Area 21+
🌸🌸🌸
"How damn you are Naraya."
Naraya terdiam cukup lama berdiri di balkon kamarnya, memandangi langit mendung dan memikirkan nasib hidupnya yang jungkir balik hanya dalam waktu semalam.
Tepat dihari kelulusannya diterima disalah satu Universitas ternama di kota A, Naraya harus menerima kenyataan pahit. Naraya akan dijodohkan dengan Harris. Padahal setahu Naraya, Harris adalah kekasih kakaknya sendiri yaitu Nadira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulanseptember, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berharap Hujan Turun Setiap Hari
Naraya tertegun, setelah kepergian Nadira dari kamarnya air mata Naraya kembali menetes.
Naraya sebenarnya bukanlah gadis yang cengeng, memiliki hati yang lembut dan mudah merasa iba membuatnya gampang menangis.
Naraya sedih, bahkan Nadira pun tidak memberinya kesempatan untuk bicara dan menjelaskan.
Sesungguhnya Naraya tidak menginginkan perjodohan ini. Bahkan dia sudah berusaha agar Harris lah yang membatalkannya.
Tapi apa yang bisa dilakukan lagi, jika Harris saja menyetujui perjodohan ini.
Naraya dilema.
Mana mungkin dia menjadi tunangan dari kekasih kakaknya sendiri.
Naraya memutuskan untuk pergi ke kamar Nadira dan menjelaskan semuanya. Ada kalanya Naraya ingin mengakhiri perselisihan diantara mereka ini.
Tapi niatnya tidak pernah mendapat tanggapan dari Nadira. Entah kenapa Nadira masih saja selalu membencinya. Padahal Naraya sudah menjauh dari kedua orang tuanya, dari teman-temannya.
Tok tok tok
Naraya mengetuk pintu kamar Nadira.
"Diraa."
"Raa."
Ceklek
Pintu terbuka, tapi hanya menampakkan Nadira saja. Nadira menahan pintu dan tidak membiarkan Naraya memasuki kamarnya.
"Mau apa lo?" Sinis Nadira.
"Gue juga gak mau ada perjodohan ini Ra". Naraya.
"Cih!" Nadira berdecih.
"Kalau lo nggak mau, kenapa nggak dibatalin aja?" Nadira.
"Gue mana bisa bantah Papi lagi, gue mohon sama lo suruh Harris batalin perjodohan ini." Naraya
Nadira tersenyum.
"Dasar licik!" Dalam hati Nadira.
"Kak Harris nggak bisa nolak permintaan om Yuda. Kak Harris paling tersika didalam perjodohan ini. Dia korbanin perasaannya sendiri demi perjodohan konyol ini." Nadira menjelaskan panjang lebar.
"Kalo lo masih punya hati, jangan pernah suruh kak Harris buat ninggalin gue, karena cuma gue satu-satunya yang dia punya, inget itu!" Nadira.
Brak!
Nadira menutup pintu dengan keras.
Lagi-lagi usahanya gagal, bahkan Nadira pun tidak bisa membatalkan perjodohannya.
Dan apa yang akan terjadi setelah perjodohan nanti. Sungguh Naraya tidak sanggup untuk membayangkan.
Menjadi tunangan kekasih kakaknya.
Naraya geleng-geleng kepala dan kembali ke kamar.
***
Pagi ini gerimis datang, seolah alam mendukung perasaan Naraya yang galau gundah gulana. Rasanya malas sekali untuk beranjak bangun dan meninggalkan tempat tidur nyamannya.
Tapi apalah daya, jam 8 pagi Naraya ada jam kuliah. Mau tidak mau akhirnya Naraya beranjak dari tempat tidurnya, bergegas mandi dan turun ke bawah.
Naraya malas walau hanya untuk memesan taksi, Naraya akan meminta izin Renata agar supir mengantarnya ke kampus.
Renata dan Nadira memang tidak diizinkan untuk membawa mobil. Bahkan tidak ada pula pelayanan supir.
Meskipun mereka dari keluarga kaya raya, tapi Johan dan Renata tidak pernah memanjakan anak-anaknya. Prinsip hidup mereka adalah hidup sederhana.
Johan dan Renata banyak membangun yayasan-yayasan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu.
Berkat kedermawanan Johan lah, bisnis keluarga Kohler tetap berjaya.
Naraya menuruni anak tangga dan menuju dapur, dia yakin Renata pasti ada disana.
Dan benar saja, Renata sedang menyiapkan kopi untuk Johan.
"Papi, Mami." Sapa Naraya sedikit terdengar malas.
Johan melirik tidak suka, masih pagi dan anaknya ini sudah malas-malasan.
"Mi, Raya hari ini dianterin pak Ameer aja ya?" Naraya dengan muka memelas.
Pak Ameer adalah supir satu-satunya keluarga Kohler.
"Tidak bisa sayang, pak Ameer harus mengantarkan Papi, pagi ini Papi ada meeting penting." Renata menjelaskan.
