Banyak cerita yang ingin kubagi bersama mu.
Hari-hari saat kau tak ada .
Aku selalu cemas bagaimana aku melewati hari tanpa mu.
Tapi, semestinya hidup harus terus berjalan bukan?
Bayangmu di tengah-tengah cahaya senja, gelak tawamu di sela candaanku, dan senyum di kala sore itu.
Aku senang jika waktu berhenti seperti itu.
Bahkan jauh sebelum semua ini bermula, aku telah membayangkan beberapa kemungkinan.
Entah aku atau kau mengucapkan pisah lebih dahulu atau diam yang menjelaskan keadaan.
Jika kelak kita memang tak lagi bersama, tetaplah menjadi tempat teramat rahasia dan mimpi besar ku yang kubagi hanya padamu saja.
Aku harap itu benar-benar mewakili untuk membuat mu sedikit terhanyut pada ingatan masa lalu.
Kau tahu? Aku masih berkunjung sesekali, meski tanpa mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwan Saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepucuk
...****************...
Di rumah Putra......
Sudah beberapa jam Billa menunggu di rumah Putra. Hingga waktu pun mulai sore. Waktu sholat ashar pun sudah mulai terlewatkan. Billa coba kembali menunaikan sholat kembali ke masjid dan kembali lagi ke rumah Putra untuk menunggu.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat 15 menit dan Billa masih menunggu.
Tak lama kemudian handphone Billa berbunyi, "Kringgggggg......," bunyi suara telpon seseorang. Ia pun merogoh handphonenya yang ia letakkan di sakunya. Terlihat lah tulisan "Ibu Sayang." Billa di telpon oleh ibunya. Ia pun segera mengangkat telpon tersebut.
"Hallo.... assalamualaikum, Bu," ucap Billa.
"Waallaikumsalam ... Nak," balas ibu Billa.
"Gimana Nak sudah ketemu sama Putra?"tanya ibu Billa.
"Belum, Bu. Aku sudah dari tadi pagi menunggu disini tapi Putra belum pulang-pulang," ujar Billa dengan nada sedih.
"Ya udah pulang aja nak. Ini sudah sore dan sebentar lagi hari gelap. Bahaya kalau kamu pulang sendirian di tambah jalanan gelap," ucap ibu Billa.
"Tapi... Bu, Billa belum ketemu dengan Putra," ucap Billa.
"Kamu kan gak tau pastinya kapan Putra di rumah, udah pulang dulu aja, Nak. Ibu sama ayah khawatir nanti kalau kamu pulang terlalu malam," ujar ibu Billa.
"Iya ... Billa sebentar lagi pulang," ucap Billa dengan nada sedih.
"Jangan iya-iya aja pulang beneran Nak," ingat ibu Billa.
"Iya ... ibu. Sebentar lagi Billa pulang," ujar Billa kembali.
"Iya hati-hati, Nak. Assalamualaikum," ucap Ibu Billa sambil mematikan telepon.
"Waallaikumsalam," balas Billa.
Mendengar hal tersebut Billa pun merasa sedih karena perjalanan ia haru ini sia-sia tanpa memperoleh hasilnya.
Untuk sesaat Billa kembali menunggu....
"Sepertinya Putra belum pulang juga," ujar Billa dengan nada sedih.
Tak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas dan pena. Ia lalu menuliskan sesuatu di kertas tersebut. Ia gores kan tinta pena tersebut ke secarik kertas dengan ayunan lembut tangannya. Tak memerlukan waktu lama ia selesai menulis kertas tersebut. Di bungkus nya kertas tersebut menggunakan sebuah amplop putih yang bertuliskan "Untuk: Putra". Kemudian ia ingin mencoba menitipkan surat tersebut.
"Titipkan kepada siapa ya? kalau ku letakkan disini nanti hilang," ucap Billa. "Oh iya ... aku titipkan aja dengan ibu tadi."
Billa pun berjalan meninggalkan sepeda motornya terparkir di depan halaman rumah Putra.
Billa menuju sebuah rumah di dekat rumah Putra. Rumah ibu tadi pagi, tetangga Putra yang di tanya-tanya oleh Billa. Rumahnya kelihatan tertutup namun jemuran tadi pagi masih nampak di depan rumah terpampang.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Billa sambil mengetuk pintu.
Terdengar suara sayup di dalam rumah balasan salam Billa, "Waallaikumsalam," tiba-tiba pintu terbuka, " Krekk." Bunyi engsel pintu tersebut yang nampaknya sudah mulai berkarat.
"Permisi, Bu. Saya mau nitip ini buat Putra ya Bu", ucap Billa sambil menyerahkan sebuah amplop putih.
"Ehhh ... kamu yang tadi kan. Kenapa Putranya belum pulang ya?" tanya ibu itu.
