Di usia dua puluh lima tahun, Gurkha pergi meninggalkan keluarganya dan habitatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI KE TIGA
Hari ketiga Devi berada di rumah Gurkha, selama itu dia terus digasak oleh Gurkha, tanpa jeda.
Devi melenguh pasrah, bola matanya menusuk tajam, menghantam jiwa pria yang menorehkan luka di hatinya yang sangat dalam. Hanya ada rasa dendam di matanya. Tidak secuil pun ada rasa sayang, yang ada kebencian tampak membentang. Pria itu pun tidak serta merta mengerti dan mau menghentikan aksinya. Selalu saja pria itu merengkuhnya dengan hasrat yang menggila, walaupun di hari ini Gurkha memperlakukan dirinya super lembut, tapi tetap saja kegilaan Gurkha menyisakan sakit untuk nya. Sungguh pria yang terkutuk!.
"Aku tidak akan membiarkan kau menyatu dengan orang lain, karena kau adalah milikku. Ingat itu!!. bisik Gurkha dengan nafas memburu.
Devi tidak berucap, badannya seperti remuk, Gurkha menggasaknya terus. Isak tangisnya sudah melemah, tidak ada raungan sedih, hanya ******* setiap kali Gurkha mengguncang tubuh molek nya dengan hempasan bertubi-tubi.
"Aku suamimu mulai sekarang." tangan Gurkha memiringkan tubuh Devi supaya menghadap padanya. Devi cepet menggigit dada Gurkha.
"Sialan!" bentak Gurkha mendorong tubuh Devi. Tubuh itu terhempas hampir jatuh ke lantai. Gurkha cepat meraih tangan Devi, dan menariknya ke pelukannya. Hampir saja. bathin Gurkha.
"Terimalah kenyataan ini. Tidak ada yang boleh menyentuhmu, aku akan membakar orang yang berani menyentuh tubuhmu." geram Gurkha memeluk tubuh wanitanya erat. Mulai pertama kali bertemu wanita ini, sudah ada perjanjian tidak tertulis di otaknya, bahwa wanita ini adalah miliknya.
"Bakarlah aku sekalian, aku sudah bosan hidup. Kau bajingan tengik...." lirih suara Devi.
Dia beringsut, menjauh dari pelukan Gurkha dan menegakkan badan serta bersandar pada kepala ranjang, dia meringis dan merasakan sesuatu dibawah sana terasa ngilu. Badannya juga terasa sakit seolah tulangnya mau terlepas satu persatu dari kulit. Kepalanya sedikit pusing, kurang tidur. Tapi yang membuatnya sangat tak nyaman adalah rasa kebas yang ada di bawah sana.
"Aku mau ke kantor sebentar, kamu berani di rumah sendiri?" tanya Gurkha mendongak.
"Bagaimana kalau Naga datang? aku heran, katamu Naga hanya mencari gadis perawan, kenapa dia harus mencari aku?"
"Karena kau adalah keturunan istana, gadis ningrat yang bisa merubah kehidupan para Naga. Sebaiknya kau segera bangun dan membersihkan diri. Kita harus bicara untuk membahas banyak hal yang harus kita pikirkan." sambung Gurkha.
Devi masih bersandar di sandaran tempat tidur, pandangannya tertuju pada Gurkha yang cuma memakai boxer.
"Aku tidak peduli padamu. Pergi kau brengsek! Pergi dari sini, tinggalkan aku sendiri. Aku tahu tak ada yang bisa di bicarakan dengan manusia sepertimu!" teriak Devi putus asa. Apapun yang dia katakan akan percuma dan sia- sia.
"Takdirmu sudah ada di telapak tanganku, mau tidak mau, kau adalah istriku mulai saat ini. Tidak mungkin kau pulang ke rumahmu atau ke rumah suamimu, karena masyarakat sudah tahu kau di culik Naga."
"Aku akan ke rumahku, mencari ibu dan ayahku, orang tuaku pasti sedih selama aku tidak ada khabarnya, aku akan melapor kepada polisi bahwa kamu yang menculikku dan memperkosaku."
"Sebelum kau sampai di rumah, Gatot akan membunuhmu, dan Naga akan menculikmu, mengawinimu, serta membakarmu hidup-hidup." Gurkha menakuti Devi.
Devi terdiam, matanya mengerjap, dia memandang Gurkha dengan pikiran tak menentu.
"Suatu hari, mereka akan menemuiku dan akan membunuhku. Kecuali aku operasi plastik."
"Aku akan membawamu ke dokter dan merubah sedikit penampilanmu."
"Aku pilih ke Thailand atau Korea selatan."
"Tidak ada keluar negeri, di negara kita dokter kecantikkan banyak, pilih yang dalam negeri saja, hasil juga sama."
