NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: DI BALIK TIRAI HUJAN

Hujan Jakarta malam itu tidak jatuh sebagai berkah; ia turun seperti jutaan jarum perak yang mencoba menusuk aspal panas. Di depan lobi Gedung Aurora yang megah, Arka berdiri diam. Jas hitam yang tersampir di bahunya basah kuyup, tapi anehnya, uap tipis keluar dari sela-sela pakaiannya. Tubuhnya masih membara. Efek dari penggunaan Essence berlebih membuat darahnya mendidih, seolah-olah ada lava yang mengalir di pembuluh nadinya.

Ia merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok yang entah bagaimana masih kering. Korek api dinyalakan. Sekali hirup, asap putih bergumul dengan kabut hujan.

"Arka!"

Suara itu melengking, memecah deru air. Clarissa berlari keluar dari balik pilar beton, mengabaikan teriakan ayahnya di kejauhan. Gaun malamnya yang mahal kini menyapu genangan air, kotor dan rusak, tapi dia tidak peduli. Dia berhenti tepat di depan Arka, napasnya tersengal, matanya yang indah digenangi air mata yang siap tumpah.

"Kamu... kamu gila," bisik Clarissa. Suaranya bergetar antara marah dan lega. "Kenapa kamu tidak lari? Mereka itu monster, Arka! Aku melihat mereka menghancurkan lantai dengan tangan kosong!"

Arka menatap Clarissa. Pola emas di pupil matanya perlahan memudar, kembali ke warna hitam pekat yang dalam dan misterius. "Monster?" Arka terkekeh pendek, suara yang terdengar asing di telinga Clarissa. "Di dunia ini, Clarissa, monster sejati tidak memakai seragam klan atau membawa senjata. Mereka duduk di kursi empuk, menandatangani surat kematian sambil meminum wine mahal."

"Tapi kamu terluka!" Clarissa mengulurkan tangan, jemarinya yang halus ragu-ragu menyentuh pipi Arka.

Begitu kulit mereka bersentuhan, Clarissa tersentak. Kulit Arka sangat panas—hampir seperti menyentuh mesin mobil yang baru saja menempuh perjalanan ratusan kilometer. Namun, ia tidak menarik tangannya. Dia justru merapatkan tubuhnya, membiarkan kehangatan aneh dari Arka melawan dinginnya malam.

"Pulanglah," kata Arka lembut, tapi ada nada finalitas di sana. "Malam ini Jakarta akan menjadi sangat berisik. Kamu tidak ingin berada di jalanan saat Macan Putih mulai menjilat luka mereka."

Hendra Wijaya mendekat dengan langkah ragu. Pria yang biasanya pongah itu kini menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan: antara rasa syukur karena nyawanya selamat dan ketakutan bahwa dia baru saja menyaksikan lahirnya seorang tiran baru.

"Nak Arka..." Hendra berdeham, mencoba mencari sisa-sisa wibawanya. "Terima kasih. Aku berhutang nyawa padamu. Jika ada apa pun... apa pun yang kamu butuhkan, hubungi aku. Mobil pribadiku sudah menunggu di sana, biarkan supirku mengantarmu."

Arka melirik limusin perak milik Hendra, lalu beralih ke jalanan yang gelap. "Simpan tawaranmu, Tuan Wijaya. Jaga saja putrimu dengan baik. Itu sudah cukup."

Arka membalikkan badan, berjalan menembus hujan tanpa payung, tanpa pengawal. Sosoknya perlahan ditelan kegelapan, meninggalkan Clarissa yang masih mematung dengan jemari yang masih merasakan sisa panas di pipinya.

Arka tidak pulang ke kontrakannya yang kumuh. Tempat itu sudah tidak aman. Logika 'Mata Dewa' memberitahunya bahwa dalam hitungan jam, setiap sudut tempat tinggal lamanya akan dikepung.

Dia berjalan menuju sebuah hotel butik di kawasan Menteng. Dengan uang tunai yang ia menangkan dari taruhan giok, ia menyewa penthouse paling atas menggunakan identitas palsu yang ia 'pinjam' dari data sistem hotel lewat pandangan matanya.

Begitu pintu kamar tertutup, Arka ambruk.

"Argh!"

Ia mencengkeram kepalanya. Pandangannya berputar. Spektrum warna biru dan emas meledak di balik kelopak matanya. Itulah harga yang harus dibayar. Kekuatan Mata Dewa bukan tanpa beban; ia menguras energi mental dan fisik secara brutal jika digunakan untuk bertarung, bukan sekadar melihat barang antik.

Dia menyeret tubuhnya ke kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin. Di bawah kucuran air, Arka menatap cermin yang berembun. Dia mengusap permukaan kaca itu.

Wajah yang menatap balik di cermin itu masih wajah Arka—pemuda yang dulu dibuang oleh keluarganya, dikhianati kekasihnya, dan dihina sebagai sampah masyarakat. Tapi ada yang berbeda. Garis rahangnya lebih tegas, dan ada aura 'dingin' yang terpancar dari tatapannya.

‘Evaluasi diri: Kapasitas Essence meningkat 15%. Kerusakan sel otot tahap ringan. Dibutuhkan meditasi pemulihan.’

Suara tanpa emosi itu bergema di kepalanya. Arka tersenyum miring. "Hanya 15 persen? Jadi untuk membantai empat ekor kucing itu, aku hanya butuh sedikit usaha?"

Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Namun, saat ia mulai masuk ke dalam kondisi meditasi, matanya mendadak terbuka lebar.

Ada sesuatu yang salah.

Matanya melihat menembus dinding beton hotel, menembus lapisan kabel listrik, hingga ke lantai bawah. Di sana, di lobi hotel, berdiri seorang gadis remaja dengan tudung jaket menutupi kepalanya. Gadis itu membawa tas biola, tapi di mata Arka, tas itu tidak berisi alat musik.

Isinya adalah sebuah pedang pendek dengan ukiran kuno yang memancarkan aura hitam yang pekat—aura yang hanya dimiliki oleh pembunuh bayaran tingkat tinggi.

"Belum juga satu jam aku istirahat," gumam Arka, mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Ia berjalan menuju balkon penthouse. Dari ketinggian lantai 20, ia bisa melihat seluruh kelap-kelip lampu Jakarta. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah objek kecil yang menempel di sudut pagar balkonnya.

Sebuah bunga mawar kecil dari kertas perak.

Arka mengambil mawar itu. Di kelopaknya tertulis sebuah angka dengan tinta merah darah: 140.

"Nomor urut?" Arka mengerutkan kening. "Atau jumlah nyawa yang sudah dia ambil?"

Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari arah ruang tamu. Arka tidak menoleh. Dia hanya menggeser kepalanya beberapa milimeter tepat saat sebuah jarum beracun melesat melewati telinganya dan menancap di tiang balkon.

Sesosok bayangan muncul dari kegelapan ruang tamu, bergerak secepat kilat. Pedang pendek yang tadi ia lihat di tas biola kini sudah berada di depan tenggorokannya.

"Arka?" suara gadis itu terdengar datar, namun tajam seperti sembilu.

Arka tidak bergerak. Matanya mulai bersinar emas lagi. Dia melihat jantung gadis itu berdetak sangat lambat—hanya 30 detak per menit. Dia bukan manusia biasa. Dia adalah eksperimen atau hasil pelatihan tingkat ekstrem.

"Kamu terlalu cantik untuk jadi malaikat maut," ucap Arka santai, meski ujung pedang itu sudah menggores sedikit kulit lehernya.

Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, seolah bingung mengapa mangsanya tidak takut. "Aku tidak cantik. Aku hanya alat. Dan alat tidak bicara dengan targetnya."

"Tunggu," potong Arka. "Siapa yang mengirimmu? Macan Putih?"

Gadis itu terdiam sejenak. "Macan Putih? Mereka hanya membayar uang muka. Yang mengirimku adalah mereka yang namamu sudah tercatat di Buku Hitam sejak sepuluh tahun lalu."

Sepuluh tahun lalu?

Jantung Arka berdegup kencang. Itu adalah tahun ketika kecelakaan pesawat yang menewaskan orang tuanya terjadi. Tahun ketika klan aslinya menyatakan dia 'mati'.

"Jadi..." Arka mencengkeram bilah pedang itu dengan tangan kosong, darah segar mulai mengalir, tapi ia justru menarik wajah gadis itu mendekat. "Kalian akhirnya menemukanku, ya?"

Gadis pembunuh itu terbelalak. Dia mencoba menarik pedangnya, tapi tangan Arka seperti catut baja yang tak tergoyahkan.

"Sampaikan pada mereka," bisik Arka tepat di telinga gadis itu, suaranya kini penuh dengan kebencian yang sudah dipendam selama satu dekade. "Arka yang mereka buang sudah mati di hari hujan itu. Yang berdiri di depanmu sekarang... adalah badai yang akan menghapus nama kalian dari muka bumi."

Bersamaan dengan itu, Arka melepaskan ledakan energi dari telapak tangannya. Gadis itu terlempar ke belakang, namun dengan lincah dia melakukan salto di udara dan mendarat di atas meja kaca tanpa membuatnya retak sedikit pun.

"Aku akan kembali," ucap gadis itu, sebelum ia melemparkan bom asap dan menghilang melalui jendela yang terbuka.

Arka berdiri sendirian di balkon yang kini berantakan. Dia melihat luka di telapak tangannya menutup dengan kecepatan yang tidak masuk akal—hasil dari regenerasi Mata Dewa.

Dia menatap mawar perak di tangannya, lalu meremasnya hingga menjadi debu.

Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Hanya ada satu kalimat, tapi sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri:

“Selamat datang kembali di papan catur, Tuan Muda Ke-13. Permainan dimulai sekarang.”

Arka menengadah ke langit. Hujan belum reda, tapi di matanya, Jakarta kini bukan lagi kota metropolitan biasa. Kota ini telah berubah menjadi medan perang kuno yang dibungkus gedung pencakar langit.

Dan dia? Dia bukan lagi pecundang yang mencari keadilan. Dia adalah pemain yang akan menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati.

"Babak baru dimulai," gumam Arka.

Ia mematikan lampu kamar, membiarkan dirinya ditelan kegelapan, bersiap untuk fajar yang pastinya akan lebih berdarah dari malam ini.

Siapa "Tuan Muda Ke-13"? Siapa gadis pembunuh misterius itu? Dan yang paling penting, apa rahasia besar yang disembunyikan keluarga Arka sampai mereka harus mengirim pembunuh bayaran sepuluh tahun setelah menganggapnya mati?

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
asik juga nih
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!