NovelToon NovelToon
Duda Terpaksa Turun Ranjang

Duda Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Obsesi / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:325.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Pramudya

"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."

Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.

Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengurungkan Niat Demi Anak

Dewa berusaha meminumkan obat penurun demam untuk Qinan, tapi Qinan yang menangis justru menyemburkan obatnya. Obat bercampur saliva Qinan pun mengenai kemeja Gita. Padahal Gita sudah bersiap dan hanya menunggu ke pelabuhan saja.

"Ta, biar aku yang gendong. Kamu sudah ganti baju, itu kemeja kamu kena obatnya Qinan."

Dewa meminta Qinan dan menggendongnya, sedangkan Gita yang sekarang mengulangi untuk meminumkan obat pada Qinan. Percobaan kedua barulah berhasil. Itu pun harus ditahan dan sedikit membuat Qinan bisa menelan obat penurun demam dengan rasa anggur itu.

Dewa kembali menggendong Qinan, terlihat Dewa sebenarnya masih mengantuk, terdapat lingkaran gelap di bawah matanya, tanda bahwa pria itu lelah. Namun, masih begitu pagi, Qinan sudah tantrum.

Lucunya Qinan, ketika digendong Papanya sendiri justru dia semakin menangis dengan kencang. Gita menghela napas panjang, kemudian dia mengusapi kepala Qinan yang masih digendong Papanya.

"Sudah digendong Papa loh, kok Qinan masih menangis?" tanya Gita.

Gita mengatakan itu dengan lembut, usapan tangannya juga lembut. Qinan masih menangis, suara anak itu saat menangis terdengar begitu kencang. Gita menjadi tak tega jadinya.

"Biar aku gendong lagi aja, Mas," kata Gita kepada Dewa.

"..., tapi, Ta. Kamu akan pergi."

Gita terdiam sesaat, seolah-olah ada hal yang harus dia putuskan dengan segera. Usia itu, Gita menatap Qinan lagi. Rasa kasihan itu kembali datang. Terlebih membayangkan kalau Qinan demam, dan Gita tengah di Johor Bahru. Itu artinya Gita juga tak bisa segera pulang kembali ke Batam.

"Aku batalkan aja, Mas."

Dewa tercengang. Begitu mudahnya Gita membatalkan rencananya untuk berjalan-jalan ke Johor Bahru. Hatinya terusik, sekali lagi Dewa melihat bagaimana Gita lebih memprioritaskan Qinan.

"Pasti karena Qinan yah? Tidak apa-apa, nanti aku ajak Qinan pulang ke rumah Mama. Kamu benar, kamu memang butuh jalan-jalan, kami berdua dulu tidak apa-apa," balas Dewa.

"Jalan-Jalan bisa lain kali kok, Mas. Aku lebih mengkhawatirkan Qinan," balasnya.

Gita meminta Qinan dan menggendongnya. Kemudian gadis itu masuk ke dalam kamar, dia menelpon temannya dulu dan berkata bahwa dia tidak bisa sekarang karena Qinan tiba-tiba sakit. Uniknya Qinan, ketika sudah digendong Gita, anak kecil itu juga menjadi lebih tenang.

"Sorry, Ta. Gara-gara Qinan, acaramu liburan jadi batal. Aku tuker uang tiket kapal yang sudah kamu beli yah," kata Dewa sekarang.

Sebab, Dewa merasa tidak enak hati karena Gita telah membatalkan liburannya. Untuk itu, Dewa ingin menukar uang tiket kapal ferry yang sudah Gita beli. Sebab, tiket itu menjadi hangus tentunya.

"Terserah Mas Dewa aja. Lagipula, aku enggak meminta ganti rugi kok. Dengan keluarga sendiri tidak ada kata ganti rugi, Mas," balas Gita.

Dewa terdiam. Ironis memang sering kali orang-orang berhitung untung dan rugi. Namun, sekarang di hadapannya ada gadis yang begitu tulus. Hatinya terketuk.

