Stella tidak menduga jika kesalahan satu malam dalam misinya mengungkap perselingkuhan suaminya, justru membuat masalah baru untuknya. Dia hamil anak atasan suaminya.
Apa yang harus dilakukan Stella, pengadilan menunda perceraian yang dia ajukan untuk suaminya karena telah berselingkuh karena dia hamil. Tapi didalam rahimnya, bukanlah anak suaminya, melainkan atasan suaminya.
Silakan baca "Istri rasa simpanan" karya 'Mona Al' terlebih dahulu, ini adalah novel lanjutan dari kisah Stella.
Happy reading 🥰😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Ungkapan cinta
Alice sedang berbaring ketika dokter Firman memeriksa kakinya. Setelah melihat jika kakinya tidak ada keluhan apapun, dia lalu tersenyum manis pada Stella yang memperhatikan bagaimana dia sedang melakukan tugas seorang dokter.
"Semua baik. Tidak ada masalah dengan kakimu. Kau mendengarkan nasehat yang aku katakan dengan bagus," Dokter Firman memasukkan alat-alatnya kedalam koper.
"Terimakasih, saya sangat terharu anda datang kemari. Tapi, kenapa tidak bicara jika akan datang, harusnya anda mengabari saya," kata Alice yang sering melakukan video call dengan Dokter Firman. Dan dokter Firman tidak mengatakan jika dia akan datang padanya. Tiba-tiba datang secara mengejutkan.
"Ini kejutan untukmu," berkata dengan menatap lekat mata biru Alice yang teduh.
"Jika semua pasien anda perlakukan seperti ini, maka kekasih anda akan marah,"
"Aku tidak punya kekasih,"
"Ohh, maksud saya istri anda," merasa bersalah maka langsung meralatnya.
"Saya juga belum punya istri," Membuat Alice salah tingkah dan pipinya merona merah.
"Dan kau? Apakah kau sudah punya kekasih? Jika iya, maka aku akan segera kembali ke negaraku. Aku akan mengganggu kau dan kekasih mu jika tetap disini," Berkata dan akan bersiap mengangkat kopernya.
"Tidak. Saya tidak punya kekasih. Adakah pria yang mau menjadi kekasih wanita cacat seperti saya? Saya tidak pantas di cintai," mengatakanya sambil tertunduk dan teringat pada cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Jangan berkata begitu,ada seorang pria yang mencintaimu dengan tulus. Tapi kau tidak merasakan cinta dari hatinya,"
"Benarkah? Siapa dia? Dan bagaimana anda bisa tahu?"
"Karena akulah pria itu,"
Deg.
Merasa tersanjung sekaligus terpelanting. Dokter ini pasti tidak waras, batinnya. Ahh, kenapa harus berbicara hal yang membuat aku merasa tidak nyaman begini.
"Ohh, dokter, jangan bercanda seperti ini. Saya merasa aneh,"
Dokter memegang tangan Alice dan menggenggamnya. Alice menatap dokter yang kini berjongkok dihadapannya.
Dengan gesit, entah kapan menyiapkannya, dokter Firman memberikan setangkai mawar merah untuk Alice.
"Aku jatuh cinta pada pasienku. Dan entah bagaimana aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Maukah kau menjadi bagian dari jiwaku? Menikahlah denganku?" Dokter Firman lalu memberikan setangkai mawar merah untuk Alice.
Alice terpaku seperti boneka salju. Tak bergerak. Tangannya dingin dan gemetar.
Tidak mungkin, batinnya.
"Tidak mungkin," Kata Alice lirih, membuat dokter Firman terkejut.
"Kenapa tidak mungkin? Aku datang dari jauh, karena ingin mengatakan cinta di hatiku untukmu,"
"Anda tahu keadaan saya. Saya bukan wanita sempurna. Saya adalah wanita lumpuh dan menggunakan kaki palsu, anda pasti hanya mengasihani saya," Berkata sambil memalingkan wajahnya dan mengusap airmata kepedihan di hatinya.
Dokter Firman lalu menutup matanya sesaat dan membukanya lagi.
"Alice. Kenapa kau berkata jika aku tidak bisa mencintaimu? Aku benar-benar mencintaimu dengan hati yang tulus. Aku tahu keadaan mu. Dan aku mencintai mu, dengan kesungguhan hatiku. Aku datang untuk meminangmu,"
"Tapi dokter, saya....saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Berikan saya waktu untuk berfikir,"
"Baiklah. Berapa waktu yang kau butuhkan? Satu hari atau dua hari?"
"Satu Minggu,"
"Kenapa lama sekali? Apakah ada orang lain dihatimu?"
"Saya tidak bisa menjawabnya. Jika anda bersabar, maka anda akan mendapatkan jawabannya," Alice mengusap airmatanya.
"Baik. Aku akan kembali ke hotel. Dua hari lagi aku akan datang menemui mu. Satu Minggu terasa seperti satu tahun. Satu hari terasa seperti satu bulan. Aku akan datang dua hari lagi, dan aku harap jawabannya adalah iya,"
"Dokter...."
"Okey, aku pergi. Kuharap kau menerima cintaku. Aku mencintaimu dengan kesungguhan hatiku. Bukan karena fisik atau alasan lainnya. Tuhan mengirimmu sebagai jodoh yang aku tunggu, bye, sampai ketemu dua hati lagi,"
Alice menatap dokter Firman dengan bingung.
Pertemuan yang singkat namun sangat bermakna. Tanpa basa-basi dokter Firman mengatakan niat kedatangan nya. Dia tidak punya waktu untuk bertele-tele.
Menunda waktu untuk mengatakan cinta justru akan membuat keraguan dan akhirnya tidak menyatakan nya. Cinta harus dikatakan dan diungkapkan. Hasilnya, apakah akan diterima atau tidak, maka jangan dipikirkan.
Dokter Firman keluar dan berpapasan dengan Vishal yang akan melihat sahabatnya. Dia khawatir mendengar tadi mamanya memarahi Alice karena menabrak Stella dan membuat jus tumpah di perutnya. Dia khawatir Alice tersinggung dan menjadi sedih. Dia datang untuk menghibur nya.
"Hallo...." Dokter Firman menyapa Vishal.
"Hai..."
Saling menyapa tapi segera berlalu, karena mereka tidak saling kenal sebelumnya.
(jgn jdikan alice jahat ya tor..)🙏👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