Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buka Pintu
Kembali di Aruba, Helen masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Ia duduk di lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya, dan menangis tersedu-sedu. Ia merasa terjebak di tengah samudera tanpa pulau untuk bersandar.
Di luar, Ario kembali duduk di kursi kerjanya. Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh cincin yang dilemparkan Helen tadi. Ia memejamkan mata, teringat wajah ayahnya di tengah kobaran api.
"Jaga dirimu, Ario. Jangan pernah percaya pada siapapun yang menyandang nama Kusuma," itu adalah pesan terakhir ayahnya yang selalu menghantuinya.
Namun saat ia melihat Helen menangis, saat ia merasakan kelembutan wanita itu, tembok kebenciannya mulai retak. Ario menyadari bahwa dalam usahanya untuk membalas dendam pada mendiang Aditya, ia justru menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar tidak bersalah.
Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Ia ingin mengetuk. Ia ingin mengatakan: "Helen, maafkan aku. Aku mencintaimu, tapi aku tidak tahu cara mengatakannya tanpa merasa lemah."
Namun, sebelum ia sempat berdiri, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia:
Pesan: "Rencana tahap dua dimulai. Andre telah berhasil menanamkan benih keraguan. Helen siap untuk meninggalkan Ario. Jemput dia besok pagi."
Ario menatap pesan itu. Matanya membelalak. Ia baru menyadari bahwa Andre Willson bukanlah sekadar turis. Andre adalah umpan. Dan ia, dengan kecemburuannya yang buta, baru saja menggigit umpan itu dan menarik Helen masuk ke dalam perangkap.
"Helen!" teriak Ario sambil menggedor pintu kamar mandi. "Helen, buka pintunya! Kita harus pergi sekarang! Andre... Andre itu orangnya Beatrix!"
Namun di dalam kamar mandi, hanya ada kesunyian. Helen tidak menjawab. Ia sedang menatap layar ponselnya, di mana sebuah pesan dari Andre baru saja masuk:
Andre: "Aku menunggumu di lobi dengan mobil. Mari kita tinggalkan kegelapan ini, Helen. Aku akan membawamu pulang ke tempat yang aman."
Helen menghapus air matanya. Ia berdiri dengan tatapan kosong. Keputusannya sudah bulat. Ia lebih memilih lari ke pelukan pria asing yang memberinya senyuman, daripada tinggal bersama suami yang memberinya luka. Ia tidak tahu bahwa ia sedang berjalan menuju mulut serigala yang lebih lapar.
****
Suara ombak Karibia di luar jendela yang biasanya terdengar seperti nina bobo, kini berubah menjadi deru perang yang memekakkan telinga di dalam suite 901. Ketegangan di ruangan itu begitu pekat, seolah-olah oksigen telah habis terbakar oleh ego dan luka yang saling berbenturan.
Helen Kusuma berdiri dengan tas kecil di bahunya. Tangannya yang masih gemetar memegang ponsel yang baru saja menampilkan pesan penyelamatan dari Andre. Baginya, pintu keluar kamar ini adalah satu-satunya jalan menuju kewarasan. Namun, di depannya, Ario Diangga berdiri kokoh seperti tembok karang yang tak tertembus.
"Minggir, Ario," suara Helen rendah, namun bergetar oleh amarah yang sudah mencapai puncaknya.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Helen! Dengarkan aku sekali saja!" Ario berteriak, wajahnya yang kuyu tampak mengerikan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. "Pesan yang baru saja kuterima... Andre itu bukan arsitek, dia bukan turis! Dia bidak yang dikirim Beatrix untuk memisahkan kita!"
Helen tertawa getir, sebuah suara yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Bidak? Pisah? Kau bicara seolah-olah kita adalah satu kesatuan yang harmonis, Ario. Kita tidak pernah bersatu! Kita hanya dua orang asing yang dipaksa berbagi nasib dan ranjang oleh keadaan yang kau ciptakan sendiri!"
"Aku menciptakan ini untuk menyelamatkanmu!"
"Tidak!" Helen maju satu langkah, menatap tajam ke dalam mata gelap Ario yang kini dipenuhi kepanikan. "Kau melakukan ini untuk dirimu sendiri. Kau menggunakan aku sebagai tameng hukum agar kau bisa menyerang Tante Beatrix tanpa takut dipenjara. Dan sekarang, saat aku menemukan seseorang yang memperlakukanku seperti manusia—bukan sebagai alat investasi—kau mencoba meracuni pikiranku dengan teori konspirasimu?"
****
Helen mencoba merangsek maju, hendak meraih gagang pintu, namun Ario dengan cepat menangkap kedua bahu Helen. Cengkeramannya kuat, bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai bentuk keputusasaan seorang pria yang tahu bahwa ia sedang kehilangan satu-satunya hal yang berharga dalam hidupnya yang kelam.