"Raya nebeng ya Pi, kan cuma belok sedikit aja pi?" Naraya.
Johan geleng-geleng kepala.
"Lebih baik kamu minta diantar oleh Harris." Johan sambil meminum kopinya.
Naraya mengerucutkan bibirnya.
"Harris pasti udah pergi sama Dira." Naraya mencari alasan.
"Dira kuliah siang hari ini sayang, tadi dia sudah turun mengambil roti dan naik lagi ke kamar." Renata yang menjawab.
Naraya makin cemberut, sepertinya Johan dan Renata ini sengaja menyudutkannya.
"Harris kamu kesini ya nak, antar Raya untuk kuliah." Johan.
Naraya melongo, sejak kapan ayahnya ini menelpon Harris.
"Harris sebentar lagi kesini, sebaiknya kamu makan sarapanmu." Johan.
Renata pun tersenyum sambil meletakkan roti selai kedalam piring Naraya.
Naraya menghentakkan kakinya pelan dibawah meja.
"Sungguh menyebalkan!" Dalam hati Naraya.
Tak sampai 15 menit Harris sudah berada didepan rumahnya. Naraya bergegas lari menghampiri Harris ketika melihat Harris turun dari mobil dan berniat untuk membukakan pintu.
"Stop Ris!" Naraya menghentikan Harris yang sudah sampai didepan pintu.
"Gue bisa buka pintu sendiri, lo nggak usah sok romantis sama gue." Ketus Naraya.
Naraya langsung membuka pintu mobil, tapi secepat kilat pula Harris menahan tangan Naraya.
"Coba ulangi kamu panggil aku apa tadi?" Harris berucap dingin.
Seketika bulu kuduk Naraya merinding. sungguh menyeramkan.
"Iya deh sorry, gue bisa buka pintu sendiri Kak." Naraya pasrah, dengan bibir yang cemberut.
Entah kenapa Naraya mendadak menjadi gadis penurut ketika sudah mendengar suara dingin Harris.
Harris pun langsung membukakan pintu. Akhirnya Naraya masuk dengan Harris yang membukakan pintu untuknya.
Disetengah perjalanan mereka, yang tadinya gerimis kini berubah menjadi hujan.
Naraya dan Harris masih betah dalam diam.
Ketika mobil berhenti dilampu merah, Naraya memberanikan diri melihat ke arah Harris.
Dilihatnya Harris yang terdiam tanpa ekspresi. Naraya mengartikan bahwa Harris terpaksa harus mengantarnya ke kampus. Sama seperti halnya Harris terpaksa menerima perjodohan ini.
Ketika ada Nadira kemarin Harris selalu bicara dan terlihat sangat bahagia. Sangat berbanding terbalik ketika hanya berdua dengan Naraya.
Saat itu pula, ucapan Nadira semalam langsung melintas dipikiran Naraya.
"Dia korbanin perasaannya sendiri demi perjodohan konyol ini"
"Kalo lo masih punya hati, jangan pernah suruh kak Harris buat ninggalin gue, karena cuma gue satu-satunya yang dia punya".
Naraya kembali menatap lurus jalanan. Kenapa hidupnya jadi seperti ini. Apakah sebenarnya sumber semua masalah ini adalah dirinya?
Beberapa menit kemudian mobil Harris sudah terparkir sempurna didepan gedung perkulihan Naraya.
Tapi hujan belum juga reda.
"Di mobil hanya ada 1 payung, aku akan mengantarmu masuk." Harris.
"Kenapa nggak gue aja yang bawa?" Naraya.
"Setelah ini aku menemui dosen, aku masih butuh payung." Harris menjelaskan.
Mau tidak mau Naraya akhirnya menurut, entah sampai kapan juga hujan ini akan berhenti.
Harris terlebih dulu turun dan menghampiri Naraya. Ketika Naraya sudah keluar sempurna dari dalam mobil, Harris langsung mendekap pinggang Naraya, agar mereka muat berada dalam satu payung.
Deg!
Jantung Naraya langsung mendapatkan debaran yang aneh. Naraya menempel sempurna dengan tubuh Harris.
Seumur-umur baru ini Naraya berpelukan dengan seorang pria.
Bisakah ini disebut pelukan?
Naraya menelan salivanya, Naraya pun memegang jaket harris. Untuk meminimalisir air hujan mengenai tubuhnya. Dengan langkah yang mencoba beriringan mereka meninggalkan parkiran menuju gedung.
Harris tersenyum bahagia, dia sangat menyukai hujan ini. Bahkan Harris berharap setiap hari akan turun hujan.
"Nanti aku jemput kamu." Harris.
Harris pun meninggalkan Naraya didepan gedung dengan memperlihatkan senyumnya.
Dan jantung Naraya makin berdetak tak menentu.
penasaran banget cerita Selena -Kris tapi knpa g lanut lagi kak??
horrang kaya mah bebas yah thorr..😁🤭