"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Perempuan halal?
Malam ini Nadia dan Rehan sedang menonton televisi di kamar Nadia. Mereka berdua berniat untuk tidur di rumah keluarga Zaen.
Nadia sedang tidur di paha Rehan. Mereka terhanyut dalam senema film Ajari Aku Islam.
Nadia benar-benar tidak berkedip dikala mendengar sang lelaki di film itu menyebut syahadat dikala darah mengalir di dadanya.
"Yaallah, Rey. Dia rela berkorban demi perempuan yang belum tentu menjadi miliknya." Nadia menggigit ujung jarinya. Dia sampai menangis terbawa suasana.
"Kenapa perempuan kalau lagi sedih itu menangis, dan kalau senang juga menangis?" Rehan benar-benar bertanya kepada Nadia. Dia bingung, Perempuan dikasih hadiah, nangis. Disakiti, Nangis. Ditinggalin, nangis. Parahnya lagi, Dilamar juga nangis. Kapan mereka tidak menangis? Emang benar kata banyak orang, bahwa air mata perempuan adalah air mata palsu.
"Hati perempuankan lembut. Gak kayak hati laki-laki, keras seperti batu." Ketus Nadia. Dia menarik selimut tebalnya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Matanya sudah mulai mengabur, pertanda dia sudah mengantuk
"Aku mau tidur, tolong matiin lampunya." Suruh Nadia. Rehan turun dari tempat tidurnya, dia mematikan lampu kamar Nadia.
Baru saja matanya terpejam, tiba-tiba Rehan ingat sesuatu. Kalau...
"Sayang, kita harus pulang. Kasihan Jeo sama Luwis." Nadia turun dari tempat tidurnya. Dia menghidupkan kembali lampu kamar Nadia.
"Ah, kamu pulang sendiri. Aku ngantuk." Nadia memeluk gulingnya. Dia enggan untuk membuka kelopak mata indahnya.
"Sayang..." Rehan mencoba membujuk Nadia untuk pulang.
"Besok biar aku suruh papa nganter aku pulang. Kamu pulang sendiri aja." Nadia menepis tangan Rehan yang berada di lengannya.
Tidak ada pilihan lain. Rehan menggendong tubuh Nadia, hingga membuat istrinya itu memekik kaget.
"Rehan, turunkan aku. Papa...." teriak Nadia, heboh.
"Rehan, Hua..., aku takut. Rey, aku bisa jalan sendiri." Nadia memukul pundak suaminya. Dia merasa takut jika tiba-tiba Rehan tersandung, dan dia ikut jatuh.
"Ada apa, Nak? Kenapa kamu gendong dia Rey?" Aldi keluar dari kamarnya bersama dengan Meli. Dia menatap anak dan menantunya bergantian.
"Rehan ada tamu di rumah, Pa. Kami pulang dulu." Rehan mencium kedua tangan mertuanya.
"Ada-ada aja mereka berdua." Meli kembali masuk kedalam kamarnya.
Rehan menurunkan Nadia ke kursi penumpang. Lalu dia menyetir mobilnya dengan nafas terengah.
"Ternyata kamu berat juga ya?" Nadia menganga mendengar perkataan Rehan.
"Apa kamu bilang? Aku tidak akan membiarkan kamu tidur dikamar nanti malam." Ancam Nadia. Matanya kembali tertutup, dia melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda tadi.
"Gayanya ngancam gak boleh tidur di kamar nanti malam. Paling nanti aku juga yang bawa dia ke kamar. Perempuan-perempuan, ada kalian bikin laki-laki pusing, gak ada kalian bikin laki-laki tambah pusing." Gumam Rehan.
Sepanjang perjalanan terasa membosankan tanpa suara cerewet istrinya. Beruntung perjalanan kali ini tidak mancat. Sehingga mobilnya bisa cepat sampai rumah.
Dan benar tebakan Rehan. Kedua sahabatnya duduk di kursi teras. Gerbang rumah tidak tertutup, teras penuh dengan cat dan alat-alat dapur.
Rehan turun dari mobilnya lebih dulu. Dia membuka pintu rumahnya. Kemudian dia balik ke mobil, dia menggendong istrinya masuk kedalam kamar.
Rehan menyelimuti tubuh Nadia. Saat ingin pergi, Telinga Rehan mendengar gumaman kecil dari bibir Nadia.
"Aku mencintai mu." Entah itu mimpi atau tidak, Yang pasti Rehan sedang bahagia malam ini.
Rehan keluar dari kamar, setelah mendengar suara pintu ditutup, Nadia membuka matanya.
"Terimakasih sudah menjaga dan mencintaiku, Rey." Nadia kembali memejamkan matanya.
Di teras rumah, Rehan sedang berjongkok di depan kedua temannya. Terlintas ide jahil di kepalanya. Rehan kembali masuk kedalam rumahnya. Dia mengambil kemoceng, tangannya sibuk memainkan kemoceng itu ke wajah kedua temannya.
