[Cover buatan salah satu pembaca baik hati yang mau membuatnya]
"Namaku Yaoma aku hanyalah bocah kecil, yang hidup bahagia, setidaknya itu menurutku sampai kehancuran akibat para Dewa di langit terjadi...."
"Peperangan para Dewa terlalu menghancurkan dunia, ibuku yang seorang Dewi kembali ke langit dan berusaha menghentikannya..."
"Tapi dia tidak pernah kembali, dan senyuman kebahagian keluargaku tidak pernah lagi terlihat..."
"Aku yang masih kecil terkadang berpikir begini 'Apa semua masih bisa kembali?' yah meski setelah melihat fakta hari itu harusnya mustahil yah."
(Authornya jarang off, sorry kalo jarang baca komen + ini novel uji coba. Semoga menikmati)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoake-Sama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 "Neraka Listrik"
Chapter 18
"Neraka Listrik"
*Di lorong gerbang ke-6 menuju gerbang ke-7*
"Cih, apa-apaan itu... dia membandingkanku dengan team itu...," seru Baal dengan kesal sembari berusaha kembali ke gerbang ke-6.
"Aku pasti akan mengalahkan target kita itu, lagipula dia sudah kelelahan pasti tak sekuat yang di bayangkan!" ucapnya dengan kesal sembari menuju ke gerbangnya.
Di isisi lain di dalam gerbang yang sebelumnya Baal masuki, gerbang ke-7
*Di dalam gerbang ke-7*
"Yo Rebbeca-chan!" ucap salah seorang perempuan di balik gerbang menuju ke 8.
"Sedang apa kau kesini Slypharia?" tanya Rebbeca sembari meminum teh.
Slypharia berjalan dan duduk di kursi tempat Baal sebelumnya duduk. "Hehehehe, tak ada kerjaan saja!" jawabannya pada Rebbeca sembari duduk.
"Jika cuman itu alasanmu, kutendang keluar kau dari sini," peringatan Rebbeca pada Slypharia.
"Ah tidak-tidak, aku hanya bertanya soal itu," ucap Slypharia sembari menunjuk ke arah gelas yang di pecahkan oleh Baal.
"Kenapa dengan itu?" tanya Rebbeca pada Slypharia.
"Apa kau tak terlalu jahat pada Baal? dia laki laki paling kuat di antara seluruh komandan loh....," ucap Slypharia pada Rebbeca.
"Laki-laki yang tak pernah belajar dari kesalahan sama saja laki-laki bodoh," jawab Rebbeca pada Slypharia.
"Yah aku setuju sih, cuman yah bukannya har____"
"Jika laki-laki itu di didik lemah kapan ia akan melampaui kita pada wanita di peringkat 1 sampai tiga?" tanya Rebbeca sembari memotong perkataan Slypharia.
"Hah..," hela nafas Slypharia dengan pasrah.
Slypharia mengambil gelas lain di meja itu dan mengambil teko berisi teh, dan mengisinya ke gelasnya.
"Lalu apa hanya itu?" tanya Rebbeca dengan wajah yang sinis.
Slypharia tidak menjawab Rebbeca dan meminum tehnya secara elegan.
"Yah aku juga ingin minum teh, dan bagaimana anak dari ibumu itu?" tanya Slypharia dengan santai.
"Ah ternyata kau mengetahuinya yah, darimana kau tau?" tanya Rebbeca sembari meminum teh kembali.
"Yah kau sempat mengatakannya tadi dan juga aku mengetahuinya dari Astaroth-chan pertama kali," jawab Slypharia pada Rebbeca
"Seperti biasa dia memang selalu paham keadaan yah," ucap Rebbeca pada Slypharia.
"Yah begitulah," balas Slypharia pada Rebbeca.
"Lalu dia sedang apa?" tanya Rebbeca lagi pada Slypharia.
"Paling hanya bermain catur atau kartu sendiri lagi," jawab Slypharia pada Rebbeca.
"Lalu kenapa kau tak itu bermain dengannya?" tanya Rebbeca lagi.
"Menang melawan dia terlalu mustahil dalam permainan itu," jawab Slypharia lagi.
