BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17— Langkah Kecil, Harapan Besar
Matahari pagi muncul perlahan di balik awan abu-abu. Jalanan kota masih basah karena hujan semalam, meninggalkan udara dingin yang menusuk kulit. Arga berjalan sendirian menyusuri trotoar kecil menuju tempat kerjanya. Langkahnya pelan, namun hari ini terasa sedikit berbeda.
Sudah lama sekali ia tidak bangun dengan perasaan setenang ini.
Meski hidupnya belum benar-benar berubah, setidaknya hatinya tidak lagi kosong seperti dulu.
Buku kecil pemberian Nadia masih ada di dalam tasnya. Semalaman Arga terus memikirkan kata-kata perempuan itu.
"Isi buku itu dengan semua mimpi kamu."
Kalimat sederhana, tapi mampu membuatnya kembali mengingat siapa dirinya sebelum hidup menghancurkan semuanya.
Sesampainya di minimarket, Arga langsung bekerja seperti biasa. Ia menyusun barang, membersihkan rak, dan melayani pelanggan yang datang silih berganti. Rutinitas yang dulu terasa melelahkan kini sedikit lebih ringan untuk dijalani.
“Tumben pagi-pagi udah senyum,” goda Rian sambil membawa kardus minuman.
Arga terkekeh kecil. “Emang nggak boleh?”
“Boleh sih… tapi aneh aja. Biasanya muka lu kayak orang habis ditinggal nikah.”
Arga hanya menggeleng sambil tertawa pelan.
Entah kenapa, akhir-akhir ini dirinya memang lebih mudah tersenyum. Kehadiran Nadia perlahan mengubah banyak hal dalam dirinya. Bukan karena perempuan itu menyelesaikan semua masalahnya, tapi karena Nadia membuatnya merasa tidak sendirian.
Saat jam istirahat tiba, Arga duduk di belakang toko sambil membuka buku kecilnya. Ia memandangi halaman kosong beberapa detik sebelum mulai menulis lagi.
"Aku ingin membahagiakan ayah sebelum waktuku terlambat."
Tulisan itu membuat dadanya terasa sesak.
Sudah lama ia tidak pulang ke rumah dengan membawa kabar baik. Selama ini hidupnya hanya dipenuhi kegagalan demi kegagalan. Bahkan terkadang Arga merasa dirinya hanyalah beban.
Namun sekarang, ia ingin berubah sedikit demi sedikit.
Bukan untuk orang lain.
Tapi untuk dirinya sendiri.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan dari Nadia muncul di layar.
"Udah makan belum?"
Arga tersenyum kecil.
"Belum. Lagi istirahat."
Tak lama, balasan masuk lagi.
"Jangan telat makan. Kamu kalau sakit nanti siapa yang kuat?"
Arga menatap pesan itu cukup lama. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan setiap kali berbicara dengan Nadia.
Rian yang melihat dari kejauhan langsung mendekat sambil menyeringai.
“Dari Nadia lagi ya?”
Arga langsung memasukkan ponselnya ke saku.
“Banyak banget sih lu.”
Rian tertawa kecil. “Gue seneng aja lihat lu sekarang. Dulu lu pendiem banget.”
Arga terdiam sesaat.
Mungkin benar.
Dulu dirinya terlalu sibuk menahan sakit sampai lupa bagaimana caranya menikmati hidup.
Sore harinya, hujan kembali turun meski tidak terlalu deras. Arga berdiri di depan minimarket sambil melihat kendaraan berlalu-lalang. Lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan toko.
Nadia datang sambil membawa dua gelas kopi hangat.
“Aku ganggu nggak?” tanyanya sambil tersenyum.
Arga menggeleng cepat.
“Enggak.”
Nadia menyerahkan satu gelas kopi padanya lalu ikut berdiri di samping Arga melihat hujan.
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
“Aku senang lihat kamu sekarang,” ucap Nadia pelan.
Arga menoleh. “Kenapa?”
“Kamu mulai percaya sama diri sendiri lagi.”
Kalimat itu membuat Arga tersenyum tipis.
“Masih belajar,” jawabnya pelan.
Nadia mengangguk kecil. “Nggak apa-apa. Semua hal besar selalu dimulai dari langkah kecil.”
Arga menatap hujan di depan mereka.
Langkah kecil.
Mungkin benar.
Selama ini ia terlalu fokus memikirkan hasil besar sampai lupa kalau perubahan tidak terjadi dalam semalam.
Kadang seseorang hanya perlu berjalan perlahan… sampai akhirnya sadar bahwa dirinya sudah jauh meninggalkan masa lalunya.
“Aku takut jatuh lagi,” ucap Arga lirih.
Nadia tersenyum hangat.
“Kalau jatuh, aku bantu kamu bangkit.”
Deg.
Untuk beberapa detik, Arga benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Hatinya terasa hangat.
Bukan karena kopi yang ia pegang.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang memilih tetap tinggal meski tahu dirinya penuh luka.
Hujan malam itu terus turun perlahan.
Dan di tengah dinginnya kota, Arga mulai percaya…
Bahwa harapan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil.