"Kau istriku, Laura!"
Sabiel membopong tubuh telanjang Laura. Dan membanting pelan tubuh itu di tempat tidur. Laura berteriak histeris ketika Sabiel mulai mencumbuinya kembali. Air mata sudah tak bisa ia tahan, Sabiel benar-benar membuatnya merasa ketakutan.
"Kau mungkin bisa menyentuh tubuhku Sabiel, tapi kau tidak akan bisa menyentuh hatiku." ucap Laura disela tangisnya yang semakin terdengar pilu.
Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika Sabiel mulai menciumi tubuhnya dengan buas.
Update setiap hari kecuali minggu.
Jangan lupa like, vote dan komen! 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di hari dan waktu yang sama, lelaki berkemeja kotak-kotak berdiri di depan gedung yang diketahui sebagai markas besar serikat buruh Indonesia. Lelaki itu tampak sedang berbicara dengan lelaki kurus berseragam ormas yang melekat di tubuhnya. Seragam itu tampak kebesaran hingga hampir menenggelamkan tubuh kurusnya.
Entah apa yang sedang dua lelaki itu bicarakan, dari raut muka keduanya yang tampak serius menandakan bahwa pembahasan mereka adalah sesuatu yang penting.
Sebuah mobil sejenis jeep datang di pelataran parkir, kedua lelaki itu melihat siapa yang keluar dari dalamnya. Seorang wanita kisaran usia akhir 30 tahunan terlihat dari jendela kaca yang terbuka. Raut wajahnya tak kalah serius dengan dua pemuda tadi.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya wanita itu yang keluar dari balik kemudi jeep. Dia berjalan menghampiri kedua lelaki yang menatapnya serius.
"Nihil." jawab lelaki kurus sambil mengangkat bahunya.
"Menurutmu, apa yang harus kita lakukan untuk membuat Riko bertanggung jawab, Bima?" tanya wanita itu pada Bimasakti yang berada di hadapannya.
"Menurutku, satu-satunya jalan adalah dengan membujuk keluarga korban untuk memperkarakan masalah ini ke pengadilan." Bimasakti menatap lekat wanita yang bernama Laras yang tak lain pimpinan ormas buruh di Jakarta.
Laras tampak menganggukkan kepala, menimbang ucapan Bimasakti yang terdengar realistis dan penuh dengan resiko.
"Wisman, kau kumpulkan anggota kita. Kita harus mulai membahas perkara kecelakaan kerja ini segera." Laras memerintah pada lelaki bertubuh kurus yang berada di antara mereka.
Ketiga pentolan ormas buruh itu melangkah masuk pada gedung ormas yang berukuran cukup luas, mereka melangkah ke arah meja kerjanya sendiri dan mulai menjalankan tugas masing-masing.
"Brengsek! Setelah semua petaka yang mereka buat, dengan santainya mereka mengatakan 'kami juga menyesal'." Bimasakti geram ketika ia memeriksa laman berita di laptop mejanya.
Bimasakti dan teman-temannya saat ini sedang tenggelam dalam penyelesaian perkara kecelakaan kerja yang sering terjadi pada para buruh perusahaan. Mereka selalu geram dengan pihak perusahaan yang dinilai tak serius dalam memberikan pengamanan di lapangan. Ketika kecelakaan terjadi, dan menimbulkan korban nyawa, pihak perusahaan dengan santainya hanya berdalih bahwa kecelakaan kerja adalah kecerobohan buruh itu sendiri. Mereka seolah-olah menganggap nyawa para buruh tak ada artinya.
"Itulah kenapa kita harus terus giring opini publik untuk mengajak pengadilan mengusut tuntas perkara ini." sahut Laras dari balik mejanya. "Aku sudah muak dengan tingkah para kapitalis itu. Mereka sibuk membangun kerajaannya dibawah kucuran keringat darah pada buruh." sambungnya.
"Wisman, sudah kau hubungi para anggota?" tanya Bimasakti menatap Wisman yang berada di meja sebelahnya.