"Yah memang sih," balas Rebbeca pada pengakuan Slypharia.
"Lalu bagaimana adikmu? apakah kau rasa dia bisa mengalahkan Baal?" tanya Slypharia sembari meluangkan teh kembali.
"Entahlah....," jawab Rebbeca sembari melihat ke atas langit-langit ruangan itu.
Di sisi lain Yaoma berjalan menuju gerbang ke 7 dengan santai karena masih kelelahan akan pertarungan sebelumnya.
"Bagaimana ini? katanaku sudah tak ada, dan sekarang aku harus bertarung dengan kekuatanku...," gumam Yaoma sembari berjalan.
"Yah tapi kurasa dia tak akan sekuat kombinasi mereka berdua," ucap Yaoma sembari berjalan menuju gerbang ke-7 dan kembali mengingat Luciel dan Behemonth saat sangat gigih bertarung.
Yaoma semakin mendekat gerbang ke-7 dan saat sesampainya di sana ia langsung membuka gerbang itu dengan tangan kanannya dan mendorongnya sedikit agar ia dapat masuk.
"Akhirnya datang juga yah," ucap Baal melihat pintu gerbang terbuat.
Yaoma memasuki gerbang tersebut secara perlahan dan melihat Baal melipat tangannya dengan sombong dan menatapnya.
"Jadi berikutnya adalah ka___"
"Namaku Baal, komandan ke-5. Sang neraka listrik, siapa namamu!" tanya Baal kepada Yaoma sembari memperkenalkan namanya pada Yaoma.
*Ilustrasi
Baal
[The Electric Hell]
"Aku rasa kau sudah mengenalku," jawab Yaoma pada Baal sembari berjalan maju sedikit agar tak terlalu jauh dari jaraknya dengan Baal.
"Yah aku memang tau, cuman bukankah wajar sebelum perteranguna saling memperkenalkan diri?" balas Baal sembari bertanya kembali pada Yaoma.
"Yah kau benar juga, namaku Yaoma. 'Sang Iblis Terkuat di hutan di atas tempat ini, salam kenal!" ucap Yaoma sembari waspada akan serangan dadakan.
"Kalo begitu salam kenal Yaoma dan aku akan menyerang!" peringatan Baal pada Yaoma sembari mengeluarkan pedangnya dari sarung pedangnya.
Yaoma melihat pedang dari Baal dengan corak biru dan bergambar naga. "Sepertinya ini akan masalah aku menghadapimu dengan tangan kosong," ucap Yaoma setelah melihat pedang Baal.
"Sepertinya begitu," balas Baal sembari menurunkan tangannya yang memegang pedang.
"Tapi.... bukan berarti aku akan bersikap lembut!" peringatan Baal pada Yaoma sembari mengangkat kembali pedangnya dan mengarahkannya pada Yaoma.
"Yah tak apa, silahkan saja kita mulai!" balas Yaoma pada perkataan Baal dengan percaya diri.
"Kenjutsu : Elektro Sword!!" ucap Baal mengaktifkan skill berpedangnya.
Pedang Baal di aliri listrik dari tangan kanannya dan ia ingin menggunakannya untuk menyerang Yaoma.
"Aku mulai!" ucap Baal sembari berlari ke arah Yaoma.
"Tenanglah dan amati pergerakannya!" gumam Yaoma sembari waspada akan serangan Baal.
Baal menebas ke arah kiri dan Yaoma langsung menghindar ke arah kanan, dan Baal langsung menyerang dengan mengarahkan pedangnya ke kanan, dan Yaoma langsung menunduk.
"Cih, reflek dia hebat sekali!" puji sekaligus seru Baal dengan kesal di dalam pikirannya.
Yaoma terus menerus menghindari serangan Baal sembari terus mundur karena Baal terus menerus menyerang nya ke depan.
Yaoma melihat celah setelah beberapa kali melihat serangan Baal dan mengincar tangan kanannya yang memegang pedang.
"Budou : Hangeki Jumbi!" ucap Yaoma mengaktifkan skill bela diri fisiknya.
Yaoma menyikut pedang Baal dengan sikut kanannya dan langsung menyikut wajah Baal dengan cepat menggunakan sikut kiri.
