Seri pertama Cinta Tak Perna Salah mengangkat
Kisah Cinta antara Jeanne dan Jeremy yang berawal cinta itu tumbuh saat mereka usia remaja di sebuah asrama tentara. Kedua orang ini adalah anak tentara ini, Jeanne dan Jeremy sama - sama didik dalam tradisi dan kebiasaan orangtua mereka agar anak - anak ini kuat. Ketika mereka dewasa perpisah terjadi karena tugas dari orangtua mereka. Namun perasaan cinta itu sudah semakin tumbuh. Namun terhalang Karena keakraban orangtua, ditambah orangtua Jeremy menjadikan Jeanne seperti anak perempuan mereka.
Namun takdir berkata lain Jeremy Alexander Purba ditugaskan di Papua, tepatnya di kesatuan yang dulu ditumbuh dan dibesarkan. Dan mereka bertemu kembali setelah Jeanne sudah menjadi dokter, perasaan yang lama tersimpan, kembali bersemi.
Bagaimana kisah cinta Jeanne dan Jeremy ini???
Apakah salah Jeremy mencintai Jeanne yang sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Yang Sukses
Pukul delapan malam, Jemy baru pulang dari rapat. Dia mendapati istrinya sedang tertidur. Ternyata Jemy bukan pergi rapat, namun bersama tim khususnya menangkap bos tertinggi dari teroris itu. Yang tertembak dan sekarat di rumah sakit itu wakilnya atau bukan bos mereka.
Penyergapan terjadi setelah anggota pasukan khusus melakukan pemantauan dan penyisiran. Kali ini gerakan mereka sangat tidak terlihat. Dan Jemy dan timnya berhasil menangkap. Dengan banyak sekali alat bukti. Tersangka langsung dibawa ke Jakarta dengan pesawat tentara. Tidak ada aksi baku tembak, hanya perkelahian. Akhirnya luka bekas operasi Jemy kembali berdarah.
Jemy berusaha menyembunyikan dari istrinya dengan mengobatinya sendiri. Namun Jean yang curiga bangun dan langsung ke kamar mandi. Dia tidak banyak bicara, langsung mengobati luka suaminya. Jemy hanya melihat, dia tahu Jean pasti marah. Selesai di tutupi Jean pergi meninggalkan suaminya. Namun Jemy dengan cepat memeluk tubuhnya. Langsung mencium leher Jean.
"Maafkan abang sayang." Suaranya serak, bergetar di leher istrinya membuat semua bulu di tubuh Jean merinding. Jean berusaha melepaskan tubuhnya, namun dia tahu pasti usahanya akan sia - sia. Jemy langsung mengendong tubuh istrinya. Dengan satu tangannya. Jean sadar bahwa suaminya ini mempunyai tenaga yang kuat.
"Abang lukanya nanti berdarah."
"Tidak masalah ada istriku seorang dokter yang bisa mengobati."
"Aku lagi marah abang."
"Aku akan menjinakan kemarahanmu sayang."
"Abang stop."
"Aku tidak akan berhenti sayang."
Jean sudah berada di atas tempat tidur dan tubuh Jemy berada diatasnya. Tangan kirinya sangat lincah sampai pakaian bagian bawa istrinya terlepas, tubuh bawa jean sudah tak berlapis kain. Jemy yang hanya menggunakan celana dalam saja juga sudah terbuka. Dia sudah menembakan rudalnya kedalam organ sensitif istrinya. Suara kenikmatan keluar dari mulut Jean.
"Abang ingin sayang."
Sofi tidak bisa menolak dia pun menikmati sentuhan dari gerakan - gerakan penyatuan ini. Suaminya sangat lincah meskipun satu tangannya terluka, Jemy tetap bergairah memberikan sentuhan kenikmatan sampai mereka berada di puncak kenikmatan bersama - sama. Jemy sudah berada disamping tubuh istrinya. Dia memeluk tubuh itu erat. Mereka masih dalam keadaan polos.
"Abang dari mana???"
"Abang sudah selesai menjalankan tugas abang sayang. Ketuanya sudah abang tangkap."
"Luka operasinya berdarah???"
"Kami berkelahi dek. Dan suamimu menang." Jemy langsung mencium istrinya. Dia mau mengakhiri pembicaraan ini, karena ini tugas rahasia, identitasnya juga, takut orang luar tahu dan bisa membahayakan keluarganya.
"Sayang apa alat kontrasepsinya bisa dilepas."
"Bisa. Ini kan atas kesepakatan bersama, abang yang mau. Katanya biar bersama terus. Buktinya adek di tinggal terus." Jemy tersenyum dia langsung mencium bibir istrinya yang malam ini sangat cerewet. Rencana melepas alat kontrasepsi beberapa bulan lalu terhalang karena Jemy tidak mau yang melepasnya dokter kandungan laki - laki.
"Iya abang mau, pas kita pergi bulan madu baru sayang lepas."
"Besok aku bisa ke rumah sakit dan dilepas oleh dokter disana."
"Abang temani. Terima kasih sayangku."
"Adek sudah lihat tabungan liburan kita?"
"Dimana???"
"Di lemari abang, lemari baju kita. Ada note dana liburan bersama istri tercinta."
