NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SANGKAR EMAS DAN RACUN MANIS

​Matahari pagi menyusup melalui celah gorden kamar Rhea, namun cahayanya tidak lagi terasa hangat. Sejak pengumuman pertunangan itu, rumah Rhea bukan lagi tempat yang aman. Ada dua mobil hitam yang berjaga di depan gerbangnya 24 jam—ajudan kiriman Ian. Di kampus, Rhea adalah hantu; orang-orang menyingkir saat ia lewat, tapi mata mereka terus menguliti punggungnya.

​Pukul sepuluh pagi, sebuah surat undangan fisik dengan kertas embossed emas tiba di tangannya. Bukan dari Ian, melainkan dari Ibu Negara.

​"Minum teh sore di paviliun mawar. Hanya kita berdua, calon menantuku."

​Rhea meremas kertas itu. Ia tahu ini bukan sekadar undangan minum teh. Ini adalah undangan ke medan pembantaian yang dibalut dengan aroma melati dan kue-kue manis.

​Paviliun mawar terletak di bagian terdalam istana, sebuah bangunan kaca yang dikelilingi oleh ribuan mawar yang mekar sempurna. Cansu sudah duduk di sana, mengenakan terusan putih gading yang membuatnya tampak sangat suci, kontras dengan hatinya yang penuh jelaga. Di sampingnya berdiri Nyonya Maya, asisten setianya yang selalu menatap Rhea dengan tatapan tanpa ekspresi.

​"Duduklah, Rhea," ucap Cansu lembut. Tangannya yang lentik menuangkan teh ke dalam cangkir porselen tipis. "Kamu tampak pucat. Apa menjadi tunangan seorang Adrian Diningrat begitu melelahkan?"

​Rhea duduk dengan punggung tegak, berusaha mengingat instruksi Ian: Jangan minum apa pun yang tidak dituangkan di depan matamu, dan jangan pernah menunjukkan kelemahan.

​"Terima kasih atas undangannya, Nyonya Besar," jawab Rhea formal.

​Cansu terkekeh, suara tawanya terdengar seperti denting kristal yang retak. "Nyonya Besar? Sebentar lagi kamu akan memanggilku 'Ibu', bukan? Meski secara teknis usia kita hanya terpaut lima tahun. Dunia ini memang penuh dengan lelucon yang tidak lucu."

​Cansu mendorong sepiring macaroon berwarna-warni ke arah Rhea. "Ian itu pria yang sulit. Dia cerdik, waspada, dan tidak mudah dibodohi. Tapi dia punya satu kelemahan besar: dia bertindak berdasarkan luka. Apakah dia memberitahumu kenapa dia memilihmu?"

​Rhea terdiam, mencoba menjaga detak jantungnya tetap stabil. "Dia bilang dia mencintai saya."

​Mata Cansu berkilat tajam. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klang yang sedikit keras. "Cinta? Di keluarga ini, cinta adalah kata ganti untuk 'kebutuhan'. Dia membutuhkanmu untuk menghinaku. Dia membutuhkanmu sebagai tameng untuk melawan ayahku, Perdana Menteri Pradikta. Kamu bukan kekasihnya, Rhea. Kamu adalah barikade hidupnya."

​Cansu berdiri, berjalan perlahan mengelilingi kursi Rhea, seperti predator yang sedang mengitari mangsanya. "Tahukah kamu apa yang terjadi pada bunga yang dipaksa mekar di musim yang salah? Mereka akan layu lebih cepat karena tidak kuat menahan badai. Kamu adalah bunga itu, Rhea. Kamu tidak punya akar di dunia politik ini. Sekali angin bertiup kencang, kamu akan tercerabut dan hancur."

​Rhea memberanikan diri menatap mata Cansu saat wanita itu berada di sampingnya. "Mungkin saya memang tidak punya akar, Nyonya. Tapi saya punya sesuatu yang tidak Anda miliki."

​Cansu berhenti melangkah. "Oh? Apa itu?"

​"Kebebasan untuk memilih siapa yang ingin saya lindungi," jawab Rhea mantap. "Anda mungkin mengunci diri Anda di istana ini demi kekuasaan, tapi saya berada di sini karena saya memilih untuk berdiri di samping Ian."

​Keheningan yang mencekam menyergap paviliun itu. Nyonya Maya sedikit menegang di posisinya. Cansu mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu tepat di telinga Rhea, suaranya sedingin es di kutub utara.

​"Pilihanmu akan menjadi tali gantungmu sendiri, Rhea. Ayahku bukan orang yang sabar. Dan jika Ian tidak bisa memilikiku, dia tidak akan membiarkan siapa pun memilikinya secara utuh. Kita berdua hanya pion dalam permainannya."

​Di saat yang sama, di kantor pusat Diningrat Grub, Ian sedang memelintir pena emas di jarinya saat Yusuf masuk dengan laporan mendesak.

​"Tuan Muda, Nona Rhea sedang berada di paviliun mawar bersama Nyonya Besar," lapor Yusuf dengan wajah cemas.

​Ian langsung berdiri, rahangnya mengeras. "Siapa yang mengizinkannya pergi tanpa pengawalanku?"

