NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:84.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Kontrak

Suara Adrian memecah keheningan ruangan persis seperti ketukan palu direksi. Angkuh dan mengikat.

Map tebal bersampul kulit hitam itu mendarat sedikit kasar di pangkuan Sabrina. Bobotnya langsung menekan area panggulnya yang bengkak. Rasa perih luar biasa menyengat pusat sarafnya secara instan. Sayatan jalan lahirnya berdenyut protes akibat pergerakan tiba-tiba tersebut. Sabrina membiarkan rasa sakit itu membakar batas kewarasannya tanpa menunjukkan seringai kesakitan di wajahnya.

"Itu adendum baru dari kontrak pernikahan kita," ucap Adrian.

Pria itu menarik kursi berbahan kulit di samping ranjang medis, lalu duduk menyilangkan kaki dengan keanggunan seorang predator yang sedang mengawasi hasil buruan di dalam kandang. Jas hitamnya jatuh rapi membalut postur tubuhnya yang tegap.

"Baca baik-baik," perintahnya mutlak.

Tangan kiri Sabrina meraba permukaan map yang dingin. Ia membuka sampul hitam tersebut. Kertas tebal beraroma kayu pinus menyapa indera penciumannya, bercampur dengan bau klorin rumah sakit dan parfum musk mahal milik sang suami.

Matanya menyapu deretan kalimat legal yang dicetak rapi. Susunan katanya kaku, penuh perangkap finansial, dirancang murni untuk mencekik kebebasan pihak kedua.

Hak asuh mutlak atas ahli waris berada di tangan pihak pertama.

Pengalihan penuh hak suara direksi Tanjung Group.

Pembatasan akses komunikasi eksternal.

"Kau bergerak sangat cepat," tanggap Sabrina datar. Jarinya mengetuk pelan baris cetakan klausul ketiga. "Istrimu nyaris kehabisan darah di jalan raya Puncak, dan kau sudah menyiapkan kertas sampah ini di dalam bagasi mobilmu?"

"Aku pebisnis, Sabrina." Adrian bersandar santai ke punggung kursi. "Antisipasi risiko adalah keahlian utamaku. Kania Tanjung menghancurkan skenario awal kita. Dia berani mengirim anjing-anjing preman untuk memburu pewarisku. Aku butuh jaminan ekstra untuk memastikan seluruh asetku aman malam ini."

"Hak asuh penuh." Suara Sabrina merendah, menyayat dingin udara steril. "Kau berniat merampas anakku dariku?"

"Aku mengamankan pewarisku," koreksi Adrian tajam. "Lihat kondisimu sekarang. Tubuhmu hancur berantakan. Bergerak dari atas kasur saja panggulmu berdarah lagi. Kau sedang menjadi target utama pembunuhan klan keluargamu sendiri. Anak itu butuh benteng baja Halim Group, bukan dekapan ibu rapuh yang tidak punya kuasa finansial maupun militer."

Sabrina memutar lehernya lambat-lambat. Tatapan mata hitamnya menabrak manik mata pria arogan di depannya secara konfrontasional.

Di dalam struktur saraf pusatnya, Maureen sang pembunuh bayaran melakukan kalkulasi tempur ekstra cepat. Evaluasi logistik dan aset pertahanan. Fisik Sabrina ini hancur total. Berjalan tiga langkah sudah memicu pendarahan aktif yang bisa merenggut nyawa. Membawa bayi merah lari menembus malam ini sama persis dengan tindakan bunuh diri konyol. Ia tidak punya amunisi, tidak punya suplai uang tunai, tidak punya tempat persembunyian steril.

Sebuah momen hening menyusup pelan masuk ke dalam ruangan.

Sabrina memejamkan mata sesaat. Suara ritmis monitor elektrokardiogram di sebelahnya terdengar menenangkan. Bayangan inkubator kaca di ujung lorong luar sana memenuhi kapasitas visual otaknya. Sebastian. Bayi bermata heterokromia itu sedang tidur nyenyak di bawah lampu penghangat. Aman dari terjangan angin es gunung. Terlindungi oleh barisan pengawal bersenjata otomatis Halim Group di setiap sudut koridor bunker.

Anak itu sangat membutuhkan fasilitas super steril ini agar tetap bernapas. Anak itu butuh waktu untuk membesarkan tulangnya. Dan ibunya butuh ruang waktu yang cukup untuk menyembuhkan luka robek persalinan ini agar bisa kembali membantai musuh secara leluasa.

Sabrina membuka matanya perlahan. Rasionalitas tempur membekukan sisa amarahnya.

"Kau pikir selembar kertas legal ini bisa menahanku?" tantang Sabrina pelan.

Adrian condong ke depan. Jarak wajah mereka menipis menembus batas privasi. "Bukan kertas ini yang menahanmu. Tapi anak di dalam ruang NICU itu."

Skakmat. Atau begitulah yang dipikirkan sang kepala patriarki.

