*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Hasil Pemeriksaan.
Ruangan praktik dokter ginekologi itu wangi antiseptik dan rasanya terlalu dingin.
Junee berbaring di atas ranjang pasien, tangannya menggenggam ujung sweater abu-abunya sampai buku jarinya memutih. Di sebelahnya, Ben duduk tegak, satu tangan bertumpu di lutut, matanya tidak berkedip menatap layar USG di depan mereka.
Dokter Wina, wanita paruh baya dengan kacamata bulat dan suara tenang, menggerakkan probe USG di layar. Suara detak alat itu memenuhi ruangan.
“Sini saya tunjukkan.” Ucapnya pelan. “Ini adalah gambar rahim, Nyonya Pratama. Bentuknya normal. Tapi di sini…” Jari dokter menunjuk bintik-bintik kecil di layar.
“Ada kista kecil di ovarium kiri dan kanan. Ini tanda PCOS. Dan ada jaringan yang sepertinya endometriosis ringan di dinding rahim.” Imbuhnya.
Junee menelan ludah.
“PCOS… itu apa, Dok?” Tanyanya pelan.
“Polycystic Ovary Syndrome. Gangguan hormon yang membuat sel telur sulit matang dan dilepaskan. Ditambah endometriosis ringan, kemungkinan hamil secara alami turun. Untuk kasus Ibu, saya perkirakan peluangnya sekitar lima belas persen.” Jelas dokter Wina.
Lima belas persen.
Angka itu terdengar kecil. Sangat kecil. Seperti suara bisikan yang hampir tidak terdengar di tengah keramaian.
Junee merasa udara di paru-parunya tiba-tiba menipis.
Enam bulan. Lebih dari 10 testpack. Ratusan malam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan jawabannya hanya lima belas persen.
“Apakah… ada cara lain, Dok?” suara Junee terdengar serak. Ia buru-buru menelannya.
Ada. Tentu saja ada.
“Untuk meningkatkan peluang, saya sarankan program IVF,” lanjut dokter Wina.
“In Vitro Fertilization. Kami akan membantu pembuahan di luar tubuh, lalu embrio dimasukkan kembali ke rahim. Tingkat keberhasilannya untuk kasus seperti Ibu sekitar empat puluh sampai lima puluh persen per siklus. Tapi prosesnya tidak mudah. Secara fisik, emosional, dan finansial.”
IVF.
Kata yang selama ini hanya Junee dengar di sinetron dan forum ibu-ibu di internet. Sekarang kata itu ditujukan langsung padanya. Seolah hidupnya tiba-tiba masuk ke dalam bab yang tidak pernah ia minta.
“Biayanya berapa, Dok?” Ben bertanya. Suaranya datar, tapi Junee tau Ben hanya sedang menutupi rasa khawatirnya.
“Satu siklus lengkap berkisar seratus lima puluh sampai dua ratus juta. Tergantung obat dan prosedur tambahan. Dan tidak ada jaminan berhasil di percobaan pertama.” Ucap dokter Wina.
Dua ratus juta. Itu hanya nominal kecil untuk sang suami.
Namun masih ada kemungkinan. Berhasil atau tidak.
Junee menunduk. Tangannya gemetar.
Ia tidak takut dengan jarum. Ia tidak takut dengan biaya. Yang Junee takutkan adalah… bagaimana kalau semua itu tetap gagal? Bagaimana kalau setelah menyuntikkan hormon, menangis setiap malam, dan menghabiskan uang sebanyak itu, hasilnya tetap sama.. satu garis.
“Baik, Dok.” Ucap Ben. “Kami akan diskusikan dulu. Terima kasih.”
Dokter Wina mengangguk. “Jangan terlalu lama menunda, ya. Usia dan kondisi ini tidak bisa menunggu. Kalau ada pertanyaan, hubungi saja perawat saya.”
Keluar dari ruang praktik, koridor rumah sakit terasa terlalu terang. Terlalu ramai orang.
Junee berjalan di samping Ben, tapi rasanya seperti berjalan sendiri. Kepalanya sangat penuh. Lima belas persen. IVF. Dua ratus juta. PCOS. Endometriosis.
Kata-kata itu berputar seperti paku yang menancap pelan satu persatu di kepalanya.