​"Nyonya Besar mengirim undangan pribadi, Tuan Muda. Ajudan kita tidak bisa masuk ke wilayah pribadi Ibu Negara tanpa izin khusus."

​Ian menyambar jasnya dan berjalan cepat menuju mobil. Pikirannya kalut. Ia tahu betapa liciknya Cansu, dan ia tahu betapa berbahayanya Pradikta Kusuma yang mungkin saja sedang memantau dari balik layar. Ia menyeret Rhea ke dalam drama ini untuk membalas dendam, tapi melihat Rhea dalam bahaya nyata mulai memicu sesuatu yang asing di dadanya: rasa bersalah yang bercampur dengan protektivitas yang berlebihan.

​Sesampainya di istana, Ian langsung menuju paviliun mawar. Ia melihat dari kejauhan Rhea sedang berjalan keluar dengan wajah yang kaku. Begitu melihat Ian, Rhea mempercepat langkahnya dan hampir tersandung jika Ian tidak segera menangkap lengannya.

​"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ian cepat, matanya memindai seluruh tubuh Rhea mencari luka fisik.

​"Aku baik-baik saja," jawab Rhea, suaranya sedikit gemetar. "Dia hanya... dia hanya memperingatiku."

​Ian menoleh ke arah paviliun, di mana Cansu masih berdiri di sana, menatap mereka dari balik dinding kaca. Cansu mengangkat cangkir tehnya, memberikan salam visual yang penuh ejekan kepada Ian.

​Ian menarik Rhea ke dalam pelukannya, sebuah gestur yang sengaja ia lakukan agar terlihat oleh Cansu. "Ayo pergi. Jangan pernah datang ke sini tanpa aku, mengerti?"

​Malam harinya, di mansion pribadi Ian di pegunungan, suasana jauh lebih tenang namun tetap tegang. Mbok Yem, pelayan setia yang sudah seperti ibu bagi Ian dan Vier, menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka berdua.

​"Makanlah, Cah Ayu," ucap Mbok Yem lembut pada Rhea. "Tuan Muda Ian memang kelihatannya galak, tapi hatinya itu baik. Dia hanya terlalu banyak menyimpan duri."

​Rhea tersenyum tipis pada Mbok Yem. Setelah Mbok Yem pergi, Rhea menatap Ian yang sedang termenung menatap perapian.

​"Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa ayah Cansu, Perdana Menteri Pradikta, adalah orang yang licik dan berbahaya ?" tanya Rhea tiba-tiba.

​Ian tersentak. "Bukannya itu sudah terlihat tanpa perlu di beritahu?"

​"Cansu tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku mencarinya sendiri. Aku melihat sorot mata ketakutan di balik keangkuhannya setiap kali nama ayahnya disebut," jawab Rhea. Sebagai calon dokter, Rhea pandai membaca emosi yang tersembunyi di balik simtomatik fisik. "Kamu membencinya karena dia meninggalkanmu, tapi kamu tahu apa yang dia sembunyikan? aku yakin dia menyimpan sesuatu yang menyakitkan"

​Ian berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke lembah yang gelap. "Aku juga mempertanyakan itu selama lima tahun Rhea... setelah dia pergi meninggalkan ku dan memilih mengikuti jejak Pradikta yang haus akan kekuasaan".

​Ian berbalik, menatap Rhea dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku minta maaf, Rhea. Aku menjanjikanmu keamanan, tapi sepertinya aku justru membawamu ke pusat badai."

​"Kontrak tetap kontrak, Ian," sahut Rhea, meski hatinya berdegup kencang. "Aku akan membantumu. Tapi berjanjilah satu hal: jangan biarkan aku mati sebelum aku lulus jadi dokter."

​Ian tidak tersenyum, tapi tatapannya melembut. Ia berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di puncak kepala Rhea. "Aku berjanji. Tidak akan ada yang menyentuhmu selama aku masih bernapas."

​Namun, di kediaman Perdana Menteri, Pradikta Kusuma sedang menatap monitor yang menampilkan foto-foto Ian dan Rhea di depan paviliun mawar. Ia mengisap cerutunya dalam-dalam, asapnya mengepul menutupi wajahnya yang bengis.

​"Anak itu mulai punya perasaan pada pionnya," gumam Pradikta pada bayangan di sudut ruangan. "Itu bagus. Semakin dia mencintai gadis itu, semakin mudah bagiku untuk menghancurkannya. Beritahu orang-orang kita di rumah sakit... ayahnya tidak boleh hanya dipecat. Pastikan dia tidak akan pernah bisa bekerja di mana pun lagi di negara ini."

​Politik darah dan air mata baru saja menaikkan taruhannya. Dan di antara dua raksasa yang bertarung, Rhea Candrakirana kini berdiri di atas seutas tali tipis yang siap putus kapan saja.

1
S
seru banget, karakter cansu ini unik sih menarik banget, tapi jujur aku kasihan sama rhea plis lah bikin rhea sama Ian bahagia thor, cansunya biar sana brondong cogil 😭
S
sumpah ga nyangka cansu bakal di kejar berondong😭
S
😭😭😭 lucu banget kalau masalah jamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!