Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Tujuhbelas
"Ekhem..." Cellsyia berdehem agak kencang sampai pelukan tersebut dilepaskan oleh Aren.
"Sayang kenapa? Sayang sakit?" telapak tangan kekarnya menyentuh kening sang kekasihnya.
"Tidak, aku tak sakit" wanita itu menurunkan tangannya Aren dari keningnya.
"Ren.." panggilnya Cellsyia.
"Ya, Sayang? Kenapa, hm?" balas pria itu.
"Aku izin pulang, ya?" mendengar hal demikian Aren menggelengkan kepala pertanda tidak menyetujuinya.
"Ih! Jangan pulang!" Aren menolak keinginan kekasihnya.
"Tapi aku harus pulang karena sudah ada janji dengan sesorang" ujar Cellsyia.
"....." Aren menatap tajam kekasihnya.
"Seseorang? Siapa?" pria itu bertanya tegas.
"Aleix" Cellsyia menjawabnya dengan singkat.
"....." alis terangkat satu ke atas.
"Hah? Aleix? Siapa dia? Seorang pria?" tanya Aren dengan raut wajah polos.
"Astaga!" wanita itu seketika menepuk jidatnya.
"Hm, iya. Dia seorang pria, sekaligus sepupu jauh aku sih" jawab Cellsyia seraya menundukkan kepalanya.
"Oh, kirain siapa.." balas pria bule itu seraya menganggukkan kepalanya.
"Boleh?" dibalas senyuman.
"Janji apa memangnya?" Aren menjadi penasaran.
"Kepo ih!" kata Cellsyia, namun Aren terdiam saja.
"Janji apa, Sayang?" pria itu mendesaknya agar pertanyaanya dijawab oleh kekasih.
"Itu, nanti sore ini dia memintaku untuk membeli buku yang dirinya perlukan" mendengar hal itu Aren tersenyum tipis.
"Aaa, Aren pengen ikut dong!" Aren berkata sambil menggoyangkan tubuh kekasihnya.
"Please, aaaa izinkan Aren untuk ikut!" pintanya pria bule itu.
"Bagaimana, ya?" pikirnya Cellsyia.
"Boleh, ya? Ya ya? Please.." pria itu memohon.
"Oke, boleh" jawab Cellsyia setelah berpikir.
"Benar kah? Diizinkan?" Aren memastikannya takut salah mengira.
"Hm" anggukkan kepala kekasihnya terlihat oleh Aren.
"Yeay, sore pergi ke Mall, pergi ke toko buku bersama kekasihnya Aren, yeay!" pria bule itu berjoget riang di depannya, pinggulnya bergoyang ke kanan dan ke kiri, Cellsyia terkekeh pelan melihat tingkah laku kekasihnya.
"Hahaha, lucu banget sih kekasihku itu" batin Cellsyia.
Cellsyia, wanita itu beranjak dari duduk lalu tanpa sepengetahuan Aren dirinya mengendap-endap berjalan menuju pintu, saat akan membukanya suara pria itu menghentikannya.
"Sayang? Mau kemana kamu?" tanyanya Aren, pria itu sudah tidak berjoget lagi.
"Pulang" wanita itu menjawabnya dengan singkat.
Tanpa berpikir panjang Aren menghampiri kekashnya, lalu menggandeng tangannya.
"Mari aku antarkan kamu pulang" ujar Aren.
"....." mendengar ucapan Aren, wanita itu sungguh tidak mempercayainya dan langkahnya terhenti begitu juga dengan Aren.
"Loh? Sayang kok jalannya berhenti sih?" pria itu kebingungan.
"Yakin? Kamu mau mengantarkan aku sekaligus mengizinkan diriku untuk pulang?" Cellsyia bertanya sambil memastikannya apakah dirinya tidak salah dengar.
"Ih! Sayang! Aku tidak bohong dan mau mengantarkanmu pulang, dan aku izinkan kamu pulang. Lagian sore kita akan jalan-jalan lalu sebelum pergi kamu harus siap-siap" balas Aren.
"Ayo" pria bule itu menarik lengan sang kekasih.
***
"Sayang, jangan lupa sabuk pengamannya dipakai" titahnya Aren, ia akan memakai sabuk pengaman miliknya namun pergerakannya terhenti karena suara kekasihnya.
"Ih! Sayang! Aku tidak bisa memakainya ini! Bagaimana?" tanpa diketahui Aren, Cellsyia sengaja dan berpura-pura tidak tahu caranya.
"Baiklah, sini aku pakaikan" dengan segera pria itu memakaikan sabuk pengaman kekasihnya.
"Nah selesai" ujarnya Aren, ketika akan kembali ke tempat duduknya sebuah kecupan singkat tepat pada bibirnya dan pelakunya adalah kekasihnya sendiri.
"Terima kasih, Sayangku" Cellsyia membelai lembut pipinya.
"Sama-sama, Sayangnya Aren"