"Ergh...," reaksi Baal setelah menerima serangan fisik biasa Yaoma.
Baal menjatuhkan pedangnya dan termundur sedikit dengan hidung yang Baal sedikit merah dan sedikit mimisan akan serangan Yaoma.
Yaoma mengambil pedang Baal dengan cepat, dan langsung menendang kaki kiri Baal dengan kaki kanan Yaoma sampai terjatuh.
"Uargh..!" seru Baal dalam keadaan terjatuh.
Baal membalikan badannya menuju ke atas untuk melihat Yaoma dan Yaoma menyudutkan Baal dengan pedang Baal sendiri dan Baal langsung terkejut dengan wajah yang kaget.
"Kenapa? komandan ke-5 adalah seorang lemah seperti ini?" tanya Yaoma dengan perasaan tidak puas sekaligus meremehkan Baal.
Baal mengubah wajahnya yang tadinya kaget akan Yaoma menjadi sedikit kesal dengan menggerutu menggunakan giginya.
Baal mengingat kembali ingatan yang tidak ia suka, seperti saat Rebbeca menghinanya dan saat dia melihat kombinasi Behemonth dan Luciel, jauh hari dulu.
"Selalu saja! semua orang menghinaku!" gumam Baal dengan kesal.
Yaoma menancapkan pedang Baal di dekat wajah Baal dan berjalan menuju gerbang berikutnya.
"Yare-yare, ternyata hanya seorang pengecut yah. Tapi baguslah aku bisa menghemat energi," ucap Yaoma sembari berjalan menuju gerbang berikutnya.
"Apa yang kulakukan? kenapa aku jadi pengecut seperti ini?" tanya Baal pada dirinya sendiri di pikirannya.
"Bertarunglah diriku! aku bukanlah pengecut!" seru Baal pada dirinya sendiri di pikirannya agar mau berani.
Baal kembali berdiri dan mengangkat pedangnya dan berteriak pada Yaoma yang berjalan pergi. "Tunggu! aku masih belum bertarung atau melakukan apapun!" teriak Baal pada Yaoma.
Yaoma membalikan badannya dan melihat ke arah Baal sembari tersenyum. "Memang harusnya begitu, pertarungan tanpa sama sekali perlawanan sama saja pertarungan yang sia-sia!" ucap Yaoma sembari bersiap berkuda-kuda bertarung dengan tangannya.
"Yah kau benar!" balas Baal sembari memegang pedangnya dengan kedua tangannya.
"Kalo begitu,
Ayo maju!" ucap mereka berdua secara bersamaan.
"Lightning : Lightning Speed!" ucap Baal sembari mengaktifkan skillnya.
"Dark : Dark Speed!" ucap Yaoma sembari mengaktifkan skillnya pula.
Mereka berdua dengan cepat menuju kesatu sama lain dengan skill kecepatan, Yaoma menggunakan skill kecepatan kegelapan. Sedangkan Baal menggunakan skill kecepatan petir.
Baal berusaha menyerang pertama dengan kekuatan pedangnya sembari menggunakan skill kecepatan listrik.
"Kenjutsu : Lightning Sl____"
Yaoma menghentikan serangan Baal dengan menginjak pedang Baal ke bawah dan bersiap memukul ke arah wajah Baal.
"Sial, refleknya jauh lebih cepat yah," gumam Baal saat Yaoma menghentikan serangannya.
"Dark : Dark Punch!" ucap Yaoma mengaktifkan skill kegelapannya untuk kepalan lengannya.
Yaoma memukul ke arah wajah Baal dan Baal menghindarinya dengan memiringkan kepalanya ke kanan, dan serangan Yaoma yang meleset menjadi shock wafe dan mengenai dinding yang ter arah oleh serangannya.
"Gila, kalo terkena itu aku tak terpental pasti aku monster di atas monster!" gumam Baal sembari melihat ke arah belakang.
"Cih gagal yah!" pikir Yaoma setelah Baal menghindarinya.
"Tapi aku ambil kesempatan ini!" pikir Baal sembari berusaha memancarkan serangan berikutnya.
"Lightning : Electronic Floor!" Baal mengaktifkan skill listriknya di pedangnya yang tertancap karena Yaoma menekan pedangnya ke bawah.
