Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahil
"Aku akan berjuang!" ucap Alden mantap.
Rara yang baru saja hendak kembali duduk di kursi kebanggannya sontak terdiam. Matanya mengerjab-ngerjab lucu. Apa ia tidak salah dengar barusan? Mantan suaminya ingin berjuang kembali?
"Berjuang? Ha-ha lo sehat Pak OB?" sinis Rara, lalu mendudukkan dirinya di atas kursi. "Gue udah pikir mateng-mateng semua ini Alden. Gue tau kalau lo nggak sepenuhnya salah di sini. Gue juga salah karena dulu membiarkan rumah tangga ini hancur begitu saja. Kenapa gue diam aja waktu gue tau kalau mantan kekasih lo adalah sahabat gue sendiri? Karena gue masih mau menyangkal kalau semuanya serumit itu. Kita semua memang adalah korban dari Kenzo. Tapi, apakah semuanya tidak akan terjadi jika tidak ada Kenzo? Lo salah Alden! Menurut gue hal yang sama akan tetap terjadi meski ada atau tidak adanya Kenzo. Jadi menurut gue, semuanya emang lebih baik diakhiri saja. Setidaknya apa yang sudah terjadi sama-sama mengajarkan kita berdua untuk menjadi orang yang lebih baik di masa yang akan datang," sahut Rara dengan bijak.
"Jangan perjuangkan sesuatu yang mustahil. Udah nggak ada kesempatan sedikit pun untuk lo. Tolong lo hargai keputusan gue. Gue pengen berdamai dengan semuanya. Tolong jangan sakiti gue lagi. Gue pengen bebas, gue nggak pengen lagi berurusan dengan yang namanya cinta," lanjut Rara, lalu mulai menyibukkan dirinya kembali dengan memeriksa laporan-laporan yang belum ia selesaikan.
"Tidak masalah Ra! Kamu nggak perlu memberi kesempatan, karena aku yang akan mendapatkan kesempatan itu. Kamu nggak ada berhak untuk menghentikan aku. Aku akan terus berjuang meski pun itu mustahil untukmu, tapi menurutku itu sama sekali tidak mustahil!" sahut Alden dengan tersenyum tipis. Sekarang ia paham jika semuanya sudah tidak seperti dulu lagi. Bukankah dirinya terlalu mudah mendapatkan Rara dulu?
"Aku akan buktikan kalau aku sudah berubah. Aku sudah nggak kayak dulu!" lanjut Alden dengan mantap.
Rara hanya memutar matanya malas, merasa tidak akan ada habisnya jika berbicara dengan laki-laki tersebut.
"Terserah kau saja!" sahut Rara malas.
Drtttt Drtttt
Tiba-tiba handphone Rara berbunyi pertanda ada yang menelponnya. Terpampang dengan jelas nama 'Kak Austin' di sana. Sontak ide jahil muncul di kepala Rara. Tanpa basa-basi ia segera mengangkatnya, mumpung Alden masih ada di ruangannya.
"Halo Yank?" jawab Rara yang sontak membuat Alden membelalakkan matanya. Apa tadi? Yank? Ma-maksudnya? Apakah Rara sudah memiliki suami baru?
Tidak jauh berbeda dengan Alden. Laki-laki yang ada di seberang sana juga ikut terkejut mendengar Rara yang memanggil dirinya dengan sebutan Yank.
"Halo Ra. Lo waras?" tanya Austin sambil terkekeh di seberang sana.
"Iya, Rara lagi kerja. Kenapa Mas?" ucap Rara lagi yang sama sekali tidak nyambung.
"Wah, udah nggak waras nih anak." Austin justru semakin bingung di seberang sana.
Rara hanya mampu menahan tawanya agar tidak pecah. Austin memang benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.
"Yaudah Mas datang aja ke kantor Rara. Rara kangen." Rara merengek dengan manja, sehingga membuat Alden semakin panas.
"Kayaknya nih anak habis cebok deh, makanya agak-agak nggak waras," sahut Austin yang memang masih tidak paham dengan maksud Rara.
"Apa hubungannya sama cebok Udin?" pekik Rara kesal tanpa sadar.
"Ya siapa tau lo lupa cebok, makanya otak lo nggak singkron," kekeh Austin.
"Yaudah nanti Mas cebokkin aja, ya?" ucap Rara dengan sedikit genit.
"Astagfhirullah Ra! Nyebut neng! Dihalalin dulu atuh kalau mau dibantu buat dicebokkin!" pekik Austin yang membuat Rara sontak menjauhkan telepon tersebut dari telingganya.
Rara benar-benar dibuat geram dengan Austin yang masih tidak paham dengan maksudnya. Ah, rasanya ingin sekali dia mencakar-cakar wajah tampan Austin.
"Iya, datang ke sini aja ya Mas. Rara tungguin. Assalamualaikum sayang. Muachh." Setelah mengatakan itu Rara langsung mematikan panggilan tersebut, takut justru semakin runyam.
"Siapa?" tanya Alden dengan suara rendah, merasa tidak rela jika istrinya memiliki gandengan baru.
"Bukan urusan lo!" jawab Rara penuh penekanan.
"Ra, ka-kamu serius udah punya gandengan baru? Kamu udah lupain Mas?" tanya Alden sambil menunjuk dirinya.
"Dih ... emang lo siapa yang harus selalu gue ingat?" sindir Rara yang membuat Alden langsung terdiam.
Sepuluh menit sudah berlalu, tetapi Rara masih fakus dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya, bahkan sama sekali tidak ada niatan untuk beranjak.
Sementara Alden berdiri dengan gelisah. Apakah istrinya sudah menikah? Lalu siapa yang Rara panggil Mas dan sayang? Sungguh Alden benar-benar dibuat penasaran, bahkan tubuh laki-laki itu bergetar karena merasa cemas.
"Ra kamu udah nikah?" tanya Alden yang tidak digubris oleh Rara.
"Atau itu cuman pacar kamu doang?" Alden masih tidak menyerah untuk mengajak istrinya berbicara.
"Atau kamu cuman sekedar pura-pura biar Mas cemburu?"
"Berisik!" ucap Rara dengan dingin.
"Tap-"
Ceklek ....
Tiba-tiba pintu dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
"Hallo Baby! I miss you so much!" teriak Austin dengan merentangkan kedua tangannya, seolah berharap untuk dipeluk.
Tiba-tiba pandangan Austin teralih saat tidak sengaja melihat laki-laki yang berada di ruangan Rara.
Austin memperhatikan wajah laki-laki itu dengan teliti, sepertinya ia mengenal.
Tidak jauh berbeda dengan laki-laki itu, Alden juga sama. Dia memperhatikan wajah laki-laki yang terasa tidak asing menurutnya. Dirinya merasa seperti pernah bertemu dengan laki-laki bule tersebut.
"Kamu ...."
"Lho? Kok ada tukang ojek di sini?"
.
.
.
.
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/