Rana Anandita, seorang gadis remaja yang baru saja duduk dibangku kelas 2 SMA. Disinilah Rana mulai mengenal yang namanya jatuh cinta. Bertemu seseorang yang membuatnya malu tanpa sebab. Rana tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan pemuda yang bernama Zevan, akan mengubah beberapa hal dalam hidupnya.
Bukan hanya tentang perubahan, namun sebuah kebenaran dibalik orang-orang terdekat Rana. Rana mulai menyadari, tidak semua orang yang bersikap baik padanya selalu memiliki niat baik juga.
Dengan adanya Zevan, Rana mulai menghabiskan banyak waktu dengannya, meninggalkan sahabat kecilnya Dean. Rana yang selalu bersama Dean kemanapun kini posisi Dean tergantikan oleh Zevan.
Zevan menunjukkan banyak cinta kepada Rana. Menjadikan pasangan ini layaknya bucin dimata teman-teman mereka. Namun Rana sangat beruntung, mendapatkan pemuda sebaik Zevan, pemuda yang mungkin tidak akan pernah kalian temui didunia kalian.
Selamat Membaca !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LB - 18
Kedua lelaki iku hanya bisa mendengus kesal. Mereka tak ingin ada pertengkaran di depan Papa Rana, dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.
"Saya ijin mau ajak Rana jalan-jalan, boleh om?" Tanya Zevan sambil mendekati Papa Rana. Papa Rana melirik anak gadisnya, terlihat sang putri sedang tersipu malu. Beliau mengijinkan jika Zevan ingin mengajak putrinya pergi, namun apakah seseorang yang sedari tadi melihat mereka mengijinkan hal itu. Zevan mendongakkan kepalanya, menatap Dean yang sedang memperhatikan mereka.
"Boleh nggak Yan?" teriak Zevan. Dean mengangguk mengijinkan, dan berkata bahwa ia juga akan ikut kemapun mereka pergi. Mendengar hal konyol itu, Zevan tidak setuju, ia mengatakan hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Rana. Dean juga tidak ingin kalah, keduanya menjadi saling berdebat.
Melihat perdebatan yang tak kunjung henti, Rana dan Papanya hanya bisa diam memandang. Baru saja Zevan akan menghampiri Dean, lelaki itu tertawa dan berucap, "Iya-iya, gue cuma bercanda kok. Tuh om calon mantunya serius banget. Hahaha.."
Zevan terdiam menahan rasa senang dan kesalnya pada Dean. Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat Zevan yang hampir saja kehilangan kendali. Pria itu menatap kearah Rana, "Dandan yang cantik ya, gue mau pulang dulu, jam 7 gue jemput."
Rana mengangguk, setelah Zevan masuk kedalam rumah Dean, gadis itu berlari masuk kedalam rumahnya. Ia menuju kamar tidurnya, mencari-cari baju yang ingin ia kenakan. Tak lupa Rana melakukan panggilan video call dengan Latu, Mia dan Ovi. Gadis itu bercerita bahwa Zevan mengajaknya untuk pergi malam itu. Teriakan teman-teman Rana terdengar begitu keras, mereka ikut antusias mendengar hal itu.
"Gimana nih? Gue pakai baju apa, bingung" Tanya Rana yang masih saja membongkar semua pakaiannya. Rana meminta saran kepada teman-teman, ia mencoba mencocokan beberapa pakaian pada tubuhnya, namun belum menemukan yang cocok.
Terdengar suara pintu diketuk, terlihat Bunda Rana yang sedang tersenyum disana. "Bundaa, Rana bingung nih mau pakai baju apa" rengek Rana seraya menunjukan tumpukan bajunya yang berantakan. Bunda Rana tersenyum kecil, beliau memberikan Rana sebuah dress selutut yang memadukan warna putih dan hitam. Warna putih adalah warna kesukaan Rana, sedangkan hitam, gadis itu tidak menyukai warna gelap. Rana tampak ragu setelah melihat warna hitam pada dress itu. Namun teman-temannya berusaha meyakinkan Rana untuk mencobanya terlebih dahulu.
Setelah membersihkan diri, Rana mencoba dress tersebut. Ia dengan ragu berjalan kearah cermin, memperhatikan dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Wah, Rana kelihatan cantik Bund" puji Rana dengan sangat senang. Teman-temannya juga ikut memuji penampilan Rana. Tetapi gadis itu belum selesai sampai disana. Bunda Rana mulai merapikan rambut anak gadisnya, dan memberikan sedikit polesan tipis diwajah Rana. "Kamu yang mau kencan, Papamu yang semangat sekali itu nunggu cowok kamu." ucap Bunda disela-sela kegiatannya.
Ovi bertanya apa yang sedang Papa Rana lakukan. Papa Rana sedang berdiri didepan rumah sambil celingak-celinguk menunggu seseorang. Bahkan Papa Rana yang meminta Bunda untuk mendadani anak sulungnya itu. Cerita Bunda terdengar sangat lucu bagi gadis remaja itu, mereka tertawa karena berpikir Papa terlalu berlebihan.
