Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
'Bila kata maaf mudah kau ucapkan, akan ada banyak chandra-chandra lainnya yang akan bermunculan....
Aku tak Sudi memaafkanmu, pria laknat.'
~Part sebelumnya~
'Setangkai bunga mawar akan sangat indah dan mekar bila kau rawat dan kau pupuk dengan penuh kasih sayang, Chandra. Begitu pula dengan hatiku....
Akan sangat patuh dan berbakti padamu bila kau pupuk dengan kesetiaan.
Sebaliknya....
Bila kau campakkan dan hempaskan hingga ke dasar bumi....
Maka Jangankan untuk menyentuhnya,
menikmati keindahannya pun kau tak kan pernah di biarkan'
Saat ini, duduk empat orang di dalam ruang tamu di kediaman Radhi yang tak semewah kediaman Nugraha. Radhi, Jelita, Chandra dan Dewi.
Suasana mendadak hening dan aura sekitar sedikit mencekam.
Jelita, menatap dua manusia di hadapannya dengan penuh penghakiman. Sebenarnya, Jelita enggan menerima tamu, terlebih itu adalah Chandra dan Dewi.
Namun, Radhi tetap membiarkan mereka masuk dan memberi kesempatan untuk bicara.
"Aku tak punya banyak waktu dan kuminta segeralah bicara. Atau aku akan menendang kalian berdua dari rumah ini", Kata Jelita pertama kali setelah mereka duduk, begitu sangat menusuk hati.
Dewi bahkan tak berani untuk menatap Jelita. kemana Radhi? Radhi tetaplah Radhi yang mampu untuk mengendalikan dirinya.
Untuk sementara ini, Radhi hanya akan menonton mereka saja.
"Lita...."
"Katakan"
"Aku tau Kesalahanku tidak lah pantas. Mengharap maaf mu seperti tidak mungkin aku dapatkan......".
"Lantas? Bila sudah tau aku begini, mengapa kau memaksa ku meladeni omong kosongmu? Kau pikir aku bersedia meladeni pria berotak dangkal sepertimu? Pria yang taunya memanfaatkanku demi bisa dekat dengan keluarga Nugroho dan menikahi putri selingkuhan Nugroho?".
Deg.......
"Aku tak pernah meminta di lahirkan kan dalam keluarga ini, kak? Aku tak pernah berharap di kehidupan sebelumnya, untuk terlahir diantara hubungan gelap papa dan mama", Jawab Dewi cepat.
Dewi sudah tak sanggup lagi mendengar ucapan pedas Jelita.
"Begitu juga denganku. Harusnya kau tau, aku juga tidak Sudi di lahirkan dalam keluarga yang tak saling mencintai. Tau apa kau tentang kelahiran? Kau saja tak pernah merasakan melahirkan, taunya hanya di lahirkan. Kau pikir, semua ini mauku, di lahirkan sebagai putri Yusman Nugraha yang bahkan lebih memilih ibumu di banding Ambar Sayu yang menderita hidupnya selama dua puluh tahun?".
Hening.
Tak ada yang berani menimpali kalimat panjang Jelita. Hingga suara deru mobil terdengar kembali di pelataran.
Ada tamu lain rupanya!
"Sayang, sudah.....
Sekuat apapun kau mencaci,
Sekuat apapun kau mamaki.....
Tetap tak akan mengembalikan keadaan. Dendam hanyalah lingkaran setan yang akan sulit untuk kita mendapatkan kedamaian.
Tenanglah..... biarkan tangan Tuhan yang membalas. Redam amarahmu, itu tak baik untuk anak kita".
Radhi..... meraih dan mengusap pelan tubuh jelita. Tangannya menjalar ke sisi perut Lita yang sedari tadi bergerak-gerak dari dalam.
"Selamat siang".
Suara Sukma terdengar ramah muncul di ujung pintu. Suara rentanya menunjukkan sarat akan keputus asa'an yang dia sendiri saja yang merasakan.
Radhi menyambut kedatangan mantan bos nya itu dengan hangat. Berbeda dengan Jelita yang semakin tak nyaman.
*****
"Lita..... bagaimana kandunganmu, nak? Apa cucu papa sehat?".
Suara Yusman keluar pertama kali saat duduk di bagian kursi tamu rumah kecil Radhi.
Radhi mendesah pasrah saat Sang istri tak menanggapi sedikitpun pertanyaan Yusman. Yang Radhi tangkap hanyalah wajah enggan jelita saat itu.
