🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bibir
Seravina mengabaikan perdebatan konyol soal harga diri Viktor tadi. Ia menyuruh Viktor berbalik membelakanginya. Di bawah cahaya lampu laboratorium yang putih pucat dan jujur, mata Seravina menangkap sesuatu yang janggal di pangkal tengkorak pria itu.
Ia menyibakkan rambut pendek Viktor yang masih lembap dengan ujung jarinya. Di sana, tepat di belakang leher, terdapat bekas luka yang sangat halus—nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama. Itu bukan luka robek akibat hantaman benda tumpul atau sabetan senjata tajam di arena. Itu adalah garis horizontal yang sangat presisi.
Bekas jahitan bedah.
"Bekas luka apa ini?" tanya Seravina, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan profesional. Ia menekan pinggiran luka itu, merasakan jaringan parut.
Viktor tidak bergerak, tapi otot bahunya sedikit menegang saat merasakan sentuhan dingin Seravina di sana. "Tidak ingat," jawabnya pendek. "Mungkin... luka lama di arena. Banyak yang terluka di sana."
"Luka di arena tidak akan se-simetris ini," desis Seravina.
Viktor terdiam.
Seravina menarik tangannya kembali, matanya menatap kosong ke arah deretan botol kimia di depannya. Kata-kata Sergei kembali terngiang di telinganya: “Melelahkan sekali... Kami sudah bersusah payah menjauhkan monster ini darimu.”
Ada sesuatu yang dikerjakan oleh keluarganya pada pria ini. Sebuah eksperimen? Atau sebuah rahasia yang berkaitan dengan Viktor? Seravina merasa seolah ia sedang memegang sebuah bom waktu yang penandanya baru saja mulai berdetak, dan bom itu sekarang sedang duduk dengan patuh di kursi pemeriksaannya.
"Sudah selesai," ucap Seravina pelan, suaranya mengandung beban pikiran yang tak ingin ia tunjukkan.
Viktor berbalik, menatap Seravina yang tampak termenung. Bekas luka itu tidak berarti apa-apa. Rasa sakit yang ia inginkan bukanlah dari masa lalu, melainkan dari apa yang dijanjikan wanita di depannya sekarang.
"Ganjaranku?" tagih Viktor. Wajah datarnya kembali menuntut.
Seravina mengembuskan napas panjang.
"Nanti, Viktor. Aku sedang bekerja," ucap Seravina tanpa menoleh sedikit pun. Jemarinya mulai menari di atas keyboard, berusaha menenggelamkan diri dalam data untuk mengalihkan kecurigaannya.
Viktor tidak bergeming. Ia masih duduk di kursi pemeriksaan dengan dada bidang yang terbuka, menatap punggung Seravina dengan tatapan yang mulai menggelap karena rasa tidak puas.
"Tadi... katanya setelah mandi," protes Viktor. Suaranya terdengar lebih berat, ada nada kekecewaan yang sangat nyata meski wajahnya tetap kaku. "Aku sudah bersih. Tidak bau darah lagi."
"Aku bilang nanti," sahut Seravina tajam, kali ini dengan nada peringatan. "Keluar dari lab sekarang. Kau mengganggu konsentrasiku."
Viktor tidak bergerak satu inci pun. Ia justru melipat tangannya di depan dada, matanya terus mengunci sosok Seravina.
"Aku tunggu di sini," ucap Viktor dengan keras kepala.
Seravina berhenti mengetik. Ia memejamkan matanya sejenak, menahan diri agar tidak melempar tabung reaksi ke arah pria raksasa yang sangat menyebalkan ini.
"Viktor, keluar."
"Tidak mau."
"Ini perintah."
"Perintahmu tadi... setelah mandi, dapat ganjaran," balas Viktor dengan logika garis lurusnya yang tak tergoyahkan. "Aku jalankan perintah pertama. Sekarang kau jalankan janjimu."
Seravina memutar kursinya kembali dengan sentakan keras. Seravina menatap Viktor dengan tatapan tak percaya, matanya menyipit tajam seperti sedang menatap makhluk asing yang baru mendarat di bumi.
Ia benar-benar habis akal menghadapi kekeraskepalaan pria raksasa yang tingkahnya persis seperti anak kecil yang merajuk minta permen ini.
"Kau ini umurnya sebenarnya berapa hah?" tanya Seravina, nada suaranya bercampur antara heran dan kesal. "Tubuh sebesar ini, otot sekeras baja, tapi kelakuanmu persis bocah lima tahun yang minta mainan. Memalukan."