"Aku juga akan membeliikanmu baju untuk di rumah 7 stell, untuk tidur 7 stell dan untuk pergi 7 stell, karena hari ada 7 senin sampai minggu. Jadi semua tertata rapi, tidak mubazir."
"Terserah kamulah, silahkan mengkhayal yang tinggi." sahut Devi.
Perlahan Devi turun dari tempat tidur dia mulai menggerakkan kakinya. Ada rasa ngilu terasa di bawah sana membuatnya meringis. Dia mencoba berdiri namun kembali terduduk, dia benar-benar sulit berjalan.
Gurkha bangun dan melangkah mendekati Devi, tanpa banyak bicara dia menggendong tubuh Devi menuju kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan, brengsek! Lepaskan aku, aku benci padamu." teriak Devi berusaha memberontak.
"Diamlah sayank, kau tak akan bisa sampai di kamar mandi dengan cara merangkak." tanpa mempedulikan ucapan wanitanya, Gurkha tetap menggendongnya ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi Gurkha menurunkan Devi di bathtub yang sudah penuh berisi air hangat.
Tidak ada gunanya berontak karena akan kalah tenaga, akhirnya Devi hanya bisa menatap Gurkha dengan tajam, tanpa bisa melawan.
Gurkha pun tak dapat melepaskan pandangannya sedikitpun dari Devi, karena yang ada di pikirannya adalah rasa iba yang dalam, dia juga berniat bertanggung jawab. Ntah kenapa ia begitu terpesona dengan wanita ini.
Semenjak pergi dari habitatnya dan bergabung dengan manusia, menjadi Presiden Direktur di Perusahan Surya yang selalu ada di kepalanya adalah Devi. Berapa wanita telah mencoba menggoda dan mengajak nikah dirinya, tapi tak satupun gadis bisa membuat hasratnya melonjak. Apa karena bangsanya punya musim kawin?
Dia yakin Devi adalah wanita yang baik, dan apa yang mereka lakukan murni karena kesalahannya dan dia akan bertanggung jawab apapun yang terjadi.
"Bersihkan dirimu. Setelah itu kita bicara,” ujar Gurkha yang segera berbalik badan menuju pintu dan keluar dari kamar mandi.
Devi membersihkan diri, memikirkan semua yang telah terjadi. Kepalanya berdenyut pening, hatinya teriris luka mengingat semuanya. Perasaannya hancur berkeping-keping. Devi kemudian menyudahi mandinya dan berjalan tertatih keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi milik Gurkha. Harusnya dia mengambil bajunya atau membeli untuk sementara.
Bau Ameer dari tubuh Devi membuat hidung Gurkha mengembang. Dia sibuk mencari sumber wangi itu. Kemudian tangannya terjulur dan tubuh Devi sudah berada di pelukan nya. Ditatapnya Devi tanpa ragu, dan mengangkat cepat supaya duduk di pangkuannya.
"Sayank, aku tak menggunakan pengaman. Dan aku tidak menjamin kau tidak akan hamil satu atau dua minggu kemudian." guman Gurkha ingin tahu jawaban Devi.
"Aku tidak mungkin hamil dan tidak mungkin menikah dengan pria sepertimu." ucap Devi dengan nada sedikit kasar dan turun dari pangkuan Gurkha.
"Pria sepertiku? apa aku terlalu jelek dan mengecewakanmu." sahut Gurkha dengan nada kecewa.
"Kau manusia paling jahat di Dunia ini. Manusia terkutuk."
"Itu tidak seperti yang kau pikir. Kita harus tetap menikah, aku tidak ingin anakku disebut anak haram," ujar Gurkha serius.
"Sudah kukatakan, aku tidak akan hamil!" teriak Devi yang mulai kesal.
"Harus hamil aku butuh keturunan."
"Aku tidak mau mengandung anakmu sampai kapanpun." jawab Devi keukeuh.
"Cobalah mengerti posisimu dan apa yang akan terjadi seandainya kau berkeliaran di jalan. Kau adalah saksi kunci dari kematian Reva."
Wajah Devi sontak berubah pucat, rasa sedih mengoyaknya. Dia memang harus memilih, hidup bersama Gurkha dan terbunuh di luar sana. Tapi dia tidak tahu siapa Gurkha, manusia baikah atau seorang cassanova yang hanya bertualang.
*****
penasaran sama lanjutannya
KARYA NYA BAGUS SAYA SUKA😍👌👌👌
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
aku merasa blm puas thooooor ceritanya gantung bgm si gukha
ktnya mau menikahi Devi
terus Devi kerja apa dan pd akhirnya mereka bs bersatu apa gk