Jangan lupa membaca Menikahi Pria Tua agar alur cerita lebih mudah dipahami ya. 😘💕
Odet Alesha, gadis mungil berwajah baby face yang dijuluki Queen of Game, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu malam yang penuh kekacauan.
Alexandre Mahendra, CEO muda di balik perusahaan gaming terbesar, dikenal dingin, sempurna, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajamnya, tersimpan luka mendalam akibat cinta pertama yang memilih kakaknya sendiri.
Sebuah kesalahan di acara anniversary Mommy Keyna dan Daddy Devan membuat mereka terikat dalam pernikahan yang tak pernah diinginkan.
Di antara pertengkaran, rasa benci, dan luka masa lalu, benih-benih cinta perlahan tumbuh. Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, keduanya harus memilih...
Mempertahankan cinta yang telah diperjuangkan... atau melepaskan orang yang akhirnya menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Odet tertidur sangat lelap. Kasur yang empuk, suasana kamar yang tenang, serta kelelahan setelah seharian bermain game membuatnya benar-benar tidak sadarkan diri hingga sore hari. Ketika matanya akhirnya terbuka, ia langsung terkejut.
“Sudah jam berapa sekarang?” Odet bangkit sambil mengusap matanya yang masih berat.
Tangannya meraih ponsel di samping tempat tidur. Seketika ia membeku. Pukul empat sore.
“Ah… aku benar-benar ketiduran,” gumamnya sambil mendesah pelan. Ia menatap ranjang besar itu sekilas. “Ini ranjang terlalu nyaman sampai bikin orang kehilangan kesadaran.”
Tanpa banyak berpikir, ia bangkit, mengambil baju dari kopernya, lalu masuk ke kamar mandi karena tubuhnya terasa lengket dan gerah. Di dalam kamar mandi, suara air mengalir disertai suara riang Odet yang sedang bernyanyi tanpa beban.
“Basah… basah seluruh tubuh… ah… ah… mandi madu~ 🎶
Basah rambut ini… basah hati ini… asik… asik… 🎶
Goyang~”
Suara itu menggema cukup jelas hingga terdengar sampai luar kamar. Seseorang yang baru saja berada di sekitar pintu kamar hanya bisa menghela napas pelan mendengar suara cempreng itu.
Beberapa menit kemudian, Odet keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Ia menggosoknya menggunakan handuk kecil sambil berjalan santai.
Namun langkahnya langsung berhenti. Matanya melebar. Di depan pintu kamar mandi, seorang pria berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya dingin, tatapannya tajam, dan aura di sekitarnya langsung membuat udara terasa menegang.
Spontan Odet berteriak histeris.
“AAAA! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMAR KU, ES KUTUB?!”
Refleks, ia melempar handuk kecil yang ada di tangannya. Handuk itu mengenai wajah pria tersebut. Pria itu hanya menghela napas, lalu menurunkan handuk itu ke lantai dengan ekspresi semakin dingin.
Tatapannya menembus langsung ke arah Odet. Dan saat itulah Odet sadar. Itu Alex.
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu masuk ke kamar ku dan mandi di sana?” suara Alex datar, dinginnya menusuk.
“Ini kamar kamu…?” tanyanya pelan.Odet langsung terdiam. Matanya berkedip cepat.
“Iya,” jawab Alex singkat.
Hening. Lalu Odet tertawa kecil, kaku, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ah… hahaha… salah kamar ya…” batinnya panik.Tanpa menunggu lama, ia segera meraih kopernya.
“Uh… baiklah aku pergi dulu ya!” ucapnya cepat sambil berjalan mundur. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti lagi. Matanya melebar.
“Baju kotorku…” gumamnya.
Ia baru ingat, bajunya tertinggal di kamar mandi Alex. Dengan rasa malu bercampur keberanian yang tersisa, Odet kembali mengetuk pintu kamar Alex.
Tok… tok… tok…
Pintu terbuka.bAlex berdiri di sana dengan wajah dingin, masih sama seperti tadi.
“Ada apa?” tanyanya datar.
“Kh… hm… itu… baju saya…Ada di kamar mandi…” Odet mulai gugup, suaranya tersendat-sendat.
Alex mengangkat satu alis, lalu tanpa berkata apa-apa langsung memberi jalan.
“Ambil.”
Odet mengangguk cepat lalu masuk. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan langkah cepat, wajahnya masih merah karena malu. Alex langsung menutup pintu kamar dengan keras.
BRAK.
