Gia, adalah gadis yang tidak suka dengan hal berbau ketidakadilan. Hal ini membawa Gia lebih memilih bekerja menjadi staff di sebuah Lembaga Perlindungan Anak, dari pada bekerja di perusahaan papanya. Semua orang termasuk pimpinan LPA tidak suka dengan sifat keras Gia yang kokoh bak semen tiga kodi ini. Hingga sebuah kasus perebutan anak dan KDRT membuat Gia bertemu dengan duda tampan bernama Airlangga.
Kesalahpahaman terjadi, Gia menganggap Airlangga pria jahat karena meminta bantuan pimpinannya. Hingga semua berbalik, Gia dengan sekuat tenaga membantu pria itu untuk mendapatkan hak asuh sang putra.
“Kamu itu bekerja melindungi anak, atau melindungi pria itu? Gia, ini Lembaga Perlindungan Anak, bukan Lembaga Perlindungan Duda!”
Gia hanya diam saat dibentak Rafli atasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Membujuk
“Halo.”
Setelah berpikir yang tidak-tidak, akhirnya Gia menyapa Zie dan Marsha. Ke dua gadis itu pun langsung balas menyapa Gia dengan sopan.
Gia pun mengajak Zie dan Marsha ke ruang konsultasi untuk membahas masalah yang sedang Zie alami.
“Apa tidak masalah jika temanmu juga di sini?” tanya Gia sebelum masuk ke sesi konsultasi.
“Tidak apa-apa, Marsha sudah tahu kok,” jawab Zie.
Gia mengangguk-angguk, kemudian meminta Zie untuk duduk.
Marsha sendiri terlihat mengeksplore isi ruangan itu, di sana ada sofa yang tampak empuk dan nyaman, banyak buku bacaan di sisi kanan pintu, bahkan ada televisi besar yang berada di sisi berseberangan dengan rak buku. Sungguh tempat yang begitu nyaman untuk berkonsultasi, karena ada mini play ground juga di sana.
“Fasilitasnya komplit,” gumam Marsha yang tengah terkagum-kagum.
Marsha mengambil satu buku untuk dibaca, kemudian duduk di meja baca sambil mendengarkan Zie bicara dengan Gia.
“Bagaimana kabar kakak?” tanya Zie berbasa-basi.
“Baik,” jawab Gia sambil memulas senyum di bibir.
“Apa Kakak sudah makan?” tanya Zie lagi untuk mengulur waktu, tapi Gia seperti tak menggubris.
“Bisa kita mulai konsultasinya sekarang?” tanya Gia balik karena dirinya sudah serius dan siap mendengarkan masalah gadis di depannya ini.
Zie mengatupkan bibir, kemudian menganggukkan kepala.
“Aku sebenarnya bingung memikirkan perebutan hak asuh Gani,” ucap Zie dengan memasang wajah sedih.
Gia terkejut mendengar Zie yang malah membahas Gani. Padahal sudah berpikir jika Zie akan membahas tentang kekerasaan atau yang lainnya.
“Aku merasa tertekan dan terus memikirkan bagaimana nasib Gani. Aku sering menangis diam-diam setiap malam agar Papa tidak tahu aku sedang sedih.” Zie kembali memasang wajah lemas.
Zie menyentuh bawah kelopak mata yang tidak basah, menunjukkan kalau dirinya memang sedih. Padahal empat puluh persen dari ceritanya itu tidak benar sama sekali.
Marsha mengulum bibir, mendengar temannya berbohong membuatnya geli sendiri dan hampir tertawa. Dia sampai bersembunyi di balik buku yang terbuka.
“Kakak bisa ‘kan membantu, agar Papa bisa mendapatkan hak asuh Gani?” tanya Zie tiba-tiba. Menatap Gia penuh harap.
Gia belum sadar jika sebenarnya Zie disuruh oleh Airlangga untuk meminta bantuannya.
“Tapi memenangkan hak asuh itu tidak semudah itu,” ucap Gia.
“Gani itu selama bersama Mama Alina tidak pernah diperhatikan. Bahkan pernah ditinggal sendirian di apartemen, Gani juga sekarang lebih kurusan dari sebelumnya,” ujar Zie mencoba meyakinkan Gia agar mau menolong Airlangga.
Gia cukup terkejut mendengar cerita Zie karena jelas tidak tahu akan kondisi Gani.
“Apa kamu memiliki foto Gani sebelum dan sesudah orangtuanya bercerai?” tanya Gia mencari bukti.
Zie mengangguk-angguk, kemudian mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan foto yang dimilikinya.
“Ini foto Gani sebelum Papa bercerai, sedangkan yang ini setelahnya saat aku berkunjung ke apartemen Mama Alina.” Zie menunjukkan dua foto berbeda, di mana salah satunya memang memperlihatkan jika Gani lebih kurusan.
Gia memperhatikan kedua foto itu, hingga sadar jika Gani memang tidak terurus setelah bersama Alina. Dia miris karena kondisi Gani yang malah tidak sehat saat bersama ibu kandungnya sendiri.
“Kakak, tolong! Kakak bisa ‘kan bantu Papa untuk memenangkan hak asuh Gani. Aku tahu Kakak pasti bisa,” bujuk Zie penuh harap. Bahkan dia sampai memegang lengan Gia dan menggoyangkannya sedikit.
Marsha mendengarkan dan memperhatikan keduanya, membuka buku tapi hanya digunakan untuk menutup sebagian wajah. Tatapannya tertuju ke Zie dan Gia secara bergantian.
Gia memandang Zie yang terus membujuk dirinya untuk membantu Airlangga, hingga gadis itu sadar jika Zie pasti diminta pria itu untuk membujuknya.
“Aku ingin bertanya, apa papamu yang minta kamu datang ke sini dan membujukku?”
Ndak usah ngalor ngidul, langsung Des Des Des...