Viktor membuka mulutnya hendak menjawab, tapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya. Ia terdiam, alisnya yang tebal sedikit berkerut, matanya yang kosong menatap ruang kosong di udara.
"Aku... tidak tahu," jawab Viktor pelan, suaranya terdengar jujur namun sama sekali masuk akal bagi logika normal. "Tidak ingat. Tidak ada yang pernah bilang. Tidak pernah hitung."
Seravina terdiam. Mulutnya yang tadi hendak melontarkan cercaan tertutup rapat seketika. Ia menatap Viktor lekat-lekat, mencari tanda kebohongan, malah yang ia temukan hanyalah kekosongan murni dan kebingungan yang nyata di manik mata gelap itu.
Tidak tahu umurnya sendiri?
Pikiran Seravina langsung berputar kencang, naluri analitis dan ilmiahnya segera bekerja memproses informasi yang aneh ini.
Orang normal mana pun pasti tahu berapa usianya, bahkan anak kecil sekalipun. Tidak ingat sama sekali... itu hal yang sangat mencurigakan dan tidak wajar.
Namun, Seravina menolak langsung menyimpulkan hal-hal mistis atau yang tidak masuk akal. Ia adalah ilmuwan, ia bekerja dengan fakta dan logika.
Atau mungkin...
Batin Seravina mulai merumuskan kemungkinan.
Hidupnya memang terlalu keras dan penuh penderitaan sejak kecil? Tumbuh di jalanan, di arena pertarungan bawah tanah yang kejam, tidak ada catatan kelahiran, tidak ada yang peduli, tidak ada waktu untuk merayakan atau sekadar menghitung berapa lama ia sudah bernapas.
Seravina menghela napas panjang, rasa kesalnya perlahan luntur tergantikan oleh rasa ingin tahu yang makin membara sekaligus secercah rasa iba yang samar, rasa iba yang tidak akan pernah ia akui secara terang-terangan.
"Dasar bodoh," gumam Seravina pelan, nada suaranya sudah jauh lebih lembut dan tidak lagi setajam silet. "Sudah, tidak usah dipikirkan. Anggap saja kau masih anak kecil yang rewel."
Viktor seolah tidak menangkap nada ejekan di ujung kalimat itu. Ia hanya mengangguk patuh, berpikir bahwa permasalahannya sudah selesai, lalu tatapannya kembali berubah menuntut dan fokus tepat pada bibir Seravina seperti semula.
"Kalau begitu... bibir?"
Seravina kembali memutar kursinya menghadap meja kerja, sengaja berpaling punggung darinya dan berusaha memusatkan perhatian pada deretan rumus kimia yang rumit di layar komputer. Ia berpikir, kalau ia diam saja dan pura-pura tidak dengar, Viktor pasti akan bosan dan berhenti sendiri.
Ternyata... ia salah besar.
Baru saja dua menit berlalu, saat Seravina sedang memegang botol pipet untuk memindahkan cairan kimia, suara berat dan datar itu sudah terdengar lagi tepat di samping telinganya.
"Bibir."
Seravina menghela napas kasar, menahan emosi agar tidak merusak bahan penelitiannya. Ia pindah ke sisi meja yang lain untuk mengambil catatan, belum sampai jari-jarinya menyentuh kertas—
"Bibir."
Viktor sudah berdiri di sana, menghalangi cahaya lampu dengan tubuhnya yang besar, menatapnya dengan wajah yang sama sekali tidak punya rasa malu atau tahu diri. Seravina berjalan menjauh menuju lemari penyimpanan spesimen, berpikir setidaknya di sana Viktor akan agak sedikit tertinggal.
Tidak sepuluh detik kemudian, bayangan besar kembali menutupi tubuh mungilnya.
"Bibir."
Seravina berjalan cepat ke sisi kanan, Viktor ikut ke kanan.
"Bibir."
Seravina bergerak gesit ke sisi kiri, Viktor ikut ke kiri.
"Bibir."
Setiap kali Seravina memindahkan kakinya, mengubah posisi duduk, atau sekadar beralih memegang alat tulis, Viktor pasti ada di situ. Seperti bayangan yang lengket dan tidak bisa dipisahkan, pria itu terus membuntutinya selangkah demi selangkah, dan setiap jeda waktu beberapa menit, atau bahkan beberapa detik, kalimat pendek yang sama terus diulang-ulang dengan nada yang sama persis—datar, kaku, dan penuh tuntutan.
"Bibir."
"Bibir."
"Bibir."
Bahkan saat Seravina sedang memeriksa grafik hasil tes darah di mikroskop, Viktor berlutut di samping kursinya, menatapnya dari bawah dengan tatapan kosong yang sama persis.
