Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 33
Pagi menyapa dengan semburat jingga yang menembus celah jendela paviliun, membawa udara yang jauh lebih tenang dibandingkan badai emosi yang berkecamuk semalam. Andra terbangun dengan perasaan yang aneh untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia tidak terbangun karena dering alarm yang mencekam atau memikirkan tumpukan masalah yang menunggu di kantor. Di tempat tidur sudah ada kemeja kantor Andra yang telah disetrika rapi. Lengkap dengan dasi yang warnanya serasi dengan kemeja tersebut. Sesuatu yang tak pernah di lakukan oleh Diana selama pernikahan mereka.
Begitu dia melangkah ke ruang makan, aroma kopi hitam yang pekat dan gurihnya nasi goreng kampung memenuhi indra penciumannya.
"Selamat pagi," sapa Nadhira dengan senyum hangat yang menenangkan. Ia baru saja meletakkan piring nasi goreng ke meja.
"Maaf aku menyiapkan pakaianmu! Kalau tidak suka bisa di ganti lagi," ujar Nadhira.
"Terima kasih, Dhira," ujar Andra pelan. Dia menyesap kopi buatannya, meresapi kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya pas, tidak terlalu manis, persis seperti yang dulu selalu dia minta saat mereka masih berjuang di bangku kuliah.
Mereka sarapan dalam suasana yang hening namun nyaman. Tidak ada lagi ketegangan yang mendesak atau tuntutan yang menguras tenaga. Andra memperhatikan bagaimana Nadhira makan dengan anggun tanpa harus diawasi oleh tatapan sinis atau komentar tajam. Di paviliun ini, waktu seolah melambat, memberikan Andra jeda untuk bernapas.
"Kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan semuanya, Dhira," ucap Andra di tengah suapan nasi gorengnya.
Nadhira tertawa kecil, suara yang terdengar seperti melodi di telinga Andra.
"Anggap saja ini kompensasi karena kamu sudah mengizinkan aku tinggal di tempat nyaman ini dengan aman untuk beberapa saat. Lagipula, apa gunanya teman lama kalau tidak bisa saling berbagi beban, meski hanya melalui sepiring sarapan?"
Andra menatap Nadhira yang sedang merapikan beberapa dokumen di meja. Untuk sesaat, topeng ketegaran yang selalu dia pakai di depan dunia perlahan retak. Dia merasa seolah menemukan kembali oase di tengah gurun yang gersang. Di sini, di balik dinding paviliun yang sederhana ini, Andra merasa bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan posisi direktur atau nama besar keluarga Antanagara.
"Dhira," panggil Andra saat ia selesai sarapan.
Nadhira menoleh, menatapnya penuh perhatian.
"Terima kasih sudah ada di sini. Jujur saja, tanpa sadar kamu sudah membuat pagiku jauh lebih ringan daripada biasanya," lanjut Andra dengan tulus.
Nadhira hanya mengangguk, lalu membantu Andra mengenakan dasinya. Jarak mereka sangat dekat, begitu dekat hingga Andra bisa mencium aroma sabun mandi yang lembut dari Nadhira.
Untuk sesaat, Andra memejamkan mata, membiarkan kenyamanan pagi ini menyelimuti pikirannya, mencoba melupakan sejenak bahwa di luar sana, kebohongan dan pengkhianatan mungkin sedang menunggunya.
Andra bisa dengan jelas melihat wajah istrinya. Bibirnya Dhira kini menjadi pusat perhatiannya.
Cup
Tanpa sadar Ardhan mencium bibir istrinya. Refleks begitu saja, apalagi kenyamanan yang tercipta antara mereka membuatnya merasa terbawa suasana. Nadhira kaget bukan main. Matanya melebar, tubuhnya kaku mematung dengan dasi yang masih berada di tangannya, menggantung di leher Andra.
Andra pun segera menarik diri, napasnya sedikit memburu. Kesadaran akan apa yang baru saja ia lakukan menghantamnya seperti gelombang dingin. Dia menatap Nadhira, melihat rona merah yang menjalar dengan cepat di pipi wanita itu. Sebuah ekspresi keterkejutan yang murni dan polos, ekspresi yang belum pernah dia lihat selama bertahun-tahun dalam dunianya yang penuh dengan kepalsuan.