"Sudah. Besok pagi mereka akan merapat kemari." Wisman memberikan informasi kesiapan anggota ormas.
"Ok. Saatnya mengumpulkan data." ucap Laras sambil merenggangkan tangannya kedepan dan mulai menatap serius laptop berisi dokumen yang harus ia baca.
Bimasakti dan Wisman melakukan hal yang sama. Mereka mulai sibuk mengumpulkan data perusahaan dan kecelakaan kerja yang kerap kali terjadi disana.
Ditengah kesibukkan matanya menyusuri dokumen dalam bentuk pdf di dalam laptop, Bimasakti menyempatkan diri melihat kembali inbox ponsel yang berisi percakapannya dengan Laura.
Dia tersenyum ketika melihat tanda panggilan tak terjawab dari gadis itu.
"Tunggu aku, ilalang." Bimasakti bergumam riang dalam hatinya.
🍁🍁🍁
Laura sudah masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, kamar yang ternyata bersebelahan dengan kamar untuk tamu. Tempat dimana Sabiel beristirahat.
Sabiel sempat mengucapkan selamat tidur pada Laura ketika ia berjalan bersama dengan gadis itu setelah menghabiskan banyak waktu mengobrol santai dengan keluarga Laura. Tidak bisa dipungkiri, keluarga Laura benar-benar hangat dan bersahaja. Tak membutuhkan waktu lama bagi Sabiel untuk merasa diterima keberadaannya ditengah-tengah keluarga mereka.
Sabiel tidur telentang dengan kedua tangan menjadi bantalan di belakang kepalanya. Matanya bersinar penuh kebahagiaan saat benaknya mengingat kembali cerita-cerita yang keluarga Laura bahas seputar kehidupan masa kecil dan remaja Laura.
Sabiel berpikir tak salah jika kini Laura semakin banyak disukai oleh para lelaki, bibit primadona ternyata sudah melekat di dirinya bahkan ketika Laura masih balita. Dina, bibi Laura menceritakan begitu mudahnya Laura kecil disukai orang lain. Mereka semua terlihat gemas pada wajah cantik dan lucu Laura saat itu, pakaian apapun yang Laura kenakan akan selalu membuat orang lain merasa terpukau.
Dosen muda itu kini semakin menyadari kehadiran cinta yang tumbuh secara perlahan di seluruh bagian sisi hatinya. Dia sudah tak sabar menanti hari esok tiba. Sesuai dengan apa yang Laura katakan, dan ayahnya ijinkan. Gadis itu akan kembali ke Bandung, meneruskan pendidikannya yang sempat terjeda karna kondisi kesehatan ayahnya.
Malam semakin larut ketika Sabiel sudah sangat merasa berada diujung batas kesadarannya. Dia mengantuk. Nyatanya perjalanan panjang Bandung-Jakarta ditambah acara ramah tamah dengan keluarga Laura, telah memporsir tenaganya hingga batas maksimal. Kini saatnya ia beristirahat, memulihkan kembali tenaga yang banyak terkuras.
🍁🍁🍁
Esok harinya,
Langit Jakarta mendadak mendung sejak pagi tadi, hujan turun cukup deras membasahi semua permukaan bumi. Bunyi petir pun sesekali terdengar mengejutkan.
Laura berjalan menuruni tangga dengan tas ransel yang ia sampirkan di bahu lengan kanannya. Semua keluarganya dan Sabiel sudah lebih dulu berada di ruang makan. Siap untuk menikmati sarapan pagi dengan diiringi suara derasnya air hujan yang turun.
"Kau sudah siap, sayang?" tanya Rama pada putrinya ketika putrinya itu berjalan mendekati meja makan. Semua mata mengarah pada Laura, mereka melihat Laura mengambil tempat di samping Sabiel.
"Seperti yang ayah liat." ucapnya sembari bersiap mengambil jatah sarapannya.
"Kami akan merindukanmu Laura." ucap Dina menatap lembut keponakannya itu.
