Sebuah kisah cinta Andhara Trisha gadis tomboi berusia 23 tahun dengan seorang OB sebuah hotel,Bagas Pratama cowok berusia 25 tahun.
Di saat Bagas sudah siap untuk meminang Andhara, hadirlah seorang cowok dingin yang mendekati Andhara.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka?
Siapakah cowok dingin tersebut?
Dan siapakah pelabuhan terakhir cinta Andhara?
Ikuti kelanjutannya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TRIO A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Keesokan harinya Andhara menghubungi Bagas, ingin menyampaikan perihal kepindahan tempat ia bekerja selanjutnya.
Bagas yang masuk kerja minta ijin pada saat jam istirahat untuk menemui Andhara di kosan.
Bagas datang ke kosan dengan membawa dua kotak nasi untuk makan siang.
Selesai makan, Andhara menyampaikan maksudnya untuk pindah tempat kerja. Alangkah terkejutnya Bagas dengan semua yang disampaikan Andhara, sungguh tak rela harus terpisah jarak yang sangat jauh.
"Kenapa harus jauh, kalau saja kamu menerima pinangan dariku, kita akan menikah secepatnya dan kamu cukup di rumah saja bersama dengan ibuku."
Mendengar perkataan Bagas, Andhara hanya tersenyum tipis, tak ada wajah sedih.
"Tak semudah itu Mas, aku masih ingin berkelana, aku ingin merantau meskipun hanya di ibukota. Kita masih berkomunikasi dengan ponsel."
"Terus tentang lamaran aku saat itu, bagaimana?" tanya Bagas dengan wajah penuh harap.
"Maaf Mas, aku belum bisa menerima pinanganmu. Dan cincin darimu aku kembalikan kembali. Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh terbaik sesuai keinginan kamu," ujar Andhara sambil menyodorkan kotak cincin pada Bagas.
Bagas terdiam seribu bahasa, mulutnya terasa terkunci tak mampu merangkai kata-kata, hatinya berontak dengan apa yang disampaikan Andhara. Kebersamaan yang dijalani selama ini meskipun hanya demi status semata rela ditempuh setahun lebih.
Tak banyak kesan ataupun kenangan istimewa, mungkin setiap pertemuan bagi Bagas merupakan momen terindah dalam setiap kesempatan.
Suasana terasa semakin hening, dan semakin hening saat keduanya tak saling berucap sepatah katapun.
Kring ... , dering ponsel Andhara berbunyi memecah keheningan yang terjadi.
Andhara melihat sebuah panggilan masuk dari Sang Ibu.
"Assalamualaikum Nak?"
"waalaikumsalam, iya Bu, ada apa?"
"Ibu sudah tahu semua dari Mas Ade, Ibu tunggu kedatangan kamu di Blitar. Apa perlu dijemput Nak?"
"tak perlu Bu, aku kangen naik angkutan umum."
Andhara mengakhiri percakapan di ponsel. Dan melanjutkan pembicaraan dengan Bagas yang masih terdiam tak bergeming sedikitpun.
"Mas Bagas, baik-baik saja kan, keluarkan apapun yang ingin Mas sampaikan selagi aku masih di sini."
"Baiklah, aku minta sekarang kamu ikut ke rumah. Dan berpamitan dengan Ibu juga Bapak aku."
"Ha ..., apa ..., sepertinya tidak perlu Mas, lagi pula ini akan menyakitkan hati kedua orang tua Mas Bagas."
"Kumohon, ini permintaanku dan aku akan merelakan kau kerja jauh setelah itu."
Akhirnya Andhara menyetujui permintaan Bagas untuk bertemu dengan Ibu dan Bapak Bagas.
Bagas telah menghubungi Ramdan, bahwa ia akan terlambat kembali ke hotel, masih ada urusan penting yang harus diselesaikan.
Seperti biasanya saat dibonceng motor selalu ada jarak antara keduanya. Dalam perjalananpun tak ada percakapan antara mereka berdua.