"Bibir."
Rasanya seperti punya anak kecil berumur tiga tahun yang terus bertanya hal yang sama tanpa henti, tapi versinya adalah raksasa berotot yang bisa meremukkan tengkorak dengan satu tangan. Seravina merasa otaknya mulai berdenyut nyeri. Ia tahu Viktor keras kepala, tapi ia tidak tahu kalau tingkat kekeras kepalaannya setara dengan seribu orang gabungan!
"TUHAN... KAU ITU PITA REKAMAN RUSAK APA?!" Seravina akhirnya berteriak, menepuk meja dengan kesal, matanya melotot menatap Viktor yang masih dengan tenang berlutut di lantai.
Viktor sedikit memiringkan kepalanya, sama sekali tidak merasa bersalah atau takut dimarahi. Ia hanya mengulangi kalimatnya sekali lagi, persis sama seperti yang sudah ia ucapkan lima puluh kali dalam satu jam terakhir.
"Bibir."
"Aduh, ya ampun..." gerutunya pelan, napasnya keluar panjang dan berat sebagai tanda kekalahan mutlak. "Baiklah! Baiklah! Berhenti bicara, aku lakukan sekarang juga!"
Dengan gerakan yang agak kasar karena masih ada sisa kekesalan, Seravina mencabut sarung tangan lateks yang melekat rapi di kedua tangannya. Ia melempar kedua sarung tangan itu ke tempat wadah limbah medis.
Ia berdiri tegak, dada sedikit naik turun, lalu menyilangkan tangan di dada untuk sejenak sebelum akhirnya menurunkan lengannya lagi.
Ia menunduk sedikit, menatap mata gelap Viktor yang kini berbinar-binar. "Dasar binatang yang paling menyebalkan di muka bumi ini. Ayo cepat, sebelum aku berubah pikiran dan—"
Viktor langsung melompat bangkit, mencium bibir Seravina dengan penuh nafsu—lembut namun dalam, membuat napas Seravina memburu dan terdengar desahan halus lolos dari bibirnya.
Tiba-tiba, Viktor beralih mencium pipinya dengan sangat lembut.
Cup.
Seravina tersentak kaget, matanya terbelalak. Wajahnya memanas seketika, jantungnya berdegup kencang karena diam-diam ia merasa tersentuh dan malu.
Karena gengsi dan bingung dengan perasaannya sendiri, tangannya bergerak refleks.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Viktor.
"Brengsek! Apa-apaan itu?!" bentak Seravina sambil memalingkan muka, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.
Viktor tidak memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Ia hanya berdiri diam, menatap Seravina yang sedang memalingkan wajah sambil berusaha keras menyembunyikan rona merah yang mekar indah di kedua pipinya. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tidak ada tanda marah atau sakit hati sedikit pun.
"Kenapa tampar?" tanyanya dengan nada polos yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Seravina menoleh dengan tatapan tajam yang masih berapi-api, tapi suaranya agak tersendat karena jantungnya masih berdebar kencang tak beraturan. "Memangnya siapa yang suruh cium pipi hah?! Kurang ajar! Berani-beraninya kau main cium sembarangan!"
Viktor mengerjap pelan, lalu menatap pipi merah Seravina dengan pandangan yang lekat dan serius.
"Pipinya... gemes," jawabnya terus terang, tanpa ada rasa malu sama sekali. "Empuk. Lembut. Warnanya merah cantik sekali. Tidak tahan, jadi aku cium."
Seravina ternganga. Darahnya naik ke kepala. Ia merasa muka rasanya mau meledak karena panas. Gemes? Dia bilang pipiku gemes?! Dasar bodoh! Dasar biadab!
Seravina membuang muka lagi, tangannya menekan pipinya sendiri yang terasa makin panas. Ia benar-benar mati kutu, tidak tahu harus marah atau malu. Rasa gengsinya meluap-luap. Di dalam hati, perasaannya sedang bergolak hebat karena ungkapan sederhana tapi begitu jujur dari mulut kayu itu.
"Kau... kau memang manusia paling tidak tahu diri!" sergah Seravina dengan suara yang setengah berbisik, berusaha menutupi kegugupannya. "Pergi sana! Jangan dekat-dekat aku! Aku... aku masih kerja!"
Viktor hanya mengangguk patuh, tapi matanya masih terus menatap pipi Seravina dengan tatapan yang seolah ingin melakukannya lagi.
"Baiklah," ucapnya tenang. "Nanti... aku cium lagi ya."
"BERANI KAU!"
semoga novel ini bisa di up dan banyak orang yang tau ttg novel ini