"Bandung-Jakarta tidak terlalu jauh bi, kapan pun aku bisa pulang." sahutnya tersenyum menenangkan.
"Lain kali, ajak juga teman mu yang kemarin bertemu di rumah sakit." tiba-tiba ucapan paman Laura membuat Laura menghentikan kunyahannya. Dia tersenyum lembut menatap keluarganya bergantian.
"Dia aktivis. Tidak ada waktu untuk berkumpul." jawabnya dengan terus terang.
"Teman?" pertanyaan Sabiel membuat semua yang ada disana menoleh serentak padanya.
"Kemarin sebelum ayah Laura pulang, Laura bertemu dengan teman lelakinya." Dina menjelaskan pada Sabiel yang tampak penasaran.
"Ceritanya panjang, nanti saja aku ceritakan di perjalanan." ujar Laura ketika Sabiel menatap ingin tahu kepadanya.
Sabiel mengangguk pelan. Dalam benaknya jelas hal yang baru ia ketahui itu begitu membuatnya penasaran.
Siapa teman lelaki Laura itu?
Bagaimana mereka bisa bertemu?
Tiba-tiba saja perasaan tak enak memenuhi hatinya. Mengetahui Laura bersama dengan teman lelaki, membuatnya dilanda gelisah tak menentu. Dia harus mengorek cerita itu nanti dari mulut Laura langsung. Dia tidak akan pernah tenang sebelum dapat memastikan bahwa teman lelaki yang dibicarakan itu tidak akan mengusik kedekatannya dengan Laura.
Hujan masih setia menemui bumi, setelah sarapan pagi Laura dan Sabiel berpamitan untuk segera melanjutkan perjalanan panjang menuju Bandung.
"Jaga kesehatan ayah, jangan lupakan obatnya." Laura memeluk erat ayahnya yang berdiri di ambang pintu, beliau semalam sudah mulai melepaskan diri dari kursi roda.
"Kau juga, jaga diri disana." Rama membalas pelukan putrinya dengan tak kalah erat. Kemudian Laura beralih memeluk paman dan bibinya, Sabiel mengikuti apa yang Laura lakukan.
Setelah sesi pamit selesai, Laura dan Sabiel berjalan untuk memasuki mobil yang sudah terparkir di teras depan.
"Hati-hati nak Sabiel." ucap ayah Laura ketika Sabiel mulai menjalankan mobilnya. Sabiel tersenyum dan mengangguk sopan sebagai jawaban.
Langit masih mendung ketika mobil yang Sabiel kemudikan berjalan dengan kecepatan sedang memecah rintikan air hujan yang begitu gigih menerpa. Jalanan ibukota yang biasanya ramai terlihat lenggang, sepertinya hujan sejak pagi berhasil membuat sebagian besar manusia memilih untuk tetap berdiam diri di rumah masing-masing.
"Jadi?" Sabiel tak bisa menahan rasa ingin tahunya akan cerita yang Laura janjikan.
"Apa?" Laura belum menyadari kemana arah pertanyaan Sabiel.
"Teman lelaki itu." Sabiel mengingatkan.
"Ooohh.." Laura mulai mengerti apa yang Sabiel tanyakan. "Bimasakti." ucap Laura sambil tersebut mengingat sosok lelaki yang kemarin ia temui.
Sabiel memicingkan mata mendengar nama yang ia wanti-wanti itu disebut oleh Laura. Tangannya mengepal erat pada kemudi stir, hingga buku-buku jarinya tampak memutih. Untung saja Laura tidak menyadari apa yang terjadi pada Sabiel.
Sejak Sabiel melihat Laura dan akun Bimasakti berbalas prosa di laman blog, nama Bimasakti sudah masuk dalam list nama lelaki yang perlu Sabiel waspadai keberadaannya. Hal itu Sabiel lakukan karna intensitas interaksinya dengan Laura yang cukup sering. Namun belakangan ini interaksi itu tampak terhenti entah mengapa. Baik Laura maupun Bimasakti, tidak berbalas prosa setelah prosa terakhir yang Laura berikan bernada tolakan untuk bertemu muka dengan lelaki itu. Hal itu sangat Sabiel syukuri, karna ia tidak harus merasa gelisah lagi dengan kehadiran satu akun yang membuat Laura terus membalas komentar-komentarnya di blog.