"Aku yang ingin menggantinya, Ta. Kamu mau cash atau transfer aja?" tanyanya.

"Terserah saja."

Dewa akhirnya membuka aplikasi m-banking di handphonenya. Nominal sekian rupiah dia transferkan ke nomor rekening Gita. Pria itu kemudian berkata.

"Sudah, Ta. Aku transfer. Terima kasih sudah memprioritaskan Qinan."

"Hm, sama-sama, Mas."

Usai itu, dengan masih menggendong Qinan, Gita menuju ke dapur. Lantaran tak jadi pergi, dia akhirnya memilih menyiapkan sarapan. Tak seperti biasanya, kali ini Dewa ikut menuju ke dapur.

"Gak usah, Ta. Gak usah bikin sarapan. Aku belikan aja," katanya.

"Membuat sarapan sederhana aku masih bisa kok, Mas," balas Gita.

"Itu kamu gendong Qinan, pergerakanmu terbatas. Aku aja yang beli di luar. Kamu pengen makan apa? Nasi Lemak, Lontong Sayur, Mie Terempa, atau apa?" tanya Dewa.

"Terserah Mas Dewa aja."

Akhirnya Dewa memilih pergi dan membelikan sarapan. Sedangkan Gita menjaga Qinan. Dia perhatikan kenapa tiba-tiba Qinan demam. Seingat Gita, semalam saja Qinan tidak demam. Saat menggendong Qinan, ada saliva Qinan yang keluar dari bibirnya, tak seperti biasanya bibir Qinan pun tak terkatup rapat. Gita menunduk dan melihat bagian mulut Qinan. Ternyata di lapisan gusinya memerah, ada putih-putih kecil yang tumbuh. Sekarang, Gita tahu penyebab Qinan demam dan tantrum seperti ini.

"Oh, kamu mau tumbuh gigi ya, Nak? Tumbuh itu sakit, tapi tak apa-apa, kamu memang harus bertumbuh. Semoga segera sehat kembali ya Qinan Sayang. Kalau sudah punya gigi, nanti mulai berbicara yah. Ngobrol sama Ante Gita. Sama Mama," kata Gita.

Lantaran tumbuh gigi, air liur Qinan menjadi lebih banyak sehingga membasahi kemeja Gita. Akhirnya Gita memilih naik ke kamar, dia harus mengganti kemejanya dengan kaos yang lebih nyaman. Toh, dia juga tidak jadi pergi jalan-jalan.

Untung Qinan tidak menangis ketika ditidurkan di tempat tidur. Gita kemudian mengambil kaos dan hendak mengganti kemejanya. Sudah ada tiga kancing kemejanya yang dia buka karena memang kemeja secara khusus di bagian dada menjadi basah. Gita lupa menutup penuh pintu kamarnya, sehingga Dewa pun membuka pintu kamar Gita.

"Ta, sebaiknya kamu sarapan dulu. Aku belikan ...."

Ucapan Dewa terhenti, karena saat Gita sedikit membalik badannya, Gita lupa bahwa kancing kemejanya ada yang terbuka dan Dewa tak sengaja melihatnya. Walau tak semuanya, tapi terlihat permukaan kulit yang putih, nyaris ke arah sembulan dada. Pria itu seketika menunduk. Pun Gita yang segera memegang bagian atas kemejanya.

Dewa tak lama kemudian membalikkan badannya, sungkan, bahkan pria itu merasakan wajahnya terasa panas. Desiran yang hadir setelah sekian lama.

"Maaf, Ta. Melihat pintu kamarmu terbuka, aku langsung masuk," ucap Dewa memberikan penjelasan.

"Maaf juga. Aku baru akan mengganti kemeja karena terkena air liurnya Qinan," balas Gita.

"Aku tunggu di bawah yah, kita sarapan dulu," balas Dewa dengan berlalu pergi.

