Novel ini adalah sekuel dari Novel My Husband Is My Secret Lover (Ketika dendam dan cinta tumbuh secara bersamaan)
Cuplikan bab
Lima tahun berlalu, Janetha kembali ke Indonesia dengan membawa seorang anak lelaki berusia lima tahun.
“Janeth, siapa anak ini?” tanya Shian yang tak sengaja bertemu dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Beberapa tahun ini pemuda yang telah tumbuh menjadi pria dewasa itu terus mencari keberadaan Janetha Anjani tetapi ia selalu gagal.
Janeth terlihat begitu terkejut saat wajah yang sangat ia benci itu tiba-tiba berada di hadapannya. Perasaan yang telah lama ia pendam dalam lima tahun belakangan ini terpaksa harus muncul kembali.
“Dia anakku! Jangan menyentuhnya!” gertak Janeth. Shian gemetar hebat saat mendapati gadis itu begitu terlihat marah, namun mata pria itu tak dapat terlepas dari wajah balita yang begitu mirip dengannya tersebut.
Siapakah anak tampan itu? Apakah ia memiliki hubungan dengan Shian?
Happy Reading ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Meilina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Objek Fantasiku
“Apa maksudmu Shian?” Janeth mengerutkan keningnya, sambil memasukkan thermometer ke mulut Shian.
Biasanya Shian akan menolak hal tersebut tetapi kali ia begitu penurut. Janeth memeriksa alat pengukur suhu tubuh itu, dan ternyata benar sesuai dugaannya Shian memang sedang demam, suhu tubuhnya mencapai 40 drajat celcius.
“Janeth, apa kau tak ingat? Semalam kau memijatku dengan penuh kemesraan,” terang pria itu berkata jujur.
“Apa kau bilang?”
“Jangan mengerjaiku Shian, aku berada di kamar semalam hingga pagi ini,” Janeth hanya menganggap perkataan Shian hanya sebuah gurauan.
“Sungguh Janeth, seperti inilah caramu menyentuhku semalam, begitu lembut penuh perasaan, kau berbeda dari biasanya,” ucap Shian sambil meletakkan tangan Janeth ke dadanya, ke lengannya dan ke pahanya.
Janeth mulai tersulut emosi mendapati tingkah Shian yang mulai berlebihan. Ingin rasanya ia memukul pria itu lagi jika tak ingat bahwa Shian sedang sakit.
“Apa-apaan kau ini Shian!” Janeth menarik tangannya saat Shian mulai jahil mengarahkannya pada miliknya yang mengeras.
“Dasar mesum! Seharusnya aku tau ini hanyalah akal bulusmu!” Janeth membuka beberapa butir obat penurun panas dan vitamin.
“Sungguh Janeth! Semalam kau memijitku. Apa kita perlu melihat CCTV?” Shian masih saja bersikukuh meyakinkan gadis itu.
“Kau meninggalkanku saat aku sedang dalam mode on, dan itu sangatlah menyiksa! Memancingku kemudian meninggalkanku!” gerutu Shian membuat Janeth semakin kehilangan stok kesabarannya.
Dia sungguh tak mengerti dengan apa yang sedang Shian ucapkan.
“Diam Shian! Aku tak ingin mendengarkan aktifasi otak jorokmu itu!”
“Buka mulutmu!” perintah Janeth kasar.
Shian yang merasa terancam pun akhirnya menurut pada gadis bar-bar mempesona itu. Dengan pasrah dia membuka mulutnya kemudian menelan pil pahit dari Janeth, benar-benar pil yang sangat pahit sepahit halusinasinya semalam.
Jika bukan Janeth yang memijatku, lalu siapa? Semalam bukankah aku sempat mencubunya bertubi-tubi hingga mengalami kelelahan seperti ini, batin Shian.
“Shian, buka mulut kau harus makan.” Janeth mengarahkan sesuap nasi pada mulut pria itu dengan senang hati Shian pun menyambutnya.
