Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: DMAM
Melihat situasi yang kian mendesak dan menyudutkan putranya, Bu Rosma langsung melangkah maju ke depan, dan memotong pembicaraan warga dengan bentakan yang nyaring.
"Tutup mulut kalian semua!" jerit Rosma dengan nada melengking penuh emosi. "Jangan berani-berani menuduh anak saya yang tidak-tidak! Kalian tidak tau siapa kami!"
Rosma lalu memutar tubuhnya, menatap Pak RT dan para pengurus kampung dengan mata yang melotot.
"Dengar ya Pak RT dan warga sekalian! Anak saya Dimas ini datang ke sini pure untuk menolong Aisyah! Dimas itu anak baik-baik, anak terdidik dari keluarga terpandang! Semalam dia ke sini karena khawatir dengan Aisyah yang tinggal sendirian. Soal bajunya yang robek dan mukanya yang memar, itu karena Dimas bertengkar dengan preman di luar yang mencoba masuk!"
"Preman apa, Bu?!" sanggah Pak RT tegas. "Kalau memang ada preman, kenapa Mas Dimas tidak berteriak minta tolong pada warga sekitar? Kenapa justru berdua-duaan di dalam kamar tertutup bersama Neng Aisyah sampai subuh?!"
Rosma tergagap sejenak, dan wajahnya pun menjadi merah padam. "Ya... ya karena Dimas panik! Dia sibuk mengobati Aisyah yang lemas! Kalian tidak bisa menyalahkan anak saya atas kebaikannya sendiri!"
"Kebaikan apa yang sampai bikin geger satu kampung?!" teriak seorang tokoh pemuda kampung, sambil melangkah mendekati teras. "Bu Rosma jangan terus-terusan membela anak Ibu! Di kampung ini ada aturan adat dan norma agama! Seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berada di dalam rumah tertutup sepanjang malam sampai subuh, tanpa ada wali, itu sudah jelas pelanggaran berat! Mau ngapain lagi kalau bukan kumpul kebo?!"
"Jaga mulut kamu ya!" bentak Rosma histeris, sambil menunjuk wajah pemuda itu dengan jari yang gemetar oleh kemarahan dan ketakutan. "Anak saya tidak sudi disamakan dengan kelakuan bejat seperti itu! Aisyah yang memancing anak saya ke sini! Pasti dia yang sengaja menjebak Dimas agar bisa menikah dengan keluarga kaya!"
Kata-kata Rosma yang melemparkan kesalahan sepenuhnya pada Aisyah membuat Aisyah mendongakkan kepalanya seketika. Matanya menatap Bu Rosma dengan pandangan terluka yang amat dalam.
"Tante Rosma..." bisik Aisyah dengan air mata menetes di pipinya. "Demi Allah... saya tidak pernah menjebak siapa pun. Saya bahkan tidak pernah meminta Mas Dimas untuk datang ke rumah saya semalam..."
Dimas yang berada di samping Rosma tampak makin serba salah. Ia lalu memegang lengan ibunya dengan wajah yang memelas. "Mami... udah, Mi... Aisyah gak salah... Dimas memang yang datang sendiri ke sini..."
"Kamu diam, Dimas!" bisik Rosma dengan setengah berbisik namun penuh penekanan, seraya menepis tangan anaknya. "Kamu mau nama keluarga kita hancur gara-gara wanita kampung ini?!"
**
Perdebatan di pekarangan rumah Aisyah makin meluas dan tak terkendali. Warga yang sudah telanjur emosi dan merasa nama baik kampung mereka tercemar oleh skandal tersebut mulai berteriak-teriak menuntut keadilan adat.
"Sudah! Tidak usah banyak alasan lagi!" seru salah seorang warga senior yang dihormati di kampung tersebut. "Mau mereka ngaku atau tidak, kenyataannya mereka sudah berduaan semalaman di dalam kamar! Bukti fisik dan saksi mata warga yang melihat sudah cukup!"
"Betul! Kalau dibiarkan begini, kampung kita bisa ketiban sial dan azab!" timpal ibu-ibu di barisan belakang. "Hukum adatnya sudah jelas dari dulu!"
"Selesaikan secara adat! Nikahkan mereka berdua sekarang juga!" teriakan itu meledak dari tengah kerumunan, disusul oleh sorakan setuju dari belasan warga lainnya.
"Iya! Nikahkan saja! Nikahkan! Supaya tidak jadi fitnah dan aib berkepanjangan!"
"Kalau tidak mau dinikahkan, usir mereka berdua dari kampung ini!"
Mendengar kata 'nikah', wajah Bu Rosma langsung pucat pasi seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Seluruh skenario anggun yang ia susun di dalam kepalanya, di mana ia tampil sebagai pahlawan yang menentukan nasib Aisyah, kini hancur berantakan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan dipaksa dan diintimidasi oleh warga kampung miskin untuk merestui pernikahan putranya di tempat bersahaja seperti ini.
