Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Desiran Aneh Membuat Jantung Berdebar
Ruan masih menatap lurus ke arah kertas desain yang masih belum dia lanjutkan garisnya. Sepagian ini konsentrasinya terpecah untuk kali pertama dalam masa hidupnya. Entah kenapa tanda kemerahan palsu yang dibuat Shira membuatnya sempat berdebar, dan pipi Shira yang memunculkan semburat merah jambu bahkan aroma harum rambut gadis itu membuat Ruan lupa sejenak dengan status mereka.
“Pak!” Suara Faris yang sedikit kuat membuyarkan lamunan Ruan.
“Apa ada masalah, Pak? Saya panggil dari tadi Pak Ruan ga merespon.”
Ruan membuang napas pelan, dia melepaskan pensil mekaniknya lalu menyandarkan punggung lebarnya pada sandaran kursi kerjanya.
“Kalau pipi manusia tiba-tiba bersemu merah, apakah itu bisa diatur dengan kemauan otak? Atau itu terjadi karena reaksi tubuh?” Pertanyaan Ruan yang langka ini membuat Faris bengong untuk sesaat.
“Pipi bersemu merah? Apakah ini ada kaitan dengan ide desain, Pak?” Faris bertanya dengan ketidak mengertian tingkat tinggi.
“Ga ada. Jawab saja.” sahut Ruan dengan ekspresinya yang mulai membuat takut.
Faris dengan cepat membuka ponsel dan bertanya pada meta AI.
“Menurut penjelasan ini, pipi yang bersemu adalah bentuk reaksi tubuh yang terjadi secara otomatis, Pak. Jadi pipi yang bersemu ga bisa dikendalikan oleh kemauan diri. Hal itu bisa terjadi umumnya karena dipicu oleh beberapa hal. Misalnya, rasa malu atau gugup, perasaan emosional yang didapat bisa jadi karena sebuah perhatian sehingga membuat senang, deg-degan, canggung. Atau bisa juga karena suhu tubuh yang meningkat karena cuaca atau pun karena alkohol.” Faris menjelaskan dengan singkat jawaban yang dia dapatkan dari perangkat ponselnya.
Penjelasan itu malah membuat atasannya itu terlihat seperti sedang memikirkan strategi untuk memenangkan tender. Sangat serius, bahkan lebih serius dari pada saat sedang membuat gambar desain gedung pencakar langit.
“Apa ada hal yang membuat Pak Ruan kesulitan? Mungkin saya bisa mencari seseorang yang ahli membaca ekspresi wajah?”
“Ga perlu, ga perlu.” Ruan menggeleng pelan. Ekpresinya mulai kembali datar seperti Ruan yang selama ini Faris kenal.
“Jadi, ada apa kamu datang?” Nadanya kembali datar.
“Ini Pak, laporan dari kantor cabang yang Pak Ruan minta saya untuk mencari tau.”
Ruan menerima tablet yang sudah membuka dokumen yang telah diselidiki Faris.
“Lalu apa hubungan dokumen ini dengan Shira?”
“Orang yang menandatangani dokumen kerjasama ini adalah… suami baru dari ibu Nyonya Shira.”
Ruan mendengkus, dia membaca ulang kembali dokumen kerja sama yang pernah dia tanda tangani dengan pria bernama Sadim. Ia ingat saat penandatanganan surat kontrak itu, Sadim ditemani oleh istrinya yang menjabat sebagai komisaris. Ibu Diyan.
“Jadi, perusahaan itu ga pernah dijual?”
“Betul Pak.”
“Lalu bagaimana dengan latar belakang Ibu Diyan? Apakah informasi yang aku katakan itu benar?”
Faris menggeser layar dan menunjukkan beberapa bukti keabsahan tentang informasi yang bersifat rahasia yang pernah Ruan dapatkan dari Nenek beberapa minggu lalu.
“Informasi itu benar, Tuan.”
Untuk kali pertama selama bekerja sebagai asistennya, Faris melihat kening Ruan berkerut. Bukan sekadar ekspresi datar yang dingin tanpa kepedulian, kali ini wajah dingin itu membuktikan bahwa si pemilik wajah masih memiliki emosi.
“Simpan informasi ini jangan sampai bocor.” titah Ruan.
Faris mengangguk. Tapi Faris tahu, ada hal baru yang mulai mengusik prinsip Ruan.