"Iya, Bu. Saya mau nitip itu aja nanti ya bu tolong serahkan ke Putra kalau iya sudah pulang," ucap Billa.
"Oh iya nanti ketika menyerahkan surat ini Bu, bilang aja kalau ada temannya tadi kesini namanya Billa," tambah Billa.
"Iya, Nak. Nanti ibu bilangin ke nak Putra nya," ucap ibu tersebut.
"Ya udah Billa pamit pulang dulu ya Bu. Assalamualaikum," ucap Billa berpamitan sambil mencium tangan ibu itu.
"Waallaikumsalam. Iya hati-hati ya Nak," ucap ibu tersebut.
Billa pun meninggalkan ibu tersebut yang masih menatap Billa dari depan pintu. Sesekali Billa menatap Ibu itu dan mereka saling berbalas senyum.
Billa pun meninggalkan rumah ibu tersebut sambil berjalan kaki untuk kembali ke halaman rumah Putra guna mengambil sepeda motornya.
"Sudah jam 4 lewat 50 menit, sebentar lagi gelap. Mana perjalanannya sampai rumah ini bisa 2 jam an jadi mungkin jam 7 sampai rumah," ucap Billa yang sudah duduk di atas motor bersiap untuk pulang.
Tiba-tiba Billa terdiam sesaat sebelum meninggal rumah Putra dan mengucapkan salam perpisahan,
"Hari ini gak ketemu dengan mu Putra. Maaf ya mungkin ini yang terbaik buat kita," ucap Billa sambil menatap rumah Putra.
Billa pun mulai meninggalkan halaman tersebut hingga hilang menyusuri jalanan.
Di lain tempat.....
Putra dan ibunya serta adiknya masih mencoba membersihkan kebun karet tersebut. Tiba-tiba Ibu Putra berhenti sejenak duduk lalu minum.
"Jam berapa, Nak?" tanya ibu Putra.
Putra mendengarkan perkataan Ibunya itu langsung melihat handphone dan melihat jam.
"Jam 5 lewat 10 menit Bu," jawab Putra.
"Yok nak kita pulang," ajak ibu Putra.
"Ayo ... Bu," jawab Putra.
Putra dan adiknya lalu berhenti bekerja. Lalu mereka mulai membereskan peralatan maupun alat yang mereka bawa tadinya dari rumah. Hari mulai tampak gelap, meskipun belum terlalu malam. Rimbunnya dedaunan membuat sinar matahari yang tersisa sore itu, sedikit yang menembus dahan dedaunan. Hingga membuat di bawah pohon tersebut rindang nan gelap.
Setelah membereskan peralatan dan alat-alat yang mereka bawa. Mereka pun bergegas pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor dengan bonceng tiga. Mereka susuri jalan melewati kebun-kebun milih warga lainnya. Tampak juga beberapa warga desa tersebut ada yang berjalan maupun membawa sepeda motor mulai berduyun-duyun untuk pulang mengingat hari sebentar lagi akan gelap.
Di perjalanan pulang tersebut mendekati rumah Putra. Tiba-tiba ada seseorang mencoba memanggil Putra yang sedang mengendarai sepeda motor.
"Puttt ...." terdengar suara tersebut.
Putra pun mulai memalingkan wajahnya yang sebelumnya hanya fokus ke jalanan. Putra pun berhenti sejenak.
"Put ada titipan surat," ujar ibu Yeyen tetangga Putra.
"Dari siapa, Bu?" tanya Ibu Putra di belakang.
"Kalau gak salah namanya tadi siapa ya," Bu Yeyen coba mengingat, "namanya Billa. Iya Billa namanya."
Putra pun hanya terdiam mendengar nama tersebut. Ibu Putra juga terdiam dan mulai memandangi wajah anaknya.
"Ini suratnya," ucap bu Yeyen sambil menyerahkan amplop berisikan sebuah surat.
"Iya, Bu terimakasih," ucap Putra sambil memegang amplop berwarna putih itu.
"Sama-sama Nak Putra. Oh iya tadi dia dari pagi nungguin kamu di depan rumah. Keliatannya juga tadi ia sempat juga tertidur, kalau ibu lihat dari sini ya tapi sekitar jam 5 kurang tadi ia pulang. Sambil menitipkan surat ini kepada ibu," ucap bu Yeyen.
"Oh yaudah kalau begitu, Bu. Kami pamit pulang dulu. Habis dari kebun tadi jadi lama," ucap Ibu Putra.
"Terimakasih ya Bu," tambah ibu Putra.
"Sama-sama Bu," balas bu Yeyen.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan bu Yeyen dan kembali menuju rumah mereka....
...****************...
Terima kasih udah selalu dukung novel "Uta & Alber"
😊
Tanda elipsis pakai spasi.
Ke mana adalah yang benar, bukan kemana.
Eitsss ... Tapi--
semangat terus kak 💕