Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Sore menjelang malam, aku bersama Maya bertemu di sebuah kafe keluarga yang cukup cozy. Di sana kami mengobrolkan banyak hal. Aku merasa obrolan kami cukup seru sekaligus nyambung, hanya saja di detik-detik terakhir pertemuan kami, tiba-tiba Maya mengeluarkan sebuah kalimat yang aku yakin bertujuan untuk menjebakku. Aku sempat terdiam menatap Maya dengan ekspresi bingung karena senyum liciknya selalu saja membuatku kerepotan. Ada juga pemikiran bahwa aku tidak ingin terjebak, hingga akhirnya aku memikirkan kata 'Itu' dengan keras—apa sebenarnya yang sedang dia rencanakan?
"Itu? Apa 'itu' yang kamu bicarakan?" tanyaku menekannya. Di ruangan berpendingin udara ini, aku masih saja berkeringat hanya karena melihat senyum licik Maya.
"Kamu benar-benar lupa? Setiap awal semester, dari kelas satu sampai kelas tiga akan mengadakan study tour," jawab Maya dengan senyum khasnya. Aku pun teringat kenangan yang dimaksud oleh Maya.
Ah... benar juga. Sekolahku memang punya program menyebalkan itu setiap tahun ajaran baru. Setiap tahunnya, SMA (Sekolah Menengah Atas) ini akan menentukan lokasi wisata sesuai dengan kesepakatan antar kelas dan kami semua akan menaiki bus. Meskipun kurang ingat detailnya, aku yakin pernah melewati masa-masa ini sampai tiga kali di kehidupan sebelumnya. Dulu aku rasa aku pernah ke gunung, ke pantai, dan terakhir kami ke salah satu candi di luar kota.
"Kita bakal dibagi berkelompok. Kalau kamu seperti ini terus, kamu bakal melalui perjalanan dengan canggung dan punya kenangan buruk," celetuk Maya mengejekku.
Aku kesal kalau mengingat kejadian itu. Sampai saat ini pun aku tidak bisa melupakan pengalaman buruk sepanjang study tour.
"Ugh! Iya, sih!" geramku ketika teringat kalau acara study tour akan diadakan dalam beberapa bulan lagi, tepatnya sebelum ujian semester satu dimulai.
Meski di kelas aku sudah terbiasa diperlakukan layaknya makhluk yang tidak diperlukan—bahkan dianggap tidak ada—aku tetap belum terbiasa saat ada yang berseru, "Ada yang masih belum dapat kelompok?" Rasanya itu jauh lebih menyakitkan dibanding aku berada di kelas sendirian. Antara malu karena tidak ada yang menginginkanku dan aku yang memang tidak ingin berinteraksi dengan mereka semua.
"Lebih baik kamu persiapkan mental mulai sekarang~" Maya terdengar mengejek dan menggodaku dengan kalimat itu.
Kesal rasanya, karena ini satu-satunya acara yang membuatku merasa menyesal menjadi seorang serigala penyendiri.
"Kamu sudah berasumsi kalau aku bakal jadi orang sisa di kelas?!" bentakku. Maya malah tersenyum mengejek sambil mengedikkan bahunya.
"Kalau sudah jelas begitu, enggak ada gunanya juga aku memperhalus bahasaku," ucap Maya menghina. Apa yang dikatakan Maya tidak ada yang salah, tapi apa memang sesulit itu memperlakukanku dengan lebih baik?
Seketika aku teringat hal penting yang perlu kutanyakan kepada Maya. Aku sampai lupa menanyakan hal penting ini, padahal sudah beberapa kali aku bertemu hanya berdua saja dengannya di kafe ini...
"Hei, boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku.
"Tanya apa?" tanya Maya, lalu dia meminum teh di dalam gelas menggunakan sedotan. Dia seolah-olah tidak mau peduli dengan apa pun pertanyaanku.
"Kamu punya pacar?" tanyaku lagi dengan nada datar.
Maya menyedot minumannya sampai habis dalam satu kali tarikan napas, lalu dia menatapku tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Apa?" tanyaku heran dengan tingkahnya. Perlahan, Maya melepaskan sedotan dari bibirnya yang mungil itu.
