NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Tidak ingin mati!

​Hidung Lu Ming patah, darah menyembur, namun ia tidak mundur satu inci pun.

Alih-alih merintih, Lu Ming justru mencengkeram bahu Liu Shen, menariknya mendekat, dan menghantamkan lututnya ke ulu hati Liu Shen berkali-kali.

Setiap hantaman lutut itu membawa getaran Ranah Pembentukan Inti yang sanggup menghancurkan organ dalam.

​"Aku tidak akan mati di sini!" raung Lu Ming di tengah serangan. "Dunia berhutang nyawa padaku! Ayah yang pengecut, Ibu yang membuangku... aku akan menghancurkan mereka semua sebelum maut menjemputku!"

​Liu Shen membalas dengan kegilaan yang sama. Ia membiarkan lutut Lu Ming menghantam tubuhnya, lalu dengan kekuatan otot yang tidak masuk akal, ia mengangkat tubuh Lu Ming dan membantingnya ke dinding batu yang masih berdiri.

​BLAARR!

​Dinding itu runtuh menimpa Lu Ming. Namun, sebelum debu sempat turun, Lu Ming melesat keluar dari reruntuhan seperti kilatan cahaya merah.

Jari-jarinya kini berubah menjadi cakar Qi yang tajam. Ia mencabik dada Liu Shen, merobek zirah kulit dan kulit dagingnya hingga memperlihatkan tulang rusuk.

​Liu Shen meraung, bukan karena sakit, tapi karena kepuasan yang gila. "Penderitaan! Kau bicara soal penderitaan, Lu Ming?! Lihat desa ini! Lihat Paman Han yang mati seperti anjing! Aku akan membuat seluruh dunia merasakan apa yang dia dan kurasakan!"

​Liu Shen menangkap kedua lengan Lu Ming saat pria itu mencoba mencabiknya lagi.

Mereka beradu kekuatan di tengah kawah, otot-pria mereka menegang hingga urat-urat di leher mereka seolah akan meledak.

Liu Shen memberikan tendangan samping yang menghantam rusuk Lu Ming, sementara Lu Ming memberikan sundulan balik yang merobek alis Liu Shen.

​Darah mereka bercampur di tanah, membasahi debu yang kini berubah menjadi lumpur merah.

​Mereka berdua terhempas ke arah yang berlawanan akibat ledakan Qi dari tubuh masing-masing yang sudah tidak stabil.

Lu Ming bangkit dengan tangan gemetar, ia merapal teknik terakhirnya yang paling terlarang, "Tarian Sepuluh Ribu Jarum Darah".

​Darah yang berceceran di tanah mulai melayang, membeku menjadi ribuan jarum merah yang tajam di bawah kendali Qi Lu Ming. Dengan satu lambaian tangan, ribuan jarum itu melesat ke arah Liu Shen.

​Liu Shen tidak diam. Ia menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah. "Ledakan Inti Hitam: Penelan Cahaya".

Energi hitam meledak dari dalam tanah, menciptakan pilar-pilar energi gelap yang menelan jarum-jarum darah Lu Ming sebelum sempat menyentuhnya.

​Dalam kepulan asap hitam itu, Liu Shen muncul tepat di depan wajah Lu Ming. Ia menghujamkan tinju beruntun ke wajah, dada, dan perut Lu Ming.

​DUAGH! BRAK! DUAAGH!

​Setiap pukulan Liu Shen meninggalkan bekas hangus akibat energi hitamnya.

Lu Ming terhuyung, pandangannya mulai kabur, namun pikirannya dipenuhi oleh wajah ibunya yang tersenyum di taman mewah itu. Rasa benci itu memberinya kekuatan tambahan.

​Lu Ming menangkap tinju terakhir Liu Shen dengan giginya, menggigit tangan saudaranya itu hingga tembus ke tulang, sementara jari-jarinya menusuk kedua mata Liu Shen.

​"AARRGGHH!" Liu Shen berteriak, matanya berdarah, namun ia tetap menyerang balik dengan menghantamkan kedua tangannya ke telinga Lu Ming, mencoba memecahkan gendang telinganya.

​Keduanya kini berada di ambang batas. Mereka tidak lagi berdiri tegak, mereka merangkak, saling pukul, saling gigit, dan saling cakar di atas tanah yang sudah tidak berbentuk lagi.

Tidak ada lagi keanggunan seorang penyair, tidak ada lagi kehebatan seorang pembantai. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang terluka, saling mencoba menyeret satu sama lain ke neraka.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!