Setelah Dewa pergi, Gita menghela napas. Rasanya malu sekali. Mengingat selama ini keduanya memang memiliki hubungan yang dingin. Tak pernah ada romansa di antara keduanya.

Gita kemudian menutup pintu kamarnya dan segera turun ke bawah. Benar, di meja makan sudah ada Dewa. Gita sungkan dan malu, dia berusaha menunduk dan sebisa mungkin tidak ada kontak mata dengan Dewa.

"Ta," panggil Dewa perlahan.

"Hm, ya Mas."

"Kita sarapan dulu. Takutnya kalau nanti Qinan tantrum lagi, kita tidak akan punya waktu untuk mengisi perut."

Gita menganggukkan kepalanya. Gadis itu mengernyitkan keningnya karena menu sarapan yang dibeli Dewa terbilang banyak. Tak biasanya Dewa seperti ini.

"Bukankah yang kamu beli kebanyakan, Mas?"

"Tidak apa-apa. Kalau masih ada sisa, bisa untuk makan siang sekalian. Takutnya Qinan rewel dan kita gak sempat makan," balas Dewa.

Gita menganggukkan kepalanya, dia mengerti maksud Dewa kenapa membeli makanan jauh lebih banyak. Usai itu Dewa melirik Gita sesaat.

"Makasih sekali lagi udah menjaga Qinan, Ta."

"Untuk Qinan, aku akan berusaha memprioritaskan dia," balas Gita.

Dewa tersentuh lagi. Kasih sayang yang tak putus. Kasih sayang untuk Qinan yang terasa begitu tulus.

"Thanks yah. Lain kali, kalau ganti baju, ditutup dulu pintunya, Ta."

Wajah Gita memerah jadinya. Dia malu sebenarnya. Oleh karena itu, gadis itu hanya bisa menunduk saja.

"Bagaimana pun ... kamu punya suami, kita berlawanan jenis. Takutnya kalau aku ...."

Dewa menghentikan bicara. Kembali mengingat justru membuat wajah pria itu menjadi panas. Aneh, bahkan Dewa beberapa hari ini ketika berhadapan dengan Gita juga tidak begitu emosian. Apa artinya?

1
Ni Wayan Sudarni
aduhhh, aku jadi kangen dg Batam sempet tinggal dan kerja di Batam View Beach resort selama 2 th dan ketemu suami kerja di sana sama2 orang Denpasar Bali, jodoh ku di Batam mungkin kalo di jadiin novel yaa wkwkwk, mksh thor
Alissia
/Facepalm/
Alissia
/Smirk/
Alissia
🙄🙄🙄🙄🙄🙄
Eli Maliani
bagus ceritanya
dina
Luar biasa
A Z I Z A H
makan hati banget jadi gita, hrs memaklumi sepanjang hidup
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
A Z I Z A H
kenapa kesan nya gita yg mau banget nerima pernikahan ini
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya
Yus Warkop
udah tamat atau gimna belum up
Idha Giatno
Luar biasa
hasimnely
kang modus
Yani Hendrayani
bagus
Kirana Pramudya: Terima kasih💗💞
Baca karya yg lain juga yuk, Kak.
Asmaradhana Putri Ningrat juga bagus loh, Kak. 🤗🤗
total 1 replies
suharlina
extrapart anaknya
Enisensi Klara
terima kasih kisahnya apik KK ,ditunggu kisah lainnya 🥰
Enisensi Klara
lope lope deh utk kalian bahagia sepanjang masa 🥰🥰🥰🥰
Enisensi Klara
Ah nyebelin emang dewa 😳
Enisensi Klara
welcome baby boy ❤️😙❤️
Enisensi Klara
aduh aku ikutan mules ini 😳😳
Enisensi Klara
harusnya tau kan udah pengalaman waktu Tya hamil dulu 😤
Enisensi Klara
Dulu suami ku aja nolak kerja luar kota pas kehamilanku udah besar ,harusnya dewa gitu lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!