Tapi ternyata kini situasinya sudah berubah. Mereka bertemu. Sabiel kembali merasakan kegelisahan yang beberapa waktu lalu ia rasakan. Lelaki itu kini bukan hanya hadir di dunia maya, namun kini lelaki sialan itu hadir pula di dunia nyata.
Apa yang terjadi dalam pertemuan itu?
Satu pertanyaan besar yang bercongkol erat dalam benak Sabiel. Sabiel mencoba tetap tenang, dia ingin mendengarkan cerita pertemuan itu dari bibir Laura secara detail.
"Bimasakti? Siapa itu?" Sabiel pura-pura tidak tahu.
Dengan penuh rasa senang, Laura akhirnya menceritakan awal mula perkenalannya dengan Bimasakti. Mulai dari komentar blog, aksi berbalas prosa, kemudian keinginan untuk bertemu sampai pada akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam situasi yang tak pernah mereka sangka.
Cerita demi cerita, mengalir dari mulut Laura. Hati gadis itu diliputi perasaan senang ketika ia menceritakan bagaimana pertemuan canggung itu terjadi. Sabiel terdiam kaku dibalik kemudinya, hatinya panas mendengar rentetan cerita Laura yang terkesan menyenangkan bagi gadis itu.
Laura sendiri, ia malah terlihat asik dengan perasaan asing yang menyenangkan di dalam hatinya. Dia tidak menyadari bahwa sejak tadi Sabiel mengeretakkan gigi gerahamnya menahan kesal dan muak yang bercampur dalam hatinya.
Hati Sabiel tercabik-cabik melihat senyuman yang merekah sempurna di sudut bibir mungil Laura. Jelas sekali bahwa gadis di sampingnya itu begitu senang akan pertemuannya dengan aktivis buruh itu.
"Sabiel, istrimu masih di Singapura?" tanya Laura setelah ia selesai dengan ceritanya.
"Ya. Dia disana." ucap Sabiel datar. Laura sedikit melirik pada Sabiel, dari nada suaranya Laura tahu lelaki itu tak tertarik untuk bercerita mengenai istrinya.
"Kau tidak merindukan istrimu?" Laura ingin sekali mendengar Sabiel menceritakan kehidupannya. Selama ini yang berperan menjadi pendongeng, hanyalah Laura. Sedangkan Sabiel, dia sedikit sekali mau bercerita.
Sabiel diam tak menjawab. Matanya fokus menatap jalanan aspal yang basah karena hujan.
"Kita tak perlu membicarakan itu Laura." ucapnya kemudian. Benak Sabiel terus saja memikirkan cerita Laura tentang Bimasakti.
"Kenapa? Kau tidak perlu malu bercerita romantisme rumah tanggamu padaku. Bukankah kita teman?" ucapan menohok Laura memukul tepat di ulu hatinya.
Teman?
Ya. Kenyataan yang Laura yakini bahwa kedekatan mereka tak lebih dari sekedar teman membuat Sabiel semakin dilanda kegelisahan. Bagaimana caranya memberitahu Laura bahwa ia mencintai gadis itu? Akankah Laura percaya pada ucapan seorang lelaki beristri yang menyatakan cinta padanya?
Ada yang tiba-tiba terasa nyeri di dada Sabiel. Rasa sakit yang ia tahu sendiri apa penyebabnya.
"Laura, bagaimana aku dalam pandanganmu?" pertanyaan Sabiel membuat Laura mengernyitkan dahinya. Gadis itu menatap heran pada Dosen Muda yang sedang balik menatapnya lekat.
🍁🍁🍁
Semoga suka dengan ceritanya ya kesayangan.
Jangan lupa tinggalkan Like, Koment dan Vote 😘😘😘
Gambaran Bimasakti