COOL BOY GUS FASHAN
🌸SEASON DUA DARI USTADZ MUDA ITU SUAMIKU🌸
Seorang pria gagah, tampan, pemalu dan dingin. Sangat menyayangi keluarganya. Seorang pria berumur 25 tahun, Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi. Si sulung dari 4 bersaudara.
Kisah cintanya tak berlangsung mulus, apalagi saat dia dituduh atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Namun, walaupun begitu. Dia adalah pria yang taat agama dan Sholeh. Menginginkan pasangan terbaik, bahkan keislamannya pun sangat berharga untuk nya. Gus Fashan adalah seorang pebisnis muda, guru dan pengurus pesantren keluarganya Al Bidayah. Karena kejadian malam itu, setelah yakin dengan sholat istikharah. Dia menikahi seorang gadis yang memiliki sifat tidak jauh-jauh darinya, dingin, cuek, galak dsn ketus. Gus Fashan berusaha menjadi sosok yang baik untuk istrinya tercinta Raihanah Sufu Embrace, 22 tahun, santriwati baru di pesantren. Gus Fashan berusaha menjadi pencair suasana, jika dia masih bersikukuh dengan sikap cueknya, entah bagaimana rumah tangga nya dengan Raihanah. Gus Fashan akan terus berusaha mendapatkan penerimaan yang ikhlas dari istrinya, walaupun sulit dan memerlukan waktu. Akankah si ketus Raihanah luluh? kita simak kisahnya..
Happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Ikatan suci
...”Aku berjabat tangan dengan wali nikah nya, aku melafalkan ijab qobul untuk pertama kali dalam hidup. Dia sekarang milikku, tanggung jawab ku atas kesalahan dan kekeliruannya....
...Dia istriku, Raihanah. Mari kita berjuang untuk sama-sama mendapatkan keridhoan Allah SWT.”...
...-Muhammad Fashan Ali Zainul Majdi-...
...**********...
Raihanah dan gus Fashan menandatangani beberapa lembar yang di tunjuk bapak penghulu, keduanya menerima buku nikah. Umi Nailah memberikan kotak cincin dan gus Fashan bingung, dia hanya menatap jemari istrinya.
”Malu-malu dia mi" ucap Fahira, uminya tersenyum. Faiza mendekat, dia meraih tangan gus Fashan dan Raihanah, gus Fashan terkejut saat dia bersentuhan dengan istrinya itu.
Gus Fashan akhirnya memegang tangan Raihanah sendiri, Faiza mundur dan mengabadikan momen tersebut. Raihanah mendongak, menatap pria di hadapannya yang kini sudah menjadi suaminya.
”Kenapa?” tanya gus Fashan berbisik. Raihanah meggeleng kepala, gus Fashan meraih cincin dan memasukannya lembut ke jari manis istrinya, Raihanah diam, dia menutup matanya saat tangan suaminya mendarat di ubun-ubun nya.
”Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa audzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.” Tutur gus Fashan dan dia juga menutup matanya. Dia tiup ubun-ubun istrinya itu lalu mengusap nya lembut, Raihanah terdiam, merasakan sentuhan lembut yang begitu mendamaikan.
(Ya Allah, aku memohon dari-Mu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya.)
”Cium dong, masa gak di cium” titah abi Farhan dan gus Fashan terbelalak. Raihanah tersenyum tipis dan Gus Fashan memperhatikannya.
”Cium kening istri kamu, kamu Rai. Cium tangan suami kamu ini ya” ujar Fahira, gus Fashan dan Raihanah mengangguk kompak.
Gus Fashan memegang kedua bahu Raihanah begitu kaku, Raihanah merasakan hembusan nafas segar suaminya yang semakin dekat, dan menyentuh kulit wajahnya.
Cup...
Gus Fashan mengecup kening istrinya lama, setelah selesai, Raihanah meraih tangan suaminya, lalu menciumnya dengan begitu lembut. Raihanah mendongak lagi, dan saling menatap lekat dengan suaminya.
