Alicesa gadis remaja yang pernah mengalami kecelakaan, sehingha membuat sebagian wajahnya terluka. Semenjak saat itu dia harus menerima cacian dan hinaan dari semua orang. Bahkan sang kekasih pun akhirnya memutuskan hubungan sepihak karena wajah buruknya
Namun diam-diam ada seorang lelaki yang selalu membantunya. Bagaimanakan percintaan Alice salanjutnya? Akankah priaitu menampaka diri dan membantunya mengubah takdirnya?
Akankah Alice bisa kembali cantik seperti dulu ....
Yuk ... simak kelanjutan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Jam tangan
Alice hanya melihat pertikaian antara Novita dan Ismail dari arah yang lumayan jauh, karena Angga membawanya ketempat yang memang tak ramai pengunjung. Alice sedikit menitikan air mata, harapannya bisa membawa papanya pergi mencari tempat baru sirnah.
Angga yang sedang membersihkan luka Alice, tanganya terkena tetesan air. Terdia sesaat melihat kearah jatuhnya air tersebut, kemudian melihat wajah Alice yang sudah memerah sedikit genangan air serta pipi yang basah.
Tangan Angga mengusap lembut air yang membasahi pipinya. ''Kenapa?'' tanya Angha singkat.
Alice hanya menggeleng kepalanya, pertanyaan Angga justru mampu membuat Alice sesegukan sedikit bersuara tangisannya. Semakin lama semakin menjadi, bahkan kini sudah sangat deras air matanya yang jatuh.
Angga yang melihat Alice tidak tahan, tanpa ijin dari Alice Angga kemudian memeluk tubuh mungil itu membawanya dalam dekapannya.
Bukan malah diam dalam pelukan Angga, justru tangisan Alice semakin menjadi. Perasaan Alice seakan nyaman dan tenang mengungkapkan beban yang di sarakan saat ini. Tangan Angga menepuk-nepuk punggu Alice serta mengusap pelan kepalanya.
Walau hanya dipeluk tetapi mampu membuat Alice meluahkan semua beban dengan menangis justu hatinya saat ini sudah lebih baik. Entak kenapa perasaan Alice begity nyaman ketika dalam pelukan Angga.
Tak terasa Alice menangis sudah cukup lama, hampir 30 menit. Novita, Radit dan Kenzo yang tadi sudah menghampiri mereka, di suruh pergi oleh Angga dengan isarat tangan yang mengusir mereka keluar.
Meraka tidak mempermasalahkan itu, saat ini memang Alice lebih baik sendiri. Sedangkan Ismail yang tadi berulah, karena Radit tak bisa mengontrol emosinya. Tangan kekar Radit memulul wajah dan bagian lain dari tubuh Ismail, sampai beberapa kali.
Hingga perkelahian di antara mereka di pisahkan oleh Novita. Novita melempar semua uang yang ada di amplop itu. ''Ambil semua uang itu, aku tidak membutuhkannya! Perlu ingat Ismail, jangan pernah menggangunya lagi. Ku pastikan kau adalah orang yang akan paling merasakan penyesalan karena perlakuanmu ini.''
Novita kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Ismail, tetapi baru saja berapa langkah. Suara perkataan Ismail begitu menggelega di telinga Novita.
''Aku tidak akan pernah menyesal apa yang sudah kulakukan pada perempuan buruk rupa itu!'' Tangan Ismail menunjuk ke arah Alice yang berada jauh darinya.
Novita membalikan tubuhnya memandang Ismail tajam raut wajahnya berubah tatapannya sungguh sangat berbeda dan menakutkan. ''Mungkin saat ini kau bisa berkata seperti itu, tetapi kelak jangan berharap apa yang sudah kau lepaskan akan kembali lagi padamu.''
Novita tidak menanggapi lagi perkataan dari Ismail, lalu pergi tanpa ingin tahu keadaannya yang sudah babak belur oleh Radit. Semua karyawan dan juga pengunjung cafe yang mengetahui kejadiannya. Arah mata mereka tertuju pada Angga yang terkenal dengan cuex dan sedikit dingin, tetapi pada Alice sikapnya begitu lembut dan perhatian.
Setelah kejadian di cafe Alice masih memikirkan bagaimana bisa dirinya menangis dalam pelukan si dosen killer julukan untuk Angga. Bukan hanya itu saja, tetapi Alice juga memikirkan jam tangan yang Angga kenakan waktu itu. Alice merasa pernah melihat, tetapi masih belum mengingat dimana melihatnya.
Alice yang duduk di sebuah kursi panjang lorong kelas kampus seorang diri, tidak menyadari jika saat ini ada seseorang yang berniat tidak baik padanya. Alice hanya fokus menatap kedepan pada taman, tetapi pikirannya entah kemana.