"Tidak bisa! Saya tidak setuju!" jerit Rosma histeris sambil membentangkan kedua tangannya di depan Dimas. "Anak saya tidak boleh menikah dengan cara seperti ini! Dimas punya masa depan cerah! Dia tidak cocok menikah dengan perempuan kampung tanpa asal-usul yang jelas seperti Aisyah!"
"Bu Rosma!" panggil Pak RT dengan nada suara yang sangat keras dan penuh wibawa, hingga menghentikan jeritan wanita kaya itu. "Tolong jaga ucapan Ibu! Ini wilayah kami, dan di sini ada aturan hukum adat serta kesusilaan yang harus dihormati oleh siapa pun, tidak peduli seberapa kaya atau terpandangnya Ibu di kota!"
Pak RT berbalik menatap warga, lalu mengisyaratkan para pengurus lingkungan dan beberapa tokoh agama setempat untuk maju dan berdiskusi sejenak di sudut teras.
Suasana pekarangan pun mendadak hening. Hanya terdengar suara bisik-bisik rendah dari para pengurus yang sedang berunding dengan raut wajah yang sangat serius.
Sementara Aisyah berdiri kaku di tempatnya, matanya dipejamkan rapat-rapat. Dadanya bergemuruh hebat. Pernikahan, sebuah ikatan sakral yang selalu ia impikan dibangun di atas dasar kerelaan, cinta, dan keberkahan kini membayang di depannya sebagai sebuah hukuman dan paksaan akibat fitnah yang tak sepenuhnya ia pahami.
Di sisi lain, Dimas menatap Aisyah dengan raut wajah yang campur aduk. Ada rasa takut akan kemarahan ibunya, namun di sudut hatinya yang paling dalam, terselip rasa kelegaan yang aneh.
Sejak awal, ia memang menginginkan Aisyah, meski cara yang membawa mereka ke titik ini sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Setelah beberapa menit berdiskusi secara intensif, Pak RT dan para tokoh masyarakat kembali melangkah ke tengah teras. Pak RT berdeham keras hingga menarik perhatian seluruh warga yang berada di pekarangan.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, serta Bu Rosma dan Neng Aisyah sekalian..." ujar Pak RT dengan suara berat dan tenang. "Kami dari pihak pengurus RT, RW, dan tokoh agama telah mempertimbangkan seluruh aspek kejadian ini secara dingin dan bijaksana."
Pak RT kemudian menatap Bu Rosma dengan tatapan lurus dan tidak tergoyahkan.
"Kami memahami penolakan dari Bu Rosma. Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa Mas Dimas dan Neng Aisyah telah berada di dalam satu ruangan tertutup sepanjang malam hingga subuh tanpa ikatan pernikahan yang sah. Hal ini telah menimbulkan prasangka buruk, kegaduhan, dan mencemarkan nama baik lingkungan kita."
Pak RT lalu mengalihkan pandangannya pada Aisyah, lalu pada Dimas.
"Untuk menjaga kehormatan Neng Aisyah sebagai warga kami, menutupi aib lingkungan, serta menghindari fitnah yang lebih besar di kemudian hari... maka keputusan resmi dari pihak lingkungan adalah: Mas Dimas dan Neng Aisyah harus dinikahkan secepatnya secara sah!"
"Setuju!" seru kerumunan warga bergemuruh memenuhi udara pagi.
"Tidak! Saya menolak! Saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum!" jerit Rosma histeris, air matanya pun kini benar-benar menetes akibat rasa malu dan amarah yang meluap-luap.
Ia marah karena Dimas harus di paksa menikah dengan gadis yang pernah menolaknya.
"Silakan Bu Rosma lapor ke hukum," sahut seorang tokoh agama dengan tenang namun menohok. "Tapi sebelum proses hukum berjalan, warga berhak menolak keberadaan Mas Dimas di kampung ini jika tidak menyelesaikan kewajiban moralnya terlebih dahulu. Apakah Bu Rosma mau anak Ibu diseret warga ke kantor polisi atas tuduhan melanggar norma kesusilaan pemukiman?"
Kata-kata tokoh agama itu bagaikan skakmat yang mengunci seluruh pergerakan Rosma. Ia menoleh ke arah Dimas, dan berharap putranya akan menolak dengan tegas.
Namun, Dimas justru menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah keputusan pengurus kampung. Karena memang menikahi Aisyah itu keinginannya.
Aisyah kini membuka matanya dengan perlahan. Sinar matahari pagi kini sudah sepenuhnya menyinari wajahnya yang pucat. Ia lalu menatap langit biru di atas rumah kayunya dengan pandangan hampa.
Keputusan telah dijatuhkan, takdir telah menguncinya dalam sebuah ikatan yang tak pernah ia sangka.
Di bawah saksi fajar yang menyingsing dan tatapan puluhan mata warga, sebuah ikatan baru terpaksa dimulai, bukan dari lembaran kisah cinta yang manis, melainkan dari reruntuhan rencana busuk dan ketetapan takdir yang tak terelakkan.
"Jika ini takdirmu, ikhlaskan hamba Ya Allah..."
Bersambung...