"Abang mau berikan yang terbaik buat kamu sayang. Maafkan abang ya sudah membuat kamu kuatir." Jean langsung mempererat pelukannya.
"Kenapa penyergapannya tidak disiarkan di televisi seperti yang pertama."
"Jika siaran langsung, ketua terorisnya akan menghilang cepat."
"Bagian strategi ya."
"Pintar sekali istrinya Kapten Jeremy Alexander Purba."
"Kenapa berbohong sama adek??" Jemy tersenyum. Namun dia sedang mengusahakan rudalnya kembali menebak sasaran. Dan rudal masuk tepat sasaran.
"Mohon maaf istriku sayang. Kalau tidak kamu tidak mengijinkan, karena luka ini."
Sebelum Jean istrinya menjawab, hentakan pertama terjadi, dan terus menerus. Sampai bukan kemarahan yang keluar dari mulut istrinya melainkan suara desahan yang membangkitkan semangat Jemy untuk memberikan hentakan - hentakan kenikmatan dengan bunyi suara tubuh yang sedang menyatu. Muka Jean sudah merah menahan kenikmatan yang diberikan suaminya. sampai di tahap terakhir di ronde kedua adalah suatu puncak kenikmatan bersama. Jean sudah berada lemas di samping suaminya. Tubuh mereka penuh dengan keringat. Suaminya menghajarnya dirancang sangat keras namun terasa nikmat sampai Jean bisa berkali - kali melakukan pelepasan.
Jean sudah tertidur karena kelahan di kerjain dengan cinta oleh suaminya. Jemy membersihkan tubuhnya namun dia berusaha agar luka yang sudah di obati istrinya tidak terkena air. Setelah berganti baju dia mengurus istrinya. Dan dia pun menyusul istrinya tidur bersama. Jemy mencium bibir Jean.
"Terima kasih istriku tercinta."
Meskipun dia kelelahan karena di hajar suaminya dua ronde, jam lima subuh dia tetap bangun untuk membangun mesbanya bersama Tuhan. Dia kaget karena sudah berpakaian. Dia tahu bahwa suaminya yang malakukan itu.
"So sweet kamu sayang. Tambah cinta deh sama kamu."
Jean mencium bibir suaminya. Kemudian dia kemar mandi. Jemmy yang sudah bangun, pura - pura tidur. Sehingga dia bisa mendengar dan merasakan aksi istrinya. Jemy tahu bahwa jam segini istrinya akan bangun berdoa. Keluar dari kamar mandi, Jean kaget karena Jemy sudah duduk di kursi sofa kecil tempat Jean akan berdoa.
"Abang bangun juga??"
"Bagaimana abang tidak bagun jika abang di puji di cium." Jean kecolongan lagi. Ternyata aksinya diketahui oleh laki - laki yang dia cintai. Jean hanya tersenyum. Selesai berdoa. Jemy mengendong istrinya dan membawa ke tempat tidur.
"Abang, ini masih sakit ya." Jemy tersenyum dan langsung mencium bibir istrinya.
"Bobo sayang, kalau satu ronde dengan lembut bisa kan."
"Abang....."
"Pleaseee sayang."
Akhirnya satu ronde pun terjadi. Katanya dari awal lembut, namun kenyataannya tidak seperti itu. Jean sudah lemas dalam pelukan Jemy. Pukul tujuh pagi pasangan suami istri ini belum keluar. Tidak lama Jemy keluar sendiri.
"Mana Jean??"
"Masih bobo mami, Jemy hajar tiga ronde."
"Dasar kakak mesum."
Mami dan papinya hanya tersenyum. Ketika mereka sedang asik sarapan, Jean keluar jalan sambil menarik - narik kakinya. Jemy tersenyum melihat tingkahnya. Mami dan papi hanya mengeleng kepala. Jemy langsung menghampiri Jean dan mengendongnya. Dan dia berbisik.
"Kenapa keluar, kan abang bisa antar sarapannya. Mereka bisa tahu kita semalam berapa ronde?" Jean langsung memukul lengan suaminya.
"Perbuatan kamu ya abang." Jemy hanya tersenyum.
"Kakak butuh pengacara, adek bantui cari yang terbaik ada teman adek."
"Pengacara buat apa. Awas ya dek!"
"Ini kekerasan dalam rumah tangga kakak."
"Anak kecil mana tahu??"
"Aku sudah dewasa ya. Tahun depan aku nikah."
"Bawa dulu lakinya abang nilai, kalau lolos baru menikah."
Jemy dan Jean sudah dirumah sakit daerah, Jean sudah menghubungi dokter Sisca untuk melepaskan implannya.
"Sayang kalau dokternya laki - laki, abang ngak ijin ya??"
"Aku tahu abang. Aku tahu bagaimana watak suamiku. Ini dokternya perempuan sayang, dokter Sisca."
Jemy langsung tersenyum. Selesai lepas implan, Jean dan Jemy ke rumah sakit tentara bertemu dengan dokter Wiliam, dokter bedah yang mengoperasi suaminya.
"Sayang kok tidak ada yang berjaga lagi."
"Tersangkanya semalam sudah di kirim ke Jakarta."