Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murka Alaric
Keheningan di aula itu terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen telah disedot keluar dari ruangan. Ratusan pasang mata yang tadinya memandang Clarissa dengan kekaguman, kini menatapnya dengan kombinasi antara jijik dan ngeri.
"Matikan! Cepat matikan layarnya!" teriak salah satu teman terdekat Clarissa.
Beberapa guru panik dan berlari menuju ruang kendali, namun pintu ruangan itu telah diganjal dari dalam. Di layar besar, video beralih menampilkan dokumen-dokumen transaksi perbankan dan tangkapan layar obrolan digital—bukti konkret bahwa Clarissa membiayai para perundung itu menggunakan rekening samaran. Semua bukti terpampang nyata, terlalu valid untuk disebut sebagai fitnah atau rekayasa AI.
"Clarissa... apa itu benar?" Suara wanita melangkah maju dari barisan kursi VIP. Itu adalah Elena, salah satu anggota circle terdekat Clarissa, yang kini melangkah mundur dengan wajah pucat. Kaum sosialita terkaya yang memilih hidup tenang dengan segala drama yang ada.
"Tidak! Ini jebakan! Seseorang sengaja mengedit video ini untuk menjatuhkanku!" Clarissa membela diri, menyapu pandangannya ke seluruh aula hingga tatapannya terkunci pada Sera. "Kau... Ini pasti perbuatanmu, kan, Sera?!"
Tuduhan itu membuat seluruh perhatian aula beralih ke arah Sera. Namun, Sera tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.
“Untuk apa aku melakukannya? Menuduhku tanpa bukti, Clarissa?" Sera bersuara, nadanya tenang namun bergema kuat di seluruh ruangan. "Sayangnya, layar di belakangmu tidak butuh tuduhan. Layar itu hanya menunjukkan fakta yang selama ini kau kubur dalam-dalam."
Layar tersebut berganti dimana salah satu rekan saham ayahnya membuat pengakuan, menarik investor dari keluarga Fontaine. Memporak porandakan kerajaan bisnis keluarga Gilly yang susah payah dibangun.
“HENTIKAN!!!” Pekik Clarissa murka menatap dan melangkah mendekati Sera.
SRTT
Lengannya terhenti saat ingin menampar Sera. Yunkai menarik Sera dibalik tubuh tingginya. Dan, Gilly dengan murka sama besarnya, menahan lengan Clarissa dan menghempasnya dengan kencang.
“Kau yang seharusnya berhenti jalang.” Geram Gilly dengan wajah memerahnya.
"Kau menghancurkan masa depan Karin dua tahun lalu, membuat Amel cacat setahun lalu, dan kau beraninya mengusik Seraphine dengan menargetkan orang terdekatnya," lanjut Gilly, suaranya terdengar begitu dingin hingga membuat bulu kuduk meremang. "Kau pikir, dengan uang keluargamu, kau bisa terus menjadi ratu di atas penderitaan orang lain?"
Tepat setelah Gilly menyelesaikan kalimatnya, pintu utama aula terbuka lebar. Dua orang petugas keamanan sekolah masuk, diikuti oleh dua orang detektif kepolisian setempat. Kehadiran pihak berwajib membuat suasana semakin mencekam. Salah satu detektif maju, menunjukkan lencana dan surat perintah.
"Nona Clarissa Carmine, kami menerima laporan terkait tindakan pengancaman, kekerasan terencana, dan suap yang melibatkan Anda. Rekaman yang baru saja diputar telah diserahkan ke pihak kepolisian beberapa jam lalu sebagai bukti sah. Anda harus ikut kami ke stasiun untuk pemeriksaan lebih lanjut."
Bisikan di aula berubah menjadi riuh. Clarissa menatap detektif itu, lalu beralih ke kepala sekolah yang hanya bisa memalingkan wajah, tidak berani membela aset terbesar yayasan jika hukum sudah turun tangan.
Saat petugas wanita menuntun Clarissa turun dari panggung, Clarissa melewati Sera. Dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur, ia berbisik dengan penuh dendam, "Kau pikir kau sudah menang, Sera? Ini belum berakhir."
“Aku yang akan mengakhiri mu Clarissa.” Geram Gilly, “Kau berurusan dengan keluarga Fountain.”
Mata Clarissa tajam mengunci Sera didalamnya. Dendamnya terlalu dalam. Sera hanya membalasnya dengan senyuman tipis, senyuman yang mengisyaratkan bahwa bagi Clarissa, ini adalah akhir dari segalanya, namun bagi Sera, ini barulah awal dari babak baru di akademi.
