Deg.
Vina terhuyung ke belakang setelah mendengar perkataan Devan barusan.
Tadinya Vina datang berniat memberitahu Devan bahwa dirinya hamil, tapi siapa sangka Vina malah mendengar kabar menyakitkan tentang hubungan mereka.
Tanpa pikir panjang Vina langsung berlari keluar dari apartemen itu dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Vina pergi tanpa memberitahu Devan soal kehamilannya. Toh hubungan mereka tidak bisa lagi di perjuangkan, itu sebabnya Vina memutuskan untuk merawat sendiri bayi yang masih ada di dalam perutnya.
Vina memutuskan pulang ke kampung halamannya meninggalkan semua kenangan yang ada di kota itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delfi Sofya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Dua orang sedang berjalan dengan tangan saling memegang erat. Gadis kecil itu menggenggam erat tangan laki-laki paruh baya di sampingnya sambil berjalan pelan menyesuaikan langkah laki-laki itu.
Mereka terus berjalan hingga sampailah mereka di depan sebuah warung sederhana yang berada tepat di depan pasar.
Tempatnya terbilang cukup strategis karna berada tepat di depan pasar. Jadi setiap pagi atau jam makan siang warung itu akan ramai dengan orang-orang yang ingin mengisi perut mereka yang lapar.
“Bunda.” Panggil gadis kecil itu.
Seketika wanita yang sedang mengantar pesanan pada pengunjung itu pun berbalik
“Naya, ayah.” Balas wanita itu.
Gadis kecil itu berlari memeluk kaki sang bunda.
“Bunda, Naya lapar.” Rengek gadis kecil itu.
“Anak bunda lapar ya, tunggu sebentar bunda ambilkan makan.” Jawab wanita yang di panggil bunda tadi.
“Ayah duduk sama Naya dulu ya. Vina mau ke belakang siapin makan buat ayah sama Naya.” Lanjut wanita tadi yang ternyata adalah Vina.
“Iya nak.” Jawab sang Ayah.
Setelah melahirkan sang anak, beberapa bulan kemudian Vina membuka usaha kecil-kecilan yaitu menjual makanan di depan rumahnya.
Awal mula usahanya pun tidak semuanya berjalan mulus, banyak kendala yang ia alami. Mulai dari nyinyiran orang-orang yang tidak suka padanya sampai pernah Vina di fitnah menggunakan barang pelaris pada makanannya karna banyak pembeli yang datang untuk membeli makanannya.
Tapi berkat doa dan kesabaran Vina selama ini, usahanya kian melejit dari yang awalnya berjualan hanya di depan rumah sampai Vina bisa menyewa sebuah tempat sederhana untuk melanjutkan usahanya yang sekarang ini.
“Selamat makan.” Ucap Vina sambil meletakan dua piring nasi di depan Adi dan gadis kecil yang menjadi salah satu faktor Vina bertahan sampai saat ini.
“Terima kasih bunda.” Sahut Naya yang mana membuat Vina gemas.
Setelah mengantar makanan untuk orang yang ia sayang, Vina kembali ke belakang untuk membersihkan beberapa piring kotor agar bisa di gunakan lagi bila pengunjung lain datang.
Vina tidak menyewa orang untuk membantunya, itu sebabnya Vina mengerjakan semuanya sendiri.
***
Di tempat lain.
Devan dan Viko baru saja keluar dari sebuah restaurant, tadi mereka datang untuk menemui rekan kerja baru mereka. Hari ini perusahaan Devan mendapat sebuah proyek besar dari pemerintah untuk merenovasi sebuah pasar yang berada di pedesaan.
Pasar itu sengaja di renovasi karna pemerintah ingin memberi tempat yang nyaman bagi penjual maupun pembeli. Pasar itu juga nantinya akan di gunakan untuk kemajuan dan pertumbuhan ekonomi yang ada di desa tersebut.
Karna anggarannya yang begitu besar, makanya perusahaan Devan mau menerima kerja sama itu meskipun lokasinya jauh dari kota.
“Dimana tempatnya? Tadi aku tidak mendengar apa yang mereka jelaskan.” Ucap Devan tanpa dosa.
Anda memang tidak pernah mendengar apa yang orang lain presentasikan pak, selalu saja pikiran anda ada di tempat lain. Cibir Viko kesal dalam hati.
“Nanti kamu saja yang mewakili perusahaan untuk pergi meninjau lokasi itu bersama mereka.” Lanjut Devan sebelum mendengar jawaban Viko.
“Baik pak.” Jawab Viko patuh.
Devan dan Viko pun masuk ke dalam mobil, tidak lama mobil melaju pergi meninggalkan restaurant itu.
***
Sore hari Vina berjalan pulang dengan rantang di tangannya.
Tadi setelah menutup warungnya, Vina sempat memasak beberapa makanan untuk hidangan makan malam mereka di rumah.
Saat Vina sedang jalan sambil menikmati pemandangan desa, tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di sampingnya.
“Vin, mau pulang? Aku antar ya.” Tawar seorang pria.
“Tidak Frans, terima kasih. Aku mau jalan saja, sekalian mau nikmati pemandangan juga.” Tolak Vina.
Bukan tanpa alasan Vina menolak pria itu, gara-gara Frans sampai Vina pernah di labrak oleh beberapa gadis desa yang tidak terima melihat Vina di dekati oleh Frans.
“Oh ya sudah kalau begitu, aku duluan.” Pamit Frans dengan senyum di paksakan.
Vina hanya mengangguk.
Setelah Frans menjauh, Vina pun kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.
Sesampainya di depan pintu rumah, samar-samar Vina mendengar suara gadis kecil tertawa dari arah belakang.
“Vinaya pasti sedang mengerjai ayah di belakang. Dasar gadis kecilku yang usil.” Gumam Vina dengan senyum di bibirnya.
Vina bersyukur bisa melahikan malaikat kecil yang cantik seperti Naya, berkat Naya keluarga mereka di penuhi kehangatan dan kebahagian. Setiap harinya ada saja tingkah Naya yang membuat mereka tertawa.
“Aku pulang.” Teriak Vina dari depan pintu.
“Bunda.” Balas Naya balik berteriak menyambut kepulangan sang ibu.
Tidak lama Adi muncul dari belakang.
“Naya, biarkan bundamu duduk dulu.” Titah Adi yang muncul dari belakang.
“Iya bunda duduk dulu, bunda pasti capek ya? Mau Naya pijitin kakinya?” Ujar gadis kecil itu penuh pengertian.
“Anak bunda memang yang terbaik.” Puji Vina.
Wanita itu berjalan meletakan rantang di atas meja lalu duduk. Seolah mengerti, Naya langsung bersimpuh di bawah kaki sang bunda sambil tangan kecilnya memukul-mukul pelan kaki Vina.
“Bagaimana tadi di warung?” Tanya Adi sambil duduk di samping Vina.
“Cukup ramai ayah.” Jawab Vina.
“Oh iya, tadi disana Vina dengar orang-orang bilang akan ada renovasi pasar.” Lanjut Vina berbicara.
“Renovasi pasar? Itu bagus, dengan begitu ekonomi di desa ini bisa berkembang dan maju.” Tutur Adi menjelaskan.
“Iya Yah. Itu juga kesempatan besar bagi Vina, dengan adanya renovasi ini otomatis bisa saja para pekerja itu datang dan makan di warung kita.” Jelas Vina bersemangat.
Adi senang melihat anaknya yang sekarang, tidak ada lagi Vina yang murung dan menyendiri menyimpan kesedihannya yang sekarang ada hanyalah Vina yang kuat dan bahagia.
Selama ini Adi tidak pernah menyinggung soal ayah dari Naya. Adi takut itu akan kembali membuka luka masa lalu anaknya, itu sebabnya sampai saat ini pun Adi tidak tau rupa maupun nama dari laki-laki yang telah menghamili anaknya.
***
Devan baru saja tiba di rumahnya.
Disana ada Bayu yang sedang duduk menonton berita, selama ini aktivitas Bayu hanya makan, tidur, nonton.
Tubuhnya sudah tidak sesehat dulu.
“Papa.” Sapa Devan sambil berjalan meghampiri Bayu.
Devan mendaratkan tubuhnya yang lelah di samping Bayu.
“Suruh bibi buatkan teh hangat untukmu agar rasa lelah di tubuhmu bisa sedikit berkurang.” Ujar Bayu penuh perhatian.
“Apa kamu tidak mau mencari pendamping hidup?” Lanjut Bayu bertanya.
“Tidak. Devan masih akan tetap menunggu Vina.” Perkataan yang selalu Devan keluarkan jika Bayu bertanya mengenai pendamping hidup.
“Bagaimana kalau ternyata Vina sudah menikah?”
Deg.
Kalimat ini belum pernah Devan pikirkan sebelumnya.
“Ini sudah terlalu lama Devan, sampai sekarang pun kamu belum bisa menemukan wanita itu. Kamu juga butuh seseorang di sampingmu untuk mengurus kehidupanmu yang kacau ini.” Sambung Bayu.
Apa Vina sudah menikah dengan orang lain?
Devan tidak peduli dengan apa yang dikatakan Bayu barusan, pikirannya sekarang kacau gara-gara mendengar apa yang dikatakan Bayu tadi tentang Vina.