"Dhira... aku..." suara Andra tercekat, kehilangan kata-kata.
"Maafkan aku," bisik Andra dengan suara rendah yang parau.
"Aku... aku tidak bermaksud, pagi ini aku hanya merasa begitu tenang bersamamu, hingga aku lupa pada batasan kita."
"Tidak apa-apa, Andra," jawab Nadhira pelan, suaranya nyaris berbisik.
"Aku tahu kamu sedang berada di bawah banyak tekanan. Mungkin itu hanya pelampiasan dari lelah dan kerinduan kamu kepada Mbak Diana!"
Meskipun dia berusaha bersikap tenang, tangan Nadhira yang meremas ujung kemeja Andra menunjukkan betapa kacau pikirannya saat ini.
Hening menyelimuti ruangan. Napas Andra memburu, namun kali ini bukan karena amarah atau stres pekerjaan yang biasanya menghimpit dada. Di depannya, Nadhira berdiri mematung, matanya yang teduh kini melebar, memancarkan keterkejutan yang nyata.
Andra tidak menjauh. Sebaliknya, ia melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak yang tersisa di antara mereka. Tatapannya terkunci pada bibir Nadhira yang sedikit bergetar.
"Dhira... Aku bahkan tak sedang memikirkan Diana sedikitpun," panggilnya, suaranya parau, sarat akan beban dan keinginan yang baru saja dia sadari.
Nadhira mencoba mundur, namun punggungnya tertahan oleh meja makan. Sebelum ia sempat mengelak atau mengeluarkan kata-kata, Andra menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang hangat. Jemarinya menyusuri rahang Nadhira dengan sangat lembut, seolah takut jika wanita itu akan hancur jika dia menekannya terlalu keras.
Andra memiringkan kepalanya, menatap Nadhira dengan sorot mata yang meminta izin. Nadhira tidak menolak, Dia justru memejamkan mata, membiarkan pertahanan dirinya runtuh.
Kali ini, ciuman itu tidak lagi sekilas. Andra memagut bibir Nadhira dengan penuh perasaan. Sebuah ciuman yang lambat, menuntut, namun sangat menyesakkan karena dipenuhi oleh kerinduan yang tertahan bertahun-tahun.
Itu bukan ciuman penuh nafsu yang dangkal, melainkan ciuman yang terasa seperti pengakuan. Di sana ada rasa lelah, ada duka, dan ada harapan yang selama ini mereka kubur di balik status 'sahabat'.
Nadhira yang awalnya kaku, perlahan mulai luluh. Tangannya yang sempat menggantung di udara, kini terangkat untuk meremas kemeja Andra di bagian dada, mencengkeramnya erat seolah takut pria itu akan terbang jika dia melepasnya.
Ruang makan kecil itu mendadak menjadi dunia mereka sendiri. Suara detak jantung yang beradu menjadi satu-satunya musik yang terdengar. Ciuman mereka semakin dalam, seolah keduanya sedang mencoba mencari pegangan di tengah badai kehidupan yang menghantam di luar paviliun.
Saat mereka akhirnya melepas tautan bibir, keduanya masih beradu dahi, terengah-engah dengan mata yang masih terpejam.
"Maafkan aku," bisik Andra di sela napasnya yang tidak beraturan, namun dahinya tetap menempel pada dahi Nadhira, enggan untuk memberi jarak meski hanya sejengkal.
Nadhira membuka matanya perlahan, menatap iris mata Andra yang kini tampak begitu rapuh. Dia tak menjawab, namun menatap Andra dalam. Dia merasa kesal kepada dirinya sendiri karena bisa kalah dengan perasaanya kepada Andra. Apalagi sentu-han Andra begitu lembut. Tidak seperti beberapa malam sebelumnya terkesan memaksa dan membuat Dhira ketakutan karena merasa harga dirinya tak ada artinya di mata Andra. Namun kali ini dia benar-benar merasakan perbedaan yang nyata.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