cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
....
Jalanan dari Jakarta ke Bandung seharusnya hanya memakan waktu dua sampai tiga jam lewat tol Cipularang. Tapi kalau sopirnya adalah Langit, dan penumpangnya adalah Jelita yang masih punya sisa-sisa sifat "kaku beton" kalau digodain, waktu tiga jam itu terasa seperti perjalanan lintas dimensi yang penuh tawa dan emosi.
Pagi itu, Porsche hitam Langit sudah nangkring di depan kosan Jelita. Langit keluar dengan kaos putih ketat yang memamerkan otot lengannya, dipadu dengan kacamata hitam yang harganya mungkin setara dengan biaya kuliah Jelita satu semester. Begitu Jelita keluar membawa koper kecil, Langit langsung menyiul nakal.
"Gila... pacar siapa sih ini? Cantiknya bikin gue pengen batalin ke Bandung terus balik ke apartemen aja buat 'tutor' seharian," celetuk Langit sambil menyambar pinggang Jelita.
Jelita mencubit perut Langit gemas. "Langit! Masih pagi ya! Buruan berangkat, gue mau makan batagor Bandung yang asli!"
"Siap, Tembok Beton kesayangan. Tapi bayarannya... cium dulu dong di sini," Langit menunjuk pipinya dengan gaya paling sengklek sedunia.
Setelah drama tolak-menolak-tapi-akhirnya-mau di depan gerbang kosan yang bikin ibu kos geleng-geleng kepala dari balik jendela, mereka akhirnya melesat. Di dalam mobil, playlist lagu-lagu galau sengaja dipasang Langit hanya untuk bernostalgia
"Lo tau nggak, Jee? Abang gue si galau itu makin parah. Tadi pagi pas gue mau berangkat, dia lagi duduk di teras sambil megang kopi pahit, matanya tajam banget. Kayaknya dia beneran udah nyerah nyari 'hantu'-nya," cerita Langit sambil tertawa puas.
Jelita terdiam sejenak. Ada rasa perih yang tipis di hatinya saat mendengar tentang "Abang" Langit, meskipun dia tidak tahu itu adalah Yayan. "Kasihan tahu, Lang. Jangan diketawain terus."
"Biarin. Biar dia sadar kalau dunia ini luas, nggak cuma seputaran kenangan SMP. Kayak gue dong, dapet yang kualitas premium kayak lo," balas Langit sambil mengecup punggung tangan Jelita berkali-kali sepanjang jalan.
...----------------...
Sesampainya di Lembang, drama dimulai. Langit sudah memesan sebuah villa privat yang letaknya cukup tersembunyi dengan view lembah yang luar biasa. Masalahnya? Langit, dengan segala kesombongannya, merasa dia adalah "Raja Map" padahal aslinya setali tiga uang dengan saudaranya—alias gampang tersesat kalau udah masuk jalan tikus.
"Lang... ini jalannya makin kecil. Lo yakin ini bener?" tanya Jelita cemas melihat mobil mewah itu harus melewati jalanan berbatu yang sempit.
"Tenang, Sayang. Insting tutor gue nggak pernah salah. Ini namanya jalur alternatif biar nggak macet," jawab Langit pede, padahal dahinya sudah mulai berkeringat dingin.
Hasilnya? Mereka berakhir di depan sebuah kandang sapi milik warga lokal. Jelita tertawa sampai air matanya keluar, sementara Langit keluar mobil dengan wajah merah padam, mencoba bertanya pada bapak-bapak petani dengan gaya tetap sok keren.
"Tuh kan! Sok tahu sih!" ledek Jelita saat mereka akhirnya berhasil memutar balik.
"Diem lo, Jee! Ini namanya petualangan sebelum 'eksekusi'!" gerutu Langit yang langsung disambut tawa kemenangan dari Jelita.
Setelah satu jam berputar-putar, akhirnya mereka sampai di villa mewah yang dimaksud. Tempat itu sangat indah. Bangunannya modern dengan kaca-kaca besar yang memperlihatkan kabut Lembang yang mulai turun. Di tengah ruangan, sudah ada meja makan yang dihias dengan lilin-lilin kecil dan kelopak bunga mawar—persiapan Langit yang sangat tidak terduga bagi Jelita.
"Wow... Lang, ini cantik banget," gumam Jelita tulus.
Langit memeluk Jelita dari belakang, menaruh dagunya di bahu gadis itu. "Satu tahun, Jee. Satu tahun lo nemenin gue yang berantakan ini. Lo yang bikin gue tahu rasanya sayang sama satu cewek sampe nggak mau lirik yang lain. Makasih ya udah mau jadi murid paling bebal tapi paling gue cinta."
Suasana mendadak menjadi sangat emosional. Langit mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari saku celananya. Isinya adalah sebuah gelang perak dengan inisial nama mereka berdua yang terukir halus.
"Ini buat lo. Biar orang tahu, lo udah dikunci sama Langit," bisik Langit sambil memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Jelita.
Makan malam pun dimulai. Mereka makan steak dan wine ringan sambil bercerita tentang setahun perjalanan mereka. Dari momen ciuman pertama di Porsche yang bikin Jelita marah-marah, sampai momen Jelita mabuk berat bahas kucing agen rahasia. Tawa mereka memenuhi ruangan itu, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Lang, lo beneran sayang ya sama gue?" tanya Jelita tiba-tiba, matanya menatap dalam ke mata Langit.
Langit meletakkan garpunya, meraih tangan Jelita dan mengecup jemarinya satu per satu. "Lebih dari yang lo tahu, Jee. Lo itu satu-satunya alasan gue pengen jadi orang yang lebih baik setiap hari. Gue nggak mau kehilangan lo, dan gue nggak bakal biarin siapa pun ambil lo dari gue. Termasuk 'hantu' dari masa lalu lo itu."
Jelita tersenyum, hatinya terasa sangat penuh. Di bawah cahaya lilin yang temaram, wajah Langit terlihat sangat tampan sekaligus rapuh. Jelita merasa beruntung. Sangat beruntung. Dia tidak lagi peduli siapa yang dulu meninggalkannya, karena sekarang dia punya pria yang selalu menggandengnya sekuat tenaga.
Selesai makan malam, udara Lembang semakin dingin menggigit. Langit menyalakan perapian di ruang tengah. Mereka duduk berdua di atas permadani bulu yang tebal, berselimut satu kain yang sama.
"Jee..." panggil Langit dengan suara yang mulai berubah serak.
"Hmm?"
"Lo tau kan, kalau di Bandung itu udaranya dingin banget?"
"Iya, terus?"
Langit menyeringai nakal, tatapannya mulai turun ke arah bibir Jelita yang merah karena sisa wine. "Tugas tutor gue malam ini berat banget, Jee. Gue harus mastiin murid gue ini nggak kedinginan. Dan kayaknya... cara konvensional pake selimut aja nggak cukup."
Jelita tertawa kecil, mendorong dada Langit pelan. "Sesat banget sih otak lo, Lang!"
"Tapi lo suka kan?" Langit menarik Jelita hingga gadis itu kini berada tepat di pangkuannya.
Aroma parfum Langit yang mewah bercampur dengan aroma kayu manis dari perapian menciptakan suasana yang sangat memabukkan. Langit mulai menciumi leher Jelita, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh Jelita.
"Lang... katanya mau seru-seruan dulu," bisik Jelita lemah, meskipun tangannya sudah mulai masuk ke rambut Langit, menarik pria itu agar semakin dekat.
"Ini namanya seru-seruan level pro, Sayang. Kita udah satu tahun, masa levelnya masih dasar terus?" gumam Langit di sela-sela ciumannya.
Langit membawa Jelita ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lampu-lampu kota Bandung yang berkelap-kelip jauh di bawah sana. Dia memeluk Jelita dari belakang, membiarkan kulit mereka bersentuhan di tengah dinginnya malam.
"Gue mau malam ini jadi malam yang paling lo inget seumur hidup lo, Jelita Anna Tasya," bisik Langit tepat di telinga Jelita.,
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