Namun, kemenangan itu terasa singkat saat Yunkai kembali berdiri di belakangnya. Pria itu meletakkan tangannya di bahu Sera, memberikan kehangatan yang mendominasi.
"Sandiwara pertama selesai, Seraphine," bisik Yunkai. "Tapi kau lupa satu hal. Di pesta ini, semua orang baru saja melihatmu sebagai pasanganku. Termasuk... pria yang berdiri di balkon atas itu."
Sera mendongak. Di balkon lantai dua, sosok tinggi dengan aura dingin yang tak kalah mencekam dari Yunkai berdiri menatap mereka.
Alaric Kane. Kakak Sera.
Wajah Alaric tampak gelap, matanya menatap tajam ke arah tangan Yunkai yang berada di bahu adiknya. Perang besar baru saja dimulai, dan kali ini, Sera tidak hanya berhadapan dengan perundung sekolah, melainkan antara pria yang merupakan keluarganya dan pria yang kini memilikinya secara kontrak.
"Siap untuk sandiwara selanjutnya?" tanya Yunkai dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.
Sera terpaku. Sorot mata Alaric dari atas balkon seolah mampu menembus keramaian, menghujam tepat ke jantungnya. Kakaknya tidak pernah terlihat semarah itu. Di sisi lain, napas hangat Yunkai di tengkuknya menjadi pengingat konstan bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya ke dalam sangkar yang lebih rumit.
"Alaric..." bisik Sera lirih, nyaris tak terdengar.
"Biarkan dia menonton," sahut Yunkai santai, seolah kemarahan Alaric hanyalah hiburan kecil baginya. Ia justru semakin posesif, melingkarkan tangannya di pinggang Sera dan menariknya lebih rapat. "Dunia harus tahu siapa yang memegang kendali atas dirimu sekarang."
Musik kembali mengalun, kali ini lebih lambat dan melankolis. Kerumunan mulai berbisik riuh, mendiskusikan kejatuhan tragis Clarissa sekaligus kemunculan mengejutkan Sera sebagai pendamping sang pangeran.
Sera tidak punya waktu untuk bernapas lega. Langkah kaki yang tegas menuruni tiap anak tangga. Alaric Kane berjalan membelah kerumunan dengan aura yang membuat orang-orang menepi karena takut. Ia berhenti tepat tiga langkah di hadapan Yunkai dan Sera.
"Lepaskan tanganmu dari adikku, Yunkai," suara Alaric rendah, namun mengandung ancaman ledakan yang nyata.
Yunkai tidak melepaskannya. Ia justru tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya digunakan untuk memancing lawan bicaranya. "Selamat malam, tuan Alaric. Kau datang di saat yang tepat. Adikmu baru saja melakukan pertunjukan yang sangat mengesankan."
Alaric tidak melirik Yunkai. Matanya tertuju pada mawar hitam yang tersemat di gaun Sera. Rahangnya mengeras. "Sera, ikut aku pulang. Sekarang."
"Dia tidak akan pergi ke mana-mana," potong Yunkai cepat. "Sera adalah pasanganku malam ini. Dan menurut hukum tradisi sekolah ini, seorang pendamping berada di bawah perlindungan pasangannya hingga pesta berakhir."
"Aku tidak peduli dengan aturan sekolahmu!" bentak Alaric, selangkah lebih dekat. "Aku tahu apa yang kau lakukan. Kau memanfaatkan situasinya untuk mengikatnya, bukan?"
Sera merasa tubuhnya ditarik dari dua arah yang berbeda. Tekanan mental ini jauh lebih melelahkan daripada saat ia membongkar kebusukan Clarissa. Ia menyentuh lengan Alaric dengan tangan yang gemetar.
"Kak, cukup," ujar Sera pelan. "Kembalilah. Ku mohon, aku akan menemui mu setelah ini.”
Yunkai menatap Alaric dengan pandangan kemenangan yang mutlak. "Dengar itu? Dia memilihku. Sekarang, jika kau tidak keberatan, kami masih punya satu tarian tersisa."
Alaric menatap Yunkai dengan kebencian murni, lalu beralih pada Sera. "Kau tidak tahu apa yang kau mulai, Sera. Kau tidak tahu pria seperti apa dia. Kau akan menyesali malam ini."
Alaric berbalik dan meninggalkan aula dengan amarah yang masih berkobar.