya. Rasanya dadaku sangat sakit dan sesak jika melihat mukanya. Bilangnya saja cinta tapi nyatanya baj*ng*n. Aku sangat membenci dirinya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan luka yang dia torehkan di hatiku.
Meskipun sudah aku tolak mentah-mentah, tetap saja tidak membuat dia mundur dan menyerah. Dia tetap kekeh pada pendiriannya itu. Aku berfikir cukup sudah aku berbaik hati dengannya. Toh kenyataannya hanya sakit yang aku terima.
Aku adalah gadis yang ternoda oleh laki-laki yang tidak bermoral. Aku gadis yang tidak suci lagi, tapi untuk menerima dia menjadi pendamping hidupku tidak akan terjadi. Meskipun aku terluka dan sakit hati tapi aku tidak meminta pertanggungjawaban darinya.
Aku pikir itu tidaklah penting buatku. Aku berusaha berjuang sendiri menata hidupku yang hancur. Sebenarnya dia mau bertanggungjawab, tapi aku menolak. Meskipun jika suatu hari nanti aku hamil, aku tetap tidak akan mau menikah dengannya.
Aku tidak memikirkan yang namanya pendamping hidup. Impian berumahtangga yang pernah aku khayalkan sudah aku kubur dalam-dalam. Aku hanya menjalani hidupku apa adanya. Aku membiarkan semuanya berjalan seperti air mengalir.
Mungkin aku egois, terserah saja orang mau bilang apa. Aku tidak perduli dengan omongan orang. Toh makan nggak minta orang, buat apa mikirin omongan orang segala. Semua yang merasakan adalah kita sendiri. Aku lebih baik sakit di awal daripada menyesal dikemudian hari.
Sudah dua bulan sejak kejadian malam itu. Dan selama itu pula dia tidak menyerah. Dan yang membuat aku sedikit bernafas lega adalah karena aku tidak hamil diluar nikah. Aku bersyukur, meskipun kita melakukan dosa yang sangat besar tapi tidak sampai membuatku hamil.
Ketika dia mengetahui aku tidak hamil. Dia kecewa, mungkin karena impiannya gagal. Entah apa yang dia lihat dariku, sehingga terus memaksakan kehendaknya. Sebenarnya kalau mau, dia bisa mencari wanita lain diluar sana. Yang tentu lebih segala-galanya dibandingkan denganku. Anehnya dia tidak melakukannya.
Dia selalu mengatakan mencintai aku. Tidak bisa hidup tanpa aku dan banyak lagi kata-katanya yang memuakkan. Rasanya kupingku panas mendengar semua ocehannya itu. Dia bahkan meminta bantuan orang lain, agar aku mau menikah dengannya.
Bukan tanpa alasan aku menolaknya. Hanya saja aku tidak mau hidup dengan orang yang tidak aku cintai. Aku tidak mau hidup dengan orang yang egois dan semena-mena seperti dia. Aku yakin banyak hal yang tidak aku ketahui menyangkut sifat aslinya.
Entah kenapa aku merasa dia bukan orang yang benar-benar baik. Aku merasa cintanya tidak tulus. Tapi aku juga bingung untuk memahami semuanya. Ada sesuatu hal yang dia sembunyikan dariku. Entah itu apa!
* Mengalami hal buruk dalam hidup tentu sangat menyakitkan. Tapi menyalahkan orang lain dan membenci juga bukan pilihan yang baik. Berdamai dengan hati kita sendiri patut untuk kita lakukan. Menjalani semua yang terjadi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan adalah kunci bagi kita untuk mendewasakan diri agar bisa menyelesaikan segala masalah yang terjadi. Terpuruk disaat keadaan sulit boleh, tapi menyerah atau putus asa jangan sampai terjadi. Segala sesuatu yang terjadi tidak perlu kita sesali, karena akan percuma. Belajar mema'afkan dan memperbaiki pribadi diri menjadi orang yang lebih baik lagi.