Judul sebelumnya "Pacar Halu Aesthetic"
Alina dikirim oleh ibunya ke desa Eyangnya yang jauh dari kota karena sebuah kesalahan yang tak di sengaja. Banyak hal yang tak terduga terjadi disana.
Di sana dia bertemu dengan Jordan yang kebetulan sedang shooting sebuah Film di desa itu.
Yang lebih menariknya, Alina yang notabenenya seorang penulis novel menemukan sebuah komputer di ruang bawah tanah, Saat ia gunakan komputer itu untuk menulis novelnya hal aneh pun terjadi.
Dimana peran pria dalam novelnya yang bernama Luhan datang menemuinya setiap malam dalam wujud nyata. Dan Luhan akan menghilang saat pagi datang.
Tanpa sadar Alina jatuh cinta pada Luhan. Sementara itu disisi lain Jordan mulai menyukai Alina.
Bagaimana kisah mereka,? Ikuti terus kisah mereka. Jangan lupa beri dukungan kalian..
Dan tanpa sadar Alina jatuh cinta dengan karakter yang di buatnya sendiri.
Bagaimana kisah cinta mereka,? Yuk mulai baca...
Yuk dukung karya Author dengan memberi like, komentar, vote serta tambahkan ke daftar favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PHA Eps.17
Dengan nafas tersengal Alina berusaha membuka kunci pintu ruang penyimpanan barang antik itu. Dengan jantung berdebar tangannya menekan saklar, ketika lampu sudah menyala Alina menelan kasar ludahnya saat dia tak lagi melihat pintu menuju ruang bawah tanah.
" Tidak mungkin, kenapa pintu itu menghilang,?"
Alina menajamkan penglihatannya memastikan kalau dia tak salah lihat. Dan memang tak ada lagi pintu menuju ruang bawah tanah di dalam ruangan itu. Seketika Alina merasa bulu kuduknya berdiri, bergegas dia meninggalkan ruangan itu.
Dengan perasaan kacau Alina pergi ke dapur untuk membantu eyangnya.
" Kenapa kau lama sekali,?" tanya Eyang melihat Alina baru muncul di dapur.
" Eyang, apa benar tak ada ruang bawah tanah di rumah ini,?" tanya Alina.
" Apa yang kau bicarakan, cepat bantu Eyang," sungut Eyang.
Alina hanya mendengus. Dia pun mulai melakukan pekerjaan yang menurutnya paling mudah.
" Gantikan Eyang menggoreng ikan ini," titah Eyang.
" Aku nggak mau, nanti kecipratan minyak goreng," tolak Alina.
" Jangan banyak Alasan, Eyang harus mengambil cabe rawit ke belakang," ujar Eyang langsung menyerahkan spatula ke tangan Alina.
Alina hanya merunggut, mau tak mau dia pun mengerjakannya. Pikirannya benar - benar tak tenang, Alina tak bisa berhenti memikirkan tentang Luhan. Apa yang sebenarnya terjadi. Saking larut dengan pikirannya Alina tak menyadari ikan yang di gorengnya sudah gosong.
" Hei, lihatlah ikan yang kau goreng sudah gosong," seru seseorang membuat Alina tersadar dari lamunannya. Karena terkejut Alina jadi tak hati - hati dan saat mengangkat ikan dari penggorengan tanyanya tak sengaja menyentuh bibir wajan yang panas.
" Auww," pekik Alina merasakan panas di kulitnya. Spatula dan saringan yang di pegangnya terlepas. Tak hanya sampai di situ, ikan dalam saringan itu jatuh tepat di kakinya.
" Aduh," Alina meringis.
" Astaga, apa yang kau lakukan, kau bisa melukai dirimu," ujar orang itu.
Dia pun menghampiri Alina dan langsung mematikan kompor.
" Coba kulihat," dia meraih tangan Alina yang tampak memerah walaupun tak terlalu lebar.
Alina mengangkat wajahnya.
" Apa yang kau lakukan disini,?" tanya Alina pada orang itu yang tak lain adalah Jordan.
Jordan tak mengindahkan pertanyaan Alina. Dia fokus memeriksa luka di tangan Alina dan meniupnya. Alina menarik tangannya merasa tak nyaman dengan perlakukan Jordan.
" Kenapa kau kesini lagi,?" tanya Alina dingin.
Jordan masih tak menjawab, dan kini dia malah berjongkok memeriksa kaki Alina.
" Hei, apa yang kau lakukan," bentak Alina tak suka.
Saat bersamaan Eyang kembali. Melihat Alina bersama seorang pria Eyang terkejut. Apalagi melihat posisi pria itu yang tampak sedang berlutut pada Alina.
" Apa yang kalian lakukan?" seru Eyang.
Keduanya menoleh, Jordan langsung berdiri dan tersenyum pada Eyang Wati.
" Saya hanya memeriksa luka di kakinya," jelas Jordan.