"Sayang, papa bertanya", Ucap Radhi pelan sembari mengelus lengan telanjang istrinya. Dress hitam yang di kenakan Jelita memang memiliki potongan dada rendah dengan aksen brucy di dadanya.
Tak jauh dari mereka, Chandra menatap Jelita dengan meneguk ludahnya susah payah.
Perlakuan Radhi pada tubuh indah Jelita, mengingatkan kejadian sembilan tahun silam saat Chandra dan Jelita saling memadu kasih. Dan Chandra menginginkan tubuh itu lagi. Tubuh yang membuat Chandra kecanduan akan sentuhan.
Jangan tanya mengapa.
Bahkan kemolekan tubuh wanita yang telah melahirkan garis keturunan Adi Prama ini, tak di miliki istri Chandra, Dewi.
"Pulanglah, tuan Nugraha yang terhormat. Bila kebaikanmu hari ini bermaksud untuk menebus segala dosaku di masa lalu, maka kau salah besar. Tidak semudah itu. Aku bahkan hidup jauh lebih baik saat ini di banding dulu saat masih menjadi putrimu".
Jawab Jelita panjang lebar.
Di tanya dan di lihat dari sisi manapun, Yusman dan keluarganya saat ini tetaplah salah di mata Jelita.
"Nak, se busuk apapun papamu di masa lalu, dia tetaplah papamu. Papa yang turut andil dalam kehadiranmu ke dunia ini. Bila kau tak memaafkan wanita renta seperti ku dan juga putriku, aku tak keberatan. Setidaknya hormatilah papamu", kata Sukma dengan suara yang sudah bergetar.
"Yusman Nugraha memang turut andil dalam kehadiranku ke dunia. Namun itu bukanlah kemauanku. Jika boleh memilih, aku bahkan tak Sudi terlahir dengan marga Nugraha yang di sematkan pada namaku".
Jelita menyanggah kalimat Sukma dengan kesinisan. Apapun yang Sukma katakan, bahkan tak mampu membuat Ambar kembali hidup.
"Jadi kau benar-benar tak memaafkan papamu ini, Lita?", Tanya yusman dengan kesedihan yang mendalam.
"Tidak dan tidak akan!".
Ada sakit yang luar bisa menikam dalam hati Jelita saat mengatakannya.
Sesungguhnya......
Dalam lubuk hati nya yang terdalam, kasih sayang itu masih lah ada untuk Yusman. Hanya saja tidak utuh lagi.
Bagaimana tidak?
Kasih sayang jelita melemah tatkala ingatan tentang Wajah ibunya yang terluka dan penuh duka. Bahkan di saat-saat terakhirnya pun, Yusman sama sekali tak tergerak hatinya untuk datang pada Ambar Sayu.
Bahkan saat itu, dengan teganya Yusman membawa masuk selingkuhannya dan putrinya yang lain ke dalam rumah itu.
Bayangan itu sekelebat hadir seiring rasa sakit yang terus menikam seluruh nurani Jelita sebagai anak.
Salahkah Jelita bila ia mengambil langkah se-drastis ini?
Tidak!!!
Jelita sama sekali tak salah.
Semua yang Jelita lakukan semata cerminan dari perbuatan mereka di masa lalu.
"Sayang.... kendalikan dirimu.
Bagaimana pun, beliau papamu. Aku tak mau di cap sebagai menantu yang tak berhasil mendidik istriku dengan baik. Ku mohon, kontrol emosi mu sedikit saja", Radhi berbisik lirih ke telinga Jelita.
"Aku masih terluka, mas Radhi. Bahkan luka itu tetap basah hingga kini... Bahkan menganga kian lebar".
Balas Jelita tak kalah lirih.
Hening.
Chandra tiba-tiba bersuara...
"Lita, kau berhak menghalangiku bertemu dengan anakku. Namun ketahuilah.....
Arlan dan Ariana juga anak-anakku.
Ketidak tanggung jawabanku pada mereka, itu berdasarkan ketidak jujuranmu tentang kehamilanmu lah pemicunya.
Jadi, kumohon......
Biarkan mereka tau aku lah ayah biologisnya".
"Kau berani mengambil langkah se-drastis ini, tuan Chandra. Mari kita lihat.... Sejauh mana aku berani membalasmu.
Mata di bayar mata, darah di bayar darah.
Setiap luka yang kau torehkan, akan ku pastikan lebih dari sekedar duka sbagai ganjarannya".
🍁🌺🍁