Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Menunggu Tidak Selalu Berarti Akan Didatangi
Waktu berlalu.
Kehidupan di Adinata Residence 3 tetap berjalan seperti biasa. Tenang. Teratur.
Tidak ada yang berubah--setidaknya di permukaan.
"Nona." Winda mendekati Shafiya yang berdiri di depan jendela kamarnya. Pagi itu.
"Mau sarapan di sini? Atau di ruang makan?"
Tawaran itu biasanya datang jika Sagara tidak ada di rumah. Atau ada tapi tidak memilih sarapan di sana.
Dan Shafiya menangkap arahnya.
"Tuan berangkat lebih awal?"
"Kata bu Ratri, tuan berangkat ke Singapura tadi malam."
Ternyata bukan hanya sekedar berangkat lebih awal.
Shafiya mengangguk. Terlalu cepat.
"Mungkin seminggu. Karena setelah itu lanjut ke Jepang." Winda melanjutkan. Mengikuti keterangan Ratri barusan.
"Saya tetap sarapan di sana, Mbak," kata Shafiya. Tidak ada perubahan raut wajah. Seolah itu sudah biasa.
"Menu seperti biasa ya," pintanya.
"Baik, Nona." Winda mundur, dan keluar kamar dengan langkah cepat.
Sepeninggal Winda, Shafiya menarik napas pelan. Benaknya merangkai apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tepatnya setelah ia diajak ke kantor Adinata langsung dari pesantren--beberapa hari yang lalu.
Sejak saat itu.
Sagara memang kembali pada ritmenya.
Pekerjaan. Rapat. Keputusan.
Dan... jarak.
Ia tidak memanggil Shafiya tanpa ada perlu, Seperti biasa. Tidak menunggu apapun untuk semua jenis kesibukannya. Ia sarapan lebih dulu, atau bahkan tidak sama sekali.
Tidak memberi jeda lebih lama dari yang seharusnya ketika bicara. Bahkan hampir tidak pernah bicara.
Segala sesuatu kembali… pada batasnya.
kembali seperti semula.
Seolah apa yang terjadi di kantor--kedekatan mereka hari itu, tidak pernah ada.
Safiya menyadarinya. Tapi tak pernah mempertanyakan. Kendati terasa ada yang kurang. Ada yang terasa hilang, setelah sesaat datang.
Dan puncaknya hari ini. Sagara pergi. Jauh. Dan untuk waktu cukup lama. Tapi ia tidak punya waktu untuk berpamitan. Atau memang tidak ingin.
Rupanya Shafiya telah meminta yang begitu besar. Meski tak pernah diucapkan. Yaitu, anggapan. Dan itu seperti tak akan bisa ia dapatkan.
Beberapa hari berlalu. Dan waktu yang ditunggu itu, akan segera tiba. Usia kehamilannya tepat memasuki bulan ke 4. Saat krusial untuk tumbuh kembang bayi dalam rahim.
Dan malam ini tepat seminggu Sagara pergi.
"Bu Ratri." Shafiya bertemu dengan Ratri di koridor.
"Ya, Nona."
Ratri mendekat. Dua langkah berhenti. Sedikit mengangguk.
"Tuan sudah pulang?" tanya Shafiya langsung.
"Seharusnya malam ini." Ratri melihat jam tangannya. Hampir jam 10 malam.
"Tapi belum."
"Kalau sudah pulang. Tolong beritahu. Saya ada hal penting yang perlu disampaikan," kata Shafiya langsung.
"Baik, Nona."
"Terima kasih, Bu Ratri."
Shafiya tersenyum dan segera berlalu melintasi koridor itu untuk kembali ke kamarnya.
Malam berlalu terlalu lambat untuk seseorang yang sedang menunggu. Waktu terasa enggan beranjak. Shafiya hampir tak bisa pejamkan mata. Ia baru merengkuh tidurnya setelah lewat jam satu dini hari. Dan ia bangun seperti biasa. Melakukan rutinitas seperti biasa.
Pagi itu saat sarapan. Tiba-tiba Ratri mendekat.
"Nona. Tuan sudah datang. Semalam."
Shafiya mendongak. Sendok yang terangkat itu berhenti.
"Lewat tengah malam. Tapi tadi jam lima langsung berangkat ke kalimantan. Ke perusahaan tambang yang ada di sana."
Shafiya menunduk. Menatap menu sarapannya yang belum tersentuh.
"Saya sudah sampaikan kalau, Anda ada perlu. Mungkin tuan akan menelepon."
"Terima kasih, Bu Ratri."
Ratri mengangguk dan mundur. Kembali berdiri di sisi ruangan.