“Apa kau benar-benar merasa tidak enak badan?” tanya Janeth sambil mengelap sisa makanan pada sudut bibir Shian.
“Ya, aku kelelahan.”
“Apa kau semalam sungguh tidak memijitku Janeth?” Janeth menghela napas panjang menahan emosinya.
“Sungguh Shian, apa yang ada di otakmu sebenarnya? aku tidak pernah memijit siapapun di dunia ini kecuali ayahku!”
“Tapi, semalam sangat nyata terasa. Aku sadar seseorang melepaskan pakaianku dengan pelan, membuatnya setengah terbuka kemudian mengoleskan minyak angin pada punggungku, jika bukan kau siapa lagi?”
“Mama sayang!” tiba-tiba saja Ana masuk ke kamar itu dan memotong obrolan Shian dan Janeth.
“Mama?” Shian membulatkan matanya, mungkinkah apa yang ia lakukan dengan Janeth itu hanya mimpi.
“Ya, Mama memeriksa kondisimu semalam, kau demam sejak kecil Mama selalu memijit tubuhmu untuk meredakan rasa sakit, apa kau lupa Nak?” Ana tersenyum simpul. Sementara Janeth hanya mengulum senyumnya ia tau apa yang sedang Shian pikirkan saat ini.
Astaga, kenapa bisa-bisanya Mama yang merawatku semalam, jadi aku mengira bahwa ibuku adalah Janeth? Tapi kenapa saat aku menyerangnya tampak jelas bahwa itu adalah Janeth, sial nyatanya aku mimipi basah lagi! Batin Shian frustasi.
Beberapa malam ini ia memang menggunakan Janeth sebagai objek fantasinya.
“Shian, sudah jelas kan siapa yang memijatmu semalam, haha.” Janeth tertawa.
“Nak, apa Shian baik-baik saja?” tanya Ana kepada perawat putranya tersebut.
“Shian baik-baik saja Ibu Ana, dalam keadaan demam yang cukup tinggi memang dapat menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi atau pun fatamorgana. Semua terjadi di alam bawah sadar mereka, begitu pun dengan Shian,” jelas Janeth.
“Apa traumanya juga sudah membaik?”
“Untuk sembuh seratus persen mungkin belum Bu, tetapi kondisi kejiwaannya sudah cukup membaik, ya kan Shian?” celetuk Janeth mengkonfirmasi.
“Shian sudah tidak panik lagi saat berpapasan dengan truk sampah Ma,” ucap Shian yang sebenarnya masih memikirkan kehaluannya semalam.
...***...
Seorang gadis memasukki kamar Shian dengan satu bouquet mawar merah di tangannya, lipstiknya merah merona dan ia juga membubuhkan make up yang begitu bold, dengan penuh keceriaan ia menghampiri Shian.
“Baby!” teriak gadis itu.
“Sisil?” Shian, Ana dan Janeth hening sejenak memperhatikan gadis itu, Ana memasang wajah juteknya kemudian menyindir Sisil.
“Datang-datang main masuk saja, tidak menyapa tidak apa. Apa orang tuamu tidak mengajarkanmu sopan santun?” sindir Ana, merasa tak enak hati Sisil pun segera mengampiri Ana dan meraih tangan ibu itu.
“Maaf tante, Sisil begitu semangat untuk menemui Shian,” ucap Sisil mencium tangan Ana, Ana hanya memberikan tangannya singkat dan cepat kemudian menariknya kembali. Ana tau jika Sisil bukanlah gadis baik-baik.
“Janeth, ayo kita pergi jalan-jalan,” ajak Ana menarik tangan Janeth, Shian yang sedang berbaring merasa tak rela jika ibunya membawa gadis itu pergi.
“Ma, tunggu!”
“Apa Shian?” Ana mengehentikan langkahnya.
“Ma, bisakah Janeth tetap berada di sini, Shian membutuhkanya untuk meracik obat,” pinta Shian, berharap sang ibu akan mengabulkan permintaannya buatannya.
