Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Mall
Bab 18 Mall
Bukan hanya menjadi tranding topik di kalangan murid saja, tapi Kalila juga menjadi buah bibir para guru di sekolah. Karena memang Kalila sudah terkenal di sekolahnya sebagai siswa terbaik setiap tahunnya. Perubahan Kalila membuat dia semakin terkenal, karena kecantikannya mengalahkan Elina yang sebelumnya menempati peringkat pertama siswi yang paling cantik.
“La, jalan yuk!” ajak Hesti saat Kalila sedang merapihkan bukunya.
“Enggak ah! Gue mau belajar, inget dua minggu lagi kita ujian nasional jangan menyia-nyiakan waktu lo!”
“Yaelah La, lo udah pinter ngapain juga lo belajar. Ayolah, terakhir kali kita bersenang-senang sebelum menghadapi ujian apa salahnya sih. Ayolah, please!” Hesti terus memaksa Kalila sampai akhirnya Kalila pun menyetujui sahabatnya.
Terlebih dahulu Kalila meminta ijin pada sang ibu dan setelah mendapatkan ijin, Kalila langsung menuju kelas Kama yang sejak tadi belum juga menghampiri dirinya. Sampai depan kelas Kama, ternyata wali kelasnya belum selesai memberikan pengarahan untuk mereka.
Kalila dan Hesti pun memilih duduk di kursi yang berada di depan kelas Kama.
“La, gue penasaran apa yang kurang Danes di mata lo? Dia itu sempurna, udah cakep, baik, lemah lembut dan yang paling penting masa depannya cerah,” ucap Hesti sambil menatap langit-langit gedung sekolah. Kalila yang melihatnya menggelengkan kepala.
“Bukan masalah sempurna atau tidak! Tapi perasaan 'kan tidak bisa dipaksakan, Ti. Gue hanya menganggap dia teman dan tidak lebih,” jelas Kalila.
“Sekarang aja temen, nanti juga lama-lama lo demen,” canda Hesti sambil tertawa.
Selesai wali kelas Kama memberikan pengarahan, anak-anak kelas Kama dan Elina berhamburan keluar. Sengaja Kalila menundukkan wajahnya, karena semua siswa yang berhambur menatap dirinya sambil berbisik-bisik.
“Kenapa, De?” tanya Kama pada Kalila. Hesti terus menatap Kama sambil tersenyum membuat Kama salah tingkah.
“Gue mau jalan sama Andri dan Hesti. sudah minta ijin mami juga. Lo mau ikut ga?” Kalila menawarkan bukan hanya pada Kama tetapi juga pada Elina.
“Kayanya enggak bisa deh. Kita berdua mau ada belajar bersama. Jadi kalian naik apa?" tanya Kama.
“Banyak angkutan umum. Ya sudah kita berangkat ya!” ucap Kalila saat melihat Andri yang juga sudah keluar dari kelasnya.
“Duluan ya bang Kama!” ucap Hesti sambil melemparkan senyuma. Kama hanya tersenyum mengangguk.
“Ma, itu cewek kenapa sih? Kayanya dia suka deh sama lo,” ucap Elina yang heran melihat Hesti.
“Hahaha, dia emang kaya gitu jadi harap maklum!” ucap Kama yang selama tidak sadar kalau Hesti menyukainya.
Ketiganya pun berjalan ke arah gerbang sekolah. Seketika langkah mereka terhenti saat Akbar melewati ketiganya.
“Siang, Pak!” sapa mereka kecuali Kalila. Kedua mata Akbar dan Kalila saling memandang, tapi dengan cepat Kalila memalingkan wajahnya.
“Siang! Kok kalian tumben jalan, apa enggak di jemput?" tanya Akbar.
“Oh ... kami mau maen dulu, Pak sebelum menghadapi ujian terberat dalam hidup,” ucap Hesti membuat Akbar tertawa.
“Kamu ada-ada saja. Kalau begitu bapak duluan ya!” sebelum pamit sekali lagi Akbar melirik ke arah Kalila, tapi gadis yang dilihatnya hanya tertunduk.