Setelah itu, acara sungkeman yang mengharu biru. Meminta maaf, dan saling meminta maaf antara orang tua dan anak. Gus Fashan memeluk Uminya erat, dan umi Nailah juga memeluk tubuh besarnya itu.
”Fahira sama Fashan sudah sold out, giliran Faiza sama Fara nih” ujar Raihan dan Fara mendelik sebal.
”Fara masih kecil, gak mau" ketus Fara dan semuanya tertawa.
”Abang dulu lah sebelum kami” ejek Faiza dan Raihan seketika bungkam mendengarnya.
”Panik kan?” ujar Haris dan Raihan tidak perduli.
Saat prosesi pemotretan, Raihanah dan gus Fashan sama-sama gugup. Apalagi saat gus Fashan diminta untuk lebih hangat merangkul, dan memeluk Raihanah.
Para tamu terlihat mengantri untuk menikmati hidangan, Raihanah dan gus Fashan harus berganti pakaian untuk kostum kedua. Yaitu baju serba putih. Raihanah dan gus Fashan pergi meninggalkan pelaminan, sesampainya di kamar, keduanya canggung dan bingung.
”Rai" panggil gus Fashan.
"Hem?” jawab Raihanah dan menoleh. Gus Fashan melangkah, dan Raihanah mundur menjauh.” Saya masih kecil Gus, jangan di apa-apain” pintanya dan gus Fashan mengernyit.
”Mau saya pegang juga sudah boleh sekarang Rai, kita suami istri” ujar gus Fashan sangat lembut.
”Enggak pokoknya jangan deket-deket, awas ya. Atau....” Raihanah bingung, ucapannya menggantung.
”Atau apa?” timpal gus Fashan dan terus melangkah.
”Saya bisa teriak ya gus, teriak nih” ancam Raihanah, gus Fashan langsung tergelak mendengarnya.
”Iya sok aja teriak, mau jerit jerit juga gak bakal ada yang nolongin kamu. Kita suami istri, kemari sebentar. Saya mau ngomong” ucap gus Fashan dan Raihanah diam.” Duduk” ajak gus Fashan, dia duduk di tepi ranjang dan Raihanah mengikutinya.
”Saya bahagia menikah sama kamu Rai” ucap gus Fashan, tidak ada niat untuk berkata-kata lebay. Tapi itu adalah yang dia rasakan saat ini. Kebahagiaan yang dia belum pernah rasakan sebelumnya, dia merasa kupu-kupu terus berterbangan di atas kepalanya. Betapa bahagianya dia karena memiliki Raihanah.
Raihanah tersenyum kecut.” Saya biasa aja gus" kata Raihanah dan gus Fashan tersenyum.
”Sekalipun kamu membantah, saya tahu kamu juga bahagia. Kamu terlalu malu untuk mengakuinya kan?” goda gus Fashan dan Raihanah memukul bahu suaminya itu kesal. Gus Fashan mengusap bahunya, lumayan juga pukulan Raihanah." Belum satu hari menikah, saya sudah mengalami kekerasan dalam rumah tangga" ujarnya kembali.
”Mangkanya jangan gombal” sewot Raihanah. Dan Gus Fashan diam.” Saya gak suka sama kamu, begitu juga kamu gak suka sama saya” sambungnya kembali, terdengar serius.
”Tapi saya mulai suka, kamu juga sudah menjadi istri saya. Saya harus memperlakukan kamu dengan baik” tutur gus Fashan dan Raihanah sudah mengangkat tangannya, untuk kembali memukul pria di hadapannya itu. Gus Fashan mencekal pergelangan tangan Raihanah, menahan tangan gadis itu lembut. Dengan cepat gus Fashan mendekatkan bibirnya ke pipi istrinya itu.
Cup...
Kecupan mesra mendarat di pipi sedikit cabi itu, begitu lembut dan Raihanah merasa geli, kedua mata Raihanah membulat. Gus Fashan melepaskan tangan Raihanah lalu dia bangkit, untuk segera kabur.