Lantai di aliri listrik dari serangan Baal dan Yaoma tersentrum dan tak bisa bergerak.
"Ergh....!!" seru Yaoma sembari menahan sentruman Baal.
"Sekarang!" gumam Baal sembari bersiap menyerang ke tahap berikutnya.
Baal menarik pedangnya yang tertancap di lantai dan kaki Yaoma yang menahannya terangkat dan tajam sedikit kehilangan keseimbangan.
"Kenjutsu : Lightning Slash!" ucap Baal mengaktifkan skill berpedangnya.
Baal menebas ke arah Yaoma dengan tebasan listrik dengan cepat.
Yaoma sedikit tergores di perutnya oleh serangan pedang Baal yang di alirkan listrik.
"Sakit sekali!" gumam Yaoma setelah keadaan tergores.
Yaoma mendorong tubuhnya ke belakang dengan tumit kakinya dan mundur agar Baal tak dapat kesempatan untuk menyerangnya lagi.
"Cih tak terkena sepenuhnya dan dia lolos yah!" gumam Baal setelah Yaoma berhasil mundur dan menghindar.
Yaoma memegang perutnya yang berdarah karena tergores serangan Baal. "Cih seranganmu memang tak sahabat akurasi Behemonth ataupun sekuat serangan tebasan Biiel, tapi kenapa perih sekali yah...," tanya Yaoma pada Baal sembari memegang perutnya.
Baal beridiri tegak kembali dan bersiap kuda-kuda berpedangnya kembali. "Aku anggap itu pujian untuk mahluk regernerasi seperti Rebbeca!" balas Baal sembari tersenyum kepada Yaoma.
"Dan juga listrik memang lebih menyakitkan jika terkena darah dalam kulit," jawab Baal pada pertanyaan Yaoma sebelumnya.
Perut Yaoma bergernasi kembali dengan perlahan di saat Yaoma memegang nya.
"Kalo begitu artinya aku salah menilaimu yah," ucap Yaoma sembari melepas tangannya dari perutnya.
Yaoma bersiap berkuda-kuda bela diri lagi untuk menghadapi Biiel.
"Aku juga berterimakasih padamu karena aku sempat ragu pada diriku sendiri," ucap Biiel berterimakasih pada Yaoma.
"Aku tidak tau apa yang kulakukan, tapi jika itu membuatmu mau menghadapiku dengan serius maka tak usah serius dan ayo bertarung dengan baik!" balas Yaoma pada Biiel.
"Tentu saja!" balas Baal lagi pada Yaoma.
"Kenjutsu : Lightning Surashu!" ucap Biiel mengaktifkan skill berpedangnya dari jarak jauh.
Biiel menebas dengan tebasan listrik dari jarak jauh menuju ke arah Yaoma dengan cukup cepat.
"Dark : Dark Speed!" ucap Yaoma mengaktifkan skillnya pula.
Yaoma menghilang dengan cepat sebelum serangan Biiel mengenainya dan ia berpindah ke arah samping kiri.
"Lightning : Lightning Speed!" Biiel mengaktifkan skillnya lagi untuk mempercepat gerakannya.
Biiel menghilang dengan kecepatan petir dan langsung muncul di depan Yaoma dan bersiap menebas sekali lagi dengan mengangkat pedangnya ke atas.
"Sial, gerakannya jauh lebih cepat dari komandan iblis lainnya!" gumam Yaoma sembari melihat Biiel dengan sangat cepat ke arahnya.
"Kenjutsu : Lightning Renzoku Kiri!" Biiel mengaktifkan skill berpedangnya lagi dan bersiap menyerang.
"Gawat!" pikir Yaoma dengan sedikit berkeringat melihat Biiel.
Biiel menebas secara bertubi-tubi dengan tebasan listrik ke arah Yaoma.
Yaoma berusaha menghindari setiap serangan bertubi-tubi tebasan Biiel dengan refleknya dan serangan yang tak terkena Yaoma menebas sekitarnya.
"Sepertinya akan bahaya jika terkena satu saja tebasan itu!" gumam Yaoma sembari berusaha menghindar.