Ketiganya kembali berjalan dan kali ini mobil Sedan warna hitam metalik berhenti di samping ketiganya.
“Kemana?” tanya Danes lewat kaca mobilnya.
“Mau ke mall, Kak,” jawab Hesti dengan semangat.
“Ya sudah yuk di anter!” tanpa pikir panjang, Hesti langsung membuka pintu depan dan mendorong tubuh Kalila masuk ke dalam. Awalnya Kalila menolak, tapi dorongan Andri dan Hesti lebih kuat sehingga dia terpaksa naik ke dalam mobil itu.
“Makasih loh Kak sudah kasih tumpangan buat kita!” ucap Andri sambil cengengesan dengan Hesti di belakang. Kalila membuang napas kasar menggelengkan kepala.
“La, sabuk!” Kalila pun langsung memasang sabuk pengaman dan mobil pun melaju dengan cepat.
Sampai di lampu merah, motor Akbar berhenti tepat di sebelah mobil Danes. Ponselnya tadi tertinggal di kantor, maka dari itu Akbar kembali ke sekolah untuk mengambilnya dan sekarang bisa berpas-pasan dengan Kalila. Dia melihat di sebelahnya Kalila yang sedang duduk memainkan ponselnya. Lampu hijau pun berganti, mobil Danes maju dan Akbar memutuskan untuk mengikuti mereka. Selama perjalanan menuju mall, Hesti dan yang lainnya asik mengobrol sedangkan Kalila hanya diam memainkan ponselnya. Danes sesekali menatap Kalila dan tersenyum, karena dia masih belum percaya kalau Kalila secantik ini.
Sampai di Mall, Danes memakirkan mobilnya membuat ketiganya heran.
“Gue ikut gabung boleh dong!” ucap Danes.
“Sangat boleh biar gue ada temannya,” jawab Andri.
Seperti biasa tujuan utama mereka adalah tempat bermain yang ada di lantai 3. Ya ... ketiganya selalu menghabiskan waktu di tempat bermain, karena di sana mereka bisa melepaskan penat setelah belajar seharian. Andri dan Hesti yang terlebih dahulu mengisi card di susul Kalila di belakang. Setelah card Hesti dan Andri terisi mereka langsung berjalan ke permainan kesukaan mereka, sedangkan Kalila masih mencari card yang ada di tasnya.
“Ada enggak?” tanya Danes. Kalila akhirnya mengangguk dan menunjukkan kartu itu pada Danes. Saat hendak membayar, dengan cepat Danes mengeluarkan isi dompetnya dan membayar tagihan Kalila.
“Nes, gue aja!”
“Udah sama aku aja. Mau main apa?” Kalila mengangguk terpaksa dan langsung menuju ke tempat dance yang di sana sudah berada Hesti dan Andri yang sudah tanding bermain. Tawa pecah saat Danes mulai memainkan permainan itu bersama Kalila. Dia tidak pernah memainkan mainan itu sebelumnya dan itu membuat tubuh Danes sangat kaku memainkannya.
‘Sial, kenapa aku mengikuti mereka!’ gumam Akbar yang melihat mereka dari luar tempat permainan.
Kini giliran Danes bertanding dengan Andri. Tidak butuh waktu lama Danes pun akhirnya menguasai trik cara bermain mesin itu. Saat hendak duduk, mata Kalila tertuju ke luar. Dia melihat Akbar yang membalikkan badan dan jalan menjauh dari tempat permainan.
“Ti, gue ke toilet dulu ya!” bisik Kalila dan Hesti yang masih tertawa melihat Danes dan Andri main hanya mengangguk.
Dengan cepat Kalila berjalan untuk menghampiri Akbar. Dia ingin membuktikan kalau yang dia lihat itu benar-benar Akbar. Sampai di belakang Akbar, Kalila memperlambat langkahnya. Dia tersenyum saat tahu kalau itu benar-benar Akbar. Kalila tahu kalau Akbar menghampiri dia sampai ke sini.
“Ekhm ... jalan kok sendiri aja, pasangannya mana, Pak?” ucap Kalila seketika menghentikan langkah Akbar.
~Bersambung~