"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Dunia Terasa Berwarna Saat Kau Ada di Sampingku
Waktu seolah berjalan begitu cepat, namun juga terasa begitu lambat dan nikmat. Beberapa minggu telah berlalu sejak pertemuan di tengah hujan itu. Luka fisik Ling Qingyu sudah jauh membaik, berkat perawatan telaten Li Yao dan juga teknik penyembuhannya sendiri. Namun, ada satu hal yang tidak kunjung sembuh, atau lebih tepatnya justru semakin parah: rasa rindu dan keterikatan di antara mereka berdua.
Mereka kini sering menghabiskan waktu bersama di pinggiran hutan, jauh dari keramaian desa yang mungkin akan bertanya-tanya. Bagi Li Yao, hari-hari yang dulu terasa abu-abu, membosankan, dan penuh kepahitan, kini berubah menjadi seindah lukisan alam.
Siang itu, mereka duduk berdampingan di atas sebuah batu datar di tepi sungai yang airnya jernih dan dingin. Angin sepoi-sepoi bertiup membelai rambut mereka, membawa aroma bunga liar yang harum.
Li Yao sedang mengupas buah-buahan liar yang baru ia petik, tangannya cekatan namun tetap hati-hati. Di sebelahnya, Ling Qingyu duduk dengan tenang, matanya memandang arus sungai yang mengalir deras, namun wajahnya terlihat sangat damai.
"Qingyu, ini... makanlah. Manis dan segar," kata Li Yao sambil menyodorkan potongan buah yang sudah dikupas bersih.
Ling Qingyu menoleh, tersenyum, lalu menerima buah itu dengan tangan putihnya yang halus. "Terima kasih, Yao. Kau selalu tahu apa yang aku butuhkan."
Mendapat panggilan sayang itu, hati Li Yao serasa melayang ke awang-awang. Ia menggaruk belakang kepalanya, tersipu malu. "Aku tidak tahu apa-apa soal dunia persilatan atau teknik kultivasi yang hebat. Aku hanya bisa memberimu hal-hal sederhana seperti ini. Aku takut... hal ini terlalu murahan untukmu."
Ling Qingyu menggeleng pelan. Ia menggigit buah itu perlahan, lalu menatap wajah Li Yao dalam-dalam.
"Tidak ada yang murahan jika datang darimu, Yao. Dulu, hidupku hanya dipenuhi latihan, pertarungan, dan strategi. Setiap senyuman yang kuterima seringkali palsu, penuh kepentingan, atau hanya karena mereka takut pada kekuatanku. Tapi di sini... bersamamu..."
Ia menghela napas panjang, matanya berbinar lembut.
"Aku merasa menjadi manusia biasa. Aku bisa tertawa lepas, aku bisa menikmati angin, aku bisa merasakan rasa buah ini tanpa memikirkan siapa yang akan membunuhku besok. Kau tahu? Kau memberiku sesuatu yang bahkan kekayaan dan kekuatan terbesar di dunia tidak bisa membelinya: Kedamaian."
Li Yao terpaku. Kata-kata Ling Qingyu bagaikan musik terindah yang pernah terdengar di telinganya. Ia menatap wajah wanita itu yang bersinar diterpa sinar matahari yang menembus celah dedaunan.
"Qingyu..." panggil Li Yao pelan. "Sejak kau datang, semuanya berubah. Dulu, saat aku mencangkul sawah, rasanya seperti siksaan. Aku merasa nasibku sangat menyedihkan. Tapi sekarang... bahkan saat aku bekerja sampai keringat bercucuran, jika aku ingat wajahmu, rasa lelah itu hilang seketika."
Ia menunduk, memberanikan diri untuk mengucapkan apa yang terpendam.
"Dulu dunianaku hitam dan putih. Sekarang... semuanya menjadi berwarna. Bunga terlihat lebih merah, langit lebih biru, dan air sungai terasa lebih segar. Semua karena kau ada di sini, di sisiku."
Suasana menjadi hening sejenak, hanya terdengar gemericik air dan desiran angin. Wajah Ling Qingyu memerah padam, ia menunduk menyembunyikan senyum bahagianya.
"Kau ini... bisa saja memuji. Apa kau belajar kata-kata manis ini dari mana?" godanya.
"Bukan!" sanggah Li Yao cepat, sedikit panik. "Itu semua murni dari hatiku! Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aku merasa... aku merasa aku adalah orang paling beruntung di dunia, meskipun aku hanya pemuda desa yang tidak punya bakat apa-apa."
Ling Qingyu tersenyum, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Li Yao. Tubuh Li Yao menegang kaku, jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang, namun ia tidak bergerak sedikit pun. Ia ingin momen ini abadi.
"Jangan pernah berkata begitu lagi, Yao," bisik Ling Qingyu lembut di telinganya. "Bakat dan kekuatan itu hanyalah alat. Tapi hati yang tulus dan hangat seperti milikmu... itulah yang sesungguhnya berharga."
Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Li Yao.
"Li Yao, mulai hari ini, kita berjalan beriringan. Kau tidak sendirian lagi. Aku akan ada di sini, menjadi matamu, menjadi kekuatanmu, dan menjadi orang yang selalu mendukungmu."
"Qingyu..."
"Ya?"
"Aku janji akan melindungimu dengan seluruh nyawaku. Walau aku lemah, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti hatimu lagi," ucap Li Yao dengan tegas penuh sumpah.
Ling Qingyu tertawa bahagia, lalu kembali menyandarkan kepalanya. "Aku tahu. Aku percaya padamu."
Di tepi sungai itu, di bawah naungan pohon besar, dua hati yang berbeda dunia itu telah bersatu. Cinta mereka tumbuh murni seperti bunga yang mekar di tengah bebatuan, indah dan tak tergoyahkan. Mereka berdua tidak tahu bahwa kebahagiaan ini adalah fajar yang sebelum datangnya badai paling gelap yang akan menghancurkan segalanya.
Namun untuk saat ini, biarkan mereka menikmati waktu yang indah ini.