Tak lama kemudian Bagas dan Andhara sudah tiba di sebuah rumah yang sangat sederhana, halaman rumah yang bersih ada sebuah taman kecil di depan teras dengan berbagai macam bunga hias y yang sangat cantik.
Rupanya kedatangan Andhara sudah disambut Ningsih dan Prayitno.
Tapi mereka belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Hanya sebagai orang tua mereka senang melihat Bagas membawa gadis yang ia cintai pulang ke rumah.
Ningsih dan Prayitno menyambut baik kedatangan Andhara. Berbagai menu makanan juga aneka kue telah disiapkan demi Andhara.
Jujur hati Andhara ada rasa iba melihat dan merasakan kehangatan kasih sayang orang tua Bagas.
Betapa mereka mengangumi Andhara, betapa mereka mengharapkan hubungan dirinya dan Bagas bisa sampai ke jenjang pernikahan.
Tapi Andhara masih mencari sesuatu yang lebih baik, terutama soal pendamping hidup. Dan untuk pekerjaan memang Andhara sudah merasa bosan sebagai karyawati di toko pakaian dan perlengkapan haji.
Singkat cerita Andhara menyampaikan tentang ajakan Bagas untuk datang ke rumahnya. Tak lain adalah untuk berpamitan bahwa dirinya akan meninggalkan kota Tulungagung dan akan bekerja di sebuah kota pinggiran di daerah Ibukota Jakarta.
Ningsih sangat terkejut dan bersedih lalu iapun berkata,"seandainya Dhara masih mau melanjutkan hubungan dengan Bagas silahkan. Tapi Ibu akan memintakan ijin pada orangtua Andhara untuk merestui hubungan kalian berdua."
Prayitno terdiam tak berkomentar sedikitpun, dalam hatinya ada rasa sedih, karena putra satu-satunya harus berpisah dengan orang yang dicintainya.
Tapi di sisi lain Prayitno merelakan keputusan Andhara, di samping itu adalah hak Andhara, Prayitno ingin agar Bagas belajar untuk menerima setiap keadaan yang terkadang sulit untuk dilakukan.
Suasana terasa sedikit berbeda, kesedihan masih dirasakan Ningsih dan Bagas.
"Maaf Bu, tak perlu persoalan ini melibatkan orangtua saya. Karena saya memang belum siap dengan semuanya. Karena memang dari awal saya dan Mas Bagas sudah sepakat dengan hubungan ini."
"Iya Ibu mengerti semuanya, Bagas selalu menceritakan semuanya pada Ibu juga Bapak. Jadi dari awal kami sudah mengetahui semuanya."
Andhara tersenyum lega mendengar jawaban Ningsih, tapi ucapan mulut bisa berbohong sedangkan tatapan mata tak bisa berbohong bahwa Ningsih masih begitu sedih.
Prayitno hanya terdiam mendampingi percakapan mereka dan berusaha menenangkan Bagas.
******
Andhara pulang ke kampung halaman di kota Blitar daerah kabupaten, menemui kedua orang tua yang sangat ia cintai dan sayangi, karena berkat doa juga petuah mereka, Andhara bisa menjaga diri baik-baik meskipun jauh dari orang tua.
Sambutan hangat Bambang dan Lestari membuat Andhara semakin sayang mereka dan selalu ingin membahagiakan mereka.
"Aku kangen sekali dengan Ibu dan Bapak," ucap Andhara sambil memeluk kedua orangtuanya bergantian.
Meskipun sebulan sekali atau lebih sudah bertemu namun rasa kangen tetap ada antara anak dengan orangtuanya saat tidak tinggal bersama.
"Ibu dan Bapak juga sangat kangen dengan kamu Nak," ucap Lestari sambil mengusap rambut Andhara.
Suasana rumah dimana Andhara dilahirkan sangat menenangkan, berkumpul dengan kedua orangtuanya.
Tak terasa sudah hampir seminggu Andhara di rumah, ia sudah mempersiapkan keberangkatannya ke kota Jakarta Timur daerah Bekasi. Andhara sudah diantar Ade membeli tiket kereta api MA*****JA" untuk keberangkatan hari Sabtu siang pukul 11.24 WIB jurusan Blitar - Jatinegara.
Tak terasa tibalah hari keberangkatan Andhara meninggalkan kota kelahirannya, menuju kota yang sebelumnya tak pernah ia datangi. Ada kelegaan dari orangtuanya karena Ade juga ikut bersama Andhara untuk juga bekerja di tempat yang sama dengan Andhara.
Andhara dan Ade berangkat dari stasiun kota Blitar tepat jam 11.24 WIB menuju stasiun Jatinegara.
Andhara dan Ade duduk di kursi yang sama bersebelahan. Kereta mulai melaju perlahan, desir darah di tubuh Andhara terasa mengalir cepat, tanpa terasa tetes air mata membasahi kedua pipinya.
Ade yang mendampinginya berusaha menenangkan.
"Sudahlah, nanti juga akan terbiasa dengan hal seperti ini,"
"iya Mas, tapi ini pertama kalinya aku kerja jauh dari Ibu dan Bapak,"
"di Tulungagung juga jauh dan tidak cuma sebentar," ujar Ade meledek Andhara.
"Ih Mas Ade, maksud aku ini lebih jauh, kalau Tulungagung masih dekat Masku ganteng," ucap Andhara sambil tersenyum dan menyeka air matanya.
Saat Andhara dan Ade sedang berbincang tiba-tiba datang seorang cowok dengan penampilan yang necis, mengenakan t-shirt berwarna hitam dengan berpadu celana jeans panjang mengendong tas ransel di pundaknya.
Ia berusaha melihat nomor tempat duduk yang terpasang di gerbong kereta.
"Permisi," ucap singkat yang keluar dari mulut cowok tersebut.
Cowok tersebut menaruh tas ranselnya di atas dimana ia duduk. Tanpa sengaja kakinya hampir saja menginjak kaki Andhara.
"Maaf," ucap cowok tersebut.
"Iya,"sahut Andhara.
"Hati-hati Mas," lanjut Ade.
"Iya Mas, maaf."
Cowok tersebut ternyata duduk di kursi kosong berhadapan dengan Andhara.
Cowok tersebut diam dan hanya memainkan ponselnya, kemudian Ade mengajak dia mengobrol. Ternyata cowok tersebut sebelumnya duduk di kursi dan gerbong yang salah. Dia asal duduk saja tanpa mengecek nomor kursi dan gerbong yang tertulis di tiket.
Setelah obrolan tersebut selesai tak ada obrolan lain. Ade juga kembali cuek.
Sementara Andhara hanya diam dan menjadi pendengar dan pengamat keduanya.
Jarak yang ditempuh masih jauh butuh selama lima belas jam untuk bisa sampai ke stasiun yang dituju.
Cowok di depan Andhara sangat cuek dengan Andhara, tak ada percakapan selama di perjalanan, hanya di awal saja itupun ditanya Ade.
Bersambung
Maaf ya belum bisa teratur up
tapi tetap up juga
jangan lupa like, tulis komentar dan kasih vote juga hadiah buat Author ini ya
Terimakasih
Salam Manis
TRIO A
wehhh pakaian dinas malam yg membuat Pandya panas dingin 🤪
nah lo siapa yg minta tolong
pandya habis jalan* nanti makan masakan ibu mertua mu yah awas klw ga ku jewer nanti kamu yah🤭🤣
like♥️
Saling dukung ya
Mampir di novelku
GADIS TIGA KARAKTER
mas makanlahhh masakan ibu mertuamu walau tidak sesuai seleramu hargailahhh toh kamu kan tidak setiap hr disitu