Suara itu membuat Odet tersentak.
“Dasar manusia kutub…Tinggal di kutub sana sekalian sama pinguin aja.” gumamnya sambil menatap pintu itu tajam. Ia menggerutu kecil, lalu masuk ke kamarnya sendiri.
Malam harinya, suasana apartemen terasa sunyi. Perut Odet mulai berbunyi pelan.
“Lapar banget…” gumamnya sambil bangkit dari tempat tidur.
Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas besar itu dengan penuh harapan. Namun kosong.
Atau lebih tepatnya, hanya ada bahan mentah seperti sayur segar dan daging yang sama sekali tidak ia tahu cara memasaknya.
“Tidak ada mie instan…Aku lapar…” Odet menutup kulkas pelan, lalu memeluk pintunya.
Baru saja ia mengeluh, suara langkah terdengar dari belakang. Alex muncul.
“Jangan sembarangan buka kulkas,” ucapnya dingin. Odet langsung menoleh dengan wajah kesal.
“Aku cuma cari mie instan! Aku lapar!” keluh Odet memegangi perutnya.
Alex menghela napas kecil, lalu membuka kulkas. Ia mengambil beberapa bahan, sayur, dan daging. Tanpa banyak bicara, ia memakai celemek yang tergantung di dapur. Odet menatapnya bingung.
“Kamu bisa masak?”
Alex tidak menjawab. Ia mulai memotong bahan dengan rapi. Gerakannya cepat, teratur, dan jelas berpengalaman. Odet yang melihat itu langsung duduk di kursi dapur, memperhatikan dengan serius.
“Wah… serius banget…” gumamnya kagum. Sesekali ia bertepuk tangan kecil tanpa sadar.
“Hebat juga si es kutub ini…”gumam Odet pelan tapi masih bisa di dengar oleh Alex.. Pria itu melirik sekilas, tapi tetap fokus memasak.
Hampir satu jam kemudian, makanan akhirnya selesai. Aroma hangat langsung memenuhi ruangan. Odet hampir meneteskan air liur.
“Wah… ini serius enak banget sih aromanya…” ucapnya sambil menepuk perutnya sendiri.
Mereka pun duduk dan mulai makan bersama dalam keheningan yang cukup aneh namun nyaman. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada sindiran. Hanya suara sendok dan piring. Setelah makan, Odet bersandar di kursi.
“Alhamdulillah… sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan…” ucapnya puas sambil mengelus perut.
Tanpa sadar
BUURP.
Odet bersendawa keras. seketika ia langsung menutup mulutnya.
“Ups…”
Alex hanya melirik sekilas, lalu berdiri mengambil piring kotor dan membawanya ke wastafel.
“Cuci itu,” perintahnya datar.
“Iya iya…” jawab Odet cepat.
Ia langsung mencuci piring dengan cekatan. Tangannya bergerak cepat, terbiasa dari pengalaman kerja di cafe dulu. Tak lama, semua selesai.
Saat ia selesai mengeringkan tangan, ia melihat Alex sudah duduk kembali di sofa, bermain game. Mata Odet langsung berbinar. Ia berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
“Mau tanding?” tanya Odet penuh tantangan.
Alex melirik. “Siapa takut.”
Ia memberikan satu controller pada Odet. Pertandingan pun dimulai. Serius dan sangat ketat mereka berdua penuh konsentrasi.
Skor mereka hampir imbang sepanjang permainan.bSuasana berubah tegang, bahkan suara di ruangan hanya terdengar dari efek game. Hingga akhirnya—
“K.O!” Layar menunjukkan kemenangan Odet.
“YES! AKU MENANG! HAHAHA! ES KUTUB KALAH” Odet langsung berdiri, mengangkat tangan, lalu menunjuk Alex.
Alex terdiam. Rambutnya sedikit berantakan karena ia mengacaknya sendiri. Untuk pertama kalinya CEO dingin itu kalah dalam game.
Dan lawannya adalah istrinya sendiri yang baru ia kenal beberapa hari. Sungguh pemandangan yang sulit dipercaya.
Odet masih tertawa puas, sementara Alex hanya menatap layar dengan ekspresi yang tidak terbaca antara kesal, heran, dan sedikit tidak rela menerima kenyataan.
Di luar logika. Di luar ekspektasi, perlahan tanpa mereka sadari, kehidupan aneh antara es kutub dan gadis cerewet itu mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar pernikahan kontrak.
Bersambung...
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ vote
🥀 berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
upp terus ya