NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Bubur Ayam dan Tamu Tak Diundang

Meskipun petualangan Kinasih dan Bima di Karang Jati sudah berakhir, ternyata dunia luar tak sesederhana yang mereka bayangkan.

Kekuatan yang ditinggalkan Baskoro dalam nadi Kinasih mulai menarik perhatian hal-hal yang seharusnya tetap tersembunyi.

Jalan raya provinsi masih agak berkabut saat motor tua Bima berhenti di depan sebuah warung tenda pinggir jalan.

Bau bawang goreng dan kuah kuning kaldu ayam menyeruak, mengalahkan sisa-sisa bau melati yang masih menempel di baju mereka.

Bima memarkir motornya dengan gaya sok keren, meski mesinnya batuk-batuk dulu sebelum mati.

"Dua porsi, Pak. Yang satu nggak pakai kacang, kerupuknya banyakin," teriak Bima sambil menarik kursi plastik untuk Kinasih.

Kinasih duduk, matanya masih sedikit kosong menatap aspal.

"Woi, Nasih. Melamun mulu. Takut buburnya nggak enak?" canda Bima sambil melambaikan tangan di depan wajah Kinasih.

Kinasih tersentak, lalu tersenyum tipis.

"Enggak, Bim. Cuma... rasanya aneh aja. Udah lama nggak denger suara knalpot sama bising orang pasar. Semalam itu sunyi banget."

"Ya iyalah, semalam kamu kan lagi kencan sama penghuni kayu jati. Sekarang dunia nyata, Nasih. Nikmatin aja."

Pesanan datang.

Kinasih mengaduk buburnya perlahan. Tiba-tiba, tangannya berhenti.

Matanya menatap tajam ke arah seorang kakek tua yang duduk di pojok warung, sedang menyeruput kopi hitam.

"Bim..." bisik Kinasih.

"Apa? Kurang kecap?"

"Kakek itu... dia nggak punya bayangan."

Bima tersedak kerupuk.

Ia melirik pelan ke arah pojok.

Matahari sudah cukup tinggi untuk menciptakan bayangan di bawah meja, tapi di bawah kaki kakek itu, ubin semennya bersih.

Polos.

"Aduh, Nasih. Baru juga mau sarapan tenang," keluh Bima pelan. "Abaikan aja, bisa nggak? Mungkin dia lagi 'shift pagi' nyari mangsa."

"Masalahnya, dia ngelihatin kita terus, Bim."

Benar saja, kakek itu meletakkan gelas kopinya.

Suara gelas beradu dengan meja kayu terdengar jauh lebih berat dari yang seharusnya.

Ia berdiri dan berjalan mendekati meja mereka.

Langkah kakinya tidak bersuara, persis seperti Kinasih saat keluar dari kamar pengantin tadi subuh.

"Selamat pagi, Pengantin," suara kakek itu parau, seperti suara gesekan amplas.

Bima langsung berdiri, tangannya refleks meraba pinggang, lupa kalau parangnya ditinggal di motor.

"Mau apa, Kek? Kalau mau minta sumbangan, nanti ya, lagi tanggung makan nih."

Kakek itu terkekeh.

"Anak muda yang galak.

Aku nggak butuh uangmu.

Aku cuma mau mencium bau 'Matahari' yang ada di dalam tubuh gadis ini."

Kinasih menatap kakek itu tenang, meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

"Siapa kamu? Dan kenapa panggil aku Pengantin? Baskoro sudah pergi."

"Baskoro memang pergi, tapi jabatannya tidak bisa kosong, Cah Ayu," kakek itu duduk tanpa diundang di kursi sebelah Kinasih.

"Nama saya Ki Sungsang. Dan saya ke sini buat kasih peringatan. Kamu pikir keluar dari Karang Jati itu berarti bebas?"

"Emang kenapa? Mak Saroh udah kalah, kutukannya udah pecah," sahut Bima nyolot.

"Kutukannya pecah, tapi pintunya terbuka," Ki Sungsang menunjuk dada Kinasih dengan jarinya yang panjang dan kuku yang menguning.

"Kamu itu sekarang ibarat lampu neon di tengah hutan gelap.

Semua yang 'haus' bakal datang ke kamu buat minta bagian."

Kinasih mengerutkan kening.

"Maksudnya? Aku bukan tumbal lagi!"

"Bukan tumbal, tapi wadah.

Kamu punya jantung yang pernah berdetak di alam sana.

Kamu punya koneksi ke dua dunia. Di mata mereka, kamu itu akses gratis buat masuk ke dunia manusia."

Bima menggebrak meja, membuat tukang bubur menoleh bingung. "Heh, Kek! Jangan nakut-nakutin.

Kita baru aja mau mulai hidup baru!"

"Hidup baru itu butuh perlindungan, Anak Muda," Ki Sungsang mengeluarkan sebuah koin tembaga tua yang tengahnya lubang.

"Bawa ini. Kalau koin ini terasa panas, artinya ada yang lagi 'antre' di belakang punggung Kinasih."

Kinasih mengambil koin itu. Dingin.

"Kenapa kamu mau nolong kami?"

Ki Sungsang berdiri, ia memakai capingnya lagi.

"Anggap saja aku benci kalau keseimbangan ini dirusak sama mahluk-mahluk rakus. Oh, satu lagi... jangan pernah masuk ke rumah yang ada pohon sawo-nya sebelum matahari benar-benar tenggelam."

