Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - Tekanan Berat
Hutan Arvandor terasa semakin sunyi setelah pertarungan sebelumnya. Udara dingin merayap perlahan masuk ke paru-paru, membuat setiap tarikan napas terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada tekanan tak kasat mata yang ikut menekan dada. Sinar matahari yang menembus sela dedaunan tampak redup dan tidak utuh, seperti terhalang oleh sesuatu yang tidak terlihat namun jelas terasa.
Alverion Dastan berdiri sedikit terpisah dari timnya. Jarak itu tidak ia buat dengan sengaja, tetapi terbentuk begitu saja dari suasana yang tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar menjauh, tetapi tidak ada pula yang berusaha mendekat.
Varian Zevran masih memandangnya dengan sorot tajam yang belum memudar sejak pertarungan terakhir. Tatapannya tidak lagi sekadar meremehkan, melainkan penuh perhitungan yang lebih dalam. Lysera Virel memilih diam, tetapi dari cara ia menghela napas dan mengalihkan pandangan, jelas terlihat bahwa kesabarannya mulai menipis. Sementara Caelis Rhydor tetap tenang seperti biasa, meskipun sesekali melirik ke arah Alverion dengan perhatian yang lebih dari sebelumnya.
Mereka kembali bergerak menyusuri hutan tanpa aba-aba yang jelas. Tidak ada lagi koordinasi yang benar-benar terucap, hanya langkah yang saling mengikuti tanpa kesepakatan. Keputusan diambil secara sepihak, dan yang lain menyesuaikan diri tanpa benar-benar menerima.
Alverion merasakan perubahan itu dengan jelas. Tekanan yang muncul bukan hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari dinamika tim yang perlahan retak. Ketidakseimbangan itu semakin terasa setiap langkah mereka bertambah dalam.
Di dalam pikirannya, sistem itu kembali aktif dengan kehadiran yang samar namun tidak bisa diabaikan. Sebuah notifikasi muncul di batas kesadarannya, tidak terlalu jelas namun cukup untuk dipahami. Informasi itu seperti bergetar pelan, seolah menunggu untuk diperhatikan tanpa benar-benar memaksa.
Misi baru terdeteksi. Bertahan hidup dalam kondisi tekanan tinggi dengan parameter tambahan berupa peningkatan potensi ancaman. Hadiah yang dijanjikan adalah peningkatan atribut, sementara risiko yang menyertai adalah kehilangan kendali.
Alverion menghela napas perlahan, mencoba menjaga ritme agar tetap stabil. Sistem itu tidak pernah memberi sesuatu secara cuma-cuma, dan setiap keuntungan selalu diiringi konsekuensi yang harus dibayar. Kali ini, tekanannya datang bersamaan dari berbagai arah, membuatnya tidak punya banyak ruang untuk bersantai.
“Jangan sampai tertinggal,” suara Varian terdengar dari depan.
Alverion tidak menanggapi secara langsung. Ia tetap melangkah dengan ritme yang sama, tidak mempercepat dan tidak memperlambat. Ia tidak berniat memancing konflik, tetapi juga tidak akan tunduk hanya karena tekanan dari orang lain.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di area yang lebih terbuka. Tanah di tempat itu tampak lebih kering dengan warna yang sedikit lebih pucat, sementara jejak pertempuran lama masih terlihat samar di permukaan. Pohon-pohon tumbuh dengan jarak yang lebih renggang, menciptakan ruang yang luas namun minim perlindungan.
Tempat seperti itu tidak memberikan banyak pilihan saat terjadi serangan. Tidak ada cukup bayangan untuk bersembunyi, dan tidak ada banyak rintangan untuk dimanfaatkan sebagai perlindungan. Ruang terbuka seperti itu sering kali menjadi lokasi yang dipilih oleh makhluk yang mengandalkan jumlah atau kekuatan langsung.
Lysera berhenti lebih dulu, langkahnya melambat sebelum akhirnya benar-benar terhenti. Ia mengamati sekitar dengan mata yang lebih fokus, seolah mencoba menangkap sesuatu yang tidak terlihat secara kasat mata.
“Ada sesuatu yang aneh,” katanya pelan.
