NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Gerakan pria itu cukup santai. Melepas sepatunya, lalu duduk sambil menghela napas panjang. Wajahnya menoleh sekilas ke arah Miranda, lalu tersenyum kecil sangat remeh.

Sementara Miranda sendiri sekuat hati menahan rasa sesak bercampur gemetar, bahkan rasa gusar itu membuat keringatnya mulai menjalar.

Kalimat pedas Ezar lah yang melumpuhkan hati kecilnya. Namun ketika ia kembali menatap Tama yang mulai makan dengan lahap, perasaan Miranda menghangat.

"Ternyata sudah sebesar itu anak Bajingan yang menidurimu, Miranda!"

Uhuk!

Melihat Bundanya hampir tersedak, Tama dengan antusias membuka botol air, dan menyodorkannya untuk sang Bunda.

"Bunda, minum dulu...." cemasnya.

Mendengar pria asing di sebrangnya yang menyebut nama Ibunya membuat dada Tama mengeras, hingga keberanian muncul seketika.

Bocah 5 tahun itu bangkit. Lalu menghampiri Ezar sambil berkata, "Paman balusan menyebut nama Bunda Tama dengan ucapan kotor ya?! Nggak boleh bicaka sepelti itu, Paman!"

Meskipun terkesan belepotan, tapi Tama berniat melindungi Ibunya dari gangguan orang lain.

Miranda menarik lengan Putranya. "Sayang, duduk lagi!"

Ezar mencibir. Menatap wajah Tama sambil berkerut. Sebab rasa benci lebih menguasai, jadi dirinya tak mempedulikan itu. "Heh, minggir kamu anak kecil! Gara-gara Ayah kamu, saya jadi kehilangan kekasih saya!"

Miranda yang mendengarnya langsung membekap telinga putranya. Dadanya penuh, tatapanya nyalang sangat muak.

"Tama, sayang... Makan dulu ya. Bunda mau bicara sama Paman ini sebentar," bujuknya.

Memastikan Tama duduk kembali, Miranda segera bangkit. Tatapanya lurus, lalu berkata cukup tajam. "Mas Ezar mau apa lagi? Belum puas menghancurkan saya? Tolong... Saya hanya ingin menikmati hari minggu dengan tenang. Dan saya mohon, jika dihadapan putra saya, jangan pernah melibatkan suami saya!"

Ezar juga sudah bangkit. Ia menatap Miranda begitu tenang. Baginya, hijab yang sekarang menutupi tubuh mantan kekasihnya itu mampu menambah kecantikan wajah Miranda. Ezar maju, menepis jarak beberapa senti. Semakin marah, wajah merah Miranda terlihat kontras dengan kulit putihnya. Apalagi siluet mentari pagi yang bersinar, cahayanya menyilau, keindahan itu hampir membuat jantung Ezar meledak.

Miranda reflek mundur. Akan tetapi, belakangnya sudah pembatas jalan. Tubuhnya limbung kebelakang.

Ia sangka akan jatuh, namun gerakan tangan Ezar lebih dulu bekerja. Ia tarik pinggang Miranda, wajahnya pria itu tak kalah syok juga.

Jantung keduanya berdetak kuat. Ezar mengunci tatapan mantan kekasihnya itu.

"Bagus sekali cara kamu, Miranda! Kalian memalsukan kematian bajingan itu, agar tiada satu pun orang yang mengoloknya!" Ezar tersenyum miring.

Tatapan Miranda berubah bengis. "Lepaskan! Lebih baik saja jatuh, daripada di bantu manusia seperti kamu!" cibirnya.

Ezar meradang. Ia semakin mendekatkan wajahnya, lenganya berusaha mengendur. Sementara Miranda memejamkan mata, bersiap terjungkal kebelakang jika tangan kekar itu terlepas.

Tapi, tiba-tiba...

"Lepaskan Bunda Tama! Paman, lepaskan Bunda!"

Ujung kemeja Ezar ditarik-tarik Tama hingga membuat kesadaran keduanya kembali. Tubuh Miranda sudah dibantu Ezar menegak. Sama-sama canggung, namun sikap maskulinnya seketika keluar.

Ehem!

"Bunda kamu itu yang ceroboh," ucapnya cukup rendah.

Tama menatapnya sangat bengis, "Bunda... Udah bialin. Kita lanjut makan aja yuk," serunya.

"Ingat ya, Mas Ezar... Saya sudah tidak ada sangkut pautnya dengan hidup kamu. Seharusnya kamu bahagia bisa terlepas dari wanita rendahan seperti saya. Dan perlu saya pertegas lagi... Jangan pernah mengintimidasi Putra saya!"

Miranda kembali ke tempatnya, mengacuhkan Ezar begitu saja dan melanjutkan makannya.

Dada Ezar teremat. Napasnya mulai terengah. Bahkan, tanganya kini terkepal erat.