Tidak membutuhkan waktu lama, Bunda menunjukan hasil karyanya pada teman-teman Rana. Mereka semua sungguh kagum melihat Rana yang terlihat begitu cantik. Ramput panjangnya yang dibiarkan terurai, dan diberi jepit disisi kanannya. Mama Rana juga memberikan sepatu hak tinggi namun tidak terlalu tinggi, membuat gadis itu terlihat begitu anggun dan manis.
"Waah, pertama kalinya lihat Rana secantik ini" goda Dean yang tiba-tiba sudah berada di balkon kamar Rana. Gadis itu terlihat semangat setelah mendapat pujian dari Dean. Ia pun juga berkata, jika ini adalah pertama kalinya Dean memuji dirinya. Karena selama ini, yang Rana tau adalah Dean selalu menjadikan dirinya sebagai rival.
Dean menepuk kepala pujuk kepala Rana dengan pelan, "Udah besar ya sekarang. Kalau ada apa-apa jangan lupa telepon gue ya. Kalau dia macem-macem, langsung tampar aja. Ngerti kan?"
Hati Dean sebenarnya masih tidak tenang. Perasaan begitu berat untuk melepas Rana bersama pria selain dirinya. Tapi ia tau, cepat atau lambat Rana pasti akan pergi meninggalkannya. Ia hanya takut, Rana salah memilih seseorang.
Cubitan dipipi Dean, membangunkan lamunan pemuda itu. Ia berbalik mencubit gadis dihadapannya dengan gemas, lalu mengelus pipi Rana. "Dean mah, Rana kan cuma mau pergi jalan-jalan. Kenapa Dean seperti Papa yang mau ditinggal anaknya nikah sih?" Candaan dari Rana itu cukup mencengangkan. Dean lagi-lagi hanya bisa tertawa dan menasihati Rana untuk tetap berhati-hati dan waspada. Rana mengangguk sembari menatap mata Dean yang penuh kekhawatiran itu.
Bunda menghampiri mereka, mengelus kepala Dean dan memberitahunya bahwa Rana pasti bisa menjaga diri, jadi Dean tidak perlu sekhawatir itu untuk melepas Rana. Latu, Mia dan Ovi yang masih terhubungpun menguatkan Dean dan menyuruhnya untuk mencari pacar juga, agar tidak terlalu sedih.
"Ranaa, ini udah datang nih" teriakan Papa Rana terdengar sangat kencang. Rana mematikan video call bersama teman-temannya dan turun kebawah bersama Bunda dan Dean. Zevan sudah duduk dan berbincang bersama Papa Rana.
"Anak Papa, cantiknya.." seru Papa Rana yang terkejut melihat penampilan Rana, begitu pula dengan Zevan. Zevan tersenyum malu melihat Rana berdandan begitu anggun dan manis untuk dirinya. Ia pun berpamitan dan mengajak Rana untuk segera pergi.
Zevan membukakan pintu mobilnya untuk Rana, dan membisikan satu kata, "Cantik". Gadis itu tersipu malu, jantungnya berdebar dengan kencang. Setelah memastikan Rana masuk kedalam mobil, Zevan pun segera berjalan kekursi lainnya. "Jagain Rana" bisik Dean sebelum Zevan masuk ke mobilnya. Zevan mengangguk dan meyakinkan Dean untuk tidak khawatir.
Mobil Zevan melaju menjauh dari rumah Rana. Mereka masih diam, belum ada topik pembicaraan. Sudah lebih dari lima menit mereka tidak saling berbicara. Hingga Zevan memutuskan untuk memulai pembicaraan, "Ada tempat yang mau loe datengin?"
Rana menjawab tidak. Pemuda itu bertanya kembali apakah Rana ingin makan sesuatu. Rana menjawab tidak. Setelah beberapa pertanyaan, dan jawaban singkat dari Rana, Zevan pun kehabisan topik. Suasana didalam mobil kembali hening.
"Ran, lukisan loe yang waktu itu. Itu gue kan?" Tanya Zevaan sekali lagi untuk memecah keheningan. Rana mengiyakan jika lukisan itu mirip dengan Zevan, namun ia tidak yakin apakah itu Zevan atau bukan. Lukisan itu menggambarkan seorang pemuda yang sedang bermain gitar disekitar Monas dan dikelilingi oleh beberapa anak kecil. Lukisan itu mungkin seperti lukisan biasa, namun Rana mampu menghidupkan raut wajah modelnya terlihat seperti nyata. Raut wajah pemuda yang tertawa namun matanya terlihat sedih.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" pertanyaan Zevan yang satu ini membuat Rana berpikir dengan keras. Masalahnya adalah, gadis ini tidak mengingat apakah itu benar terjadi atau hanya imajinasinya. Tetapi wajah pemuda dilukisannya memang terlihat seperti Zevan. Rana menjawab ia tidak tau, lebih tepatnya ia tidak mengingatnya.
Tidak masalah bagi Zevan jika dulu Rana tidak mengingatnya, namun "Sekarang loe bisa inget gue kan?"