"Hmp! Ternyata orang madesu (masa depan suram) kayak kamu penasaran sama hal begitu, ya," celetuknya sambil membuang muka menatap kaca jendela. Entah apa yang sedang dia lihat di luar sana.
"Kurasa begitu," jawabku tenang.
"Ka... kamu keberatan... kalau aku punya pacar?" tanya Maya. Perlahan dia melirikku dengan mata lentiknya, terlihat rona merah di kedua pipinya.
"Sepertinya iya," jawabku tegas.
Seketika aku melihat Maya tersentak sampai sempat menatapku sejenak, lalu dia segera membuang muka untuk menatap langit-langit kafe.
"Eh... gi... gitu, ya!" timpalnya. Aku diam sesaat karena bingung dengan gelagat Maya sejak aku menanyakan hal tadi.
Entah kenapa aku merasa Maya sudah salah paham tentang sesuatu setelah aku bertanya seperti itu. Namun, mana mungkin dia salah paham kalau aku merasa cemburu kalau dia punya pacar? Tidak mungkinlah... Perlahan dia kembali menatapku dengan rona merah di pipi. Kedua tangannya dia tempelkan di pipi lalu berkata...
"Aku populer di kalangan anak laki-laki di sekolah, kan? Di kehidupan sebelumnya banyak laki-laki yang menembakku. Jadi, suatu saat nanti bisa jadi kita bisa bersama," jawabnya dengan tawa kecil. Kelihatan sekali kalau dia mendadak menjadi sangat percaya diri. Tapi, ya sudahlah, memang orangnya seperti itu.
"Berhenti mengatakan hal semacam itu secara tiba-tiba," timpalku tegas. Maya menghela napasnya cukup keras.
"Tolong anggap lebih serius jawabanku dong!" keluhnya terdengar kesal, lalu kembali melipat tangan di atas meja sambil membuang muka.
"Oke, tolong kasih tahu aku kalau suatu saat nanti kamu sudah punya pacar," pintaku.
"Mana mungkin aku kasih tahu ka... Eh? Gimana?" ucapnya heran. Dia pun menatapku dengan raut wajah kebingungan.
"Kamu... enggak keberatan?" tanya Maya lagi, mungkin karena aku hanya diam dengan wajah datar menatapnya.
"Gawat jadinya kalau kita bertemu seperti ini secara rutin seandainya kamu punya pacar. Kalau kamu memang sudah punya pacar, lebih baik kita hentikan keputusan untuk bertemu secara rutin di kafe ini," jelasku. Maya terdiam dan menatapku datar sampai beberapa detik.
"Hah?!" bentaknya tiba-tiba setelah terdiam beberapa saat. Aku sampai kaget dibuatnya.
"Haah... enggak, sih. Memang sudah kuduga sejak awal... Ya, memang sesuai perkiraanku..." Maya mengucapkannya agak bergumam sambil bersandar pada kursi.
"Entah apa yang sudah kamu pahami, tapi selama kamu paham, ya, sudah," timpalku.
Tiba-tiba Maya berdiri, menggebrak meja, lalu menunjukku dengan raut wajah marah, namun ada rona merah di pipinya.
"Sejak awal aku enggak pernah salah paham, ya! Karena itu aku mengerti semuanya dengan sempurna. Jadi enggak perlu ke-GR-an, Raka!" bentaknya terasa mengintimidasi. Aku bingung harus mengatakan apa.
"Oh... ya... bagus..." timpalku sedikit terbata.
Aku tidak mengerti kenapa Maya tiba-tiba marah seperti itu, seolah-olah dia punya dendam padaku. Padahal Maya bilang aku jangan salah paham. Masalahnya, aku memang tidak merasa memiliki kesalahpahaman apa pun atas hubungan ini.
"Pokoknya di kehidupan sebelumnya aku enggak punya pacar, dan di kehidupan ini pun aku enggak berniat buat cari pacar," celetuknya sambil kembali duduk dan memegang gelas minumannya yang sudah kosong, menyisakan es batu.
"Bukannya kamu populer di sekolah? Yakin enggak mau punya pacar?" tanyaku. Maya menggelengkan kepala.