”Hadiah pertama dari saya, setelah kita menikah” ujar gus Fashan sambil tersenyum, dia lari dan Raihanah bangkit lalu mengejarnya. Gus Fashan melangkah, langkah kedua kaki panjangnya yang lebar. Raihanah terus berlari mengejar.
"Sini, aku pukul kamu” tegas Raihanah, Gus Fashan berbalik saat melihat uminya dan bu Rani datang. Raihanah membentur dada suaminya itu dan Gus Fashan menahan bahunya.” Lepas”
”Kenapa Fashan mau di pukul?" Tanya umi Nailah. Raihanah kaget dan bergeser, dia melihat ibu dan ibu mertuanya. Raihanah bergeser lagi, sampai tubuhnya tidak terlihat karena terhalang tubuh tinggi, besar suaminya. Gus Fashan tersenyum tipis melihat wajah panik Raihanah. Keduanya pun berbalik dan Raihanah melihat umi Nailah yang cemas.
”Bukan begitu umi, maksud Rai. Mau cium, tapi kan kalau ngomong secara jelas agak malu ya. Jadi Raihanah main kode-kodean sama gus Fashan" tutur Raihanah, umi Nailah tersenyum dan cengengesan bersama Rani.
Alasan kamu Rai..
Gus Fashan diam, umi Nailah dan Rani akhirnya pergi meninggalkan keduanya. Setelah keduanya pergi, Raihanah menjauh dari suaminya. Dia mendelik sebal dan pergi, gus Fashan hanya terus tersenyum menghadapi sikap dingin Raihanah.
*****
Malam hari tiba, acara pernikahan usai. Jam menunjukkan pukul 11 malam, Raihanah sangat lelah. Dia merebahkan tubuhnya, acara pernikahannya tidak mewah dan megah, sangat sederhana tapi banyak sekali tamu yang datang.
”Capek, pegel banget nih badan” ucap Raihanah, kedua kakinya menggantung di tepi ranjang, matanya tertutup dan sangat ingin tidur, tapi dia belum membersihkan diri. Dia tidak mau jerawatan, hanya karena tidak menghapus make up nya. Raihanah bangkit, dia mendekati meja riasnya dan mulai membersihkan wajahnya, setelah wajahnya bersih dari make up. Raihanah mengarahkan tangannya ke punggung nya, dia berusaha menarik resleting baju nya itu tapi sangat susah.
”Assalamu'alaikum” suara Gus Fashan terdengar, suara gagang pintu ditarik membuat Raihanah panik. Pintu terbuka, di susul sosok gus Fashan masuk lalu menutup pintu kembali. Gus Fashan bingung, dan menatap Raihanah." Kenapa salam saya gak dijawab Rai?”
”Maaf, Wa'alaikumus Salaam” jawab Raihanah dan gus Fashan tersenyum. Gus Fashan memalingkan wajahnya, melihat rambut panjang istrinya terurai, dengan wajah yang sudah bersih dari make up, dia lebih suka melihat wajah alami Raihanah. Cantik dan manis. Gus Fashan melangkah, dan membuka ponselnya. Dia gugup, malam ini adalah malam pertama baginya dan Raihanah. Raihanah terus mencoba menarik resleting gamisnya ke bawah, dia terdengar mendengus berulangkali dan gus Fashan menoleh.
”Mau saya bantu?” Gus Fashan menawarkan bantuan, sontak Raihanah menggeleng kepala.
"Enggak, nanti kamu macam-macam sama saya” ketus Raihanah, dia menatap suaminya dari pantulan cermin.
”Ya sudah" singkat gus Fashan tidak mau memaksa, Raihanah terbelalak mendengarnya.
Bujuk gue, rayu atau apa gitu biar gue mau. Begini banget punya suami, kaku bener bang...
Raihanah terus mengomel dalam hati, gus Fashan meliriknya dan melihat raut wajah Raihanah di cermin, cemberut dan kesal. Gus Fashan bangkit, dia melangkah mendekat.