Eyang Wati melangkah mendekat, matanya terbelalak melihat ikan gosong berserakan di lantai dapur.
" Alinaaa, apa ini,?" bentak Eyang.
" Maaf Eyang, aku tak sengaja membuat ikannya gosong," jelas Alina tertunduk dalam.
" Saya bantu membereskannya," ujar Jordan tak tega melihat Alina dimarahi.
" Tak perlu, bawa gadis itu keluar dari dapur sebelum aku jadikan dia seperti ikan -ikan ini. Bukannya menolong dia malah membuat berantakan, lihatlah, astaga dia membuat ikan - ikan ini menjadi hitam" gerutu Eyang.
Alina mengigit bibir bawahnya. Terlalu takut untuk menjawab dan mengangkat wajahnya. Jordan menarik tangan Alina menjauh dari dapur dan membawanya ke ruang tamu.
" Duduklah disini, aku akan carikan obat," ujar Jordan sambil berlalu.
Alina terduduk lemas di sofa. Gara - gara memikirkan pria yang bernama Luhan itu dia malah membuat semuanya jadi kacau. Tak lama berselang Jordan kembali dengan membawa kotak obat. Entah dimana dia menemukannya.
Jordan meraih tangan Alina dan mulai mengoleskan salep pada kulit Alina yang hampir melepuh.
" Aku bisa sendiri," ujar Alina saat Jordan akan mengobati kakinya. Dengan kasar Alina merampas obat yang di pegang Jordan.
" Apa yang kau pikirkan sampai tak menyadari ikannya sudah gosong," tanya Jordan.
" Bukan urusanmu," ketus Alina.
Jordan menghela nafas dalam - dalam. Dia berusaha tersenyum meskipun di dalam hatinya dia begitu kesal dengan sikap jutek Alina.
" Kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kau ada disini,?" Alina menatap tajam Jordan yang duduk di sebelahnya.
" Aku kebetulan lewat, lalu aku mampir," jawab Jordan.
" Apa? Untuk apa kau mampir, aku rasa hubungan kita tak sedekat itu, atau lebih tepatnya kau itu orang asing." ujar Alina.
Jordan tersenyum tipis, ucapan Alina cukup menyakitkan. Dia juga tak tau kenapa dia tadi mampir.
" Seharusnya kau berterima kasih padaku, kalau tadi aku tak mampir kesini,bisa - bisa kau malah membakar dapur,"
Alina terkekeh, mungkin ada benarnya yang dikatakan Jordan tapi Alina terlalu gengsi mengakuinya.
" Terima kasih ya," ujar Alina dengan nada mengejek.
" Ya sama - sama nona Alina," balas Jordan menirukan gaya Alina.
Jordan masih duduk sambil memangku tangannya. Alina menggeryitkan dahinya melihat Jordan yang tak kunjung pergi.
" Kenapa masih disini,?" tanya Alina.
" Kau mengusirku,?" jawab Jordan tak terima.
" Kalau iya memangnya kenapa,?" tantang Alina.
" Ck, kenapa kau sombong sekali, mentang - mentang aku melunak kau jadi bertingkah." sarkas Jordan.
" Siapa yang bertingkah, ? Ini rumahku, wajar saja aku mengusir tamu yang tak aku inginkan," balas Alina.
" Siapa bilang ini rumahmu," suara Eyang yang tiba - tiba membuat keduanya menoleh.
Jordan berusaha menyembunyikan senyumnya melihat wajah Alina yang tampak memerah.
" Maksudku, rumah Eyang," ucap Alina pelan.
Eyang menghampiri dan ikut duduk bergabung dengan mereka.
" Kamu ini siapa?" tanya Eyang menatap heran pada Jordan.
Jordan tersenyum dan mengulurkan tangannya.
" Saya Jordan, saya salah satu Artis yang lagi syuting di daerah ini nek," jawab Jordan sopan.
" Oowh, lalu kenapa bisa ada disini," tanya Eyang lagi.
Dengan tiba - tiba Jordan merangkul pundak Alina membuat gadis itu melotot tajam.
" Saat sampai disini saya bertemu Alina dan sekarang kami menjadi teman" alasan Jordan.
" Sejak kapan kita menjadi teman ,?" bisik Alina seraya menyingkirkan tangan Jordan dari bahunya.
" Apa sekarang kau sibuk,?" tanya Eyang dengan tatapan penuh arti.
" Tidak, kebetulan syutingnya di mulai sore nanti," jawab Jordan.
" Baiklah kalau begitu, kalian berdua ikut ke dapur, bantu Eyang memasak," ujar Eyang seraya berdiri.
" Apa?" Jordan menatap tak percaya.
Alina berusaha menahan tawanya. Dia tak bisa membayangkan seorang Jordan akan memasak di dapur Eyangnya. Sebuah ide gila muncul di benak Alina untuk membalas Jordan.
...----------------...
Jangan lupa like, komentar dan tambahkan ke daftar favoritnya ya...