* * *
Ruan selalu memilih makan siang di dalam ruang kerjanya jika tidak ada jadwal meeting di luar. Bahkan saat acara perusahaan pun, dia lebih memilih memberikan kartu untuk dipakai membeli makanan untuk para stafnya dari pada duduk bersama.
Seperti siang ini, Ruan masih belum memutuskan akan memesan makan siang apa meskipun Faris sudah bertanya empat kali.
“Pak-” Baru satu patah kata yang terucap dari bibir Faris yang masuk ke dalam ruangan itu setelah empat kali Ruan masih belum memilih menu makan siang, Ruan langsung melemparkan tatapan dingin dan membeku pada Faris.
“Maaf mengganggu lagi, Pak, tapi-”
“Saya belum lapar, Ris!”
“Tapi Pak-”
“Tapi ini udah lewat jauh dari jam makan siang Pak.” kali ini kalimat itu bukan berasal dari suara Faris.
“Shira?” Ruan memastikan pandangannya bahwa yang muncul dari sisi Faris adalah perempuan yang tingginya tidak sampai 160 cm itu adalah Shira.
“Kenapa kamu ada di sini?”
Faris memberikan jalan untuk Shira masuk lebih dalam ke ruangan itu.
“Maaf Pak kalau kesannya saya lancang, tapi Mama Ratna yang nyuruh saya untuk antar bekal makan siang. Mama Ratna bilang, Pak Ruan pasti selalu telat makan, ternyata bener dugaan Mama Ratna. Ga baik Pak telat makan mulu, bisa bikin asam lambung naik, takutnya jadi mual malah jadi…” Shira segera mengatupkan bibirnya begitu mendengar Faris berdeham pelan.
“Maaf, Pak, saya cuma… cuma menjalankan sandiwara aja. Supaya lebih meyakinkan. Ga ada maksud lain. Sumpah!” Shira mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Ruan membuang napas pelan, ia melihat cuaca di luar jendela yang terlihat terik.
“Dengan apa kamu datang?”
“Mobil, Pak.”
“Taksi online?”
Shira menggeleng. “Beno yang antar saya. Dia juga masih nunggu di lobi bawah.”
“Beno?” Ruan bertanya dengan nada heran. Tapi hanya Faris sepertinya yang sadar, di dalam nada heran itu ada tersirat nada ketidaknyamanan.
“Iya, katanya dia mau ke toko peralatan hiking.”
“Lalu untuk apa dia nunggu kamu di lobi?”
“Hmmm, untuk antar saya pulang lagi.”
Jawaban itu membuat sudut bibir Ruan berkedut dengan tidak nyaman. Begitupun dengan perasaannya.
Dia kemudian beralih melihat Faris, “Katakan pada anak itu, suruh dia pergi.”
Faris mengangguk kemudian keluar dari ruangan Ruan meninggalkan Shira yang terlihat kebingungan.
“Nanti saya yang antar kamu.”
“Eh, ga usah Pak, saya bisa naik taksi online.” Shira merasa tidak enak.
“Dan membuat Mama Ratna curiga?” potong Ruan.
“Mama Ratna pasti ngerti kalo Pak Ruan banyak kerjaan.”
“Tapi akan lebih meyakinkan kalau saya mengorbankan pekerjaan untuk mengantar istri saya pulang ke rumah, kan?"
Shira terdiam dan detik berikutnya dia mengangguk mengerti. Kotak makan siang di tangannya dia letakkan di atas meja.
“Kalau begitu, makan dulu Pak.”
“Kamu udah makan?”
Pertanyaan itu membuat Shira mematung sembari menatap Ruan lalu kemudian memalingkan wajahnya.
“Udah Pak.”
Ruan mengangguk. Lalu menyuruh Shira untuk duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu.
“Oh iya Pak, kapan-kapan, apa saya boleh nginep di rumah Nenek? Saya pengen sesekali temenin Nenek dalam masa pengobatannya.”
Ruan melirik lalu melanjutkan aktifitas makannya sembari menggambar di atas meja arsiteknya.
“Silahkan.”
“Apa saya boleh juga ajak Lulu?”
Kali ini tangan Ruan berhenti.
“Bukankah akan merepotkanmu kalau kamu ajak Lulu juga?”
Shira terkekeh. “Mana ada ibu yang direpotkan sama anaknya sendiri, saya malah lebih tenang kalo Lulu ikut saya.”
Detik itu juga Ruan menyadari ada yang aneh dengan aliran darahnya. Seperti sesuatu yang berdesir aneh yang membuat jantungnya berdebar.
.
.
.
Bersambung