"Lho, kenapa?" tanya Bima.

Tapi Ki Sungsang sudah berjalan menjauh, dan entah bagaimana, sosoknya mendadak hilang di balik sebuah truk tronton yang lewat.

Lenyap begitu saja.

Bima melongo.

"Sakti juga tuh aki-aki. Nasih, koinnya gimana? Panas nggak?"

Kinasih menggenggam koin itu erat.

"Sekarang sih enggak. Tapi Bim... aku ngerasa ada yang nggak beres sama warung ini."

"Apalagi sih?"

Kinasih menunjuk ke arah panci bubur.

Tukang buburnya yang tadi sibuk, sekarang diam mematung.

Bukan cuma dia, tapi semua orang di dalam warung itu mendadak berhenti bergerak.

Seperti manekin.

"Bim, ayo pergi. Sekarang!" Kinasih menarik tangan Bima.

"Eh, buburku belum habis! Belum bayar juga!"

"Bayarnya nanti aja kalau kita masih hidup! Ayo!"

Mereka berlari menuju motor.

Saat Bima menstarter mesin, semua orang di warung itu serentak menolehkan kepala mereka ke arah motor Bima.

Gerakannya patah-patah, dengan bunyi krak-krak di leher mereka.

"Bima, cepetan!" jerit Kinasih.

Brummm!

Motor melesat meninggalkan warung bubur.

Dari kaca spion, Bima melihat orang-orang itu mulai mengejar dengan cara merangkak di aspal, sangat cepat, seperti labah-labah raksasa.

"Itu apa, Nasih?! Mereka bukan manusia?!" Bima berteriak sambil memacu motornya sampai kecepatan maksimal.

"Mereka itu 'antrean' yang dibilang Ki Sungsang! Mereka mau jantung ini, Bim!"

"Gila! Baru sarapan udah begini! Nasih, pegangan yang kencang!"

Bima membelokkan motor ke arah jalan setapak menuju perbukitan, mencoba menyesatkan mahluk-mahluk itu.

Di dalam pelukan Bima, Kinasih bisa merasakan koin di tangannya mulai menghangat.

"Panas, Bim! Koinnya mulai panas!"

"Jangan dilepas! Kita harus cari tempat aman!"

"Ke mana?!"

"Ke mana aja asal nggak ada pohon sawonya!"

Di tengah kepanikan itu, Kinasih memejamkan mata.

Ia mencoba memanggil sisa-sisa kekuatan Baskoro. Baskoro, kalau kamu masih dengar, bantu aku sekali lagi...

Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar.

Sebuah kabut putih tipis muncul dari aspal, menghalangi pandangan mahluk-mahluk merangkak itu.

Motor Bima seolah meluncur di atas awan, suara bising mesinnya mendadak senyap.

Beberapa menit kemudian, kabut itu menipis.

Mereka sudah berada di jalanan desa yang berbeda, jauh dari warung bubur tadi. Suasana sepi, hanya ada suara kicauan burung.

Bima menghentikan motornya di bawah pohon beringin besar. Napasnya memburu. "Kita... kita selamat?"

Kinasih melihat telapak tangannya. Koin itu kembali dingin. "Kayaknya iya. Makasih, Baskoro."

"Gila ya," Bima menyeka keringat di dahinya. "Baru bab empat lho ini, tantangannya udah kayak final bos."

Kinasih turun dari motor, kakinya masih sedikit lemas.

"Ki Sungsang bener. Kita nggak bisa lari.

Kita harus belajar gimana caranya nutup 'lampu' di badan aku ini biar nggak narik perhatian mereka."

Bima menatap Kinasih, lalu ia tersenyum nakal meski wajahnya masih pucat.

"Ya udah, mulai sekarang aku nggak cuma jadi pacar kamu, tapi jadi bodyguard anti-hantu. Keren juga kan?"

Kinasih tertawa kecil, memukul pelan bahu Bima.

"Pacar? Siapa yang bilang kita pacaran?"

"Lho, yang semalam pelukan di keranda itu apa kalau bukan komitmen?"

"Itu kan darurat, Bim!"

"Halah, alasan. Udah, yuk jalan lagi. Aku laper lagi nih gara-gara buburnya ketinggalan."

Kinasih tersenyum, tapi dalam hati ia tahu, koin tembaga di saku bajunya adalah tanda bahwa perjalanan panjang baru saja dimulai.

Karang Jati hanya pembukaan, dan dunia luar ternyata jauh lebih haus akan nyawa daripada sebuah keranda tua.

"Bim, lihat itu," Kinasih menunjuk ke sebuah rumah tua di depan mereka.

"Apa lagi?"

"Pohon sawo," bisik Kinasih.

Di depan rumah itu, tumbuh sebuah pohon sawo lebat.

Dan di bawahnya, berdiri seorang wanita cantik bergaun putih sedang melambaikan tangan ke arah mereka sambil tersenyum manis.

Terlalu manis.

"Jangan nengok, Bim. Jalan terus," perintah Kinasih.

"Tapi dia cantik banget, Nasih. Kayak artis."

"Bima! Dia nggak punya kaki!"

Bima langsung tancap gas tanpa menoleh lagi. Kinasih memegang koinnya erat-erat. Ya, hidup baru mereka memang sangat jauh dari kata normal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!