"Saya bantu kalau boleh” ucapnya dan Raihanah mengangguk.
”Tutup mata kamu, jangan lihat-lihat aurat saya” tegas Raihanah.
”Iya” singkat Gus Fashan, dia menutup matanya. Raihanah diam, dia terpaku pada wajah suaminya di cermin di hadapannya.
Gus Fashan meraba-raba resleting macet dan keras itu, setelah berhasil dia tarik, Gus Fashan menariknya turun perlahan-lahan, Raihanah merinding saat punggung tangan gus Fashan bergeser perlahan di punggungnya. Gus Fashan yang merasakan kulit lembut itu langsung membuka mata dan berpaling.
”Tutup mata kamu, jangan lihat-lihat” protes Raihanah.
”Sudah kebuka” ujar gus Fashan, dan Raihanah meraba-raba punggungnya. Raihanah berbalik, dia menyambar handuk, menutupi punggungnya itu lalu melangkah pergi ke kamar mandi. Gus Fashan mengusap dadanya pelan. Membuang nafas kasar begitu Frustasi.
”Saya gak maksa kamu, tapi saya pastikan. Dalam waktu dekat, kamu akan menjadi milik saya seutuhnya Raihanah” tutur gus Fashan sambil memandang pintu kamar mandi, suara gemericik air di dalam sana terdengar. Gus Fashan memilih pergi, agar Raihanah merasa bebas.
Setelah pergi cukup lama, Gus Fashan kembali. Saat membuka pintu, dia terdiam melihat istrinya sudah tidur, memakai piyama berwarna maroon. Begitu tenang wajah istrinya saat ini, gus Fashan menutup pintu. Dia mendekat dan berlutut di tepi ranjang, dagu nya dia jatuhkan di tepi ranjang, dia pandangi wajah istrinya. Tangan gus Fashan bergerak, mengusap rambut istrinya lembut.
”Bobo yang nyenyak ya, kamu pasti capek” gus Fashan berbisik. Dia menjauhkan tangannya, lalu bangkit dan merentangkan selimut, menyelimuti tubuh Raihanah yang tertidur pulas.
Gus Fashan melepaskan kain sarungnya, hanya tertinggal celana joger berwarna putih. Dia hamparkan di lantai. Gus Fashan mengambil satu bantal, tidak lama dia sudah merebahkan tubuhnya. Gus Fashan juga sangat lelah, dia berdoa terlebih dahulu lalu menutup matanya. Sampai gus Fashan hanyut dalam mimpi indahnya.
****
Keesokan harinya, di rumah umi Nailah sibuk. Sibuk memasak, dan menyiapkan kudapan yang lainnya. Gus Fashan, dan Raihanah beserta keluarga Raihanah akan datang. Untuk mengantarkan Raihanah ke tempat tinggal barunya, nenek sempat menyarankan agar keduanya tinggal bersamanya. Raihanah menolak, jauh dari kampus dan suaminya tidak mungkin bolak-balik untuk mengajar, dan mengantar jemput nya. Umi Nailah memberikan lantai dua rumahnya itu untuk keduanya, Faiza dan Fara pindah ke bawah. Umi Nailah paham, dengan situasi saat ini. Dia tidak mau keduanya merasa canggung dan menghambatnya untuk memiliki cucu.
”Mereka datang” ucap Fahira begitu antusias.
Gus Fashan membuka pintu mobil, Raihanah keluar dan Gus Fashan meraih tangannya.
”Malu ih" bisik Raihanah.
”Kita harus kelihatan harmonis Rai, diem kenapa sih” balas gus Fashan ketus dan Raihanah mendelik sebal.
Zaenab terdiam memperhatikan pengantin baru itu, dadanya terasa sesak dan sakit. Rasa pedih karena ditinggal menikah oleh pria yang sempat di sia-siakan, kenapa dia baru sadar kalau gus Fashan yang terbaik, setelah gus Fashan akhirnya memilih Raihanah, dan tidak mau lagi melanjutkan ta'aruf dengannya. Kesadarannya yang terlambat, adalah hal yang paling dia sesali.