"Mas... Ini makananya saya taruh sini?" penjual itu bahkan sampai memiringkan wajahnya.

"Iya, taruh saja di situ. Saya juga sudah lapar," ucapnya. Pandangan Ezar masih terhunus pada Ibu dan anak di sebrangnya.

Cara makan Tama, cara bocah itu tertawa, Ezar yang sengaja duduk menghadap tempat Miranda, kini tiba-tiba matanya menyipit. Apalagi kalau bocah kecil itu tertawa, Ezar seolah sedang menatap pantulan sketsa masa kecilnya di depan cermin.

Miranda melirik sekilas. Ia mengikuti arah pandangan Ezar kearah putranya yang seolah tengah menelisik wajah Tama.

"Ya Allah, jangan sampai Mas Ezat tahu kalau Tama adalah Putra kandungnya. Aku nggak mau Tama di ambil oleh mereka," cemas batinnya.

Tama reflek menoleh. Lalu menyeletuk, "Paman... Ngapain lihatin Tama?! Itu di makan satenya!"

Lamunan Ezar buyar. Wajahnya menahan malu dan kesal. "Brisik banget kamu anak kecil!"

Tama terhelak kala ada sebuah gelembung terbang di depan wajahnya. Ketika ia menoleh, disana ada seorang anak laki-laki seusianya yang tengah meniup gelembung tadi dan di temani kedua orang tuanya.

Sate tadi terayun pelan, digeletakan begitu saja diatas piring. Ada pemandangan indah yang kini mengalihkan dunia Tama. Wajah Tama begitu mendamba, dalam hatinya juga ingin di kelilingi orang tua yang lengkap.

"Sayang, kok nggak di ma...kan....." suara Miranda melemah, pandanganya jatuh pada keluarga kecil di sebrang sana.

Melihat wajah Tama memelas, dada Miranda terasa penuh. Sesak menyelinap, hingga tanpa sadar air matanya sudah menggenang.

Ezar di tempatnya juga tersadar. Piringnya ia letakan. Entah mengapa hatinya juga ikut berdesir. Tiba-tiba saja ia bangkit, meninggalkan piring satenya tadi, lalu melenggang pergi.

"Tama... Apa Tama ingin mainan yang di pegang anak laki-laki itu, sayang?" suara Miranda sudah bergetar.

Tama menggeleng lemah. Masih terus menatap ke arah sana.

"Lalu, Tama ingin apa?" Miranda masih mengusap kepala Putranya dengan lembut.

Tama menegakan wajahnya. Ceruk matanya sangat sendu. "Nggak, Bunda! Nggak apa-apa kok. Kita lanjut makan aja."

Miranda tahu jika putranya tengah kecewa dengan keadaan. Wajah kecil itu tertunduk, menikmati satenya dengan dada terasa sesak. Miranda memalingkan wajah, tanganya berusaha menyeka air mata dengan cepat.

"Bunda menangis?" Tama tersadar.

Miranda tersenyum. "Nggak kok! Mana ada Bunda nangis. Bunda tadi kepingin bersin aja," kekehnya.

Tapi, tiba-tiba ada banyak gelembung yang menghampiri tempat Tama. Gelembung itu banyak, seolah ada seseorang yang memang sengaja meniup kearahnya.

Tama menoleh, Miranda juga menegakan wajahnya.

Di belakang, Ezar berdiri sambil mengibaskan gelembung itu. Wajah pria itu masih sama_kaku. Tapi matanya sejak tadi melirik, mencari perhatian oleh anak dan Ibu di depanya.

Tama bangkit, wajahnya berubah cerah. Kedua tanganya terangkat, menepuki setiap gelembung yang melewati wajahnya.

Tawa bocah kecil itu pecah, bersorak ramai sambil memecahkan setiap gelembung.

"Yeay... Tiup terus Paman...." reflek, kalimat itu keluar dari mulut Tama.

Ezar juga semakin rutin menggerakan gelembung tadi, tanpa tersadari kedua pria beda generasi yang tadi seperti kucing dan tikus, kini sangat dekat, sedekat nadi.

"Hei, kamu kejar kesana," seru Ezar sambil terus meniup.

Miranda bangkit. Dadanya berdesir, tak terima melihat kedekatan itu. Baru kakinya akan melangkah, tiba-tiba...

Pugh!

Ezar terkejut, seseorang menghempas tempat sabun itu secara cepat.

Tama juga tertegun. Sabun tadi tumpah membasahi rumput.

"Sayang, kamu apa-apaan sih?!" teriak Sinta.

1
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Ig:@septi.sari21: kasihan kak💔
total 1 replies
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Nesya
dihh ibu durhaka
Ig:@septi.sari21: jahat banget ya kak💔
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
Ig:@septi.sari21: kak dew, macihh bintangnya😍✋
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!