NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Pertemuan Empat Arah

Langkah Devan yang tenang namun penuh kepastian membuat suasana di dalam restoran seolah berubah secara halus, meskipun tidak semua orang menyadarinya, tetapi bagi mereka yang duduk di meja itu—Lisa, Arvin, dan Luna—kehadirannya terasa jelas seperti tekanan yang perlahan menutup ruang gerak, dan saat Devan akhirnya berhenti tepat di samping meja, ketegangan yang sebelumnya hanya tersirat kini menjadi sesuatu yang nyata dan tidak bisa diabaikan.

“Sepertinya aku datang di waktu yang tepat,” ucap Devan dengan nada datar namun penuh arti, membuat Arvin langsung menoleh dengan ekspresi yang sulit disembunyikan sementara Luna hanya tersenyum tipis seolah sudah menduga ini akan terjadi, dan Lisa sendiri tetap duduk dengan tenang tanpa menunjukkan keterkejutan sedikit pun, meskipun di dalam pikirannya ia langsung menghitung ulang semua kemungkinan yang bisa muncul dari situasi ini.

“Devan,” kata Lisa singkat, suaranya tetap stabil, seolah kehadiran pria itu bukan sesuatu yang mengganggunya.

Arvin menatap Devan beberapa detik sebelum akhirnya berdiri, sikapnya menunjukkan bahwa ia tidak ingin terlihat kalah dalam situasi apa pun, lalu berkata dengan nada yang berusaha tetap santai, “Kebetulan sekali bisa bertemu di sini,” meskipun jelas bahwa ini bukan kebetulan biasa.

Devan menatapnya sekilas.

“Dunia tidak sebesar itu,” jawabnya singkat.

Kalimat itu sederhana.

Namun cukup untuk membuat Arvin merasa ditekan.

Sementara itu, Luna yang duduk dengan santai justru menikmati situasi yang semakin menarik ini, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain seperti seseorang yang sedang menonton permainan catur tingkat tinggi.

“Sepertinya aku berada di tempat yang sangat tepat malam ini,” kata Luna dengan senyum ringan, lalu menatap Devan, “kita belum benar-benar berkenalan.”

Devan meliriknya sekilas.

“Tidak perlu,” jawabnya datar.

Jawaban itu membuat Luna sedikit terdiam, namun bukan karena tersinggung, melainkan karena ia merasa tertantang, sesuatu yang jarang ia rasakan.

Lisa yang sejak tadi mengamati akhirnya berdiri perlahan, mengambil alih situasi dengan cara yang sangat halus.

“Kalau kamu datang hanya untuk berdiri di sana, itu sedikit mengganggu suasana,” katanya santai kepada Devan.

Devan menatapnya.

Beberapa detik.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi kosong dan duduk.

Dan sekarang…

Mereka berempat berada di satu meja.

Situasi yang tidak pernah direncanakan.

Namun justru menjadi panggung sempurna untuk permainan yang jauh lebih besar.

“Jadi,” kata Devan akhirnya, menatap langsung ke arah Arvin, “kalian sedang membahas sesuatu yang penting?”

Arvin menyilangkan tangannya sedikit.

“Hanya makan malam biasa,” jawabnya.

Devan mengangguk pelan.

“Biasanya yang terlihat biasa justru paling rumit,” katanya.

Kalimat itu terasa seperti sindiran.

Dan semua orang di meja itu menyadarinya.

Lisa menatap Devan sebentar, lalu berkata dengan nada ringan, “Kamu terlalu banyak menganalisis sesuatu yang tidak perlu.”

Devan menjawab tanpa ragu, “Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.”

Sementara itu, Luna yang sejak tadi diam akhirnya ikut masuk ke dalam percakapan dengan cara yang halus namun jelas ingin memancing sesuatu.

“Kalau begitu… alasan kamu datang ke sini apa?” tanyanya sambil menatap Devan dengan penuh minat.

Devan tidak langsung menjawab.

Ia justru menoleh ke arah Lisa.

“Dia,” katanya singkat.

Jawaban itu membuat suasana langsung berubah.

Arvin mengeraskan rahangnya sedikit.

Sementara Luna tersenyum lebih dalam.

Dan Lisa…

Tetap tenang.

“Jangan membuat semuanya terlihat dramatis,” kata Lisa dengan nada santai.

Devan tidak membantah.

Namun juga tidak menarik kembali ucapannya.

Beberapa detik keheningan terasa panjang, hingga akhirnya Arvin berkata dengan nada yang sedikit lebih tegas, “Sepertinya kamu cukup tertarik dengan Lisa.”

Devan menatapnya.

“Sepertinya kamu cukup terganggu dengan itu,” balasnya langsung.

Kalimat itu mengenai tepat sasaran.

Dan kali ini Arvin tidak bisa menutupinya sepenuhnya.

“Aku hanya tidak suka orang yang masuk ke dalam sesuatu yang bukan urusannya,” kata Arvin.

Devan sedikit memiringkan kepalanya.

“Dan kamu yakin ini urusanmu?” tanyanya.

Pertanyaan itu membuat suasana semakin tegang.

Namun sebelum situasi berubah menjadi lebih buruk…

Lisa mengangkat tangannya sedikit.

“Cukup,” katanya pelan namun tegas.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Lisa menatap mereka satu per satu.

Lalu berkata dengan nada yang tetap tenang namun penuh kendali, “Aku tidak suka percakapan yang tidak jelas arahnya.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan.

“Kalau kalian ingin bicara… bicara dengan jelas.”

Kalimat itu seperti garis batas.

Dan semua orang di meja itu merasakannya.

Beberapa detik hening…

Lalu Luna tertawa kecil.

“Menarik,” katanya, “aku jarang melihat situasi seperti ini.”

Lisa meliriknya.

“Kamu bisa pergi kalau tidak nyaman,” ucap Lisa santai.

Luna menggeleng.

“Justru aku sangat nyaman,” jawabnya.

Sementara itu…

Devan menyandarkan tubuhnya dengan santai, matanya tetap tertuju pada Lisa.

“Sepertinya kamu tidak suka kehilangan kendali,” katanya.

Lisa tersenyum tipis.

“Dan kamu sepertinya suka mencobanya,” balasnya.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk beberapa detik…

Dunia di sekitar mereka seolah menghilang.

Namun di sisi lain meja…

Arvin mengepalkan tangannya di bawah meja tanpa disadari.

Sementara Luna…

Hanya tersenyum sambil mengamati.

Karena ia tahu satu hal dengan sangat jelas.

Permainan ini…

Sudah tidak bisa dihentikan.

Dan siapa pun yang lengah…

Akan menjadi yang pertama jatuh. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!