"Tanda tangani kontrak itu," lanjut Adrian memukul telak tepat sasaran. "Tunduk mutlak pada aturanku mulai malam ini. Serahkan sisa hak suaramu padaku. Sebagai imbalannya, anak itu mendapat akses medis VIP terbaik yang bisa dibeli dengan uang di negara ini. Kau mendapat penjagaan lapis baja dari sisa pasukan Kania. Tolak syarat ini, dan aku akan mencabut semua perlindunganku sepuluh detik dari sekarang."

Pemerasan emosional tingkat paling kotor. Pria ini menggunakan keselamatan nyawa bayi merah sebagai alat tawar menawar utama di atas meja negosiasi. Taktik picik khas mafia berdasi.

"Ketundukan mutlak," eja Sabrina di ujung bibir. Ia sengaja membiarkan sisa nada suaranya terdengar sedikit bergetar, murni memainkan peran istri terpojok dengan sangat sempurna. "Apa definisi ketundukan itu di dalam kepalamu, Adrian?"

"Sangat sederhana." Adrian tersenyum puas melihat reaksi penolakan semu istrinya. Ilusi kemenangan sudah tergenggam penuh di telapak tangannya. "Kau tidak melangkah keluar dari fasilitas medisku tanpa kawalan pengawalku. Kau memutus semua kontak dengan orang-orang Tanjung. Kau menyerahkan stempel direksimu kepadaku secara sukarela besok pagi menjelang matahari terbit."

"Lalu anakku?" tuntut Sabrina menahan emosi.

"Kau boleh merawatnya," jawab Adrian pelan. Pria itu bangkit berdiri merapikan lipatan jasnya yang sempurna. "Di bawah pengawasanku secara langsung. Di dalam sangkar emas yang aku buat."

Sabrina menunduk menatap deretan kertas tebal tersebut. Taktik mundur sementara. Dalam kurikulum pelatihan Ordo Sutra, mundur selangkah ke belakang untuk mengasah bilah pisau jauh lebih mematikan dampaknya daripada menerjang barisan musuh dengan kepalan tangan kosong. Membiarkan musuh merasa menang telak adalah jebakan psikologis paling fatal bagi lawan yang meremehkan.

Tangan kiri Sabrina meraih pena emas yang terjepit manis di antara halaman terakhir. Logam dingin bersuhu ruang itu terasa pas mengisi sela jemarinya. Beban massanya tidak seberat belati tempur, tapi ujung tintanya sanggup mengalirkan darah yang jauh lebih banyak ke lantai bursa.

"Pena ini berat," keluh Sabrina pelan. Jarinya memutar batang pena tersebut, seakan mengeluhkan paksaan ini.

"Berat tanggung jawab untuk bertahan hidup memang tidak pernah mudah, istriku." Adrian melipat tangannya pongah di depan dada. "Selesaikan bagianmu cepat. Dokter bedah vaskuler sudah menunggumu sepuluh menit dari sekarang untuk menjahit ulang panggulmu yang hancur terbengkalai itu."

"Kau sangat peduli pada panggulku rupanya malam ini."

"Aku murni peduli pada alat produksiku."

Kalimat itu seharusnya menyakiti hati seorang istri normal sampai menangis tersedu. Tapi bagi Sabrina, rangkaian kalimat itu adalah bahan bakar dendam kental yang akan ia gunakan untuk membakar pria ini hidup-hidup di kemudian hari. Tidak ada kata maaf untuk perendahan martabat.

Sabrina membuka lembar demi lembar perjanjian itu lambat-lambat.

"Klausul tujuh koma dua," sebut Sabrina memecah kesunyian ruangan steril. Matanya mengunci satu paragraf tersembunyi. "Pengalihan seluruh dana hibah atas nama Sabrina Tanjung kepada Halim Group secara otomatis dalam kondisi darurat medis."

"Itu hanya klausul prosedur standar keamanan aset," kilah Adrian tanpa beban.

"Darurat medis." Sabrina memutar pelafalan dua kata itu di lidahnya. "Artinya, jika aku mati mendadak di atas meja operasi bedah malam ini akibat pendarahan parah, kau akan mewarisi tahtaku besok pagi sebelum Kania sempat menyadari absensiku."

Adrian tidak membantah klaim tersebut. Pria itu hanya menatapnya lurus ke depan, bangga atas kelihaian draf hukumnya.

"Kau bukan murni pebisnis, Adrian," lanjut Sabrina dingin. "Kau lintah pemakan bangkai."

"Dan kau sangat butuh lintah ini untuk menutupi biaya inkubator bayimu." Adrian menekan telunjuknya kuat ke atas tumpukan kertas itu, tepat sejajar di samping jari Sabrina.

"Berhentilah bermain keras kepala malam ini. Kau kalah. Terima kenyataan itu secara logis dan selamatkan sisa nyawamu."