Novita yang sedang berjalan dan berbicang sedikit serius menanyakan perihal tugas kuliah dengan kakaknya. Mahasiswa dan mahasiswi yang melihat dan mendengarnya interaksi mereka tidak ada yang curiga jika mereka adalah Kakak beradik.
Namun saat Angga menoleh pada Novita dan ingin mengacak rambutnya, terhenti seketika. Arah matanya melihat sosok perempuan yang sangat di kenalinya karena di kampus ini hanya Alice lah yang memakai penutup wajah. Akan tetapi ada yang sedikit mencurigakan terlihat oleh Angga, empat orang yang tak jauh berdiri dari tempat Alice duduk.
Angga sedikit berlari membuat Novita bingung ada apa yang membuay kakaknya lari terburu buru tanpa menjawab pertanyaanya. Novita memandang arah Angga berlari, rahanya mengeras, tanganya mengepal kuat, kedua giginya di rapatkan, juga matanya membuat lebar.
''Kau, lagi-lagi kau berulah tidak ada kapoknya,'' ucap Novita geram melihat keempat orang yang sangat di kenali.
''Awas saja. kali ini tidak ku biarkan kalian terus berulah ini giliranku yang akan membuat perhitungan.'' Novita mengikuti arah Angga berlari.
Angga langsung menempatkan dirinya di belakang Alice sehingga air yang Ismail dan Chintya tuangkan mengenai punggungnya. Alice yang menyadari adanya tangan kekar di sampingnya mengenakan jam tangan yang sendari tadi sedang di pilirkannya. Alice menengadahkan kepalanya melihat sosok lelaki yang sangat di kenali sebagai dosen killer itu saat ini wajahnya tepat saling bertatapan atas bawah.
Alice memainkan kedua bulu matanya naik turun, membuat Angga menyungging seyum yang sangat jelas di perlihatkannya. Tanpa sadar Alice mengucapkan kalimat lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Angga. "Dosen killer sangan tampan jika terseyum seperti ini.''
Angga yang mendengar perkataannya pun bertambah lebar seyumnya gemas, dengan ucapan yang baru saja di ucapkan oleh Alice. Angga menyadari jika bajunya basah terkena siraman air, untuk sementara melupakan Alice.
Berbalik badan, menatap tajam kearah empat anak didiknya. Tatapan Angga begitu sangat menakutkan membuat keempat mahasisanya ketakutan dan gemetaran.
''Apa yang kalian lakukan! Bukankah sudah berulang kali ku peringatkan jangan pernah mengulangi perbuatan ini lagi!'' ucap Angga tegas dan bernada tinggi.
''Ma ... maaf Pak,'' ucap mereka bersamaan.
''Maaf katamu!'' Angga mendekati keempat mahasiswanya itu, dan berhenti tepat di hadapan Ismail.
''Kau kemarin aku masih bisa menoleransi atas perbuatanmu. Kali ini jangan harap aku akan tetap diam tanpa bertindak.'' ucap Angga di samping telinga Ismail.
Ismail mengangkat kepalanya memberanikan menatap lelaki yang di ketahui sebagai dosennya di kamus serta sebagai lawan kerja di luar kampus. Ismail dengab berani menatap wajah Angga, ''aku tidak akan pernah takut atas perkataanmu dan gretakanmu.''
''Baiklah kalau begitu cepat keliling lapangan 5 kali putaran!'' Perintah Angga dengan tegas.
Angga masih tetap berusaha menahan segala Amarahnya apa lagi saat ini, sangat sadar jika sedang berada di kampus sebagai guru pembimbing mereka.
''Ku hitung sampai 3, jika kalian tetap masih berdiri di sini maka akan ku tambahkah hukuman kalian menjadi 10 kali.'' ucap Angga yang masih tetap berusaha mengontrol diri agar bisa tetap tenang.
''Satu ... , dua ... , ti ... tiga.'' Tidak ada yang beranjak mereka malah diam.
Baiklah jika kalian masih diam di sinikan maka untuk kalian yang akan mendapatkan penambahan 5 kali lagi jadi totol--,"
''Ehh tunggu, kemudian mereka semua berlari meninggalkan Angga dan Alice, merutuki sikap dosea yang sangat mengebalkan.
Novita yang baru sampai dan ingin berkata suatu hal terhenti mendengar pertanyaan yans Alice ucap.
''Pak Angga, mau tanya apa Anda mengenali saputangan ini.'' Alice menunjukan saputangan miliknya.
Angga diam tak menjawab dan memandangi wajah Alice yang berada di depannya. ''Apa Anda lelaki yang menemani dan menasehatiku waktu itu?'' tanya Alice tatapan matanya sudah sedikit sesikit tergenang air.