“Junee.” panggil Ben pelan saat mereka telah berada di parkiran.
Junee berhenti. Namun tidak menoleh.
“Ben, jangan berbicara dulu.” Ucapnya pelan. “Aku… butuh waktu.”
Ben tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, membukakan pintu mobil untuk Junee.
Di sepanjang perjalanan pulang, Junee menatap luar jendela. Jakarta sore itu macet seperti biasa. Orang-orang di luar sana hidup seperti tidak pernah mendengar kata ‘mandul’. Mereka tertawa di dalam mobil, anak-anak melambai dari kursi belakang, pasangan muda bergandengan tangan di trotoar.
Sementara dirinya…
Ia pulang dengan vonis yang tidak bisa di katakan dengan keras-keras.
Sesampainya di penthouse, Junee langsung masuk ke kamar. Wanit itu tidak mengganti baju. Tidak makan. Hanya duduk di pinggir tempat tidur, menatap kedua tangannya yang terasa asing.
Ben masuk sepuluh menit kemudian. Membawa segelas air putih.
“Kamu belum makan siang.” Ucapnya pelan.
Junee tidak menjawab.
Ben meletakkan gelas itu di atas meja nakas, lalu duduk di samping sang istri. Jarak mereka satu meter. Tapi rasanya seperti ribuan kilometer.
“Aku tau kamu terkejut, Junee.” Ucap Ben pelan. “Aku juga.”
Junee akhirnya menoleh. Matanya merah, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
“Apa kamu marah?” Tanya Junee pelan.
“Marah kenapa?”
“Karena aku… rusak.” Gumam wanita itu.
Perkataan itu keluar begitu saja. Jujur, menyakitkan, dan sangat memalukan.
Ben menggeleng pelan. Ia menggeser sedikit, mengurangi jarak di antara mereka.
“Kamu tidak rusak, Junee. Tubuhmu sedang sakit. Itu saja. Kalau tanganmu patah, aku tidak akan bilang kamu rusak. Aku akan membantu kamu untuk sembuh.”
“Tapi ini rahim aku, Ben. Ini bagian dari aku yang seharusnya bisa…” suaranya tercekat di tenggorokan. “Seharusnya bisa memberi kamu anak.”
“Anak bukan satu-satunya alasan aku menikahimu.” Jawab Ben tegas.
“Aku menikahimu karena aku ingin hidup bersamamu. Kalau Tuhan memberi kita anak, syukur. Kalau tidak, kita tetap keluarga. Kamu dan aku. Ada anak - anak panti juga. Kita tidak akan kesepian.”
Junee menatap Ben lama. Mencari kebohongan di mata itu. Tidak ada. Hanya ada keteguhan yang membuat dadanya semakin sesak.
“Aku takut.” Bisik Junee akhirnya. “Takut kalau IVF itu gagal. Takut kalau kamu menyesal. Takut kalau Ibu Ratna benar.”
“Aku tidak pernah menyesal.” Tegas Ben.
“Dan aku tidak peduli apa kata Ibu. Yang aku pedulikan cuma kamu. Kamu mau coba IVF, aku akan temani. Kamu mau berhenti, aku akan temani juga. Pilihan ada di tanganmu. Aku cuma mau kamu tau, kamu tidak sendirian.”
Junee mengangguk pelan. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh. Satu tetes, dua tetes. Tanpa suara.
Ben tidak menghapusnya. Dia hanya duduk di sana, membiarkan Junee menumpahkan lukanya.
Malam harinya, Junee tidak bisa tidur lagi. Ia berbaring menatap langit-langit, memikirkan kata ‘IVF’, ‘lima belas persen’, ‘dua ratus juta’.
Di sebelahnya, Ben pun sama seperti sang istri. Tapi napasnya tidak beraturan. Ia juga tidak bisa tidur.
Di luar, hujan mulai turun perlahan dan semakin deras. Seperti tangisan yang ditahan terlalu lama.
Dan di dalam kamar itu, dua orang yang saling mencintai baru saja menerima kenyataan bahwa cinta saja kadang tidak cukup. Mereka membutuhkan keberanian. Membutuhkan keputusan. Memerlukan luka yang lebih dalam sebelum akhirnya menemukan akhir yang membahagiakan.
---
---
pesan 1 kak