NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sehelai tikar pandan

Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Desa Rengging, meninggalkan semburat jingga yang memudar di sela-sela pohon kelapa. Di dalam sebuah rumah kayu sederhana, Zaenab sedang bersimpuh di atas lantai bambu. Jemarinya yang lentik dengan cekatan melipat baju-baju lama, memasukkannya ke dalam sebuah koper kulit yang sudut-sudutnya sudah mengelupas.

Sesekali ia berhenti, mengusap debu yang menempel di permukaan koper itu. Ada debar yang tak biasa di dadanya—campuran antara rasa takut akan ketidaktahuan dan keyakinan yang menghujam dalam.

"Zae..."

Suara bariton itu memecah keheningan. Sidik berdiri di ambang pintu kamar, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu baru saja pulang dari sawah tetangga, peluh masih membasahi kaus lusuhnya.

"Apa kau benar-benar sudah mantap?" tanya Sidik pelan. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kayu jengki yang sudah reyot. "Makkah itu jauh, Zae. Bukan cuma jaraknya, tetapi hidup di sana tak akan sehijau di sini. Di sana hanya ada batu, pasir, dan cuaca yang bisa memanggang kulitmu. Aku khawatir kau akan merindukan gemericik air sungai ini."

Zaenab menghentikan aktivitasnya. Ia menatap suaminya, pria yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir dalam suka maupun duka. Wajah Zaenab yang kuning langsat tampak bercahaya terkena sinar lampu minyak yang temaram.

"Kang Sidik," suara Zaenab lembut namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. "Sejak aku mencium tangan Akang di depan penghulu, duniaku adalah langkah kakimu. Jika Akang merasa jalan rezeki kita ada di tanah suci, maka di situlah rumahku berada."

Ia mendekat, menggenggam tangan Sidik yang kasar karena kerja keras.

"Aku tidak butuh sawah hijau jika itu artinya aku jauh dari suamiku. Aku ingin kita berjuang bersama. Lagipula, Kang... bukankah setiap muslim bermimpi untuk berada sedekat mungkin dengan Baitullah? Aku ingin menghabiskan sisa umurku di sana. Menghirup udara yang sama dengan yang pernah dihirup Rasulullah."

Sidik terdiam. Ia tahu, di balik kelembutan istrinya, ada kemauan sekeras baja. Ia telah mencoba meyakinkan Zaenab berkali-kali agar tetap tinggal di desa sampai ia mapan di sana, namun Zaenab selalu menolak.

"Tetapi di sana aku hanya akan jadi kuli, Zae. Kita akan tinggal di bilik kecil, bukan di rumah seperti ini," ujar Sidik lagi, seolah mencoba menguji kesetiaan istrinya untuk terakhir kali.

Zaenab tersenyum manis, sebuah senyuman yang bagi Sidik lebih berharga daripada seluruh emas di dunia.

"Bilik kecil di Makkah lebih mulia bagiku daripada istana di sini tanpa rida suami. Jangan khawatirkan aku, Kang. Khawatirkan saja jika kita tidak bisa bersama-sama menuju surga-Nya."

Malam itu, di bawah saksi bisu sehelai tikar pandan yang mulai usang, sebuah janji dipatri. Bukan sekadar janji untuk merantau demi mencari sesuap nasi, melainkan janji untuk sehidup semati di tanah yang diberkati.

****

Di bawah pohon kelapa tua di belakang rumah mereka, Sidik berdiri dengan tenang. Di tangannya, ia memegang sebutir kelapa kering yang sabutnya sudah mulai terkelupas. Orang-orang desa mengira mereka akan berangkat menggunakan bus menuju bandara, namun Sidik memiliki cara lain yang tak masuk akal sehat.

"Zae, pegang pundakku erat-erat. Jangan pernah sekalipun kau membuka mata sebelum aku menyuruhmu," bisik Sidik. Suaranya terdengar lebih berat dan berwibawa dari biasanya.

Zaenab, dengan kepatuhan seorang istri yang luar biasa, hanya mengangguk. Ia tidak bertanya mengapa mereka tidak pergi ke terminal. Ia percaya sepenuhnya pada suaminya.

Sidik mulai mengupas sabut kelapa itu dengan tangan kosong. Ia mengambil selembar serabut kelapa yang kasar, lalu meletakkannya di atas tanah. Ia merapalkan doa yang membuat angin di sekitar mereka tiba-tiba berhenti berhembus. Suasana menjadi sunyi senyap, seolah alam sedang menahan napas.

"Bismillah..."

Begitu kaki Sidik menginjak serabut kecil itu, keajaiban terjadi. Serabut kelapa yang tadinya hanya sampah kering, tiba-tiba membesar dan bercahaya keemasan. Benda itu terangkat dari tanah, membawa Sidik dan Zaenab yang memeluknya erat dari belakang.

Wush!

Tanpa suara mesin, tanpa deru pesawat, mereka melesat menembus awan. Zaenab merasakan angin kencang menerpa wajahnya, namun anehnya, ia merasa hangat. Di bawah mereka, hamparan hutan, laut, dan kota-kota hanya terlihat seperti kelap-kelip lampu yang meluncur cepat.

"Kang, kita di mana?" tanya Zaenab dengan suara gemetar, matanya tetap terpejam rapat.

"Kita sedang melintasi samudra, Zae. Sebentar lagi kita akan mencium aroma padang pasir," jawab Sidik tenang. Ia berdiri tegak di atas serabut kelapa itu seperti seorang nahkoda di atas kapal megah.

Hanya dalam hitungan jam—perjalanan yang seharusnya memakan waktu belasan jam dengan pesawat—hawa udara mulai berubah. Kelembapan tropis berganti dengan udara kering yang panas namun suci.

"Buka matamu, Zae," perintah Sidik.

Zaenab membuka matanya perlahan. Ia terkesiap. Di bawah mereka bukan lagi hamparan hijau, melainkan hamparan padang pasir yang memerah terkena cahaya bulan. Di kejauhan, lampu-lampu kota Makkah mulai terlihat, melingkari sebuah titik pusat yang paling bercahaya: Masjidil Haram.

Serabut kelapa itu perlahan menurun, melayang rendah menuju sebuah perbukitan batu di pinggiran kota suci. Dengan pendaran cahaya yang memudar, mereka mendarat dengan lembut di atas pasir yang halus.

Begitu kaki mereka menyentuh tanah, serabut kelapa itu kembali mengecil dan hancur menjadi debu, tertiup angin gurun.

"Kita sudah sampai, Zae. Di tanah yang kau impikan," ucap Sidik sambil memandang Menara Jam yang menjulang tinggi di kejauhan.

Zaenab jatuh bersujud. Air matanya tumpah menyentuh pasir Makkah. Ia tidak menyangka, kesetiaannya membawa ia terbang melintasi dunia hanya dengan selembar serabut kelapa di tangan suaminya yang keramat.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!