"Lepaskan aku, Ario! Kau menyakitiku!" jerit Helen sambil meronta.
"Aku tidak akan melepaskanmu agar kau masuk ke mulut serigala, Helen! Andre menunggumu di bawah bukan untuk membawamu pulang, tapi untuk menyerahkanmu kembali ke tangan Beatrix di Jakarta! Apakah kau begitu buta oleh kata-kata manisnya?!"
"Aku tidak buta!" Helen mendongak, air mata kini mengalir deras membasahi pipinya yang kotor oleh sisa riasan semalam. "Aku hanya lelah dengan kegelapanmu! Andre memberiku cahaya, dia memberiku senyuman yang tidak pernah kau berikan sejak kita bertemu! Kau hanya memberiku tuduhan, caci maki, dan dinding dingin!"
Ario terdiam sejenak. Kata-kata Helen menghantam ulu hatinya lebih keras daripada pukulan fisik manapun. Ia menyadari betapa gagalnya ia menjadi seorang pelindung. Ia menjaga raga Helen, namun ia membiarkan jiwa wanita itu mati kelaparan dalam kesepian.
"Aku... aku minta maaf soal tuduhan semalam," bisik Ario, suaranya parau, nyaris hancur. "Aku cemburu, Helen. Aku takut. Aku tidak tahu cara bicara pada wanita seperti kau. Ayahku hanya mengajariku cara bertahan hidup di dunia yang kejam, dia tidak pernah mengajariku cara mencintai tanpa rasa takut."
"Sudah terlambat, Ario," Helen menggelengkan kepalanya pelan, matanya menatap kosong ke arah dada Ario. "Kata-kata maafmu tidak bisa menghapus bekas tamparan mental yang kau berikan padaku berkali-kali. Kita sudah selesai. Pernikahan di balai desa itu... biarlah menjadi lelucon paling pahit dalam sejarah keluarga Kusuma."
Helen menyentakkan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Ario yang sedang goyah secara emosional terdorong ke belakang. Helen segera menyambar gagang pintu dan membukanya. Koridor hotel yang mewah dan sunyi membentang di hadapannya seperti jalan menuju kebebasan.
****
"Helen! Jangan!"
Ario mengejar dan berhasil menangkap tangan Helen tepat di ambang pintu. Ia menarik Helen kembali ke dalam ruangan dan mengunci pintu itu dengan kunci elektronik. Klik. Bunyi penguncian itu terdengar seperti vonis penjara bagi Helen.
"Buka pintunya, Ario! Buka!" Helen memukul-mukul dada Ario dengan tinju kecilnya. Ia histeris. Rasa terkekang itu memicu trauma masa kecilnya saat ia selalu dilarang keluar rumah oleh ayahnya. "Kau sama saja dengan Papa! Kau sama saja dengan Tante Beatrix! Kalian semua ingin memilikiku, tapi tak ada yang benar-benar peduli padaku!"
Ario memeluk Helen erat, mencoba meredam pukulan-pukulan itu. Ia membiarkan Helen memukulnya, membiarkan kemarahan wanita itu tumpah padanya.
"Kau tidak mengerti, Helen... Di bawah sana, ada mobil yang sudah menunggu. Aku sudah melacak plat nomornya. Itu mobil sewaan atas nama perusahaan cangkang milik Beatrix di Belanda. Andre itu umpan! Jika kau keluar dari pintu ini, kau tidak akan pernah sampai ke bandara. Kau akan dibawa ke sebuah pelabuhan pribadi dan menghilang selamanya!"
Helen berhenti memukul. Ia terengah-engah dalam dekapan Ario, namun tubuhnya tetap kaku. "Kau selalu punya cerita, bukan? Selalu punya alasan untuk membuatku merasa bodoh dan bergantung padamu. Kau pikir aku akan percaya lagi padamu setelah kau menuduhku berzina semalam?"
Helen mendongak, matanya yang sembab menatap Ario dengan kebencian yang murni. "Aku lebih baik mati di tangan Tante Beatrix daripada harus hidup satu detik lagi sebagai tawananmu. Buka. Pintunya. Sekarang."
Ario menatap mata istrinya. Ia melihat kehancuran di sana. Ia melihat bahwa cintanya yang cacat telah merusak segalanya. Namun, insting perlindungannya tetap lebih besar daripada rasa sakit hatinya.
"Tidak," jawab Ario datar. "Kau boleh membenciku seumur hidupmu. Kau boleh menceraikanku begitu kita sampai di tanah yang aman. Tapi malam ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku akan menjagamu, meski itu berarti kau harus membenciku sampai mati."