"Sial kenapa reflek tubuh orang ini sangat cepat!?" tanya Biiel di pikirannya sembari menyerang.
Yaoma tergores sedikit seragam Biiel yang bertubi-tubi dan mata kirinya sedikit terbebas dan menjadi sulit menglihat.
"Sial mataku terkena!" gumam nya sembari tetap berusaha menghindar dari serangan Biiel yang tak mau berhenti.
"Kalo begitu!" Yaoma memikirkan sesuatu di pikirannya dan menunduk dan mendorong kakinya kebalakang dengan tumit kakinya dan menuju ke arah Biiel.
Biiel langsung menyadari itu dan mengubah gaya pedangnya menjadi menusuk ke bawah. Sedangkan Yaoma berusaha menggunakan tangan kanannya untuk memukul Biiel.
"KENA KAU!" teriak mereka berdua secara bersamaan.
Yaoma tertusuk di bagian tengah punggungnya oleh Biiel dan Biiel terpukul oleh Yaoma namun ia menahannya dengan tetap memegang pedangnya agar tak terpental.
"Ergh....," seru mereka berdua menahan rasa sakitnya.
Tubuh Yaoma berdarah dan darahnya menetes di pedang Biiel, sedangkan mulut Biiel mengeluarkan darah karena menahan pukulan Yaoma.
"Sepertinya kau layak sekali mendapatkan kekuatanku yang lebih kuat," ucap Biiel pada Yaoma sembari melepaskan pedangnya dari punggung Yaoma.
Yaoma berjalan mundur sempoyongan sembari memegang dada kanannya yang berdarah karena tertembus pedang Biiel.
"Yah.... kurasa juga kau benar... sepertinya aku juga harus lebih serius...," jawab Yaoma pada Biiel sembari berusaha tetap berdiri tegak.
"Kalo begitu ayo kita mulai, Yaoma!" balas Biiel pada Yaoma sembari membersihkan darah di bibirnya.
*Di sisi lain di dalam gerbang ke-7*
"Kenapa kau tidak yakin?" tanya Slypharia pada Rebbeca.
Rebbeca meminum tehnya dengan santai dan menjawab Slypharia. "Karena saat dia tekadnya kuat dia itu bisa jauh lebih kuat, yah meski tetap aku yang lebih kuat," jawab Rebbeca pada Slypharia sembari menaruh gelasnya kembali.
"Hahahahahah, yah memang ada benarnya sih tapi ingatlah jika dia kalah, kau terancam!" tawa Slypharia sekaligus peringatannya pada Rebbeca.
"Kalo itu terjadi aku akan mundur dan kita bertiga menghadapinya," jawab Rebecca pada peringatan Slypharia.
Slypharia berdiri dari tempat duduknya dan membawa 1 teko berisi teh dan 2 gelas ke arah menuju gerbang ke 9.
"Aku minta ini untuk meminumnya dengan Astaroth yah," ucap Slypharia sembari berjalan menuju gerbang ke 9.
"Yah silahkan saja, meski dia paling hanya menunggu dan bosan memainkan kartu," jawab Rebbeca pada Slypharia.
"Yah aku pergi dulu," balas Slypharia sembari pergi.
Rebbeca menatap teh di gelasnya sembari mengingat Eden saat dia pergi dari kerajaan langit.
"Cih kenapa aku masih mengingat insiden waktu itu saat aku pergi...."
Episode berikutnya "Neraka Listrik, Prt 2"
well tidak adanya tanda baca disana kau jadi seakan akan menghina ibumu sialan:)
kau ini mau pakai kalimat apa?! jangan dicampur seperti itu coba pelajari lagi tentang tata letak kalimat langsung tidak langsung. ada beberapa hal yg butuh penjelasan latar tapi sudah dilanjut ke adegan berikutnya.
mohon perhatikan lagi.
kata yaoma dengan sedih.
yaoma dengan sedih ....bla bla..
tadi sempat kulihat sudut pandang tokoh aku di tengah sudut pandang penulis.
tolong kurang pengulangan kata. selain boros juga bisa membuat bosan! perhatikan juga latar waktu tempat dan keadaan! bukan hanya suasana.
selain itu. bagus.