”Beruntung banget Raihanah” ujar Santi.
”Gus Fashan gak lepasin tangan Raihanah, lihatin coba. Ah pengen, gus Fashan tak bisa aku gapai, ustadz yang lain juga boleh” tutur Zahra dan Santi menoleh.
”Ustadz Robi mau gak?” Santi mengejek. Raut wajah Zahra langsung pucat dan Santi tertawa.
”Jangan lah, aku mau jadi satu-satunya” ucap Zahra sambil tersenyum dan Santi cengengesan.
Raihanah dan gus Fashan melepaskan genggaman tangan mereka, keduanya memeluk umi Nailah. Umi Nailah tersenyum, merangkul tengkuk keduanya. Raihanah menutup matanya, merasakan pelukan hangat dari umi Nailah, ibunya Rani terdiam. Raihanah tidak pernah memeluknya seperti itu, Raihanah tidak pernah. Dia yang salah, dia terlalu cuek dengan putrinya sendiri sampai dia kehilangan kasih sayang dari putrinya.
”Mari masuk” ajak abi Farhan, Berhan dan nenek tersenyum lalu masuk. Rudi juga ikut, tapi tidak dengan istri dan anaknya Niken.
Setelah semuanya masuk, tatapan Raihanah tertuju pada Nida yang duduk dengan Fara, memperhatikannya. Raihanah tersenyum lebar, dia rangkul tangan suaminya erat. Sebagai bukti, jika kini gus Fashan hanya miliknya.
Rai kenapa sih?
Gus Fashan bingung. Dia perhatikan tatapan Raihanah, Gus Fashan menoleh ke arah yang ditatap istrinya. Dia melihat Nida menatap istrinya sinis. Begitu tajam dan Nida langsung memalingkan wajahnya, saat gus Fashan menatapnya tajam.
”Gimana kabar kalian berdua?” tutur umi Nailah.
"Kami baik umi" jawab gus Fashan. Umi Nailah tersenyum dan memperhatikan rangkulan erat Raihanah.
Mudah-mudahan kabar baik, kehamilan Fahira sama Raihanah gak lama lagi.
Gumam umi Nailah, dia bahagia melihat kedekatan keduanya.
”Assalamu'alaikum” seru Robi, dia baru datang setelah menjemput Syifa dan Ikhsan.
”Wa'alaikumus Salaam” jawab semuanya.
Gus Fashan yang melihat tatapan Robi langsung kepada Raihanah, membuatnya khawatir. Dia raih jemari tangan istrinya itu, lalu mengenggamnya kuat.
Ya ampun, apa harus genggaman tangan terus. Ini Gus rada aneh setelah nikah.
Raihanah berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya, tapi tidak bisa. Gus Fashan mendekatkan bibirnya di telinga istrinya yang tertutup kerudung itu.
”Kalau kamu lepas genggaman tangan ini, saya cium ya” gus Fashan berbisik. Mengancam Raihanah agar diam. Raihanah menyenggol lutut suaminya itu dengan lututnya.
”Jangan macam-macam” ketus Raihanah berbisik-bisik, dia tersenyum karena umi memperhatikannya. Gus Fashan tersenyum lebar, dia tidak perduli. Dia tindih kaki istrinya di bawah meja, kedua mata Raihanah membulat. Dia tendang kaki kiri suaminya itu dan Gus Fashan meringis.
”Kalian kenapa?” tanya abi Farhan, keduanya menoleh dan menggeleng kepala kompak.
”Enggak bi” ucap gus Fashan sambil tersenyum. Raihanah mengambil kue dan memakannya, dia mendelik sebal kepada suaminya. Umi Nailah diam, dan tersenyum tipis. Keduanya masih saja seperti kucing dan tikus, semoga ikatan pernikahan diantara keduanya, mempererat hubungan keduanya. Umi mendoakan yang terbaik untuk anak dan menantunya.