Ah sepertinya itu ide yang bagus, Janeth akan menjadi tameng agar gadis ular itu tidak begitu mengganggu anakku, batin Ana.
“Umm, boleh.” Ana menatap Janeth.
“Tapi Ibu Ana--,” Janeth terkejut, ingin menolaknya bagaimana mungkin ia berada di kamar itu bersama sepasang kekasih yang sedang berdua-duaan.
“Nak, Ibu minta tolong ya, titip Shian sebentar ibu sedang ingin membeli sesuatu di luar,” ucap Ana sambil menepuk pundak gadis itu.
Janeth pun mengangguk pasrah ia sadar akan posisinya di mansion itu, apa pun yang Ana perintahkan tentu saja ia harus mengiyakan karena itu adalah bagian dari tanggung jawabnya.
“Baby, aku ingin ke toilet,” ucap Sisil.
“Iya sayang, jangan lama-lama ya,” balas Shian sambil melirik Janeth, ia sengaja melakukan hal tersebut untuk membuat gadis itu terbakar.
Janeth memainkan ponselnya untuk meredam hawa panas, lalu membuka salah satu aplikasi chat. Melihat beberapa notifikasi ia pun membukanya satu persatu termasuk pesan dari Aksa.
Shian terus memperhatikan apa yang gadis itu sedang lakukan, meskipun sedang bersama Sisil tetapi matanya tetap terfokus pada Janeth.
Beberapa kali Janeth menyunggingkan senyumannya saat Aksa mengirimnya beberapa gambar lucu.
“Janeth, kau sedang apa?” tanya Shian.
“Sedang chatting, ada apa?”
“Oh,” Shian mulai penasaran dengan siapakah gadis itu sedang berchat ria. Dia pun memeriksa ponselnya, lalu dilihatnya Aksa tengah online.
Tidak salah lagi, pasti Aksa sedang mengganggu Janeth! gerutu Shian dalam hati.
“Janeth, kau sedang mengobrol dengan siapa?” tanya Shian lagi.
“Dengan teman,” jawab gadis itu singkat tetapi senyuman Janeth kian meresahkan bagi Shian.
Tak perduli dengan Sisil yang sedang bergelayut manja di lengannya.
Shian memantau ponselnya, tak berapa lama Aksa membuat story dengan caption.
[You are my Angel, baby Angel Baby you came out the blue of rainy night, no lie❤]
Shian meremas ponselnya dengan geram. Beraninya Aksa mengganggu miliknya, untuk siapa lagi Aksa membuat story itu jika bukan untuk Janeth, ia tau seak awal Aksa memang sudah memiliki perasaan pada gadis itu.
...***...
Keesokan harinya Janeth sedang berjalan ke Supermaket, ia berniat menemui sang ayah untuk melihat kondisinya. Tanpa sengaja matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenal.
"Sil, gue gak mungkin bertanggung jawab!" ucap seorang pria pada kekasih Shian itu.
"Tapi elo yang udah menghamili gue Bryan!" Sisil menangis, Janeth semakin bersembunyi di balik pohon. Untuk menguping lebih banyak lagi.
"Lu yakin itu anak gue? bukan anak Shian?" cecar pria bernama Bryan.
"Shian gak pernah nyentuh gue sedikitpun!"
"Minta saja Shian yang bertanggungjawab kalo gitu! dia kan kaya!"
"Jangan gila Bry!"
"Shian nggak mungkin mau!"
"Kita bisa menjebaknya Sil!" usul Bryan menyunggingkan senyuman.
Janeth berusaha keras menahan keterkejutannya, dia tak menyangka jika Sisil juga seorang player dan tengah hamil anak dari pacarnya yang lain.
Lalu sekarang ingin meminta pertanggungjawaban dari Shian.
No! ini gak boleh terjadi, batin Janeth di tengah persembunyiaannya.
Janet dan shian belum sadar kalau mereka sama sama memiliki perasaan
aku mampir nih.
mampir juga di karyaku ya😊😊