1
Sandisalbiah
LUAR BIASA
Sandisalbiah
hanya untuk menyambut satu org perempuan Vincent mengerahkan seluruh tim elit ordo sutra... kau yg terlalu pengecut buat hadapin Maureen sendiri atau kau ngerasa gak mampu buat menghadapi dia sendirian, Vincent..? bahkan kau mempersiapkan segala jebakan secara maksimal dan totalitas... sebegitu menyeramkan sosok Maureen bagimu ternyata... dasar banci..
Sandisalbiah
untungnya Adrian sudah memberi mandat utk Sabrina akan kekuasaan mutlak yg tak bisa di banyak oleh bawahan Adrian.. siapa sangka musuh begitu lihai, licik dan licin.. Sabrina kudu ekstra kerja keras.. memaksa otot dan otak kolaborasi buat menghadapi lawan..
Sandisalbiah
intinya Adrian percaya sepenuhnya pd Sabrina.. good job.. krn emang Sabrina yg paling paham apa yg sedang mereka hadapi juga mengingat insting nya yg lebih tajam dan peka...
Sandisalbiah
mereka berdua mulai berdamai dgn kondisi dan sedikit mengarah pd perdamaian hati.. mungkin..
Sandisalbiah
Sabrina dan Vincent ibarat raga dan bayangan.. satu sama lai saling memahami keunggulan dan keahlian masing² .. insting yg sama² tajam.. jadi waspada dan siaga total adalah solusi terbaik buat pertahanan diri..
Sandisalbiah
Sabrina seolah menghadapi dirinya sendiri, itu sebabnya dia faham betul apa yg perlu dia lakukan dan dia siapkan..
Sandisalbiah
harusnya kepala dan tubuh Kania ini dipisahkan dan di kirim dlm paket yg berbeda... otak bebalnya gak pernah belajar dr yg sudah dia alami.. masih aja menjual kesedihan dgn fitnah murahan menjadi senjatanya.. gak merah dgn ending yg selalu Sabrina berikan
Sandisalbiah
Sabrina selalu memprovokasi lawan utk menyatukan mental mereka.. lawan mendapat serangan kepanikan krn tekanan psikologis drnya
Sandisalbiah
hem.. akhirnya sang tiran mengakui kekuatan Sabrina dan tunduk patuh padanya.. ya walau gak sepenuhnya tunduk rp jelas dia mengakui kalau Sabrina itu lebih dr mampu..
Sandisalbiah
sadar sepenuhnya kalau itu jebakan tp masih di ladenin.. konyol si kalau sampai Sandrina gak punya rencana sebelumnya... krn dia faham betul situasinya kan..?
Sandisalbiah
hah.. selalu ya.. kenapa musih selalu mudah menebak, memprediksi gerakan atau mencium siapa yg jd target mereka.. dan sayangnya Adrian terlalu bebal utk mpercayai insting istrinya walau berulang kali Sabrina sudah mbuktikan bahkan beraksi dlm melindungi mereka...
Sandisalbiah
Sabrina adalah korban Vincent tepatnya Maureen lah korban yang dan Sabrina adalah target Vincent... dia bukan ragu tp waspada pd pengawal bayaran itu.. krn uanglah tuan mereka yg sesungguhnya dan uang bisa merubah dr yg harus di jaga malah menjadi target..
Sandisalbiah
istriku.. istriku.. mulai lembek hati lu.. Adrian.. ishh
Sandisalbiah
lagian manusia bodoh mana yg akan merasa aman tinggal seatap dgn perempuan yg sudah menculiknya dan menyewa preman buat membunuh dia dan bayinya seperti binatang.. di tambah suami iblis yg otaknya sebelas duabelas belas dgn iblis dan hewan predator tanpa ada sisi kemanusiaan yang sama sekali.. lalu dr segi mana Sabrina harus merasa aman Adrian.. lu tololl apa buta atau sengaja biar Sabrina beneran mati kah..
Sandisalbiah
itu suami dajjal si Sabrina membawa mereka ke tempat paling aman katanya tp justru Menyerahkannya ke sarang yg isinya anjing penjaga Kania... otak Adrian itu bodoh atau tololl sebenarnya.. jd gedeg sendiri...
Dewi Kasinji
si Adrian ini tiran apa ya ??? kok kyk e ceroboh banget 🤣
Sandisalbiah
nyatanya Sabrina gak bener² selamat.. Adrian justru lebih buas dan lebih keji dr para anjing yg Sabrina tundukan di atas gunung itu
Sandisalbiah
faktanya gak kan ada ibu yg baru melahirkan bisa beraksi seperti Maureen ini tp se mustahil apapun ceritamu ini Thor.. selalu bikin raider makin penasaran dan semangat buat membaca.. dan itu fakta yg tak terbantahkan kalau karyamu itu sangat berkualitas dan membuat reader's jd tertarik dan larut dlm emosi alur ceritanya.. KEREN...
Sandisalbiah
menakjubkan Thor.. karyamu yg selalu bertabur kata² ajaib yg membuat emak² seperti aku harus rajin silaturahmi ke mbah google buat cari tau artinya.. mumet jelas..! tp selalu penasaran dan semangat buat membacanya.. semangat Thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!