"Pacaran di SMA itu cuma bikin pusing, terkhusus buat perempuan," jawab Maya tegas.
Kalau tidak salah, Vanya pernah mengatakan hal yang mirip dengan Maya ketika aku bertanya apakah dia punya pacar atau tidak di kehidupan pertamaku. Aku rasa memang dunia para gadis itu menyeramkan, dan aku makin yakin untuk tidak terlibat dengan masalah mereka.
"Lagian aku enggak ada niat punya pacar sampai Raka punya teman terlebih dahulu~" Dengan senyum lebar Maya mengatakannya padaku. Dia sedang membebaniku, kan?!
"Jangan beri tekanan aneh begitu ke aku!" timpalku dengan bentakan.
"Ya, makanya cari teman sana~" ucap Maya. Terdengar sekali kalau dia berniat mengerjaiku. Aku menghela napas lalu hendak menghabiskan minumanku.
"Jangan terlalu berharap," tegasku.
Maya pun tertawa sambil menatap keluar kaca jendela yang makin gelap karena matahari mulai terbenam. Kami pun kembali terdiam.
Setelah percakapan barusan, aku pun berpikir, untuk sementara rasa-rasanya tidak buruk juga untuk menjaga hubungan ini.
Hari pun mulai gelap. Perlahan tapi pasti, matahari makin tenggelam dan ini saatnya aku dan Maya berpisah. Kami pulang ke rumah masing-masing, dan aku malah jadi ke pikiran tentang acara sekolah yang menyebalkan itu. Mentalku belum siap untuk menghadapi semua kecanggungan acara tersebut. Namun, makin dipikirkan malah membuatku makin panik. Aku harus segera mengalihkan perhatian dari hal itu.
Sepanjang minggu aku melewati sekolah dengan tenang hingga tiba akhir pekan. Aku sengaja bangun pagi-pagi sekali pada akhir pekan dan menempuh perjalanan yang cukup jauh menggunakan MRT (Moda Raya Terpadu) menuju pusat kota. Aku masih saja ke pikiran tentang study tour itu sepanjang hari, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk me time supaya bisa merasa sedikit lebih tenang.
Aku ini tipe serigala penyendiri yang bisa saja menghabiskan seminggu penuh di dalam rumah. Namun, aku juga cukup sering keluar rumah hanya untuk memeriksa manga maupun novel baru yang dijual di toko buku dari waktu ke waktu, sampai aku hampir hafal jadwal terbit manga ataupun novel keluaran terbaru.
Di toko buku yang kutuju, biasanya aku sudah mengincar sebuah manga ataupun novel terbitan terbaru jauh-jauh hari. Ditambah ingatanku dari kehidupan sebelumnya, aku tidak akan pernah terjebak lagi untuk membeli manga ataupun novel yang ceritanya jelek. Meski begitu, kadang aku merasa seru juga kalau menginvestasikan uang yang dulu kupakai untuk buku jelek ke buku yang belum pernah aku baca sama sekali.
Di dalam toko buku itu, aku melihat-lihat sambil memilih beberapa buku yang tersusun rapi di dalam rak. Aku sering kali tertawa sendiri melihat novel keluaran terbaru yang masih terbungkus rapi, padahal aku sudah tahu isinya. Sambil memegang buku itu, aku berkata dalam hati, 'Oh, yang ini sudah pernah kubaca.' Ha ha ha... Rasanya seru, seolah-olah aku memiliki kemampuan khusus untuk membaca isi buku meski buku itu tertutup rapat. Yah... itu karena di kehidupanku sebelumnya aku sudah pernah membaca buku-buku tersebut.
Namun, ada beberapa manga ataupun novel yang membuatku bimbang karena isinya memang sangat bagus. Dalam hati aku berperang sendiri, 'Apa aku abaikan saja semua buku yang pernah kubaca dan menginvestasikannya ke buku yang belum pernah kusentuh? Tapi ada beberapa buku bagus terbitan tahun ini yang sangat menarik untuk dikoleksi dan dibaca ulang.' Nasibku bukan terlahir dari keluarga kaya, jadi aku harus bisa mempergunakan uang dengan bijak dan baik.