"Sesibuk itu ya," lirih Shafiya hampir tak kedengaran. Dan selera makannya hilang begitu saja.
Sepanjang hari itu Shafiya menunggu. Tatapannya hampir tak lepas dari benda pipih itu. Seolah Sagara benar-benar akan meneleponnya. Meski ia belum pernah bertanya nomor, tapi bagi Sagara bukan hal yang susah untuk mendapatkannya.
Tapi waktu terus berlalu. Dan ponselnya tetap dingin. Tak ada notif panggilan atau pun pesan yang datang. Tidak ada.
Hingga hari pun berlalu. Siang berganti malam.
Malam itu Shafiya tidak bisa tidur.
Ia sudah mencoba berbaring. Mengatur napas. Memejamkan mata. Namun pikirannya tetap terjaga. Akhirnya ia bangkit.
Melangkah pelan keluar dari kamar. Melintasi beberapa koridor. Menuju ke ruang depan.
Lampu utama tidak dinyalakan.
Hanya cahaya temaram dari sudut ruangan.
Dan itu cukup untuk membuat segalanya terlihat… tanpa benar-benar terang.
Shafiya duduk di kursi yang menghadap ke pintu. Diam untuk waktu yang cukup lama.
Ponselnya yang masih berada di genggaman tetap kosong.
Waktu yang berjalan terasa sangat pelan.
Namun Shafiya terus melewatinya dengan mencoba tenang.
Hingga suara mobil terdengar dari luar.
Shafiya langsung menoleh.
Jantungnya berpacu sedikit lebih cepat.
Lampu halaman menyala.
Mobil itu masuk. Tepat di depan teras, berhenti.
Terdengar pintu mobil terbuka.
Satu sosok turun. Melangkah cepat melintasi teras yang tinggi dan cukup panjang. Lalu pintu utama terbuka. Ia masuk.
Bukan Sagara.
Tapi Agam.
Langkah Shafiya sempat tertahan.
Namun ia tetap berdiri.
Menunggu.
Langkah Agam sempat berhenti begitu melihat Shafiya masih berada di ruang depan itu.
“Nona… belum istirahat?” Ia bertanya dengan nada sedikit heran. Karena belum pernah ia melihat Shafiya masih di sini malam-malam.
“Mas Agam…”
Shafiya mendekat satu langkah.
“Mas Sagara… belum pulang?”
Ia langsung bertanya. Mengabaikan pertanyaan Agam barusan. Karena memang itulah jawabannya.
Agam menatapnya beberapa detik.
Seolah memahami sesuatu.
“Belum, Nona.”
Jawaban jujur.
“Sagara masih di Kalimantan.”
Shafiya mengangguk pelan. Rautnya berubah. Namun tidak langsung mundur.
Seolah masih ada yang ingin ditanyakan.
Agam menangkap itu.
“Tadi siang rapatnya mundur. Ada beberapa hal yang harus ditangani langsung di lapangan.”
Ia menjelaskan tanpa diminta.
“Sagara mungkin baru kembali besok… atau lusa," lanjut Agam.
"Oh begitu ya." Ucapan itu pelan. Hampir lirih.
Agam mengangguk.
“Kalau ada yang perlu disampaikan, saya bisa bantu sampaikan.”
Shafiya menatapnya beberapa detik.
Lalu menggeleng.
“Tidak apa-apa," katanya pelan.
“Saya tunggu saja.”
"Baiklah."
Agam Tidak memaksa.
Namun tatapannya sempat menahan.
Seolah ingin memastikan sesuatu.
“Anda baik-baik saja, Nona?"
"Iya." Jawaban yang terlalu singkat.
Agam kembali mengangguk. "Saya ditugas mengambil berkas di ruang kerja."
"Silakan." Shafiya mundur untuk memberi ruang.
Agam berlalu dengan langkah cepat.
Shafiya kembali duduk perlahan.
Ponsel itu masih di tangannya.
Namun kini tidak lagi ditatap.
Karena ia sudah tahu jawabannya.
Sagara tidak akan pernah menelepon.
Shafiya masih duduk di sana, saat Agam kembali dengan membawa map tipis berwarna cokelat.
"Nona." Ia menahan langkah. Menatap Shafiya lebih lama.
"Sudah malam. Sebaiknya Anda istirahat."
"Iya. Terima kasih."
"Saya lanjut."
Shafiya mengangguk.
Agam keluar dengan langkah bergegas.
Pintu utama kembali menutup diiringi helaan napas Shafiya.
Malam itu tetap berlanjut.
Dengan sunyi yang sama.
Dan satu hal yang mulai terasa lebih jelas.
menunggu…
tidak selalu berarti akan didatangi.
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering