NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa yang Terluka?

Awalnya pelan, menikmati setiap detiknya, tapi kemudian lengannya mengerat di punggung Gwen dan dia merebahkan diri ke sofa, menarik Gwen ikut bersamanya.

Gwen kehilangan arah, pikirannya berantakan, tubuhnya seperti ditarik arus yang terlalu kuat untuk dilawan. Segalanya terasa terlalu cepat, terlalu intens, sampai akhirnya semuanya mereda dalam napas yang tersisa dan tubuh yang masih bergetar.

Raymon mengusap dari leher Gwen sampai ke punggungnya dengan gerakan pelan.

Gwen berbaring di atas dadanya, tidak bergerak selama beberapa menit.

“Gwen? kamu baik-baik aja?”

“Iya,” gumam Gwen. “Aku cuma… gak mau pindah. Enak di sini.”

“Aku juga suka kamu di sini, Babby.”

...***...

Gwen terbangun karena suara ketukan cepat di atas kepalanya.

Dia meregang sedikit, membuka mata, dan menyadari dirinya masih di sofa, dengan bantal di bawah kepala dan selimut menutupi tubuhnya. Lampu sudah dimatikan, televisi menyala tanpa suara, menampilkan berita.

Suara ketukan berhenti, lalu dia merasakan jemari menyisir rambutnya.

Gwen mendongak dan melihat Raymon duduk di ujung sofa dekat kepalanya. Rambutnya masih basah, laptop di pangkuannya.

“Kamu ketiduran tadi,” kata Raymon.

“Jam berapa sekarang?”

“Setengah delapan. Aku bilang ke Carolina kita bakal makan di sini pas kamu bangun.”

“Kedengarannya enak.”

Gwen bangkit, membungkus tubuhnya dengan selimut. “Aku mandi dulu.”

“Oke. aku suruh dapur kirim makanannya,” jawab Raymon sambil kembali mengetik.

Gwen berjalan menuju kamarnya, merasa ada yang aneh. Mereka baru saja tidur bersama.

Itu artinya apa sekarang?

Ini bukan lagi sekadar kesepakatan bisnis, kan?

Apa mereka harus pura-pura tidak terjadi apa-apa?

Gwen tidak yakin dia bisa melakukan itu. Jujur saja, dia tidak mau. Mereka harus membicarakannya.

Biasanya dia tipe orang yang suka mengabaikan masalah, tapi kali ini rasanya tidak ada karpet yang cukup besar untuk menyembunyikan semuanya.

Setelah mandi, Gwen kembali ke ruang keluarga, berniat membicarakan semuanya.

Tapi Raymon sudah berpakaian rapi di kursi rodanya, sedang mengenakan jam tangan.

“Ada apa?”

“Ada urusan. Jangan tunggu aku,” katanya singkat, lalu pergi sebelum Gwen sempat membalas.

Gwen berdiri memandangi pintu, lalu berjalan ke jendela besar yang menghadap halaman depan.

Ada tiga mobil terparkir, dengan empat pengawal berjaga di sampingnya.

Beberapa menit kemudian, Raymon, Troy, dan Dalton keluar dari rumah dan masuk ke mobil, diikuti beberapa pengawal lain.

Mobil-mobil itu pun pergi.

Beberapa waktu kemudian, Dottie datang membawa makan malam, tapi Gwen hanya membiarkannya di meja, berharap Raymon segera kembali.

Dia tidak kembali.

Sekitar pukul sepuluh, Gwen akhirnya makan sedikit ikan panggang yang sudah dingin dan salad. Setelah itu dia memasukkan sisanya ke kulkas dan menonton televisi.

Setiap lima belas menit, dia berdiri dan melihat ke luar jendela, berharap mobil-mobil itu kembali.

Menjelang tengah malam, dia akhirnya memutuskan untuk tidur.

Suara pintu mobil dibanting dan teriakan membangunkannya. Gwen langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari ke jendela.

Dua mobil sudah kembali.

Beberapa pintu masih terbuka, dan para pria terakhir sedang masuk. Dua orang menopang seorang pria lain di antara mereka, hampir menyeretnya naik tangga.

Sial.

Gwen berlari kembali ke kamar, mengenakan hoodie dan celana panjang di atas piyamanya, lalu bergegas menuju tangga besar.

Lorong tampak sepi.

Dia berbalik dan melihat bercak darah di lantai, membentuk jejak menuju lorong kanan, ke arah dapur.

Gwen mengikuti jejak merah itu hingga sampai di pintu dapur yang terbuka lebar. Suara panik dan teriakan terdengar dari dalam.

Darahnya terasa membeku saat melihat Carolina membungkuk di atas Dalton.

Pria itu terbaring di atas meja dapur, sementara Troy menekan kain berdarah di tubuhnya. Salah satu pengawal datang berlari, meletakkan kotak medis di dekat kepala Dalton, lalu menggantikan Troy, yang langsung menuju wastafel dan mencuci tangannya dengan cepat.

Semua orang berteriak, dan Gwen tidak mengerti satu pun kata yang mereka ucapkan.

Tapi pemandangan itu sudah cukup jelas. Ada yang salah.

Dan Raymon… di mana dia?

Dua pengawal lagi masuk ke dapur, membawa seorang pria kurus dengan koper medis di tangannya. Dokter itu langsung menuju wastafel dan, seperti Troy tadi, mulai mencuci tangannya dengan cepat.

Setelah mengenakan sarung tangan steril, mereka mendekati Dalton yang pucat, tapi masih sadar dan terengah-engah.

Dokter itu melihat lukanya di balik kain, lalu menyiapkan jarum dan benang, sementara Troy membersihkan luka tersebut.

Langkah kaki terdengar dari belakang Gwen. Pengawal terakhir masuk ke dapur, diikuti Raymon.

Gwen langsung mengembuskan napas lega saat melihat Raymon tidak terluka. Dia mendekat dan memegang wajah pria itu dengan kedua tangan, lalu menciumnya.

Ciuman itu penuh emosi, nyaris kasar.

“Ya Tuhan, Raymon,” bisiknya. “Apa yang terjadi?”

“Ada sedikit masalah sama pemasok kami. Situasinya jadi gak terkendali.”

“Dalton?”

“Kena tusuk di sisi tubuhnya. Dia bakal selamat.”

Gwen menoleh ke arah meja dapur, di mana dokter tampaknya sudah hampir selesai menjahit luka Dalton. Troy sedang memasang infus di lengannya, sementara Carolina memegang kantong cairan.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Gwen.

“Enggak. Kita ke atas aja. Carolina sama Troy udah pegang semuanya, dan dokternya bakal stay di sini semalaman.”

“Memang selalu kayak gini? Bisnis kacau, orang ditusuk atau ditembak?” tanya Gwen saat mereka masuk ke suite. Tubuhnya masih gemetar. “Atau mobil meledak?”

“Gak selalu. Tapi kadang terjadi.”

Tenggorokan Gwen terasa kering. Bagaimana Raymon bisa setenang ini?

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!