Caelis mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari sekeliling. Ia tidak banyak bicara, tetapi reaksinya menunjukkan bahwa ia merasakan hal yang sama. Kewaspadaan mereka meningkat dalam waktu singkat.
Varian memutar bahunya dengan santai, seolah tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan suasana. Sikapnya tetap sama, percaya diri dan sedikit meremehkan situasi yang belum sepenuhnya ia pahami.
“Kita sudah sejauh ini. Jangan bilang kalian ingin mundur.”
Alverion tidak langsung menanggapi. Ia membiarkan instingnya bekerja lebih dulu, mencoba membaca perubahan energi di sekitar mereka. Ada sesuatu yang terasa tidak stabil, seperti gelombang yang bergerak di bawah permukaan tanpa benar-benar terlihat.
Perasaan itu tidak berlangsung lama sebelum akhirnya terbukti.
Dalam hitungan detik, suara gemuruh terdengar dari berbagai arah. Tanah bergetar ringan, cukup untuk membuat keseimbangan terasa terganggu. Daun-daun di sekitar mereka bergeser, menandakan pergerakan cepat dari sesuatu yang mendekat.
Makhluk-makhluk itu muncul hampir bersamaan. Dari balik pepohonan dan semak-semak, jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Bukan sekadar satu atau dua, tetapi lebih dari sepuluh dengan jarak yang cukup rapat.
Situasi berubah secara drastis.
Varian justru tersenyum tipis saat melihatnya. Ada semacam antusiasme dalam ekspresinya yang tidak sepenuhnya wajar dalam kondisi seperti itu.
“Bagus. Ini baru ujian.”
Ia langsung melesat maju tanpa menunggu reaksi yang lain. Gerakannya cepat dan agresif, seolah ingin mengambil kendali penuh atas situasi.
Lysera mengumpat pelan sebelum ikut bergerak. Ia tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri dengan tempo yang sudah ditentukan. Caelis memilih jalur berbeda, bergerak ke posisi yang memberinya ruang untuk mengamati sebelum menyerang.
Alverion tetap di belakang selama beberapa detik, mengamati pola pergerakan makhluk dan anggota timnya. Ia mencoba memahami arah serangan dan celah yang mungkin muncul, tetapi tekanan segera datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.
“Jangan cuma berdiri!” teriak Varian.
Salah satu makhluk berhasil menembus garis depan dan langsung mengarah ke Alverion. Gerakannya cepat dengan serangan yang tajam, memanfaatkan celah kecil yang terbuka.
Alverion bergerak menghindar dengan langkah yang efisien. Serangan itu hanya menyisakan hembusan angin di sisi tubuhnya sebelum ia membalas dengan pukulan terarah. Serangan itu cukup untuk menjatuhkan makhluk tersebut tanpa menarik perhatian berlebihan.
Ia masih menahan diri. Ia tetap berada dalam batas yang sudah ia tetapkan sejak awal. Namun kondisi di lapangan tidak memberi banyak ruang untuk mempertahankan strategi itu.
Jumlah musuh terlalu banyak, dan tekanan dari berbagai arah mulai memecah fokus tim.
Lysera mulai kewalahan di sisi kiri. Gerakannya masih terkontrol, tetapi jelas ia mulai kehilangan ruang. Caelis mampu bertahan dengan efisiensi yang sama, tetapi bahkan ia mulai terdesak oleh jumlah. Varian masih menyerang tanpa henti, tetapi ritmenya mulai terganggu.
“Alverion!” suara Lysera terdengar.
Alverion langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat dua makhluk menyerang Lysera secara bersamaan dari sudut yang sulit dijangkau. Jarak di antara mereka terlalu jauh untuk ditutup dengan gerakan biasa.
Jika ia tetap menggunakan batas yang sama, ia tidak akan sempat.
Di saat yang sama, sistem kembali bereaksi.
Peringatan muncul dengan jelas. Batas penggunaan energi mendekati ambang, disertai rekomendasi untuk melepaskan sebagian kendali. Konsekuensi yang ditampilkan tetap sama, instabilitas meningkat.
Alverion mengepalkan tangan, merasakan ketegangan di dalam dirinya sendiri. Pilihan itu kembali muncul dengan cara yang tidak bisa diabaikan. Ia bisa tetap menahan diri dan melihat timnya runtuh, atau ia bisa melangkah lebih jauh dan menerima konsekuensinya.
Waktu tidak memberi ruang untuk berpikir terlalu lama.
Ia bergerak.
Langkahnya berubah dengan jelas. Pergerakan yang sebelumnya terukur kini menjadi lebih cepat dan lebih tajam, memotong jarak dengan efisiensi yang tidak biasa. Dalam sekejap, ia sudah berada di posisi yang sebelumnya tidak mungkin ia capai dalam waktu sesingkat itu.
Serangannya tepat sasaran. Pukulan pertama menghentikan makhluk yang paling dekat, sementara gerakan berikutnya mengalihkan arah serangan makhluk kedua hingga kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya dijatuhkan.
Lysera sempat terdiam sesaat, bukan karena tidak mampu bergerak, tetapi karena perubahan itu terlalu jelas untuk diabaikan. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Alverion bergerak, sesuatu yang tidak ia tunjukkan sebelumnya.
Alverion tidak berhenti setelah itu. Ia terus bergerak, tetapi tetap menjaga batas yang masih bisa ia kendalikan. Ia tidak membuka seluruh kemampuannya, hanya cukup untuk menutup celah yang muncul dan menjaga situasi agar tidak runtuh.
Varian memperhatikan dari kejauhan dengan mata yang menyipit. Ekspresinya berubah, tidak lagi hanya berisi kepercayaan diri, tetapi juga rasa penasaran yang mulai tumbuh.
“Itu…” gumamnya pelan.
Caelis juga melihat perubahan itu dengan jelas. Tatapannya menjadi lebih tajam, seolah mencoba menganalisis setiap gerakan yang dilakukan Alverion.
Pertarungan berlanjut, tetapi ritmenya berubah. Alverion mulai mengambil peran sebagai penyeimbang, bukan sebagai pusat, tetapi sebagai penghubung yang menjaga semuanya tetap berjalan. Setiap celah yang muncul segera ditutup, setiap kesalahan arah diperbaiki sebelum berkembang menjadi masalah.
Tim yang hampir runtuh perlahan menemukan kembali bentuknya, meskipun tidak sepenuhnya stabil.
Namun harga yang harus dibayar mulai terasa.
Di dalam tubuhnya, energi bergerak tidak teratur. Detak jantungnya meningkat, dan penglihatannya sempat bergetar sebelum kembali fokus. Ia harus terus menahan dan mengatur agar tidak kehilangan kendali.
Akhirnya, satu per satu makhluk itu berhasil mereka jatuhkan. Suara benturan mereda, digantikan oleh keheningan yang lebih dalam dari sebelumnya.
Mereka berdiri di tempat masing-masing, mencoba mengatur napas setelah tekanan yang tidak sebentar. Tidak ada yang langsung berbicara, tetapi suasana di antara mereka berubah dengan cara yang tidak bisa disembunyikan.
Varian menatap Alverion tanpa mengalihkan pandangan.
“Kamu menyembunyikan sesuatu,” katanya.
Alverion tidak langsung menjawab. Ia memastikan napasnya kembali stabil sebelum akhirnya mengangkat kepala.
“Aku hanya menyesuaikan diri.”
Lysera tetap diam, tetapi matanya tidak lepas dari Alverion. Caelis melangkah sedikit lebih dekat, memperhatikan dengan cara yang lebih terbuka dari sebelumnya.
“Gerakanmu berubah,” ucapnya tenang.
Jawaban Alverion sederhana, tetapi jelas tidak cukup untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Varian tersenyum tipis, kali ini dengan makna yang berbeda.
“Menarik.”
Ia tidak melanjutkan pertanyaan, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia belum selesai. Sesuatu telah berubah dalam cara mereka memandang Alverion, dan perubahan itu tidak bisa dikembalikan seperti semula.
Alverion merasakan tekanan itu dengan jelas. Bukan hanya dari sistem yang masih aktif di dalam dirinya, tetapi juga dari tim yang kini mulai melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.
Ia berhasil menjaga keseimbangan untuk saat ini. Namun ia tahu, langkah kecil yang ia ambil barusan akan membawa konsekuensi yang lebih besar di depan.