Aku sangat suka momen-momen seperti ini; memilih manga, novel, dan mencari tahu sekuel-sekuel dari cerita yang kuikuti di toko buku. Rasanya hal-hal seperti ini tidak akan pernah aku dapatkan kalau aku membeli buku secara daring. Kebahagiaan kadang bisa muncul dari hal sederhana tanpa memikirkan sesuatu yang ribet.
Setelah mencari-cari cukup lama, aku masih belum bisa memutuskan akan membeli buku apa karena pilihanku terlalu banyak, sedangkan uangku tidak begitu banyak. Jadi, aku memutuskan untuk kembali berjalan menyisiri rak-rak buku untuk mencari sesuatu yang lebih menarik. Namun, di pertengahan jalan langkahku terhenti karena melihat seorang gadis seusiaku dengan rambut pirang panjang ikal terurai.
Cewek itu mengenakan topi meski sedang berada di dalam ruangan. Dia juga mengenakan kaus dengan bahu sedikit terbuka dan crop top berlengan panjang, dipadukan rok pendek ala girlband Korea. Dia terlihat begitu... modis. Tidak aku sangka di toko buku para wibu ini ada tipe pelanggan yang berpenampilan modis seperti itu.
Kehadirannya tidak biasa, terlebih dia menatap tumpukan manga di rak buku seperti seorang psikopat. Matanya terlihat menatap tajam deretan buku seolah-olah sedang mengincarnya. 'Ternyata ada tipe wibu yang modis seperti ini, ya? Tapi kenapa dia menatap buku seperti itu?' tanyaku dalam hati. Saking ngerinya, aku sampai merinding.
Di saat aku menatap gadis itu, aku menyadari dia sudah memilih beberapa buku yang digenggam di tangan kirinya. Dan betapa terkejutnya aku ketika tahu buku yang dia pegang adalah... 'Sekumpulan novel komedi romantis! Selera kami sama!!' seruku dalam hati. Apa ini artinya aku telah bertemu dengan seseorang yang bisa kuajak berkenalan dan mengobrol?
Tapi... dilihat dari mana pun, dia tipe gadis ekstrover. Meskipun selera kami sama, itu bukan berarti pria madesu (Masa Depan Suram) ini bisa berkenalan begitu saja dengan gadis yang terlihat begitu cerah bagai matahari. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menjabat tangannya dalam imajinasiku lalu pergi menuju area lain untuk meneruskan petualanganku mencari buku baru... Menyedihkan...
Baru juga hendak berbalik, gadis itu tiba-tiba saja menoleh dan mata kami sempat bertemu. Aku tidak ingin mencari masalah, jadi aku langsung melangkahkan kaki untuk berjalan menjauhinya. Namun...
"Sial!" bentak gadis itu, dan bentakan itu sampai membuatku membeku di tempat.
Ayolah! Bukankah terlalu jahat mengatai orang dengan kata 'Sial' hanya setelah tidak sengaja saling bertatapan? Aku juga tidak mengganggunya, walau harus kuakui sempat memperhatikan apa yang dia lakukan di sana dengan seksama. Namun, tetap saja mengatai seperti itu terlalu kasar, kan? Tapi yah... aku tidak bisa menyalahkannya. Aku pun pasti akan ketakutan saat ada seorang wibu yang diam - diam menatapku untuk waktu yang cukup lama. Apa lagi dia seorang cewek, aku paham kenapa dia marah.
"Aku bicara padamu!" bentaknya, dan entah sejak kapan, sekarang dia sudah berada sangat dekat di belakangku.
"Eh," terkejut aku sampai hanya itu yang bisa kuucapkan.
Aku pun berbalik perlahan untuk menatap gadis itu. Dalam hati aku berkata, 'Apa ini alur pertama sebelum dia akan memerasku?' Namun, betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok asli gadis modis di hadapanku ini. Dia adalah...
"Hah?! Elma?!" Spontan aku meneriakkan nama itu. Aku tidak menyangka di tempat berkumpulnya para wibu ini, aku malah bertemu Elma, si cewek bandel sekolah!