"Erggg..." Erang Luwis. Tapi matanya tidak terbuka. Dia yang semula tidur dengan menghadap ke kanan, sekarang berbalik menghadap ke kiri.
"Aku patahin tangan kamu, Wis. Kalau berani-berani Grep-grep aku." Ancam Jeo tampan membuka matanya.
Rehan terkikik, dia mengulangi kejahilannya itu. Hingga...
"Aku tahu kamu jomblo Wis, Tapi gak usah Grep-grep aku juga." Jeo terlihat marah, Matanya yang ngantuk tidak melihat Rehan berjongkok di bawahnya.
"Eh, aku tahu, aku jomblo. Tapi aku juga waras, masa jeruk makan jeruk." Bela Luwis. Jelas sekali dia tidak mau di tuduh macam-macam oleh Jeo.
"Terus kalau bukan kamu siapa?" Jeo melotot di depan Luwis.
"Aku bilang, bukan aku. Aku..."
Luwis menghentikan ucapannya, seperti ada yang menggelitiki kakinya. Tapi siapa? Jeo dan Luwis saling tatap.
"Sumpah, bukan aku." Luwis menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Jeo menatapnya.
"Ini juga bukan aku. Serius, aku gak bohong." Jeo mengacungkan dua jarinya. Mereka berdua kompak menunduk kebawah. Dan....
"Der...." Rehan berteriak keras, hingga membuat Jeo menjerit keras.
"Pocong." Jeo meloncat dari kursi yang dia duduki.
"Kuntilanak, gendruwo, sundel bolong." Berbeda dengan Jeo, Luwis malam mengabsen semua setan yang dia tahu.
"*****..., kamu Rey?" Jeo menatap kesal sahabatnya. Sedangkan Rehan tertawa terpingkal-pingkal.
"Rey, kamu belum pernah lihat kuburan jam 1 malamkan?" Luwis turun dari kursi dengan keringat membanjiri keningnya.
"Gitu aja kalian takut. Katanya kamu Rajanya Club' malam, Jo. Sedangan kamu Wis, Katanya kamu orang pemberani yang dapat di percaya. Tapi sama kemoceng aja takut." Ledek Rehan.
"Berisik kamu Rey." Jeo mengusap wajahnya kasar.
"Lebih baik kamu kasih tahu kita dimana letak kamar tamu. Kita ngantuk." Luwis tertunduk lesu.
"Di sebelah kanan, lantai dua." Jawab Rehan. Baru saja Jeo dan Luwis ingin pergi kesana, Rehan sudah menghalangi mereka dengan menarik kerah baju belakang mereka.
"Et, bantuin aku bawa masuk semua barang ini dulu. Main nyelonong pergi begitu saja." Luwis dan Jeo menghela nafas kasar.
"Ayo cepat." Jeo dan Luwis enggan membantah. Mereka berdua lebih memilih menuruti semua perintah Rehan. Malam ini mata mereka tidak bisa di ajak kompromi. Mereka berdua sangat mengantuk.
****
Pagi ini Nadia dan Rehan sedang memasak di dapur. Luwis dan Jeo masih molor, sehingga mereka berdua bisa berduaan seperti ini.
"Bisakah kamu duduk saja di meja makan, Rey? Aku mau memasak." Usir Nadia, yang dibalas gelengan kepala oleh Rehan. Rehan meletakkan dagunya ke pundak milik Nadia.
Tangan Rehan melingkar manis di perut Nadia. Bibirnya tersenyum, dia menikmati wangi rambut Nadia.
"Wah Wis, Pagi-pagi kita sudah disuguhi kayak gitu." Jeo masuk kedalam dapur.
"Iya, Hot. Panas-panas." Luwis menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal itu membuat Nadia malu.
"Sirik aja kalian. Makanya nikah." Rehan mencium bibir Nadia, cepat. Tidak hanya Nadia yang membelalakkan matanya, tetapi juga Jeo dan Luwis.
"Gak usah pamer kamu, Rey. Biar aku jomblo, tapi aku juga pernah nyium bibir perempuan." Luwis berkata dengan sombong.
"Buat apa nyium bibir perempuan yang belum halal? Pahit rasanya. Coba aja kamu nyium perempuan yang sudah halal, pasti rasanya manis seperti madu." Rehan menuangkan air putih kedalam gelasnya. Dia meminum air putih itu dengan bibir tersenyum.
"Perempuan yang sudah Halal? Kamu nyuruh aku nyobain bibir perempuan yang sudah halal? Bibir Nadia boleh?"
Pyuh.....
Rehan menyemburkan air minumnya kewajah Luwis.
"Seger gak, Wis? Belum mandi udah dapat cipratan air." Ledek Jeo, dia tertawa keras ketika melihat wajah masam Luwis.